Archive for Januari, 2009

mereka yang menjaga tradisi

f 14, 2009

majalah-kentingan-62601578304_660Selasa siang (13/1) Pak Pos mengantarkan paket dari kawan LPM Kentingan UNS berisi Majalah Kentingan Edisi XV dan Buletin Civitas terbaru. Dalam beberapa jenak saya merasa kembali muda. Mengenang persinggahan saya yang tak terlalu lama dengan Kentingan. Sepanjang pengalaman saya tergabung sebagai wadyabala Kentingan, saya memang lebih banyak menjadi ‘anak bawang’. Saat mengikuti Diklat Jurnalistik Dasar, mengikuti Masa Rekrutmen Anggota (Marka), menjadi anggota dan pengurus saya adalah satu-satunya mahasiswa semester satu. Sisanya rekan-rekan semester tiga, dan semester lima. Pengurus Kentingan saat itu sebagian besar mahasiswa semester tujuh, semester sembilan bahkan ada yang semester sebelas. Sepanjang ‘karier’ saya di Kentingan saya banyak terlibat dalam edisi-edisi awal Civitas di bawah asistensi Budhe LisDha. Pada penerbitan Majalah Edisi XIII (2003) (?) saya hanya terlibat sebagai salah satu penulis Rubrik Kentrung. Baca entri selengkapnya »

Iklan

tour de java (1)

f 13, 2009

gedung_merseka-bandungSaya terhitung beruntung pernah menjejak kaki hampir di sepanjang daratan Jawa. Dari Pelabuhan Merak di Serang hingga Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Semenjak Jalur Pantai Utara Jawa yang jejaknya dibangun Deandles, hingga jalan lintas selatan (dan jalan lintas selatan-selatan). Sebagian besar ruas telah saya lalui, baik dalam keadaan terjaga di dalam bus maupun tertidur. Obsesi mengelilingi Jawa telah saya rintis semenjak kuliah di Solo. Baca entri selengkapnya »

sahabat-sahabat paling baik

f 6, 2009

manda-sulis-bayu-doni-sugeng-me-asep-hima-adibTerminal bus menjelang petang. Saya antarkan engkau menanti bus yang akan mengantarkan menuju mimpimu di bumi Nusa Tenggara. Saya sorongkan sebuah buku. Komik Sosiologi. Engkau tergagap, tak menyangka. Agar engkau selalu ingat kampus, dan menjadi sosiolog sampai dalam belulangmu, kata saya. Engkau tersenyum. Pada tanganmu yang kiri aku berikan sebuah Poci*. Supaya engkau selalu ingat, bahwa engkau memilki sahabat di Tegal, kata saya lagi. Engkau tak dapat berkata-kata. Bus telah terlihat di muka terminal. Engkau bergegas melompat di pintu belakang bus. Tersenyum kepada saya sebentar. Saya mengangguk-angguk. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Entahlah, bila suatu saat Tuhan mempertemukan kita kembali. Saya menghela nafas pelan-pelan: perpisahan kita benar-benar otentik. Baca entri selengkapnya »