emansipasi dan generasi unggul

f 12, 2010

Tak ada isu yang diketahui hampir setiap orang namun diimplementasikan dalam sistem nilai yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Semua orang tahu emansipasi. Hampir semua sepakat untuk memuliakan perempuan. Dan sejak itu pula orang berkelahi merumuskan bagaimana formulasi perempuan dimuliakan. Ada yang menyebut emansipasi sebagai kesetaraan. Ada yang menggaransi: setara hanya di ruang publik. Ada yang mengatakan emansipasi adalah produk barat, dan agamanya sudah rinci mengatur bagaimana perempuan diagungkan. Tak pernah final. Tetapi semua mengaku memuliakan perempuan.

Saya termasuk orang yang beriman pada keharusan untuk memuliakan perempuan. Salah satu bentuknya adalah memberi ruang, sedapat mungkin memfasilitasinya, bagi perempuan-perempuan saya untuk eksis. Setidaknya di ruang publik. Perempuan-perempuan saya hanya dua: istri, dan anak yang berkelamin perempuan. Memuliakan perempuan di ruang publik. Itu saja dulu. Namun saya mendapati problem-problem filosofis. Yang menarik untuk saya bagikan kepada teman-teman. Sekaligus berharap mendapat pencerahan.

Hambatan filosofis pertama bagi perempuan yang eksis di ruang publik, kita sederhanakan saja frase mbulet-mbulet-sok-filosofis ini sebagai: perempuan bekerja. Tepatnya, istri yang telah menjadi ibu, yang bekerja. Problem filosofis seorang perempuan yang juga bekerja, setidaknya ada dua, saya kira. Pertama, problem emansipasi yang tidak emansipatif. Kedua, problem pengasuhan anak.

Emansipasi yang tidak emansipatif. Bagi banyak perempuan yang bekerja, umumnya bila memiliki anak hampir dipastikan membutuhkan pengasuh-pengganti. Pengasuh-pengganti ini kategorinya macam-macam. Ada yang ‘membebankan’ kepada orang tua dan mertua, bila kebetulan masih satu tempat tinggal atau tempat tinggalnya berdekatan. Saya menyebutnya ‘membebankan’ karena kenyataan mengasuh anak bukan pekerjaan ringan. Selain faktor-faktor asketik seperti kasih sayang, masih ada faktor lain yang lebih dominan: kekuatan fisik yang prima.

Model pengasuhan lain yang sering dipilih: helper alias baby sitter. Konteks ini terutama yang saya sebut emansipasi yang mengorbankan kelompok lain agar tak emansipatif. Emansipasi laki-laki mengorbankan perempuan-perempuan terdekatnya. Emansipasi perempuan mengorbankan perempuan-perempuan lain yang menjadi pengasuh-pengganti atau Pembantu Rumah Tangga. Pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga bagi saya adalah pahlawan emansipasi yang sesungguhnya. Merekalah korban terakhir, muara korban, korban kali korban kuadrat dari emansipasi yang kita ketahui, sepakati, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya menerima sanggahan, tentu saja. Namun harap sanggahannya bukan karena mereka telah digaji, sehingga emansipasi yang kita cerabut telah berbayar. Ini bukan macam jual beli, saya percaya itu. Dalam skema implementasi emansipasi kita, yang memuliakan perempuan untuk berkarier, saya kira pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga sama sekali bukan karier. Mendapat gaji, ya. Tapi karier jelas bukan.

Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Inilah problem filosofis yang saya hadapi. Saya ingin menjadi orang yang memuliakan perempuan, kaffah per definisi. Namun ketika saya hanya memuliakan hanya perempuan-perempuan istri dan anak semata, maka ke-kaffah-an saya batal pula per definisi. Tentu, tentu. Saya sepakat bila anda mengatakan: bergantung bagaimana cara kita memuliakannya. Saudara-saudara, pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga sebaik-baiknya cara kita memuliakannya, tetaplah melanggar prinsip-prinsip emansipasi kita. Kaffah per definisi juga paralel artinya dengan tidak bersikap standard ganda. Bagi keluarga ya, bagi orang lain tidak. Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: batal keadilannya sejak dari pikiran.

Saya beruntung, karena istri saya hingga hari ini belum bekerja. Saya tak dibatalkan per definisi untuk menjadi orang yang setia pada nilai-nilai untuk memuliakan perempuan. Perempuan saya yang oleh keadaan memilih tinggal di rumah tak kurang mulianya dibandingkan perempuan yang bekerja di sektor publik, begitu kata Mario Teguh dalam pengajian-pengajiannya di Metro TV. Namun, kenyataannya istri saya tak berkarier. Perempuan karier mulia, ibu yang baik juga mulia. Oke. Oke. Tetapi, konsekuensi-bukan-filosofisnya: kami harus menunda memiliki banyak sesuatu. Karena sumber-sumber finansial kami praktis hanya dari saya. Saya menyesal, tentu tidak. Hanya membayangkan, bagaimana formulanya agar urusan finansial juga bisa menjadi filosofis. Maksudnya, soal-soal filosofis kan jauh dari lapar, haus, atau hal-hal yang dekat dengan nyawa. Cukup dipikirkan. Direnungkan dalam-dalam. Ditulis dengan sok-lebih-filosofis lagi. Lebih bagus bila filosofis yang puitis. Namun soal-soal finansial celakanya bukan urusan filosofis. Sekuat-kuatnya saya merenunginya di sepertiga akhir waktu malam di mana gelombang alpha dan tetha sedang kuat-kuatnya memancar, ketika saatnya sarapan saya lapar juga.

Ya. Memuliakan perempuan, siapapun dia. Kata kuncinya. Perempua-perempuan saya mudah-mudahan telah saya muliakan. Dan perempuan saya mudah-mudahan memilih menjadi ibu, yang tak kalah mulianya dibandingkan perempuan karier meskipun saya percaya kemuliaaan perempuan bukan untuk diperbanding-bandingkan. Saya lebih memilih sikap: ini adalah pilihan. Pilihan dengan segala konsekuensinya. Sedikit lapar, ah. Itu kan hanya ekses filosofis finansial. Banyak teman mengatakan sedikit lapar dapat ditahan dengan berpikir positif. Saya beriman dan memilih sikap itu.

Perempuan saya oleh sebab keadaan hingga hari ini memilih menjadi ibu yang mulia bagi perempuan saya yang satu lagi: puteri kami yang hampir 1,5 tahun usianya kini. Ekses filosofis finansial terjawab sudah pada momentum ini: istri saya berkesempatan menjadi pengasuh puteri kami, tanpa digantikan siapapun. Kami beruntung pula, tinggal di kota yang jauh dari orang tua dan mertua. Kami berkesempatan menjadi orang tua yang utuh, tanpa direcoki sistem nilai orang lain yang kadang-kadang berbeda dengan sistem nilai yang hendak kami bangun. Meskipun tentu saja sistem nilai kami dibangun dari interseksi dan saling-silang sistem nilai orang tua, lingkungan, pergaulan dan pengetahun yang kami miliki.

Kami banyak terbantu oleh teknologi, melalui kebaikan hati mbah Google, dan terutama buku-buku, juga televisi minus sinetron, dan pergaulan dengan orang tua lain. Buku pegangan kami sederhana, saya beli ketika kursus singkat dua bulan di Jogja: Kamus Perkembangan Bayi dan Balita: Practical Parenting. Terbitan Esensi. Buku ini saduran dari buku Baby and Child: All Your Questions Answered yang pertama kali diterbitkan Hamlyn Octopus. Buku-buku terbitan luar negeri kadang menjengkelkan dibaca bila tak disadur dengan menyesuaikan kultur kita. Meski buku ini terbitan luar negeri awalnya, namun Esensi mampu menyadurnya dengan baik. Nomenklatur gumoh misalnya, muntah yang sedikit berbeda dengan muntah karena sakit, ada dalam buku ini. Saya sengaja berpromosi, karena dibanding buku-buku lain yang kami miliki, buku ini yang paling memuaskan keingintahuan kami. Saya juga mengusahakan membelikan kado bagi pernikahan teman-teman dengan buku. Dan buku Kamus Perkembangan Bayi dan Balita yang paling sering kami pilihkan. Jadi, kalau anda hendak mendapat hadiah buku ini dari kami, menikahlah. Kalau sempat akan kami hadiahkan buku ini. Selama stoknya di toko buku masih ada, tentu saja.

Kembali soal mulia-memuliakan. Saya bangga ketika istri saya bangga memuliakan puteri kami dengan mengasuhnya sendiri. Seorang anak yang diasuh ibunya tentu lebih baik ketimbang diasuh siapapun. Lebih-lebih, ibunya sempat mengenyam pendidikan yang cukup. Pengetahuan yang dimiliki ibunya sangat berpotensi terserap oleh sang anak. Secara sederhana kami juga ingin seperti orang-orang tua lain yang memberikan pengasuhan terbaik, dan ASI ekslusif bagi puteri kami. Dalam kalimat sederhana pula, pola pengasuhan bagi puteri kami sedapat mungkin menggunakan kalimat-kalimat positif ketimbang kalimat negatif. Misalnya menghindari kalimat: jangan buang sampah dan menggantinya dengan kalimat buang sampah di sini. Saya tak hendak memanjangkan uraian-uraian ini karena saya percaya setiap bapak di republik ini pasti siap berkelahi untuk mengatakan anak dan keluarganya yang terbaik se-Indonesia. Saya percaya, setiap anak dan keluarga kita pastilah yang terbaik, dan mudah-mudahan demikianlah adanya seperti doa-doa yang kita lantunkan setiap waktu.

Istri saya memilih menjadi ibu, yang mudah-mudahan mulia. Istri saya mendedikasikan kemuliaannya untuk mengasuh puteri kami. Teorinya, puteri yang diasuh oleh ibu yang mulia berpotensi menjadi generasi unggul. Siapa tak kurang bangganya mendapati puterinya menjadi generasi unggul,  bukan. Nah, saya mendapati problem filosofis lagi. Begini kira-kira sistematikanya: istri saya ketika menjadi kanak-kanak dididik oleh keluarganya untuk menjadi generasi unggul. Setelah, mudah-mudahan tentu saja, menjadi unggul, istri saya tak mengaktualisasikan keunggulannya di sektor publik. Istri saya mungkin tak banyak memberi kontribusi-langsung bagi negara-bangsa ini ketimbang perempuan-perempuan karier lain, macam Sri Mulyani yang sempat memandu perekonomian nasional kita sekian waktu.

Oke, kita lanjutkan sistematikanya. Istri saya memilih mendukung pembangunan nasional melalui usaha-usaha nyata di garis belakang: mengasuh anak. Dengan keunggulan yang dimilikinya, istri saya mengikhtiarkan diri mendidik puteri kami, dengan harapan menjadi generasi unggul. Mudah-mudahan demikian adanya sebagaimana doa kami. Lalu, puteri kami, sebagaimana doa kami, menjadi generasi unggul. Puteri kami berkelamin perempuan, karena itu saya menyebutnya puteri bukan putera. Tetapi bukan itu maksudnya. Puteri kami kelak akan menjadi ibu. Puteri kami, sebagaimana ibunya dapat memilih sikap untuk menjadi perempuan karier yang mulia atau menjadi ibu yang mulia. Bila puteri kami memilih menjadi ibu yang mulia, ia akan mendidik anaknya untuk menjadi generasi unggul. Kami, keluarga kami mendidik generasi kami menjadi unggul. Ketika unggul, keunggulannya didedikasikan untuk mendidik dan mengasuh putera-puterinya menjadi generasi unggul.

Lalu, pertanyaan filosofisnya: generasi unggul yang tercetak-cetak secara siklikal ini kapan berbhakti secara langsung kepada negara-bangsa? He-he-he. Saya hendak melepaskan renungan filosofis ini segera. Karena perut telah diingatkan lapar, dan bubur ayam menunggu di santap di atas meja. Tabik.

Gambar diunduh di: benih.net

Iklan

4 Tanggapan to “emansipasi dan generasi unggul”

  1. alamendah Says:

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    saling terkait hingga generasi unggul itu semakin memenuhi bumi ini


  2. memuliakam kaum perempuan identik dengan memuliakan harkat kemanusiaan, masmpep. dari rahimnya kita menjadi ada. identik dengan rene descartes: “saya memuliakan perempuan, karena itu saya ada”, hehe …

  3. erick Says:

    dari keseluruhan uraian masmpeb di atas, satu hal yg cukup menarik buat saya ialah masalah uang. jadi ada istilah yg sering diungkapkan orang yi “uud” “ujung-ujungnya duit”.istri yang full time sbg ibu rumah tangga tentunya saja memiliki waktu yg lebih banyak untuk mengurusi urusah rumah dan anak2. namun belum tentu waktu yg lebih sempit untuk mengurusi rumah dan anak sebagaimana yg dimiliki wanita karier lebih rendah kadar manfaatnya untuk keluarga tsb dibanding wanita yg memilih menjadi ibu rumah tangga.karena biasanya seorang ibu rumah tangga belum tentu dapat memaksimalkan waktu yang sedemikian banyaknya dengan hal yang bermanfaat bagi keluarganya. dan sebaliknya bisa saja wanita karier justru lebih mampu memberikan manfaat dan pelayanan yg lebih berkualitas bagi keluarga walau dalam waktu singkat.ditambah lagi wanita yg berkarir tentu memiliki aktivitas serta lingkungan yg cenderung kondusif dpt menambah wawasan si wanita yg pada akhirnya wawasan tsb dpt menjai referensi bagi wanita karier dalam manjalankan tugas sbg ibu rumah tangga.satu hal yg perlu kita sadari sebagai laki2/suami/ayah di dalam keluarga, memang sepantasnyalah tugas mengurus rumah tangga tidak hanya dibebankan kepada wanita/istri/ibu.prinsip berbagi, saling mengasihi dalam setiap masalah keluarga, dalam setiap aktivitas keluarga alangkah lebih ringannya bila dipikul bersama.selain itu,sebagai istri/ibu yg bekerja jikalau ia bijak mengatur keuangannya (gaji yg diperolehnya), niscaya byk hal bermanfaat yg bisa digunakan dg uang tsb untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.dg demikian diharapkan suami pun tak terlalu berfikir keras bgmna caranya mendapatkan uang sampingan (pada kenyataannya gaji yg diterima kebanyakan pegawai di Indonesia memang tak memenuhi standar hidup mapan).karena kecenderungannya uang sampingan yg didapatkan tsb diperoleh melalui proses pelanggaran bahkan kejahatan atau setidak2nya kita hrs akui tdk halal.so, bagi saya kalau punya kemampuan dan kesempatan, “why not” mari dukung wanita utk berkarir. wanita yg sukses berkarir dan sukses membangun mengurus rumah tangga ialah wanita yg luar biasa, dan sudah selayaknya lah mereka memperoleh kemulyaan yg sejati dari Tuhan Yang Maha Esa.

    • masmpep Says:

      He-he-he. Sebenarnya fokusnya bukan soal duit. Premisnya sederhana: perempuan yang berkarier kabarnya disebut sebagai indikator emansipasi. Nah, agar perempuan emansipatif, lahirlah jenis-jenis okupasi yang kita sebut pembantu. Celakanya, pembantu ini perempuan. Jadi emansipasi perempuan tidak emansipatif bagi perempuan lain. Macam homo homini lupus. Ketika aku posting tulisan ini di fesbuk, entah kenapa hampir semua mengomentari konsekuensi-konsekuensi soal duit ini. Tak ada seorang pun yang mengomentari bagian paradoks emansipasi ini. Begitu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: