Posts Tagged ‘sosiologi’

Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara

f 30, 2011

Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, indigenous people. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode belajar saat sekolah. Kebosanan saya menjadi-jadi menjelma menjadi kemarahan, terutama ketika saya SMA. Bersekolah di SMA seharusnya menyenangkan: satu fase pengakuan keremajaan dengan celana panjang abu-abu—untuk menutupi bulu kaki, pubertas, lawan jenis, avonturisme anak muda, dan banyak lagi. Baca entri selengkapnya »

Iklan

menjadi kaffah

f 31, 2009

Saya terhitung salah satu dari banyak kita yang suka omong besar. Serius berpikir soal rusaknya nasionalisme, pemberantasan korupsi, illegal logging, melemahnya kedaulatan ekonomi dan brengseknya kekuasaan. Namun di banyak saat dalam hari-hari saya, saya melakukan perbuatan-perbuatan kecil yang tak baik: membeli VCD bajakan, meludah sembarangan, atau tak hadir tepat waktu. Baca entri selengkapnya »

sahabat-sahabat paling baik

f 6, 2009

manda-sulis-bayu-doni-sugeng-me-asep-hima-adibTerminal bus menjelang petang. Saya antarkan engkau menanti bus yang akan mengantarkan menuju mimpimu di bumi Nusa Tenggara. Saya sorongkan sebuah buku. Komik Sosiologi. Engkau tergagap, tak menyangka. Agar engkau selalu ingat kampus, dan menjadi sosiolog sampai dalam belulangmu, kata saya. Engkau tersenyum. Pada tanganmu yang kiri aku berikan sebuah Poci*. Supaya engkau selalu ingat, bahwa engkau memilki sahabat di Tegal, kata saya lagi. Engkau tak dapat berkata-kata. Bus telah terlihat di muka terminal. Engkau bergegas melompat di pintu belakang bus. Tersenyum kepada saya sebentar. Saya mengangguk-angguk. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Entahlah, bila suatu saat Tuhan mempertemukan kita kembali. Saya menghela nafas pelan-pelan: perpisahan kita benar-benar otentik. Baca entri selengkapnya »