merdeka serius*

f 20, 2009

PIC_4438Apa makna kemerdekaan bagi anda? Seperti Kompas yang ‘kurang kerjaan’ menghitung pilihan kata pidato SBY sejak tahun 2005 pada idiom tertentu dan menyebutnya sebagai telaah semiotika? Atau masih menggerutu sebab kemerdekaan hingga hari ini belum sampai pada anda, diselingkuhi pemimpin yang gemar berfoya-foya? Atau bersuka cita sebab tanggal 17 secara manis menempel—tentu saja karena campur tangan Tuhan—di hari pertama pekan yang itu menandakan libur sambung-menyambung yang secara artistik-penuh-harap disebut long weekend? Atau abstain.

Pertanyaan di muka tentu pertanyaan retorik saja. Anda tak perlu mengerut kening dan berpikir rumit seperti menjawab soal Sipenmaru, UMPTN, atau SPMB dulu. Bahwa jawaban (a), karena postulat satu dan postulat tiga benar, atau jawaban (b) sebab postulat dua dan postulat tiga benar namun tidak menunjukkan hubungan sebab akibat. Atau jawaban (c) karena postulat satu, dua, tiga, dan empat benar. Atau jawaban anda (d), anda mendapat bonus karena pertanyaannya yang salah. Anda tak perlu ragu, misalkan—hanya seandainya saja—jawaban anda keliru dan sama dengan teman sebangku. Saya tak menganggap anda bekerja sama, apalagi mencontek.

Makna kemerdekaan dapat kita tengarai pada perayaan yang digelar khalayak. Pesta tujuh belasan bersifat aktual, mudah diraba, kekinian, seronok, jadi tak perlu berpanjang-panjang soal teori atau nggombal filosofis. Kemerdekaan dimanifestasikan dari pesta rakyat yang kolosal: panjat pinang, tarik tambang, balap karung, sepak bola sarung, gebuk bantal, makan kerupuk, lari kelereng, sepak bola terong. Tak perlu sinis mengatakan itu semua ejawantah dari explotation de l’home par l’home, atau secara naif mempertanyakan relevansi pesta rakyat dengan ‘kemerdekaan’. Pokoknya merdeka berarti bebas, gembira ria suka-suka—mengutip Andrea Hirata, tentu ia tak bicara soal merdeka ketika menulis idiom ini. Tapi nama bus yang mengangkutnya dari pelabuhan hingga ke rumah.

Merdeka bebas saja ditafsirkan. Seperti kemarin petang, saat saya melintasi trek Banjarnegara-Purbalingga-Purwokerto-Bumiayu-Tegal. Sambung-menyambung rakyat berpawai. Semenjak pagi hingga petang bus yang saya tumpangi beberapa kali berjalan melambat, atau berhenti sama sekali. Di Bumiayu, pawai tujuhbelasan lebih dramatis lagi. Pawai tingkat kecamatan itu diikuti ribuan peserta, sepanjang tiga kilometer. Tak hanya ‘instansi resmi’, masyarakat yang mengatasnamakan sejumlah desa atau dukuh juga berpawai. Ada yang serius membuat replika pesawat atau ikan lele, ada yang sesuai ‘protokol’ berpakaian sesuai konsep ‘tokoh agama’, ‘pakaian adat’, ‘militer/pejuang’, juga ‘petani’, namun ada pula yang ‘berpakaian setan’: hitam-hitam, coreng-moreng, dan tak jelas mencerminkan karakter apa.

Barisan drumb band sambung-menyambung. Hampir tak ada yang mendendangkan lagu-lagu perjuangan. Kalau tidak lagu Cari Jodoh, ya Lupa-Lupa Ingat. Tidak kelompok drumb band SMA, SMP, SD, sama saja. Tak apa. Lagu-lagu L. Manik, H. Mutahar, atau Ismail Marzuki mungkin sudah tak mampu menangkap gejolak semangat zaman. Serahkan saja anak-anak muda kita hari ini. Begitu kira-kira makna yang saya tangkap dari pilihan lagu drum band.

Semua bergembira. Kami pelintas trek lintas selatan itu tak berkeberatan lalu lintas macet sekira satu jam. Sopir bus saya bergurau akrab dengan peserta pawai. Atau berbagi kacang rebus dengan sesama sopir sambil bercanda: sudah, pulang saja. Pawai masih panjang. Nanti di Purwokerto macet lagi, sebab Gus Dur konser dengan Bang Haji Oma (Irama).

Sesaat setelah menyelesaikan pendidikan menengah, saya tak pernah lagi mengikuti prosesi tujuh belasan. Sebabnya sederhana, saat kuliah kampus tak mengadakan upacara. Nekat berupacara di stadion salah-salah dipiting Satpol PP, karena saya tak memiliki ‘instansi’. Setelah bekerja, saya pun belum pernah mengikuti upacara. Sederhana saja, saya terlahir sebagai perantau yang jauh dari sanak-saudara. Long weekend adalah firdaus bagi saya, untuk menyambung silaturahim.

