titik nol kilometer jogja

f 29, 2010

Anda boleh saja bersepakat bahwa Jogja telah meluntur sebab tengiknya kapitalisme, bedebahnya modernitas, atau tipisnya kesetiaan menjaga tradisi. Rasa kebudayaan Jogja semakin sulit dicari. Namun bagi saya tak ada tempat paling magis ketimbang titik nol kilometer jogja. Dengan senang hati saya mencandunya.

Ruang itu 3 meter kali 50 centi. Persis di bawah beringin. Ada banyak, namun bila ramai perlu sedikit antre. Lega, cukup nyaman untuk berempat. Namun paling ideal berdua saja. Seperti saya, biasanya bersama pacar, kemudian istri, dan paling cepat tahun ini bersama anak kami juga. Setelah putar-putar kota dengan Transjogja, kami sengaja turun di Hotel Inna Garuda di mulut Jalan Malioboro. Menyusuri kaki lima semenjak dari utara. Melintasi Jalan Ahmad Yani. Saat mulai lapar membelok di Pasar Beringharjo, mencari gudeg. Sebelumnya tak pernah terlupa membeli barang lima tusuk sate gajih sandung lamur-coklat-berminyak-kemerahan di sudut selatan pasar.

Sambil membawa jajan pasar atau buah salak, melanjutkan langkah ke utara. Mendapati bangku-bangku kukuh. Boleh pilih, di muka Gedung Agung dengan view Beteng Vredeburg. Atau sebaliknya. Melirik Kantor Pos Besar boleh. Kalau anda beruntung sekelompok anak muda—yang semakin segelintir jumlahnya—pastilah sedang mengibarkan bendera organisasi dan almamater. Memekik membangunkan siang lewat megaphone. Saya sarankan anda untuk menikmatinya sebagai bagian dari turisme. Tak salah bukan? Kota ini sudah lama ditabalkan sebagai kota pelajar, kota budaya, kota (tempat berseminya) gerakan sosial.

Saya tak tahu mengapa tempat ini begitu magis. Karena berada pada aksis imajiner poros Merapi-(Monumen Jogja Kembali)-Tugu Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak-Parangtritis, atau karena ia menjadi kosmos bagi Kampung Arab di Sayidan, Pecinan di Kranggan, kawasan hunian londo di Kotabaru, atau karena di ruas ini bertebaran banyak bangunan yang merentang imaji kita pada masa silam: Inna Garuda Hotel (sebelumnya Grand Hotel de Djokdja, kemudian Hotek Asahi, berganti menjadi Hotel Merdeka, lalu Hotel Garuda dan berubah lagi menjadi Hotel Natour Garuda), Perpustakaan Daerah, Gedung Yuliana Apotheek (yang kini dijadikan apotek Kimia Farma), Toko Roti Djoen, Beringharjo, Gereja Margomulyo (sebelumnya Kerk van Protestantse Gemeente), Fort Vredeburg (sebelumnya Rusternburg), Gedung Agung, Bank BNI 1946 (dahulu Gedung Nilmij), Gedung Bank Indonesia (bekas De Javasche Bank), dan Kantor Pos Besar (Postkantoor van Djogja, pada zaman Belanda).

Tak usah terlalu serius, sambil menjadi saksi membenamnya matari kita bisa sejenak bercengkerama di keteduhan. Bila hari beranjak memasuki petang, di muka Vredeburg bertebaran penjual sate Madura, untuk cemilan. Bersama lontong dan saus kacang manis dilelehi kecap. Mengenang, mungkin di sekitar situ dulu berkumpul anak-anak muda. Sebut saja Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, atau Linus Suryadi. Berdiskusi bersama mentornya Umbu Landu Paranggi dalam bendera Persada Studi Klub. Jejaknya tentu tak terlacak kini. Kalau mau jalan sedikit ke timur kita bisa mampir ke Gedung Kesenian, di belakang Taman Pintar, persis di samping Shopping Centre. Tak ada Umbu tak apa, meski jarang masih ada anak muda membaca puisi mengamen liris menemani kita membongkar dada ayam bakar. Di lesehannya.

Malioboro, identitas ini sama magis dengan legendanya. Tak ada penjelasan yang paling memuaskan mengapa ia diberi nama itu. Sebab ada sejumlah versi soalnya, yang membuat kita semakin tak bisa serta memercayai salah satunya. Ada yang bilang diambil dari nama Duke Inggris yaitu Marlborough saat menduduki Jogja (1811-1816) yang belakangan diberontak Sultan HB II dalam Geger Sepoy. Tak sedikit yang berpendapat bahwa Malioboro berasal dari Bahasa Sanskerta, yang berarti ‘karangan bunga’. Pendapat yang boleh anda cuekin adalah tesis bahwa di kawasan ini dulu terdapat iklan rokok Marlboro. Saya pun pernah membaca, bahwa Malioboro diambil dari satu peristiwa ketika Sultan bersama pasukannya masuk kota setelah berperang di luar daerah. Pasukan tiba malam hari, sehingga sambil longmarch infantri kesultanan ini berbaris membawa obor. Malam yang diterangi obor, dilafalkan Malioboro. Sah-sah saja.

Menurut penelitian yang lebih ilmiah, Malioboro pada awalnya tidak direncanakan sebagai satu kawasan penting, meskipun ia berada pada poros imajiner raja-raja Jogja dengan Ratu Laut Kidul. Mulanya kawasan ini banyak dihuni pedagang Cina, setelah moyangnya Kapten Cina Tan Jin Sing dianugerahi gelar Setjodiningrat dan dilokalisasi di kawasan yang kini disebut Secodiningratan. Paling tidak setelah 1916, Malioboro dapat dikatakan memiliki retorika dalam tata kota Jogja setelah mulai berdiri deretan rumah toko, setelah sebelumnya berdiri Hotel Garuda (1911) dan Stasiun Tugu (1887). Maliboro semakin memantapkan posisinya setelah Beringharjo mulai beroperasi sejak 1926.

Iklan

14 Tanggapan to “titik nol kilometer jogja”

  1. semuayanggurih Says:

    semoga kita sempat menikmati jogja lebih lama mas. saya duluan ya, semoga dirimu nyusul

  2. engkaudanaku Says:

    Jogja oh,.. Jogja, inginku menghampirimu, 🙂

  3. RAH Says:

    membaca narasi ini, saya jadi menghitung-hitung, kapan balik jogja.
    saya merasa telah menjadi warga jogja, meski hanya beberapa tahun.
    ada beberapa tempat yang dulu saya cuekin, sehingga tidak sempat menyinggahinya,namun sekarang setelah jauh darinya, sesal terasa.

  4. ressay Says:

    aku jarang muter2 ke jogja. pingin…


  5. dah lama ga maen ke joga… 😆

  6. tsaniahusna Says:

    tulisan yang bagus!

  7. haris Says:

    Saya tak pernah berlama2 di tempat itu, mas. selalu tergoda ke shooping dan TBY. he2.

  8. Areep Says:

    mas feed sampean dibuat dong, di feed burner, cos mau di pasang di blog komunitas baradatu hehehe.. cos ada agregatornya

  9. robbie darrwis Says:

    dJogjamu, dJogjaku..dDjogja milik kita smua. bnyk org skrg pgn lebih dkt dgn dJogja. skolah di sana, kuliah di sana, kerja di sana, menghabiskan masa tua di sana. SUM = dJogja makin mawut..amburadul. trus sopo sing meh disalahke?

  10. muhamadmuiz Says:

    haduh… tempatnya kok bikin ngiler ya….
    saya termasuk tongkrongers nih…


  11. narasinya bagus mas………..

  12. bolehngeblog Says:

    jujur aja, kalo ke yogya sekarang jadi males, udaranya panas banget…mungkin karena saya orang bandung yang udaranya dingin kali ya…

    salam kenal,
    bolehngeblog

  13. rigrinuemeKes Says:

    perlu memeriksa:)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: