Posts Tagged ‘solo’

Bachdim di Dadaku

f 14, 2011

Meski bukan penggemar sepakbola dan tak pernah sekalipun menonton langsung pertandingan di stadion, saya memberanikan diri menulis artikel Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola (Pikiran Rakyat, 20 Desember 2010). Dalam artikel tersebut saya memotret cerita di luar lapangan termasuk perilaku suporter yang selalu menarik untuk dikaji. Demam ‘kebangkitan sepakbola nasional’ pasca laga AFF lalu membuat saya mau tidak mau menjadi intens mengikuti perkembangan sepakbola di tanah air. Apalagi media seolah tak henti mengangkat isu sepakbola hingga publik nyaris bosan. Baca entri selengkapnya »

Iklan

tentang cium tangan

f 27, 2010

Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di boulevard (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang keluar kota, ada acara keluarga, atau alasan lain yang dibuat-buat, yang intinya tak bisa hadir. Adik-adik yunior organisasi saya juga datang, berboncengan sepeda motor. Sebagian tak saya kenal, karena memulai kuliah setelah saya tak di kampus itu lagi. Tak apa. Baca entri selengkapnya »

nasi kucing

f 3, 2009

nasi-kucingMakan adalah soal cara. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya nasi bakar. Bila ia dibungkus daun jati, Orang Cirebon menyebutnya nasi jamblang. Dibungkus selagi hangat dengan daun pisang muda lain lagi namanya: nasi timbel. Dibungkus sejumput-kecil di Bali disebut nasi jinggo. Di Tegal orang bilang nasi ponggol. Lain lagi Wong Solo dan Wong Jogja, inilah yang populer sebagai nasi kucing. Baca entri selengkapnya »