Merayakan Kemayaan

f 14, 2011

Sejak sekira dua tahun ini saya memiliki aktivitas baru saban pagi, setiap hari kerja. Kira-kira 30 menit sebelum mulai bekerja saya membuka laman facebook. Membaca satu persatu status teman-teman. Beberapa diantaranya saya komentari. Saya paling menyukai sesi ini. Saya belajar banyak hal dari teman-teman. Hal-hal baik yang memotivasi saya untuk menerapkannya, sesuatu yang membuat saya memiliki inspirasi, atau status-status yang buruk bagi saya namun tetap saya baca.

Membaca status yang buruk bagi saya merupakan laku sosiolog-kapiran. Saat membaca status yang buruk, maksudnya status yang menurut sistem nilai saya tidak baik ditulis, saya justru menemukan banyak ruang. Mengkhayalkan apa yang ada di benaknya ketika menulis status itu. Membayangkan kepribadiannya. Mencoba menerka mengapa ia menulis status itu. Kesimpulan-kesimpulan yang terbangun saya simpan saja dalam hati. Saya sedang belajar ilmu lama, yang dahulu sampai bosan kita dengar dalam pelajaran-pelajaran kewarganegaraan: tepo seliro. Ilmu sederhana: kalau kita tak ingin diganggu, jangan mengganggu orang. Kalau anda tak suka dengan orang pongah, maka anda juga jangan berperilaku yang sama karena orang lain lagi tak suka dengan kepongahan anda. Kalau saya terganggu dengan status-status buruk, maka sedapat mungkin saya tak mengetik kalimat-kalimat itu di status saya.

Apa definisi status yang buruk bagi saya? Sudah barang tentu saya bukan contoh yang baik dari pengguna facebook yang mampu menulis status yang baik dan perlu dibaca orang. Anda mulai dapat menggarisbawahi frase ‘perlu dibaca orang’ ini. Facebook, sebagaimana juga blog adalah ruang privat yang dipublikkan. Interseksi antar yang privat dan yang publik ini sesungguhnya pangkal dari lahirnya status-status buruk. Kita menganggap facebook sebagai ruang privat, tempat kita bebas bereksprasi. Padahal pagi-pagi kita telah diinsyafkan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kita bahwa kebebasan kita dibatas kebebasan orang lain.

Banyak dari kita tak siap memanfaatkan ruang privat yang terpublikasikan. Karena itu, sejak pertama kali memiliki akun blog dan kemudian facebook, saya berusaha meyakinkan diri sendiri untuk menulis hanya hal-hal ‘yang perlu diketahui orang’. Saya berusaha menempatkan aspek publik dari laman blog maupun facebook saya dengan pertanggungjawaban bahwa orang lain memang perlu membaca tulisan saya. Bahwa tulisan-tulisan yang saya unggah bersifat personal, jawabnya ya, tentu saja. Namun dalam kesadaran menulis saya, saya berpikir tulisan itu menarik untuk dibagi, orang mungkin tak rugi membacanya, syukur-syukur dapat belajar dari tulisan saya. Saya sepakat dengan anda, tak semua tulisan yang saya unggah sesuatu yang bernilai baik dan perlu dipelajari orang. Setidaknya seperti saya yang belajar dari status-status yang buruk, anda juga dapat belajar dari keburukan pengalaman maupun tulisan saya itu sendiri.

Saya percaya, menulis hal-hal baik tidak saja berguna bagi orang lain—karena kita menulis di blog dan facebook untuk dibaca orang—tetapi juga bermanfaat bagi diri sendiri. Saya mengimani seorang teman untuk menulis hal-hal yang baik, berbicara hal-hal yang baik, di manapun, dan apapun medianya. Seringkali kita terbiasa menulis hal-hal baik pada ruang yang mempersyaratkan kebaikan. Penulis misalnya, menulis fiksi atau esai dengan memikat dan dimuat banyak media massa. Namun ia menulis status di facebook-nya dengan isyarat kebencian, kata-kata yang tak santun yang lebih tepat disebut sengak, dan bebas memaki. Kesantunan penulis model ini hanya ketika ia menulis untuk media massa.

Saya tak hendak memanjangkan diskusi kita soal ragam tulis alay. Sungguhpun saya tak menyukainya, saya tetap membaca status teman-teman dengan ragam bahasa tulis alay. Juga teman-teman yang tak dapat membedakan huruf kapital dan huruf kecil sehingga kerap menulis status dengan huruf kapital semua. Termasuk teman-teman yang tak dapat memanfaatkan secara efektif inbox message, sehingga berkelahi melalui statusnya. Tak sedikit yang berkelahi secara menantang, dengan menyertakan tautan akun facebook yang ditantang berpolemik. Atau mereka telah berpolemik sebelumnya di inbox message atau melalui telepon sebelumnya, namun rasanya belum puas kalau belum di-share di statusnya.

Saudara-saudara, yakinkan diri anda untuk tidak mengatakan: facebook adalah ruang privat saya, saya menulis hal-hal privat tentang saya, dan kesalahan ada pada anda yang repot-repot mau membaca facebook saya yang privat. Baiklah. Saya tak hendak mengajak anda mendiskusikan culture lag, sebagaimana sosiolog-kapiran mendefinisikannya. Saya hanya ingin memberi tahu anda bahwa ada fasilitas microsoft word di komputer anda, yang dapat anda tulisi apa saja, pernyataan-pernyataan subversif sekalipun. Dan jangan lupa, setelah selesai mengetik klik simbol save di pojok kiri atas komputer anda, dan simpanlah dengan rapi file tersebut tetap di dalam komputer anda. Secara filosofis anda tak memaksa siapapun untuk membaca pernyataan tersebut kecuali ia membuka file tersebut tanpa seizin anda. Dan saya mendukung anda untuk mengkriminalkan pembajak tersebut. Jadi, selama anda tak hanya menyimpan tulisan anda dalam Data (D) komputer anda, maka anda patut diduga memaksa orang membaca status dan catatan anda di facebook maupun blog. Dan saya kira pantas orang yang anda paksa membaca status dan catatan anda menuntut sesuatu yang baik yang perlu dibacanya.

Tidak. Saya tidak pernah memanfaatkan fasilitas remove friend dalam laman facebook saya. Saya percaya saya tak berhak menghakimi siapapun. Justru dengan berteman kepada banyak orang saya belajar banyak hal. Seperti anda, saya berteman dengan hampir 1.000 teman di facebook, meski hanya tak lebih dari seperempat dari mereka yang benar-benar pernah saya kenal sebelumnya. Meski demikian, saya banyak berteman intim dengan banyak sahabat dari berbagai kota melalui facebook meski saya belum pernah mendengar bagaimana lagu suaranya. Sampai kini saya merasa memanfaatkan laman facebook secara postif. Saya mendapat banyak informasi berguna, teman-teman yang menyenangkan, dan belajar banyak hal, termasuk dari status-status yang buruk.

Bukan karena khawatir status saya buruk sehingga selama dua tahun ‘karier’ ke-facebook-an saya tak lebih dari 30 status yang pernah saya tulis, melainkan karena saya memang ingin memanfaatkan fasilitas status facebook saya menurut sistem nilai yang saya anut, terutama aspek ‘perlu dibaca orang lain’. Saya mengimani status seorang kawan yang menyebut indikator kedewasaan seseorang ditakar dari berapa lama ia berpikir sebelum menulis status facebook, atau seberapa sering ia menghapus status terdahulunya. Seturut logika teman saya itu, seseorang yang spontan menulis status facebook cenderung mengabaikan konsekuensi yang mungkin timbul dari statusnya. Selama seseorang tak berpanjang-panjang soal konsekuensi dari statusnya, menurut kawan saya itu, disitulah kedewasaannya dapat ditimbang.

Adagium ‘perlu dibaca orang lain’ juga saya ingat-ingat betul ketika menulis untuk blog. Meskipun mulai menulis sejak kelas 1 SMA tahun 1998 silam, sejak kini saya tak pernah memiliki komputer di rumah. Dulu saya biasa meminjam komputer teman kos, kini saya biasa mengetik di kantor. Tak memiliki komputer rasanya membuat saya dapat menulis secara efektif. Saya menulis esai untuk media massa beberapa kali. Begitu juga menulis untuk laman blog saya. Sebelum menulis, saya terbiasa merangkai outline tulisan saya di kepala. Sebelum menulis posting ini pun, saya juga melakukan hal yang sama. Waktu favorit saya merangkai outline adalah saat saya berjalan kaki sekira 1,5 sampai 2 jam, seorang diri, mengelilingi lingkungan rumah saya di mana persawahan luas terbentang, saat sore hari. Saya memilih olah raga jalan kaki karena praktis tak harus bergantung pada banyak orang sebagaimana halnya ketika kita hendak melakukan futsal atau tenis, atau badminton. Jalan kaki juga fleksibel soal waktu, lagi-lagi tidak bergantung orang. Dan yang paling utama: murah.

Berjalan kaki seorang diri, baik sore dan kadang-kadang pagi hari adalah firdaus bagi saya. Saya mulai merangkai-rangkai outline rencana esai, tulisan di blog, status di facebook, sesekali puisi—yang hingga kini masih saja gagal. Outline yang saya rangkai sepanjang hari saya simpan dalam hati. Ketika perspektif tulisan saya telah kuat, gairah untuk menulis meletup-letup. Celakanya, saya baru bertemu komputer keesokan harinya. Ekstase untuk menulis sembari menunggu mengetik di komputer saya nikmati betul. Seringkali saat tidur malam saya gelisah. Sulit tidur. Tak sabar menunggu pagi, dan cepat-cepat menulis di komputer. Model ini sangat saya sukai. Saat berjumpa dengan komputer, bila tak banyak pekerjaan dan mampu fokus menulis, satu esai pendek 5.000 karakter dapat saya selesaikan dengan cepat. Saya justru tak yakin dapat menulis efektif bila komputer ada di rumah saya. Saat beberapa kali saya membawa laptop kantor ke rumah, seringkali saya malah gagal menghasilkan tulisan. Menulis setelah outline berkecamuk semalaman di kepala, apalagi di kantor banyak pekerjaan sehingga saya harus mencuri-curi waktu menulis membuat gairah menulis semakin membara

Menulis blog yang katanya bersifat personal justru lebih lama bagi saya ketimbang menulis essai. Menulis blog pada banyak tulisan justru membuat saya harus sering-sering membuka google untuk mengecek akurasi data. Tulisan-tulisan dalam blog saya umumnya pengalaman personal, lebih banyak catatan perjalanan dan kuliner. Karena saya percaya adagium ‘perlu dibaca orang lain’ dalam menulis blog, saya merasa perlu untuk menguatkan pandangan mata saya, percakapan dengan orang maupun informasi yang saya dapat dengan membandingkan tulisan-tulisan sebelumnya dalam wikipedia maupun google. Akurasi ini lebih banyak saya lakukan pada informasi detail nama tempat, istilah atau sejarah. Google menyediakan banyak informasi sehingga saya menggunakan teknik trianggulasi untuk menguji informasi mana yang saya kutip. Sengaja saya tak menyertakan sumber kutipan karena saya mengutip hal-hal yang sebenarnya telah umum, namun saya hendak memastikannya saja. Misalnya ketika saya mencari persisnya nama satu gedung di Kota Lama Semarang.

Menulis blog dan membaca status teman-teman di facebook telah menjadi ruang bagi saya untuk mengisi jiwa. Selesai menulis rasanya seperti telah membersihkan jiwa. Saya merasakan kepuasan yang tak terukur. Mungkin ini yang dikatakan Maslow sebagai kebutuhan aktualisasi. Saya beruntung dahulu gemar membaca dan kemudian nekat menulis. Saya bahkan berpikir bila yoga, semadi, zikir, atau musik sebagai terapi membersihkan jiwa, saya kira menulis juga akan menimbulkan efek yang kurang lebih sama.

Gambar diunduh di bunghackers.blogspot.com

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: