Archive for the 'lembaga-lembaga' Category

Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara

f 30, 2011

Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, indigenous people. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode belajar saat sekolah. Kebosanan saya menjadi-jadi menjelma menjadi kemarahan, terutama ketika saya SMA. Bersekolah di SMA seharusnya menyenangkan: satu fase pengakuan keremajaan dengan celana panjang abu-abu—untuk menutupi bulu kaki, pubertas, lawan jenis, avonturisme anak muda, dan banyak lagi. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Merayakan Kemayaan

f 14, 2011

Sejak sekira dua tahun ini saya memiliki aktivitas baru saban pagi, setiap hari kerja. Kira-kira 30 menit sebelum mulai bekerja saya membuka laman facebook. Membaca satu persatu status teman-teman. Beberapa diantaranya saya komentari. Saya paling menyukai sesi ini. Saya belajar banyak hal dari teman-teman. Hal-hal baik yang memotivasi saya untuk menerapkannya, sesuatu yang membuat saya memiliki inspirasi, atau status-status yang buruk bagi saya namun tetap saya baca. Baca entri selengkapnya »

emansipasi dan generasi unggul

f 12, 2010

Tak ada isu yang diketahui hampir setiap orang namun diimplementasikan dalam sistem nilai yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Semua orang tahu emansipasi. Hampir semua sepakat untuk memuliakan perempuan. Dan sejak itu pula orang berkelahi merumuskan bagaimana formulasi perempuan dimuliakan. Ada yang menyebut emansipasi sebagai kesetaraan. Ada yang menggaransi: setara hanya di ruang publik. Ada yang mengatakan emansipasi adalah produk barat, dan agamanya sudah rinci mengatur bagaimana perempuan diagungkan. Tak pernah final. Tetapi semua mengaku memuliakan perempuan. Baca entri selengkapnya »

tentang cium tangan

f 27, 2010

Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di boulevard (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang keluar kota, ada acara keluarga, atau alasan lain yang dibuat-buat, yang intinya tak bisa hadir. Adik-adik yunior organisasi saya juga datang, berboncengan sepeda motor. Sebagian tak saya kenal, karena memulai kuliah setelah saya tak di kampus itu lagi. Tak apa. Baca entri selengkapnya »

tentang bola

f 6, 2010

Saya terhitung orang yang tak menyukai (sepak) bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia hiperbolik-lebai yang dapat kita baca dari unggahan status di facebook. Seperti status facebook anda hari ini, mungkin saja. Baca entri selengkapnya »

kerja keras adalah energi kita

f 5, 2010

Sore itu cuaca cerah. Setelah beberapa bulan dihajar kemarau berkepanjangan, kota kami sedikit sejuk kini. Saya tak sedang mengeluhkan situasi yang biasa disebut sebagai pemanasan global ini. Bersama istri dan putri kami yang belum genap enam bulan kami telah lama berencana berjalan-jalan dengan sepeda motor, ke pinggiran kota. Baca entri selengkapnya »

menjadi kaffah

f 31, 2009

Saya terhitung salah satu dari banyak kita yang suka omong besar. Serius berpikir soal rusaknya nasionalisme, pemberantasan korupsi, illegal logging, melemahnya kedaulatan ekonomi dan brengseknya kekuasaan. Namun di banyak saat dalam hari-hari saya, saya melakukan perbuatan-perbuatan kecil yang tak baik: membeli VCD bajakan, meludah sembarangan, atau tak hadir tepat waktu. Baca entri selengkapnya »

tentang maaf dan memaafkan

f 2, 2009

“Saya paling tak suka dibohongi. Saya menghargai kejujuran, meskipun kejujuran itu pahit.” Saya provokasi anda untuk tak serta merta percaya kepada untaian kata mutiara yang sering dijadikan motto dalam curriculum vitae ini. Saya lebih sering mendapatinya sebagai teori belaka, karena masih banyak orang yang tak siap mendengar berita buruk, kepahitan, termasuk memaafkan. Baca entri selengkapnya »

tentang menangis dan malam takbiran

f 30, 2009

hilal ramadhan 3Sampai hari ini saya masih menganggap lebaran sebagai satu ritus kultural paling penting sepanjang periode hidup saya dalam satu tahun. Boleh saja anda beranggapan saya termasuk mereka yang belum tebal imannya, karena belum sampai pada pemahaman transendental idul fitri sebagaimana menurut kitab suci. Mungkin saja anda benar. Namun bagi saya, seorang Jawa yang Islam—sebagaimana kata Gus Mus, ritus kultural lebaran membuat saya menggenapi kejawaan dan keindonesiaan saya saban tahun pada momentum paling fitri itu. Baca entri selengkapnya »

merdeka serius*

f 20, 2009

PIC_4438Apa makna kemerdekaan bagi anda? Seperti Kompas yang ‘kurang kerjaan’ menghitung pilihan kata pidato SBY sejak tahun 2005 pada idiom tertentu dan menyebutnya sebagai telaah semiotika? Atau masih menggerutu sebab kemerdekaan hingga hari ini belum sampai pada anda, diselingkuhi pemimpin yang gemar berfoya-foya? Atau bersuka cita sebab tanggal 17 secara manis menempel—tentu saja karena campur tangan Tuhan—di hari pertama pekan yang itu menandakan libur sambung-menyambung yang secara artistik-penuh-harap disebut long weekend? Atau abstain. Baca entri selengkapnya »