menjadi kaffah

f 31, 2009

Saya terhitung salah satu dari banyak kita yang suka omong besar. Serius berpikir soal rusaknya nasionalisme, pemberantasan korupsi, illegal logging, melemahnya kedaulatan ekonomi dan brengseknya kekuasaan. Namun di banyak saat dalam hari-hari saya, saya melakukan perbuatan-perbuatan kecil yang tak baik: membeli VCD bajakan, meludah sembarangan, atau tak hadir tepat waktu.

Tak ada perubahan ideologis apapun pada diri saya, ketika saya memilih idiom kaffah dalam posting ini. Saya tak sempat membuka kamus, namun kaffah saya maknai sebagai paripurna. Menjadi kaffah berarti menjadi insan paripurna, yang berkualitas insan cita. Adakah manusia paripurna? Ada. Tentu saja ada jawabnya. Frase ‘tak ada manusia yang sempurna’ tentu tak menghalangi kita untuk menjadi sempurna.

Satu sore pada sebuah agen bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) di satu kota kecil Sumatera saya sedang menunggu bus yang akan mengantar saya ke Jawa. Di muka kantor ada seorang penjual rokok serius menguliti sebuah buku, cover-nya merah. Bergambar tiga bocah berpose sumringah. Tak salah lagi: Laskar Pelangi. Sebagai sosiolog-kapiran sudah tentu realitas ini menarik bagi saya. Saya tak meragukan demam Laskar Pelangi di mana-mana, yang bagi beberapa kawan (termasuk saya, dalam hati) menganggapnya sebagai desakralisasi Laskar Pelangi. Bagi kawan-kawan saya itu (termasuk saya juga dalam hati), Laskar Pelangi, Pramoedya Ananta Toer, Che Guevara atau Soe Hok Gie adalah milik ‘kami’. Kamilah yang ‘berhak’ untuk membacanya, mendiskusikannya, termasuk menggunjingkannya, untuk menandai pada kelas apa level kami dalam pembangunan di Indonesia. Demam ini sejatinya adalah komodifikasi, umpat kawan saya itu (dan saya juga dalam hati). Namun kawan-kawan saya (dan saya yang hanya dalam hati) tak berani menyampaikan kegelisahan ini secara terbuka. Sampai Putu Wijaya menuliskan realitas kaum intelektual ini di satu media, dan celakanya saya lupa media termasuk judulnya sehingga saya tak terlalu merasa bersalah (dalam hati) karena sempat dihinggapi pemikiran srei dengki seperti ini.

Saya menyapa penjual rokok itu. Dengan legitimasi keilmuan-kapiran, saya bertanya sudahkah ia membaca Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. Penjual rokok itu, berjanggut tipis itu antusias bercerita, bila ia baru punya Sang Pemimpi. Belum ada uang untuk membeli Edensor dan Maryamah Karpov, katanya. Saya memberi solusi lugas: cari yang bajakan saja pak. Kan lebih murah. Bapak setengah baya, berjanggut tipis, berseri mukanya, menggelang mantap: kasihan penulisnya mas, kalau kita membeli buku bajakan. Nanti saja saya ke pasar loak, mencari (buku) yang bekas. Itu pun kalau sudah ada yang melego bukunya.

Saya terkesiap. Sedikit kemalu-maluan, sebab beberapa menit sebelumnya setelah saya berkenalan ia masih mengingat artikel saya soal landmark kota itu yang dimuat sebuah media regional. Beberapa saat sebelumnya saya juga bercerita sedikit (sedikit sombong, tentu saja) bahwa puisi saya menjadi finalis Lomba Cipta Puisi-Prosaik Krakatau Award 2009. Saya tersenyum kepadanya: bagaimana mungkin seorang pembaca sangat menghargai kemampuan kreatif penulis, sedang seorang (yang dalam hati selalu berdoa menjadi penulis peraih nobel) menyarankan satu tindakan kriminil. Sore itu saya merasa menjadi seorang kriminil.

Senja yang lain, sepulang kantor saya berseri-seri. Kami tak miliki VCD player, sehingga hampir setiap akhir pekan kami membawa laptop kantor untuk menonton VCD atau DVD di rumah. Satu tindakan koruptif yang membuat penyusutan aset kantor semakin cepat ketimbang laptop itu tak saya pinjam. Biasanya kami menyewa VCD di rental langganan kami. Jumat sore, kami bersepeda motor berdua menyusuri jalanan sekira 15 km untuk menyewa VCD. Minggu sore, kami berdua lagi menyusuri jalan yang sama, mengembalikan VCD. Hampir itu-itu saja rutinitas akhir pekan kami, sampai istri melahirkan. Agar tak repot, saya inisiatif membeli DVD bajakan seharga Rp. 8 ribu. Berisi 8 judul film.

Sehabis mandi, saya mulai menyiapkan laptop. Berseri-seri, sambil mengatakan kepada istri saya menemukan cara ‘efisien’ menonton film-film bermutu akhir pekan itu. Saya mempromosikan judul-judul film bagus yang sudah kami nanti-nantikan. Saya katakan saya membelinya murah, seharga Rp. 8 ribu. Istri saya tersenyum kecut. Katanya: tidakkah mas merasa berdosa membeli dan menonton DVD bajakan? Tidakkah sebaiknya kita menyewa saja untuk satu tontonan sehat dan halal? Saya bengong (tanpa *mode on* seperti yang ditulis banyak orang di facebook. Karena sampai kini saya tak pernah tahu maksud simbol itu. Entah, mungkin satu waktu Dan Brown sang ahli simbologi akan mengangkatnya menjadi pemikat cerita salah satu novel thiller-nya). Malu saya, ketika merasa menjadi penulis namun tak benar-benar menjadikan spirit tulisan sebagai satu sikap.

Saya terngiang-ngiang kembali soal-soal korupsi, brengseknya birokrasi, kegelisahan anak muda pemberang, human trafficking, dan sejenis itu. Satu waktu ketika saya sedang menumpang bus, akan silaturahim ke rumah mertua. Untuk perjalanan jarak dekat biasanya kami tak membawa bekal air mineral, namun membawa beberapa butir buah-buahan berair. Seperti jeruk atau pir, sebagai pengganti minum. Cemilan segar. Satu pir telah saya habiskan, tanpa malu-malu saya menaruh (eufimisme untuk idiom ‘membuang’) sisanya di lantai bus. Masih bersikap tenang, saya mencomot sebutir jeruk lagi. Istri saya tak mendelik, tak merengut, tak berkomentar apa-apa. Namun ia memungut kembali sisa buah pir itu, dan mewadahinya dalam satu plastik. Seperti halnya jeruk dan pir yang belum dimakan, plastik sampah itu ia masukkan kembali dalam tas. Membawa sampah dalam tas? Kening saya berkerut. Katanya: bukankah mas sendiri pernah bercerita bahwa di Jepang anak kecil menggenggam bungkus permen sampai ia menemukan kotak sampah. Bukankah mas suka sinis melihat pengendara mobil mewah yang membuang sampah di jalan raya, sebagaimana mas pernah baca di Kompas?

Saya menelan ludah. Teringat bahwa kedua realitas itu pernah saya jadikan bahan untuk pengantar penelitian saya bertajuk bio-etika, yang saya ikutkan dalam Lomba Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) (d.h. Mahasiswa Teladan) dimana saya pernah menjadi Juara 1 Tingkat Fakultas dan Juara 5 Tingkat Universitas pada tahun 2005. Bio-etika, penulis, Mawapres, sosiolog-kapiran, membuang sampah sembarangan. Saya tersenyum sungkan.

Satu waktu yang lain saya berkesempatan menikmati sore yang tempias di Malioboro, bersama istri. Kami berjalan kaki menyusuri trotoar di sela lalu lalang orang menenteng belanjaan. Malioboro cukup nyaman, setidaknya ruas jalan yang menyatu dengan Jalan Ahmad Yani ini menyediakan diri sebagai zebra cross terpanjang di Jogja. Mau menyeberang, silakan. Di mana saja. Seperti kami. Puas menjelajah sisi kiri Malioboro, kami bermaksud menyeberang  ke sisi trotoar di sebelah sana. Kami berjalan beriringan dengan sepasang muda-mudi bule.

Agar efisien saya menggandeng punggung tangan istri, berniat hendak menyeberang. Sekira 3 meter di muka kami tampak zebra cross. Namun saya berbaik sangka, bahwa tempat saya berdiri pastilah masih berada dalam ‘yurisdiksi’ zebra cross. Kami berdiri tegak di tepi jalan, bersiap menyeberang. Dengan tenang kami melangkah, sedang sepasang bule itu menggenapi langkahnya, menuju zebra cross. Kami melangkah beriringan. Bedanya saya melintasi badan jalan, sepasang bule itu berjalan di zebra cross.

Gambar diunduh di 4.bp.blogspot.com

Iklan

5 Tanggapan to “menjadi kaffah”


  1. maraknya bajakan di negeri ini bisa jadi tak lepas dari etos bangsa kita yang memmang belum memiliki budaya apresiasi terhadap hak cipta. saya tdk menyalahkan penggunanya, tapi justru produsen dan pengedarnyalah yang patut dikambinghitamkan. selamat tahun baru, masmpep, selamat menyongsong perubahan dan pembaharuan.


  2. jadi teringat pepatah ‘Gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, semut di seberang lautan kelihatan’.
    Jujur, saya pun masih suka melakukan kesalahan yang sama, ketidaksinkronan apa yang diucap (biasanya ini dilandasi paham idealisme) dengan apa yang dilakukan(pembelaan:habis harganya jauh sekali bedanya, coba kalau murah). Setidaknya sadar itu salah dan ada upaya untuk memperbaikinya.

    Cari Uang Di Internet

  3. RAH Says:

    membaca ini, saya menikmati sekali konfliknya. dan saya pikir inilah dunia real peradaban kita. berangkat dari kasus2 yang dipaparkan, kadang saya jadi teringat dengan slogannya Aa Gym, 3M, yang terpenting adalah poin: mulai dari diri sendiri. namun di sisi lain saya juga teringat pelajaran sosiologi di kampus, bahwa semua tergantung sistem. jadi yang harus dibenahi itu sistemnya, sehingga ketika sistemnya baik, maka akan lahir pula generasi dan pribadi yang baik pula.

    ini kayaknya menarik kalau didiskusikan dalam konteks eksistensialis Feb. bagaimana mengadanya kita.

  4. masmpep Says:

    @ sawali tuhusetya:
    pembajakan soal etos, perilaku produsen, bisa jadi. ketika menulis posting ini saya hanya ingin menjadi orang baik saja kok pak.

    @ bisnis di internet:
    ya, idealisme seringkali lebih seksi dibayangkan ketimbang diaktualkan.

    @ RAH:
    A’a Gym jelas idola saya bung. saya cocok dengan ceramahnya soal hati yang ikhlas, sebagaimana yusuf mansyur dengan teori sedekahnya. bagi saya ajaran yang mereka teruskan dari nabi itu sangat njawani ketimbang ustad2 lain, satu sikap yang mampu menggerakkan saya. sebagaimana kata mustofa bisri: saya jawa dulu, baru islam.

    eksistensialis? saya sedang berencana menulis cerpen, soal kegelisahan saya, yang kemudian oleh putu wijaya dituliskannya dalam esai. versi fiksinya yang belum ada, saya kira: soal arogansi intelektual terhadap hak intelektualitas.


  5. maaf mas, bukankah kaffah itu artinya utuh?
    klo dalam bahasa agama di katakan , jadilah engkau muslim yang kaffar
    dengan maksud agar kita manusia tidak hanya mengaku islam di KTP tapi kelakuan kayak binatang, suka korupsi, zina, merasa benar sendiri dll…maaf klo saya salah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: