Bachdim di Dadaku

f 14, 2011

Meski bukan penggemar sepakbola dan tak pernah sekalipun menonton langsung pertandingan di stadion, saya memberanikan diri menulis artikel Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola (Pikiran Rakyat, 20 Desember 2010). Dalam artikel tersebut saya memotret cerita di luar lapangan termasuk perilaku suporter yang selalu menarik untuk dikaji. Demam ‘kebangkitan sepakbola nasional’ pasca laga AFF lalu membuat saya mau tidak mau menjadi intens mengikuti perkembangan sepakbola di tanah air. Apalagi media seolah tak henti mengangkat isu sepakbola hingga publik nyaris bosan.

Kebetulan, saat laga pertama Liga Premier Indonesia (LPI) antara Persema dan Solo FC yang masih menuai kontroversi, saya sedang berada di Solo. Kesempatan ini tentu tidak saya sia-siakan, meskipun kekhawatiran lazim penikmat sepakbola yang baru kali pertama menonton di stadion sempat membuat hati ketar-ketir. Namun dengan ‘jaminan keamanan’ dari empat adik tingkat semasa kuliah untuk menemani menonton, termasuk mencarikan tiket, saya memberanikan diri menikmati lebih dekat perilaku suporter kita. Sejak mula saya memang ingin mencatat lagak lagu suporter yang menarik untuk saya bagikan kepada anda.

Stadion Manahan tempat laga perdana LPI berlangsung mulai dipadati calon penonton semenjak siang. Tiket yang dijual langsung mulai pukul 13.00 membuat calon penonton harus tiba lebih awal, dari rencana pertandingan pukul 15.30, setelah sebelumnya diawali dengan pembukaan yang meriah.

Dalam mempersiapkan laga perdana LPI, panitia pelaksana, termasuk Pemerintah Kota Solo sadar bahwa sepakbola hari ini adalah momentum bersemainya nilai-nilai keindonesiaan yang mulai langka dalam kehidupan sehari-hari. Solidaritas primordial atas nama nasionalisme telah menjadikan pertandingan-pertandingan AFF tempo hari menarik perhatian publik. Dalam pembukaan kompetisi LPI masyarakat Kota Solo menyajikan pertunjukan kolosal yang dikemas apik, yang mereka sebut Solo Batik Carnival. Tak melulu batik, barisan demi barisan beratraksi menghibur penonton hampir 30 menit sebelum laga dimulai. Rancak, serempak, bersemangat diselingi tetabuhan yang menggoda Pemanasan yang dikemas menarik, membuat penonton seperti menonton festival budaya.

Peluit panjang ditiup wasit menandai dimulainya pertandingan. Pandangan saya tak henti menikmati atraksi suporter Pasoepati Solo di tribun selatan stadion. Pasoepati sendiri didirikan tahun 2000, oleh sejumlah suporter sepakbola di Solo, diantaranya Suwarmin, Kris Pujiatni, Mayor Haristanto dan kawan-kawan. Perjalanan Pasoepati sendiri cukup menarik. Pasoepati secara resmi merupakan akronim dari Pasukan Soeporter Pelita Sejati. Kala itu prestasi Persis Solo, sebagai klub lokal sedang tidak moncer. Justru klub Pelita Jaya, klub yang diboyong dari Jakarta dan kemudian bermarkas di Solo yang mendorong lahirnya Pasoepati.
Dukungan Pasoepati terhadap Pelita Jaya tidak berlangsung lama. Karena klub ini kemudian hengkang lagi dari Solo ke Banten dan berganti nama menjadi Pelita Krakatau Steel sebelum kemudian menjadi Pelita Jaya Karawang ketika home base mereka berada di Karawang. Tak lama kemudian masuk klub baru Persijatim, yang kemudian namanya berganti menjadi Persijatim Solo FC. Setelah menjadi pendukung klub Persijatim Solo FC, seiring dengan meningkatnya prestasi Persis Solo, Pasoepati kemudian mengikrarkan diri sebagai pendukung kesebelasan ‘asli Solo’ ini. Dan kini, ketika Persis Solo berlaga dalam Indonesia Super League (ISL), serta Solo FC masuk dalam kompetisi LPI, Pasoepati mendukung keduanya.

Sebagai tuan rumah, dukungan sekira 25.000 suporter sebagian besar diantaranya Pasoepati membuat personel Solo FC lebih percaya diri. Pada menit-menit awal tampak permainan Solo FC cenderung menekan pertahanan Persema. Hujan rintik yang membasahi Solo semenjak siang tak menyurutkan pemain dan suporter untuk larut dalam atmosfer pertandingan. Hampir seluruh stadion dipenuhi atribut berwarna merah menyala, simbol Pasoepati. Penonton seolah tak ingin beranjak dari tribun stadion yang basah, mungkin ingin menegaskan diri sebagai saksi liga yang disebut-sebut sebagai ‘kebangkitan sepakbola nasional’ ini.

Penonton sepakbola kini tak lagi didominasi anak muda yang urakan, dan tak jarang tercium aroma alkohol dari mulutnya. Pertandingan sepakbola kini tak ubahnya acara-acara kebudayaan pada umumnya, dan kini mulai menjadi industri hiburan yang semakin berkelas dan representatif. Tak sedikit perempuan kini menonton pertandingan. Saya juga melihat banyak keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak yang dengan riang menonton pertandingan. Sambil menyimak pertandingan, saya menyempatkan diri bertanya pada sejumlah anak muda yang duduk di dekat saya.

Salah satunya Dewi (18) mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta, yang sore itu datang bersama temannya Virgita (17), teman satu angkatannya. Gadis berjilbab ini mengaku datang dari Yogyakarta untuk menonton pertandingan langsung di Stadion Manahan Solo, sekira 2 jam perjalanan bus dari Yogya. Saya menduga pastilah karena pesona Irfan Bachdim. “Memang iya,” jawab Dewi. “Bachdim dan Kim Jefrey Kurniawan,” imbuh Virgita.

Tak heran bila sepanjang pertandingan teriakan-teriakan dukungan untuk Irfan menyela gemuruh lagu-lagu yang dinyanyikan Pasoepati. Namun saya mendapati suasana cukup fair dan sportif. Meski berada diantara ribuan suporter pendukung Solo FC, perempuan-perempuan muda pembela Irfan tetap bebas berekspresi. Seperti Farizani (18), mahasiswi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang datang bersama sang kekasih Hafidz (22), mahasiswa semester akhir Universitas Sebelas Maret (UNS). Farizani beberapa kali saya dengar meneriakkan dukungan untuk Bachdim. Sedang pacarnya bersorak membela Solo FC. “Tak cemburu mas,” tanya saya pada Hafidz. “Ya, tidak perlu cemburu mas. Ini kan permainan. Kami ke sini untuk senang-senang,” jawab Hafidz sambil melirik Farizani.

Pesona Bachdim semakin menjadi, apalagi ketika gol kedua Persema tercipta melalui tendangan Bachdim. Bacdim yang sadar digilai perempuan muda langsung memberi tabik kepada penonton di tribun, yang langsung bersambut tepuk tangan riuh. Tertinggal dua gol membuat permainan Solo FC sempat keteteran. Untuk menyemangati pemain, penonton di tribun utara, di belakang gawang yang sebelumnya terlihat tenang mulai bereaksi menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Tak hanya menyemangati pemain Solo FC, tak ketinggalan Pasoepati menyentil Nurdin Halid, lewat lagu plesetan Helly yang dipopulerkan penyanyi anak Chica Koeswoyo. Irfan pun disindir supporter Pasoepati lewat plesetan lagu Buat Apa Susah yang diganti liriknya secara jenaka. Sejumlah penonton hanya tertawa mendengar kreativitas Pasoepati, apalagi atraksi Pasoepati yang kompak di bawah kendali dirigen Sigit Omponx memang sedap dipandang.

Hingga Solo FC kebobolan satu gol lagi, sportivitas masih terjaga. Ketika seorang penonton melempar botol air mineral ke arah lapangan, sontak stadion bergemuruh menyorakinya. “Ndeso, ndeso….” teriak penonton yang mencela tindakan tersebut sebagai tindakan ‘orang desa dalam pertandingan antarkampung (tarkam)’. Suasana kembali tenang, meskipun Solo FC tertinggal satu gol lagi. Peran Pasoepati dalam mengelola fanatisme suporter Solo patut dipuji. Dalam lirik salah satu lagu yang mereka dendangkan misalnya terdengar jelas lirik: di sini Solo, di sana Malang tetapi kita tetap saudara…. Bahkan dalam menyaksikan pertandingan, unggah-ungguh khas Solo masih jelas melekat. Ketika sebagian penonton duduk, sedangkan penonton di baris depan berdiri, sontak penonton berteriak berirama: ‘(sing neng) ngarep lungguh, ngarep lungguh,” yang artinya ‘yang di depan harap duduk.’ Mendengar diteriaki, penonton di baris depan segera menyesuaikan diri.

Meski akhirnya kalah dikandang sendiri secara telak 5-1, pertandingan diakhiri dengan manis oleh Yunet Hardianto yang mempertipis kekalahan Solo FC. Seusai pertandingan, nyaris tak ada insiden berarti. Hampir semua penonton bertepuk riuh ketika pemain Persema dan Solo FC berpelukan setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhir permainan. Kemudian tak terduga-duga, banyak penonton laki-laki yang berteriak-teriak histeris: Bacdiiimmm…. Memuji Bachdim secara lebay menirukan penonton-penonton perempuan yang menyambutnya dengan tawa. Pertandingan sore kemarin tak salah kalau menjadi panggung bagi Bachdim, dan momentum bagi kebangkitan sepakbola di tanah air.

Gambar diunduh di ciungtips.blogspot.com

Iklan

2 Tanggapan to “Bachdim di Dadaku”

  1. sep Says:

    haduh panjang lalu bah postingannya….
    g sempet baca

  2. erick Says:

    Yaah..mudah2an lah industri persepakbolaan Indonesia semakin bersinar, sehingga semakin banyak pihak yg diuntungkan mulai dari pebisnis kelas kakap hingga peadgang asongan. Begitupun dg prestasinya, smoga mampu membawa nama baik Indonesia hingga ke kancah internasional..Smoga para pemainnya smakin bisa menyuguhkan permainan memukau..bukan sekedar kemampuan adu jotos..dan para supporternya agar smakin sportif.gak brutal..sehingga para penikmat sepakbola dari segala kalangan bisa nyaman dan aman utk menonton sepakbola scr langsung di stadion..bahkan org2 yang tdk menggilai sepakbola spt mas feb..dan Saya..bukan hanya sekali ke stadion utk menyaksikan pertandingan bola..tp bisa berkali2..bravo olah raga Indonesia…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: