Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara

f 30, 2011

Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, indigenous people. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode belajar saat sekolah. Kebosanan saya menjadi-jadi menjelma menjadi kemarahan, terutama ketika saya SMA. Bersekolah di SMA seharusnya menyenangkan: satu fase pengakuan keremajaan dengan celana panjang abu-abu—untuk menutupi bulu kaki, pubertas, lawan jenis, avonturisme anak muda, dan banyak lagi. Baca entri selengkapnya »


Napak Tilas Bandar Lampung

f 17, 2011

Memenuhi permintaan sahabat maya saya, Mas Hartono Rakiman, penulis best seller buku Mabuk Dolar di Kapal Pesiar: Kisah-Kisah Para Pemburu Dolar, tertulislah posting ini. Kesempatan singgah di Bandar Lampung sungguh langka bagi saya. Tempat tinggal orang tua saya masih jauh dari Bandar Lampung, sekira 5 jam perjalanan bus. Saya pun tak familier dengan ibukota Lampung yang dahulu nomenklaturnya Tanjung Karang-Teluk Betung ini. Saya hanya sempat bermukim di kota ini satu bulan, saat persiapan UMPTN hampir sepuluh tahun lewat. Meskipun saban tahun mudik ke Lampung, saya hanya boleh puas melintasi Jalan Soekarno-Hatta a.k.a by pass saja. Cuti mudik hanya seminggu atau paling lama sepuluh hari, cukup sayang untuk dihabiskan di Bandar Lampung tanpa agenda yang benar-benar penting. Mudik bagi saya adalah waktunya di rumah, saja, sedapatnya banyak-banyak bercerita dengan bapak dan ibu. Lain tidak. Baca entri selengkapnya »


Dari Film ke Film

f 26, 2011

Saya menggemari film, meskipun tak maniak betul. Bagi saya film merupakan salah satu produk seni dan intelektual yang paling gampang menggerakkan hati saya, membuat saya terinspirasi selain membaca buku. Saya menyukai film terutama oleh sihir imajinatif film. Saya tak tahu apakah kesan saya atas imaji film dapat diteoretisasikan. Saya hanya merasa mengalaminya dan akan saya bagi kepada anda melalui posting ini. Baca entri selengkapnya »


Merayakan Kemayaan

f 14, 2011

Sejak sekira dua tahun ini saya memiliki aktivitas baru saban pagi, setiap hari kerja. Kira-kira 30 menit sebelum mulai bekerja saya membuka laman facebook. Membaca satu persatu status teman-teman. Beberapa diantaranya saya komentari. Saya paling menyukai sesi ini. Saya belajar banyak hal dari teman-teman. Hal-hal baik yang memotivasi saya untuk menerapkannya, sesuatu yang membuat saya memiliki inspirasi, atau status-status yang buruk bagi saya namun tetap saya baca. Baca entri selengkapnya »


Bachdim di Dadaku

f 14, 2011

Meski bukan penggemar sepakbola dan tak pernah sekalipun menonton langsung pertandingan di stadion, saya memberanikan diri menulis artikel Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola (Pikiran Rakyat, 20 Desember 2010). Dalam artikel tersebut saya memotret cerita di luar lapangan termasuk perilaku suporter yang selalu menarik untuk dikaji. Demam ‘kebangkitan sepakbola nasional’ pasca laga AFF lalu membuat saya mau tidak mau menjadi intens mengikuti perkembangan sepakbola di tanah air. Apalagi media seolah tak henti mengangkat isu sepakbola hingga publik nyaris bosan. Baca entri selengkapnya »


emansipasi dan generasi unggul

f 12, 2010

Tak ada isu yang diketahui hampir setiap orang namun diimplementasikan dalam sistem nilai yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Semua orang tahu emansipasi. Hampir semua sepakat untuk memuliakan perempuan. Dan sejak itu pula orang berkelahi merumuskan bagaimana formulasi perempuan dimuliakan. Ada yang menyebut emansipasi sebagai kesetaraan. Ada yang menggaransi: setara hanya di ruang publik. Ada yang mengatakan emansipasi adalah produk barat, dan agamanya sudah rinci mengatur bagaimana perempuan diagungkan. Tak pernah final. Tetapi semua mengaku memuliakan perempuan. Baca entri selengkapnya »


tentang cium tangan

f 27, 2010

Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di boulevard (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang keluar kota, ada acara keluarga, atau alasan lain yang dibuat-buat, yang intinya tak bisa hadir. Adik-adik yunior organisasi saya juga datang, berboncengan sepeda motor. Sebagian tak saya kenal, karena memulai kuliah setelah saya tak di kampus itu lagi. Tak apa. Baca entri selengkapnya »


tentang bola

f 6, 2010

Saya terhitung orang yang tak menyukai (sepak) bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia hiperbolik-lebai yang dapat kita baca dari unggahan status di facebook. Seperti status facebook anda hari ini, mungkin saja. Baca entri selengkapnya »


titik nol kilometer jogja

f 29, 2010

Anda boleh saja bersepakat bahwa Jogja telah meluntur sebab tengiknya kapitalisme, bedebahnya modernitas, atau tipisnya kesetiaan menjaga tradisi. Rasa kebudayaan Jogja semakin sulit dicari. Namun bagi saya tak ada tempat paling magis ketimbang titik nol kilometer jogja. Dengan senang hati saya mencandunya. Baca entri selengkapnya »


kerja keras adalah energi kita

f 5, 2010

Sore itu cuaca cerah. Setelah beberapa bulan dihajar kemarau berkepanjangan, kota kami sedikit sejuk kini. Saya tak sedang mengeluhkan situasi yang biasa disebut sebagai pemanasan global ini. Bersama istri dan putri kami yang belum genap enam bulan kami telah lama berencana berjalan-jalan dengan sepeda motor, ke pinggiran kota. Baca entri selengkapnya »