Meski demikian, saya selalu setia di depan televisi. Sesi Detik-detik Proklamasi tak pernah terlewat oleh saya. Berharap-harap cemas menanti siaran bermutu mengenai kemerdekaan. Misalnya film-film seperti Soerabaia 45, atau Serangan Fajar, atau Janur Kuning, atau Doea Tanda Mata, atau Naga Bonar, atau November 1828, atau Kereta Terakhir ke Jogja. Namun tak ada. Tak pernah ada lagi. Kecuali Pearl Harbour, Band of Brothers, atau Saving Private Ryan. Tak apa. Toh setting-nya Perang Dunia II juga. Tak peduli yang satu terjadi di Hawaii dan Normandia, yang lain terjadi di Banten Selatan atau Gombong.

Hari benar-benar petang. Bus yang saya tumpangi mulai masuk kota. di terminal saya turun. Mengambil sepeda motor yang saya titipkan. Bendera merah putih masih menghiasi kota. menggenapi tujuh hari ‘protokol’ pengibaran Sang Merah Putih. Ya, berkibarlah benderaku, lambang suci gagah perwira. Di seluruh pantai Indonesia, kau tetap pujaan bangsa. Siapa berani menurunkan engkau, serentak rakyatmu membela. Sang merah putih yang perwira. Berkibarlah slama-lamanya.

* Dikutip mentah-mentah dari idiom milik WS Rendra, ketika memberi kesan atas peristiwa dan rute yang dilewatinya tiga tahun lalu, persis dengan peristiwa dan rute yang saya lewati beberapa hari lalu. Bedanya, WS Rendra melakukan perjalanan budaya dalam kapasitas sebagai deklamator dan pembicara rupa-rupa acara kebudayaan, sedang saya tidak.

Gambar diunduh dari: kotapalembang.blogspot.com

Iklan

9 Tanggapan to “merdeka serius*”


  1. metpuasa masmpep 🙂
    maav lahir batinn ya 😀

    semoga puasanya lancar dan terjauh dari godaan saytoonn ..
    aminnn
    hhe

    marhaban ya ramadhan

  2. lintang Says:

    Saya sendiri setiap tgl 17 Agustus selalu setia di depan TV menonton acara langsung pengibaran bendera di istana dan setiap tahun pula saya meneteskan air mata terharu, saya selalu menjadi bulan-bulanan teman-teman dan saudara-saudara karena ini 🙂

    Yang menjadi perhatian saya belakangan ini adalah kata merdeka, berapa kali saya temukan orang mengatakan kita belum merdeka. Ketika saya baca lagi ternyata maksudnya belum bebas misalnya belum bebas dari kemiskinan, kebodohan, korupsi dll.

    Saya sendiri merasa keberatan kalau kita dikatakan belum merdeka, terbayang tidak jika kita bicara seperti itu di depan para pejuang kemerdekaan yang sudah sepuh (veteran perang) atau keluarga para pahlawan kemerdekaan? Masak perjuangan mereka dikatakan tidak berhasil karena kita merasa belum merdeka!

    Ya semoga kita tetap bisa mengisi kemerdekaan ini tanpa menghilangkan makna kemerdekaan yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita.

    Selamat berpuasa mas mpep! Btw, sy baru tahu bahwa 17 Agustus 1945 itu bertepatan dengan Nazulul Qur’an tgl 17 Ramadhan. Mengapa tidak ada yang menceritakan bagaimana para proklamator menahan lapar dan dahaga ya ketika memproklamirkan kemerdekaan kita? atau saya yang belum pernah baca :”>

    Salam,
    Lintang

    • masmpep Says:

      @ phii
      amien. amien. semoga saya tidak menjadi salah satu syaiton itu, ha-ha-ha.

      @ lintang
      ada blog bagus mengenai sejarah undercaver. anusapati.com. mampir aja mbak.

  3. haris Says:

    saya merayakan kemerdekaan dengan duduk di depan komputer. menuis. he2. plus menonton film merah putih yang ternyata gak bagus2 amat.

  4. morishige Says:

    saya sih hobi nggombal filosofis. :mrgreen:
    bagi saya merdeka itu bebas melakukan apapun tanpa intervensi pihak luar. “suka-suka gue” gitu lah.

  5. zenteguh Says:

    kemerdekaan hakiki, itu yang selalu saya nanti….entah kapan datangnya, saya juga tak bisa menerka…

  6. masmpep Says:

    @ haris
    film merah putih memang tak sesuai harapan. padahal latar belakang ceritanya mestinya menggetarkan. gugurnya kadet MA tangerang, antara lain lettu subijakto, dan kisah margono djojohadikusumo ketua DPA pertama….

    @ morishige
    kemerdekaan adalah hak, namun dengan tak menginterupsi hak orang lain kan mas?

    @ zenteguh
    kemerdekaan hakiki itu yang seperti apa mas? tidakkah pernyataan kemerdekaan sudah diproklamirkan?

  7. RAH Says:

    yang jelas merenungi saat peringatan kemerdekaan tu sangat emosional.

    malah dadi pengen komen mb lintang:
    saat itu gak ada cerita bagaimana proklamator menahan dahaga, wong lagi merayakan kemerdekaan. termasuk merdeka dari lapar dan dahaga, alias ra puasa (he he just kidn)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: