Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara

f 30, 2011

Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, indigenous people. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode belajar saat sekolah. Kebosanan saya menjadi-jadi menjelma menjadi kemarahan, terutama ketika saya SMA. Bersekolah di SMA seharusnya menyenangkan: satu fase pengakuan keremajaan dengan celana panjang abu-abu—untuk menutupi bulu kaki, pubertas, lawan jenis, avonturisme anak muda, dan banyak lagi.

Soal menjengkelkan dalam kehidupan akademik saat SMA adalah dikotomi Program IPA dan IPS. Sudah umum diketahui bahwa setiap siswa SMA adalah IPS, kecuali dia lolos seleksi IPA. Dan IPS adalah semacam jurusan paria. Saya harus menelan ludah ketika mendapati teman-teman di Program IPA mendapat nilai sempurna di raportnya: 10. Di sekolah saya, nilai tertinggi untuk Program IPS adalah 9. Yang paling membuat saya geram adalah jawaban guru-guru IPS saya ketika saya menggugat soal-soal nilai ini saat jam istirahat. IPS itu ilmu relatif, jadi tidak ada yang sempurna di sana. Relativitas dipahami sebagai ketidaksempurnaan. Dan analogi yang membuat saya kembali tergetar oleh kegelisahan membuncah adalah contoh yang paling sering diucapkan orang: dalam ilmu sosial 1+1 belum tentu=2. Bisa saja jawabnya menjadi 3, 4.

Ilmu sosial relatif. Baiklah, kata saya dalam hati. Analognya saja tidak tepat. Kalau ilmu sosial tak dapat dimatematiskan (ilmu ekonomi sebagai salah satu rumpun ilmu sosial yang dapat dimatematiskan) ya tak usah buat analogi matematis. Katakan saja persamaannya begini: Persamaan 1. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=Harga BBM turun. Persamaan 2. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=ledakan bom buku. Persamaan 3. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=kerusuhan. Silakan buat persamaan sebanyak-banyaknya, dan lengkapi dengan argumentasi yang logis. Saya kira ini makna relatif dalam ilmu sosial yang berterima. Setiap sama dengan (=) dalam persamaan ilmu sosial haruslah didukung teori, riset, juga bukti. Untuk alasan inilah kiranya Snouck Hurgronje tekun meneliti soal Aceh hingga melahirkan manuskrip Atjeh Verslag yang kemudian dibukukan dalam De Atjeher termasuk Margaret Mead yang melakukan observasi partisipan—ada yang menyebut hingga 9 tahun—di  Samoa dan menghasilkan magnum opus Coming of Age in Samoa. Jadi ilmu sosial juga berhak mendapat ponten 10 dan tak seharusnya diuji secara multiple choice. Tak iye.

Baiklah. Pilihan saya kemudian adalah Solo. Alasannya sederhana saja: saya belum dapat mengukur kemampuan untuk mencoba Yogya. Alasan logis yang saya pegang untuk menutupi ketidaksiapan saya bersaing adalah: Solo merupakan kota yang kondusif untuk belajar; berbeda dengan Yogya yang crowded, bayangkan 97,5% mahasiswinya saja sudah tidak perawan. Maka Solo adalah pilihan paling taktis, mempertimbangkan alasan-alasan filosofis dan ideologis serta hitung-hitungan terawangan uji skor passing grade saat Bimbel UMPTN. Dan puji Tuhan, nama saya tercantum dalam pengumuman UMPTN dan berhak mendapat satu kursi di Solo.

Mula-mula, sebagai Mahasiswa Baru (Maru) saya harus mengikuti Ospek Gaya Baru—yang disebut Osmaru. Meskipun terobsesi pada lingkungan akademik yang demokratis saya sesungguhnya ingin menjajal Ospek seperti yang ditulis koran-koran tahun-tahun sebelum saya menjadi mahasiswa. Tetapi semangat zaman berubah. Ospek model begitu dianggap tak sesuai Amanat Reformasi dan harus tutup buku. Saya kemudian mengikuti serangkai ceramah, baik dari pejabat Dekanat hingga pejabat-pejabat mahasiswa. Tak apa. Masih ada mekanisme bintang emas dan bintang hitam dalam skema reward and punishment. Karena masih pemalu, saya tak banyak mendapat bintang emas. Saya hanya ingat peraih bintang emas terbanyak adalah mahasiswi Komunikasi bernama L. L memperoleh semacam anugerah privilese dari wajahnya yang menawan sehingga kakak-kakak mahasiswa begitu royal memberi bintang emas kepada. Saya hanya mencuri-curi pandang dari kejauhan, bukan pada bintang emas, tetapi pada Lisa yang pasti tak melirik saya. Saya pun haqul yakin bila L semasa menjadi mahasiswi di kampus tak pernah mengenal ada mahasiswa-kapiran bernama saya. Tak apa. Tak dikenal L tak patheken toh, kata saya menghibur diri.

Meskipun berharap Ospek yang agak-agak keras macam Ospek Teknik, atau Ospek yang nyeleneh macam Ospek Sastra, Ospek di fakultas menarik juga. Saya tertarik memperhatikan pembicara-pembicara: diksi yang digunakan, gestur, penampilan, sambil membayangkan apakah saya mampu berbicara seperti mereka di hadapan paling kurang 200 orang. Saya belajar pula, dengan mengamati diam-diam dalam sayup-sayup kelompok Maru pinggiran, teman-teman Maru yang menonjol. Ada yang menonjol karena bakat memimpin teman-teman, ada yang menonjol karena perbendaharaan istilah sulit, ada yang menonjol karena mengemukakan pendapat dengan tenang dan terstruktur. Masa-masa Ospek Fakultas dan Jurusan saya manfaatkan untuk membaca peta dan menyusun konfigurasi kemampuan teman-teman. Oh, dia nih yang pintar omong, kapan-kapan saya ajak ngobrol. Boleh juga didekati agar tertular pintar. Oh, ini nih mahasiswi idola karena parasnya yang rupawan, kapan-kapan saya harus membuang angan mengobrol dengannya ah, karena tak ada nyali, dan percuma karena dia mungkin merasa tak perlu mengobrol dengan saya. Begitu kira-kira saya melakukan analisis SWOT sederhana.

Itu juga sebabnya ketika Ketua Jurusan mengisi kelas Ospek dan memimpin pemilihan Koordinator Tingkat (Koti) nama saya sama sekali tak disebut. Beberapa teman yang telah menjadi mahasiswa lebih dulu, saya ingat antara lain EAP atau TWS termasuk Maru yang aktif—mungkin karena telah familier dengan lingkungan kampus. Tak heran bila secara aklamasi pula sahabat saya TWS didaulat menjadi Koti. Saya lupa-lupa ingat, namun sepertinya teman-teman bersorak gembira dan bersyukur memiliki Koti yang meyakinkan macam TWS. Setelah itu langkah-langkah TWS memimpin angkatan memang taktis, cekatan. Bagi saya Tunggul seorang yang dewasa, ditambah kacamata yang selalu dipakainya membuatnya semakin look smart, belum lagi penampilannya yang rapi: bersepatu dan kaos atau baju dimasukkan dalam celana panjang yang berikat pinggang rapi. Meski tak intens saya beberapa kali berbincang dengannya. Gaya bertuturnya kalem, mengesankan bahwa TWS benar-benar indigenous Wong Solo meskipun lama tinggal di ibukota.

TWS semakin saya anggap teman dekat karena ia pernah menyeberang ke Sumatera, kampung halaman saya untuk satu urusan pribadi. Bagi saya, siapapun yang berasal dari Sumatera atau pernah menjejak kaki di Sumatera adalah saudara. Beberapa waktu setelah lulus kuliah TWS pernah mengontak saya, mengabari akan singgah di kota saya dari perjalanan sepeda motornya melintasi trek Jakarta-Solo. Saya menyilakan TWS mampir dan kami sempat makan malam bersama. Malamnya kami tidur lesehan di kontrakan saya yang sederhana, karena saya belum memiliki ranjang. Saat sedang nyenyak tertidur saya dibangunkan TWSl. Dengan mata sipit saya menanyakan padanya: what’s wrong? TWS tampak gelisah, ada sapu bung, katanya mendesak. Kalau sedang terjaga mungkin saya menyempatkan diri untuk tersenyum atau tertawa: tengah malam cari sapu, buat apa. Saya bilang sapu di sudut kontrakan. Cekatan dan taktis, seperti gayanya sebagai Koti, TWS mengambil sapu dan menyapu kamar saya. Katanya tadi dia melihat kecoa. Karena saya terbiasa dan tak merasa ada yang salah dengan kecoa—saya anggap sebagai sahabat di kontrakan saya yang sepi—dan kecoa jauh dari urusan-urusan nyawa, saya melanjutkan tidur yang tertunda. Esoknya, meskipun tak terkatakan saya menyampaikan permintaan maaf pada TWS atas ketidaknyamanannya pada kecoa yang memang sudah saya anggap biasa kehadirannya di kontrakan saya.

Dalam Ospek Jurusan saya mulai intens dekat dengan teman-teman. Beberapa Maru yang berasal dari luar Jawa Tengah dan Jawa Timur tampak menonjol karena aksennya masing-masing. Saya masih ingat betul BP sahabat saya asal Tasikmalaya. Sebagai Maru BP tampak berusaha keras menjadi bagian dari teman-teman dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun aksen saya mungkin dianggap Sumatera Kontinental, saya sedikit banyak bisa berbahasa Jawa Saxon. Tak terlalu masalah, paling kurang secara aktif saya bisa listening dan memahami kata-kata bahasa Jawa serta secara pasif saya bisa conversation dengan pronounciation Sumatera Kontinental. Saat makan siang, BP diajarkan secara privat vocabulary Jawa berikut pronounciation agar pas tidak tercemar aksen Sunda Anglikan oleh AW—yang kemudian termasuk Maru pertama-tama yang memelihara rambutnya sehingga disapa Gondrong hingga kini, meskipun terakhir rambutnya saya tahu cepak. Beberapa kata diajarkan, dan BP mengikutinya dengan takzim macam santri belajar ilmu taklim mutakalim kepada Kiai khos darah biru keturunan ormas keagamaan terbesar di tanah air yang massanya diklaim 40 juta jiwa. Tak puas kata-perkata, BP diajarkan secara kilat greetings; perkenalan. Mula-mula kalimat: kulonuwun, kemudian berlanjut kulo segawon. Teman-teman terbahak, BP pun tertawa tak kalah kerasnya. Kalau AW harus masuk neraka karena ilmu sesatnya saya kira kami pun turut serta karena silent of crime yang kami lakukan atas BP yang bertambah pahalanya karena didzolimi dengan riang macam soda gembira.

Selain Budi masih ada RM yang hingga akhir kuliah masih tabah dengan aksen Sunda Saxon-nya. RM dari Banten. Saya ingat RM sulit mengeja satu kata, namun sayang sekali saya lupa kata itu, macam kesulitan orang mengeja Pukesmas untuk menjadi Puskesmas. RM mondok di depan kampus, di Bilangan Jalan Mendung, sama dengan saya. Kost teman-teman fakultas umumnya di samping kampus bilangan Jalan Mega, petir dan anak turunnya, atau di belakang kampus di Bilangan Jalan Surya. Saya kerap berjalan kaki bersama RM, atau A. Kali lain saya bersama ABN, EAP, juga AS.

Kost di Bilangan Jalan Mendung terhitung jauh dari kampus sehingga jarang mahasiswa yang mondok di kawasan elite ini. Kami mahasiswa-mahasiswa yang mondok di depan kampus biasa ke kampus potong kompas lewat Jalan Mendung 1. Namun celaka, beberapa tahun kuliah Rektorat membuat pagar keliling kampus. Meskipun demonstrasi tak kurang-kurang, pembangunan tetap dilakukan. Setelah itu bila ingin ke kampus kami harus memutar melewati boulevard. Beberapa mahasiswi bernyali kerap lewat jalan pintas di pagar Fakultas Teknik. Di sana ada tangga di kedua belah sisi pagar yang harus dinaiki bila ingin potong kompas. Saya ingat satu kali melewati jalur adventure ini, kalau tak salah bersama RM dan A yang biasa memanfaatkan jalur ini. Saya adalah serupa mahasiswa yang tak lincah, takut ketinggian, dan ditanamkan semangat tak melanggar hukum sejak kecil. Sekali menaiki tangga itu membuat saya harus berpikir ulang menanggung risiko. Saya kemudian lebih memilih jalur aman: boulevard kampus, sambil mengagumi mahasiswi-mahasiswi yang lewat, berharap cemas ada teman yang mengendarai sepeda motor sehingga alamat baik dapat boncengan, atau berhenti sejenak membaca jurnal-jurnal bekas di kaki lima trotoar.

Perkuliahan dimulai. Dalam hati saya bersorak, inilah situasi yang saya tunggu. Semester pertama kuliah saya dan teman-teman satu angkatan mengikuti kelas dengan paket yang sama: 18 SKS. Kuliah selama 6 bulan menghabiskan 18 SKS sungguh perkuliahan yang terbilang santai sehingga menjadi menyenangkan bagi saya. Saya merasakan energi teman-teman yang berlebih, saya kira teman-teman juga merasakan perasaan yang sama: ingin segera menguak tabir ilmu Sosiologi secepatnya dan setuntasnya. Ternyata memahami ilmu yang sudah dikenalkan di SMA ini tak gampang. Pelajaran-pelajaran Sosiologi di SMA sungguh elementer, karena saya harus terkaget-kaget mendapat teori-teori dasar: Paradigma Definisi Sosial, Paradigma Fakta Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial yang diintroduksi George Ritzer. Sungguh perbedaan antara Paradigma Definisi Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial sangat tipis, butuh pemahaman yang jernih, sementara semasa SMA saya hanya mengenal konsep-konsep Sosiologi semata macam gemeinschaft atau gesselschaft, atau stratifikasi sosial dan semacam itu.

Semester-semester awal saya lalui dengan terbata-bata. Saya kira teman-teman pun mengalami hal yang sama. Saya merasa keki dengan dosen-dosen yang nyerocos mengumbar teori sedang saya belum mampu memberi pertanyaan cerdas apalagi berbantahan dangan feedback sambung-menyambung. Tak ada cara lain kecuali banyak-banyak belajar, begitu kesimpulan saya. Semenjak SMA saya mulai menemukan metode belajar yang menurut saya pas. Ketika kuliah metode balajar tersebut yang saya lakukan. Saat menginjakkan kaki di Solo saya membeli buku tulis untuk catatan kuliah sebanyak 10 buah. Saya sengaja tak membeli binder karena bagi saya yang gemar mengarsipkan catatan—hingga kini catatan dan copy tugas-tugas kuliah masih tersimpan rapi di rak buku saya—mengarsipkan lembaran-lembaran kertas binder berisiko tercecer. Pasal lain terutama karena metode saya mendengar ketimbang mencatat. Meskipun gemar menulis saya menganggap mencacat materi perkuliahan (atau rapat, saat ini) tidak efektif, sama dengan bekerja dua kali. Karena itu konsekuensinya saya harus menyimak uraian dosen dengan tekun tanpa harus mencatat, yang kemudian saya lengkapi dengan membaca buku-buku teks maupun Kompas sebagai pelengkap isu aktual. Saya beruntung karena di tempat kost saya kami berlangganan Kompas, hanya membayar Rp. 3 ribu masing-masing per bulan.

Untuk menguatkan ingatan saya, sejak mula-mula kuliah saya mewajibkan diri untuk bertanya. Karena itu saya termasuk mahasiswa yang hampir pasti bertanya pada setiap kelas perkuliahan. Pada semester-semester awal saya lebih banyak bertanya, menggenapi ketidaktahuan saya atau menegaskan perspektif yang hendak saya bangun dari materi perkuliahan sang dosen. Setelah semester ketiga dan seterusnya saya berusaha untuk tidak bertanya tetapi berpendapat, atau mendebat. Bagi saya metode ini efektif membangun ingatan dan perspektif. Kalau saya mendebat sesuatu bukan berarti sikap intelektual saya tak sepakat dengan sesuatu yang saya debat itu. Seringkali saya mendebat sesuatu untuk mendapat gambaran bagi perspektif itu bagaimana menjawab sanggahan. Saya mempelajari sanggahan dosen, sedikit saya tambahi perspektif saya dan ketika suatu waktu ketika perspektif saya digugat dengan gugatan yang dulu saya pernah sampaikan, secara relatif saya sudah tahu sanggahannya.

Metode ini ternyata lazim digunakan oleh mahasiswa Fakultas Hukum. Dalam menilai sesuatu, mereka—setidaknya—terlatih untuk bersikap dalam sikap pro dan kontra misalnya. Argumentasi-argumentasi perspektif pro mereka pahami dengan teliti sekaligus berusaha menduga kemungkinan sanggahan perspektif kontra. Mereka dilatih membangun argumentasi dari dua atau banyak perspektif sekaligus. Dengan metode ini logika berpikir mereka holistik, sebelum kemudian mereka memilih sikap inteletual menurut perspektif tertentu yang mereka pilih. Ketika diserang atawa disanggah menurut perspektif lain, mereka telah siap karena sanggahan itu sudah dipikirkan. Saya kira sikap intelektual yang holistik macam ini bagus sekali, membuat intelektual bersikap menghormati pendapat orang namun setia sampai mati dengan keyakinan intelektualnya. Saya tak tahu apakah sikap ini dapat dikelompokkan sebagai sikap pluralis yang memahami perspektif intelektual terorisme tetapi tak sependapat dengan teroris.

Untuk sesi-sesi perkuliahan saya harus menyebut beberapa nama yang sungguh mengesankan bagi saya. Sahabat saya AS menurut saya seorang pembelajar yang tangguh. Saya terhitung tak dekat bercengkerama dengan AS namun sebagai sahabat saya mengikuti perkembangan intelektualnya. AS bagi saya seorang mahasiswa correct, bacaannya tuntas dan hapal nyaris kata per kata untuk setiap teori. AS juga mahasiswa yang energik, aktif berolahraga (Ketua UKM Basket Fakultas), rajib berpacaran dan masih sempat-sempatnya cumlaude.

Tak seperti AS, bagi saya menghapal kata per kata satu teori adalah mimpi buruk. Saya cenderung lebih suka potong kompas, memahami maksud teori dan membahasakan menurut bahasa saya sendiri. Metode ini membuat saya—tentu saja menurut saya—lebih memahami satu teori atau konsep, itu kalau kebetulan tafsir saya tepat. Kalau tafsir atau pembacaan saya lamur sedikit, perspektif saya menjadi keliru besar. Saya kerap mengalami hal ini. Sepanjang perkuliahan—dan hingga kini, karena saya gemar menulis—saya berulangkali merevisi perspektif saya. Revisi perspektif saya lakukan karena bacaan baru, atau ketika saya mengulang bacaan lama dan saya mendapati dahulu saya terburu-buru mengambil perspektif. Pemahaman teoritik AS bagi saya paling otentik diantara teman-teman. Satu ketika kami mendiskusikan soal survival of the fittest. AS hapal di luar kepala bahwa secara utuh teori Darwinisme Sosial Herbert Spencer ini, bahwa survival of the fittest adalah tahapan akhir dari sejumlah tahapan natural selection dalam struggle for life. Hal-hal detail seperti inilah yang tak ada pada saya, meskipun saya dan AS sama-sama membaca buku Teori Sosiologi Klasik dan Modern yang sama.

Semasa kuliah saya dan AS pernah mengambil matakuliah Sosiologi Pedesaan pada semester yang sama. Bu RH, dosen Sosiologi Pedesaan memberi tugas akhir matakuliah berbentuk paper. Sejak mula saya tertarik dengan industri Ciu di B. Saya kemudian mengurus surat pengantar dari Dekanat, dan satu hari seorang diri—seperti kegemaran saya—saya meluncur ke B. Hipotesis saya: masyarakat B ini keren, permisif ketika sebagian warganya memproduksi Ciu. Saya ingin mendapat gambaran adakah konflik antarwarga di sana, karena selain terdapat warganya yang memproduksi Ciu sebagian warga B terhitung religius. Istri tokoh nasional yang pernah menjadi pemimpin lembaga tertinggi negara saya tahu berasal dari B. Saya menumpang bus menuju B. Melapor pada Kepala Desa di kantornya, dan disambut dengan hangat. Perangkat desa mengatakan bahwa B memproduksi alkohol 98% secara legal, bukan Ciu. Perangkat desa juga mengingatkan saya, bahwa karena saya membawa surat resmi dari Dekanat saya diijinkan meneliti namun nanti hasil penelitiannya ditulis dengan hati-hati, agar tidak timbul gejolak. Wuih, saya yang ketika itu bergiat dalam pers mahasiswa semakin bersemangat. Pertama-tama, naluri jurnalistik saya mengatakan aparat desa menutupi soal Ciu ini, dan dari sudut pandang jurnalistik ia justru menjadi menantang—apalagi bagi mahasiswa sok jurnalis-amatiran macam saya. Embel-embel ‘silakan meneliti namun harap bijaksana’ semakin membuat saya bergelora. Saya sempatkan bertanya pada kepala desa siapa-siapa pengrajin Ciu (atau alkohol menurut perangkat desa) di B. Meskipun saya hendak mencari informasi langsung di lapangan, masukan perangkat desa bernilai snowball sampling bagi saya yang belum pernah ke B  sebelumnya. Perangkat desa menyebut beberapa kontak pengurus Paguyuban Pembuat Alkohol, yang segera saya datangi.

Tak saya duga sebelumnya, saya bertemu AS di B. Ternyata dia ingin meneliti hal yang sama dengan saya. Karena AS membawa sepeda motor, sedang saya infanteri saja, kami kemudian mewawancarai beberapa pengurus Paguyuban Pembuat Alkohol di B. AS masih sempat memotret saya dengan kamera digital yang dimilikinya—sudah tentu saya tak punya teknologi ini—berpose di depan papan penunjuk ‘Desa Industri Alkohol B’. Potret itu hingga kini saya simpan, sebagai kenang-kenangan dari sahabat saya AS. AS juga memotret proses pembuatan Alkohol dari badek, tetes tebu yang difermentasi. Penelusuran saya kemudian ternyata tak menjawab hipotesis saya yang menggebu-gebu. Produksi Ciu—kalaupun ada—dilakukan secara tak legal dan persentasenya memang tak lebih banyak ketimbang produksi alkohol. Sebagai mahasiswa cum jurnalis-kapiran saya pun tak berhasil mendapati produksi Ciu secara langsung. Saya hanya sempat bertemu seorang informan yang menceritakan soal Ciu ini. Perbedaan antara Alkohol dan Ciu memang tipis. Alkohol adalah hasil fermentasi tetes tebu yang disuling dua kali sehingga kadarnya 98%. Bila disuling hanya satu kali, kadarnya hanya 50-60%, dapat dikonsumsi sebagai minuman keras yang disebut Ciu. Saya kira Paguyuban yang kelasnya memproduksi Alkohol untuk industri memang membuat Alkohol 98% ini, karena margin keuntungan lebih besar ketimbang membuat Ciu saja. Membuat Ciu menjadi Alkohol memang membutuhkan teknologi lebih tinggi—penyulingan dua kali, dan saya memahami bila Paguyuban tak memproduksi Ciu sebab teknologi yang mereka miliki tak sebanding dengan keuntungan Ciu. Saya pun tak ada waktu banyak—selain tentu saja tak ada contact person—untuk menyambangi industri rumahan yang memproduksi Ciu.

Bu RH mengatakan kepada kami yang mengambil matakuliah Sosiologi Pedesaan untuk menulis laporan penelitian dengan sebagus-bagusnya. Silakan gunakan gaya bahasa sendiri, tak harus menurut sistematika penelitian yang baku. Saya kemudian menuliskan laporan penelitian saya berbentuk features—sebagaimana jenis tulisan jurnalistik untuk liputan/reportase yang cocok untuk tulisan investigative reporting. Saya berusaha menuliskan laporan penelitian sebagus mungkin. Saya tahu AS menulis laporan penelitiannya dengan komplit, menurut sistematika penulisan ilmiah. Saya harap-harap cemas menunggu, ikhtiar saya soal features ini. Hingga saat KHS dibagikan saya menelan ludah kecewa. Nilai saya untuk matakuliah Sosiologi Pedesaan cukupan saja, tidak lebih tinggi dari AS. Dalam hati saya menyesali features saya. Saya tak tahu apakah Bu RH tak familier dengan features atau memang features saya jelek. Saya berbaik sangka bahwa memang features saya yang jelek.

Sahabat saya yang lain yang harus saya sebut adalah AW. Bagi saya cerita soal AW ini sungguh mengejutkan. Sepanjang pengamatan saya pada awal-awal kuliah, AW sama sekali tak menonjol seperti saya dan banyak kawan yang lain. Dalam sesi-sesi perkuliahan pada semester-semester awal AW lebih banyak diam sehingga saya tak sempat memperhatian apa yang dilakukannya di kelas. Menginjak semester ketiga AW sungguh menjadi mahasiswa yang lain dari sebelumnya. Dengan segera AW menjadi aktif, banyak bertanya atau menyanggah dosen, dan perspektifnya sungguh kaya, kutipan tokohnya saya tahu ‘berat-berat’. Mengetahui AW melesat dengan bacaan yang beragam membuat saya gelagapan untuk mengejar ketinggalan. Satu hari saya pernah menanyakan kepada AW, mengapa dua semester pertama ia lebih banyak diam. AW mengjawab bahwa ia perlu waktu untuk ‘membaca situasi’. Setelah ia mulai merasa nyaman dengan kelas, ia juga menjadi nyaman untuk lebih aktif dalam perkuliahan. Saya kira AW memang sahabat saya yang rendah hati.

Saat matakuliah Sosiologi Keluarga yang diampu Pak Bagus Haryono saya ingat AW menulis paper dengan perspektif yang berani. AW menggunakan novel Pengakuan Pariyem, prosa liris yang ditulis Linus Suryadi AG atas kehidupan priyayi di Yogyakarta sekira tahun 1970-an. Pariyem adalah babu keluarga priyayi tersebut yang diimpor dari Bantul (?) kalau saya tak keliru mengingat. Priyayi tersebut tak disebut identitasnya, namun saya menduga—menurut analisis teks—bahwa priyayi yang diceritakan Linus adalah Umar Kayam, budayawan dari Yogya. Soalnya sang priyayi ditulis sebagai mantan Dirjen Radio Televisi dan Film (RTF), satu jabatan yang jelas-jelas pernah diduduki Umar Kayam. Priyayi tersebut juga ditulis mengajar di UGM dan UNS. Soal Umar Kayam mengajar di UNS, sebagai dosen tamu sekalipun, saya ragu. Namun sebagai fiksi—kekeliruan AW, saya kira, ketika menulis papernya adalah menganggap Pariyem nyata atau based on true story—saya kira Linus berhak menulis apa saja. Sosok Pariyem yang sakit ginjal dalam teks misalnya, dengan analisis konteks dapat disimpulkan sebagai citra penulis (Linus) sendiri. Linus, sastrawan Yogya seangkatan Emha Ainun Nadjib yang lulus seleksi Akademi Kepolisian namun kemudian memutuskan keluar, pernah sakit ginjal dan memilih pengobatan alternatif hingga sembuh ketimbang menjalani operasi sesuai nasihat dokter.

Menggunakan teks sastra bagi kajian ilmu sosial belum banyak dilakukan, sekurang-kurangnya pada teman-teman, termasuk saya. Selama kuliah saya sendiri belum pernah melakukan analisis konteks sastra, meskipun interteks sastra dengan ilmu sosial menarik dikaji. Sudah diketahui publik bahwa karya sastra dibangun di atas setting (tempat dan konteks) yang di dalamnya melekat ilmu sosial, sejarah, etnografi, dan seterusnya. Sastra juga memiliki tendens atau amanat yang tak bebas nilai dari ideologi, sehingga kita mengenal Sastra Islam, Sastra Islami, Sastra Wangi, Sastra Eksil, atau sastrawan-kapiran macam saya.

Sahabat lain lagi yang dekat secara intelektual dengan saya adalah RAH. Dengan RAH saya memang dekat secara pribadi. Kedekatan saya bermula saat istirahat Ospek jurusan. Teman-teman mengaso di Hutan FISIP, di atas tikar yang digelar panitia. Saya dan beberapa kawan rebahan di tikar. Seseorang saya dengar menyanyi lirih, lagu Padi dari album kedua Sesuatu yang Tertunda. Lagu yang dinyanyikan sesungguhnya bukan hits seperti lagu Sesuatu yang Indah, melainkan lagu Perjalanan, lagu pertama di Side B. Saya termasuk Sobat Padi dan surprise ada seseorang yang lirih melagukan: kulayangkan pandangku melalui kaca jendela/dari tempat kubersandar seiring lantun kereta/membawaku menyinggahi tempat-tempat yang indah/membuat hidupku penuh riuh dan berwarna…. Saya pun menoleh dan menanyakan namanya. Sejak itu saya memiliki sahabat bernama RAH.

Bagi saya RAH adalah sahabat yang paling banyak saya jadikan tandem berdiskusi. Masa mahasiswa memang dengan sadar saya niatkan sebagai fase membentuk kepribadian, atau dalam konteks intelektual membentuk perspektif sosiologis saya. Saya kerap berdiskusi dengan RAH sambil pulang kuliah. Dari kampus kami jalan kaki bersama ke boulevard depan kampus. Sepanjang perjalanan kami berdiskusi macam-macam. Saya kerap melontarkan sikap-sikap atas sesuatu dan RAH menanggapi. Masa-masa kuliah sekaligus masa saya berlatih kemampuan menulis. Hampir setiap bulan saya mampu menulis paling tidak satu artikel dan RAH salah satu teman yang mula-mula membaca print out artikel tersebut, copy print out yang saya kirim ke media massa. Sepanjang kuliah saya telah mengirim ke banyak media, sejak dari Kompas, Jawa Pos, Suara Merdeka, Solopos dan tak ada satupun yang memuat tulisan saya. Hanya Bengawan Pos yang kini telah bubar, media yang mau memuat tulisan saya semasa mahasiswa. Mungkin saat itu redakturnya sedang lamur, atau kasihan melihat naskah tulisan saya. Honor Bengawan Pos saat itu Rp. 35 ribu, lebih mahal lagi biaya saya menulis sebenarnya: rental komputer, print, amplop dan perangko. Mengirim artikel saat itu mahal karena teknologi mengirim artikel melalui email belum dikenal. Redaktur koran masih gaptek, saya apalagi. Saya hanya percaya: syarat menjadi penulis hanyalah keras kepala, keras kepala, keras kepala. Itu saja.

Saat kuliah—hingga kini sesungguhnya—saya belum memiliki komputer. Saya biasanya memijam komputer teman kost atau menyewa di rental komputer yang masa-masa itu bertebaran di setiap gang. Saya membiasakan diri mengarsip setiap tulisan atau tugas-tugas kuliah yang pernah saya buat dengan memfotokopinya. RAH sering memberi pendapat atas artikel yang saya buat. Hingga kini saya terus memprovokasi RAH untuk menulis juga. Meskipun saya banyak berdiskusi dengan RAH, sesungguhnya RAH teman yang lebih banyak mendengarkan saya ketimbang ia sendiri berbicara. Sehingga meskipun—mungkin—RAH mengenal saya secara mendalam, saya tak mengenal banyak soal dirinya. Sungguh saya merasa kecolongan soal ini, hingga kini. Mungkin juga RAH tipe mahasiswa yang tak ingin banyak cingcong, macam saya.

Sejak mula saya tak ingin menjadi mahasiswa yang serius, yang menghabiskan waktu di kampus-perpus-kakus. Saya pun ingin seperti yang lain, mereguk habis masa-masa indah saat dibilang remaja tak mau namun belum cukup disebut dewasa. Mantera Ashadi Siregar dalam Cintaku di Kampus Biru melekat dalam ingatan saya: pesta, buku, cinta. Saya kira saya dan banyak mahasiswa lain tak gemar berpesta, macam kesaksian Dono Warkop dalam novel-novelnya seperti Dua Batang Ilalang atau Cemara-Cemara Kampus. Tak berpesta rasanya tak mengurangi kualitas masa muda saya. Lalu buku, sudah pasti saya kuliti sampai kulminasi titik jenuh namun membuat adiksi. Kemudian cinta.

Saat menginjakkan kaki di Terminal Tirtonadi satu fajar beberapa hari sebelum registrasi Maru jantung saya telah berdegup kencang. Imaji soal Puteri Solo lekat dalam benak saya. Seluas lebih dari 136.000 km2, pulau Jawa ini, hanya gadis Solo dan Bandung yang mendapat tempat istimewa dalam imajinasi publik. Yang pertama disebut Puteri Solo, yang kedua disebut Mojang Priyangan. Tak ada label Puteri Magetan atawa Mojang Banten. Yogyakarta yang punya dua keraton—sesungguhnya yang satu lebih tepat disebut puri—pun tak diimajikan orang seperti Solo dengan Puteri Solo yang Lumakune koyo macan luwe/Sendal jinjit pengrakite/Piyat-piyet suarane/Kelap-kelip berliane. Lagu Puteri Solo ini masih pula memprovokasi Putri Solo/Yen ngguyu dekik pipine/Ireng manis kulitane/Dasar putri Solo…. Kepala saya sampai puyeng membayangkan imaji Puteri Solo ini sekaligus berharap-harap cemas saya dapat memikat salah satu diantaranya.

Selain soal Puteri Solo, Solo juga memikat saya dengan kesahajaannya. Arswendo Atmowiloto menuliskan kesaksiannya soal kehidupan priyayi yang datar namun kaya makna dalam novelnya Canting. Belum lagi lagu Solo di Waktu Malam yang bercerita tatkala Solo di waktu malam hari/Merempuh menarik hati sunyi/Banyak tempat penghiburan asri/Pandangan mata berganti/Jurug dan Tirtonadi yang permai/Daun berbisik di tepi sungai/Kelap kelip sinarnya pelita/Remang remang bercahaya. Sungguh, saya tak pernah menyesal telah menghabiskan bertahun–tahun di Solo.  Solo yang di waktu malam dengan Suara seni yang merayu-rayu/ Meresap dan mendalam di hati/Menawan sanubari….

Sebagai laki-laki tentu saja saya normal, menginginkan cinta, kalau dapat mahasiswi Puteri Solo. Paling kurang keturunan Mangkunegaran atau kalau dapat keturunan Kasunanan sekalian. Namun saya menghadapi realitas objektif dan realitas subjektif yang keduanya tak berpihak pada saya. Realitas objektif yang menyakitkan adalah: mahasiswa yang rupawan sudah ada yang punya. Dalam keputusasaan yang tak tertanggungkan sejumlah kawan mendeklarasikan postulat: setiap mahasiswi rupawan sudah berpacar. Bila ada mahasiswi tak berpacar dia tak rupawan. Tak usah protes, postulat orang putus asa tak memiliki wewenang ilmiah dan jelas tak reliable.

Realitas subjektifnya tak lain adalah saya tercipta sebagai remaja puber yang penakut. Berbincang dengan mahasiswi yang saya taksir adalah mimpi buruk bagi saya. Saya siap sedia berbantahan dengan dosen, bahkan menghadap persiden pun saya kira saya dapat menekan gugup dan mengatasi grogi. Namun mahasiswi, yang rupawan, macam macan luwe? Hah.

Sudah dapat ditebak, karier percintaan saya tak sukses. Beberapa mahasiswi jurusan atau lain jurusan di fakultas pernah menarik minat saya. Saya menggunakan metode—yang ini sungguh Demi Tuhan, jangan ditiru karena tak pernah berhasil—yang saya rancang dapat mengatasi kegugupan saya ketika berada di dekat makhluk hawa. Bila memprospek seorang mahasiswi, umumnya saya mencuri-curi pandang padanya. Saya kira metode ini biasa dilakukan banyak mahasiswa. Saya memperhatikannya diam-diam, dan mulai membayangkan betapa firdaus menjadi kekasihnya. Rupanya saya pengikut setia Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang paling banyak dikutip di surat undangan pernikahan: Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan kata yang tak sempat diucapkan/kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana/dengan isyarat yang tak sempat disampaikan/awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. Saya mengungkapkan cinta dengan cara yang sangat sederhana, tanpa kata-kata, dan sekaligus menjadikan tiada hubungan percintaan itu sendiri.

Saya pernah kepincut—dan membuat saya didera gelisah—dengan seorang mahasiswi di fakultas dan di luar fakultas. Trik saya yang tak manjur itu saya gunakan. Saya menganguminya diam-diam. Beberapa kali saya mencoba berkomunikasi, namun tak bisa. Sekedar say hello pun susahnya bukan main. Satu waktu saya berpapasan dengan mahasiswi itu di Jembatan Asmara, dan semua berlalu begitu saja. Saya tak siap memulai percakapan. Kali lain saya sudah merencanakan akan mencegatnya di Jembatan Asmara, namun saya sampai frustasi memikirkan alasan untuk mencegatnya. Pinjam buku? Bertanya mmm…. apa, kostmu di mana?? Ah, sampai saat saya bertemu lagi dengannya di Jembatan Asmara saya belum menemukan permulaan yang memikat. Walhasil, saya sendiri yakin mahasiswi itu tak pernah tahu bila saya sungguh berharap menjadi kekasihnya. Bahkan secara resmi saya pun belum pernah mengenalnya. Saya kira ini yang gawat: dia tak pernah tahu ada mahasiswa bernama saya. Satu-satunya kekeliruan yang saya buat kala itu adalah tidak berkonsultasi dengan sahabat saya AS…. Baiklah, saya melupakan soal cinta sesuai adagium Ashadi Siregar itu. Tak bercinta tak patheken, begitu saya membesarkan hati. (Sepanjang kuliah satu-satunya mahasiswi yang berhasil saya pacari adalah istri saya kini. Dengannya saya merasa lebih banyak dibantu Tuhan ketimbang kelihaian saya sebagai laki-laki memikat wanita).

Meski tak memiliki kekasih, saya memiliki banyak teman di kampus. Sebagai mahasiswa infanteri pejalan kaki, saya bersyukur memiliki sejumlah teman yang kerap membonceng saya dengan sepeda motornya. Maklumlah, jarak kost saya ke kampus ada kalau 3-4 km PP. AJ, AH dan ASP adalah sahabat-sahabat yang kerap membonceng saya. AH sering mampir ke kamar kost saya untuk istirahat sejenak. ASP adalah sahabat yang paling baik, dengan ringan membantu saya mengantar ke beberapa tempat untuk banyak keperluan. AJ adalah teman yang paling sering saya minta membonceng dari kampus ke kost saya.

Bila tak dapat boncengan sepeda motor tak ada pilihan bagi saya kecuali berjalan kaki. Colt kampus saat itu sudah dilikuidasi. Bus Sumber Kencono yang memutari kampus sepanjang Jl. Ki Hadjar Dewantara lama sekali menunggunya di halte, berjubel pula. Daripada mengutuki keadaan saya lebih suka berjalan kaki. Sahabat saya PAA—yang baru menikah—dan ERA paling sering bersama saya menyusuri jalanan kampus yang romantik kalau musim hujan tiba. Guguran bunga flamboyan menutupi aspal kampus. Bila sepeda motor lewat, guguran bunga menyibak. Saya merasa bersahabat dengan Jerry Yan atau Tao Ming Tse yang mukim di tanah Korea Taiwan. Sungguh, kampus saat musim hujan tak ubahnya Korea, atau Jepang, tentu dalam imajinasi saya.

EI dan ERA adalah dua mahasiswi yang ‘hanya’ saya kenal bila ujian. Kami menjadi begitu intim bila ujian tiba, semenjak mid semester maupun ujian semester selama masa perkuliahan saya di kampus. Soalnya sederhana, nama kami bermula dari abjad yang bersebelahan E dan F. ERA beberapa kali meminjami buku renungan harian kepada saya. Menarik, saya berusaha memahami renungan menurut kepercayaan yang diyakini ERA. Teman lain yang selalu di sebelah saya bila ujian adalah GAW. GAW mulanya saya kenal sebagai mahasiswa yang pendiam. Saya sungguh tak menduga ketika di akhir-akhir kuliah GAW menjadi salah satu aktivis mahasiswa papan atas di Solo. Pada awal kuliah saya menjadi salah satu anggota satu organisasi mahasiswa ekstrauniversitas, GAW menjadi mahasiswa ekstrauniversitas yang lainnya. Karier keorganisasian saya mentok, GAW bahkan sempat menjadi ketua salah satu organisasi mahasiswa ekstrauniversitas cabang Solo. GAW kemudian saya dengar melanjutkan aktivitas organisasinya hingga tingkat provinsi. Saya berdoa GAW kelak dapat menjadi pemimpin nasional, menggantikan Muhaimin Iskandar, Suryadharma Ali, atau paling kurang Mathori Abdul Jalil.

Bila ada tugas kuliah, teman yang paling sering satu kelompok dengan saya adalah BD. Saya merasa dekat dengan BD karena ia berasal dari tanah di mana leluhur saya di Jawa bermula. BD memiliki komputer, sehingga soal-soal mengetik tugas dijamin beres. Saya umumnya diberi tugas untuk presentasi di depan kelas, satu tugas yang umumnya saya terima dengan senang hati. BD termasuk teman mahasiswa yang sering singgah di kost saya, begitupun saya. Ketika BD tinggal di kost yang lebih besar—rumah salah satu family-nya—saya lebih sering lagi menyambangi BD. Satu waktu saya diundang meramaikan ulang tahun sepupunya. Kami mengadakan pesta ikan bakar—yang dibakar ramai-ramai. BD membuat sambal terasi himself, yang rasanya maknyus. Saya baru menyadari memiliki teman yang mandiri seperti BD: pintar memasak, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri—satu kali BD bercerita memperbaiki pompa air sendiri dan masuk ke dalam sumur sendiri pula. Saya iri dengan kreativitas dan kemandirian BD sedang saya tetaplah anak mama.

Kalau NFS saya kenal karena beberapa kali kami duduk bersebelahan saat kuliah sedang berlangsung. NFS adalah salah satu teman yang paling mengapresiasi saya—karena itu saya tak mungkin terlupa. NFS pula yang berusaha mempopulerkan sapaan Max Webry bagi saya. Sesungguhnya saya menyukai sapaan itu, karena lebih keren ketimbang sapaan Gondrong bagi AW saya kira, atau nDayak—sapaan mesra kita bagi A—aduh, maaf sekali A, saya lupa nama lengkapmu. Namun teman-teman lain tak ada yang menggunakan sapaan itu. Saya hanya berharap NFS sahabat saya istiqomah dengan usahanya ini. Lain waktu NFS membuat sketsa wajah saya, saya ingat saat perkuliahan Dasar-Dasar Logika. Sketsa itu—tak mirip betul sesungguhnya—dan sketsa yang dibuat sahabat saya yang lain ABN hingga kini masih saya simpan rapi di rak buku saya. NFS pula pernah memberi satu apresiasi pada saya. Ceritanya saya hampir lupa, saya dan NFS saling meminjamkan file tugas. Dalam file yang dikembalikan pada saya, sambil bercanda NFS membesarkan hati saya agar tak selalu berpikir teori yang sulit sekali dipahami layaknya dunia yang samsara. Sekali-kali jadilah Budha atau hippies, katanya. Saya tersenyum dan berterimakasih pada NFS. Coretan NFS itu tetap tersimpan rapi dalam file saya, hingga kini.

Sebagai mahasiswa saya pun tak ingin ketinggalan mode. Ketika teman-teman berjamaah memanjangkan rambut saya pun turut serta. Mestinya saya tahu diri rambut saya keriting macam Indomie. Namun saya nekat meskipun rambut saya tak ada artistik-artistiknya macam rambut Nicholas Saputra yang digilai semenjak memerankan Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta. Beberapa teman yang rambutnya tak artistik tetap memanjangkan rambutnya. Salah satunya WNSDM. WNSDM pada akhir-akhir kuliah memproklamasikan sebutan bagi dirinya sebagai Dek Sri. Namun tak ada teman-teman angkatan yang menyapanya seperti itu. Saya kira hanya teman-teman WNSDM di teater yang efektif menyapanya sebagai Dek Sri. Ketika kuliah sebagai pelengkap mode saya kerap memakai kaos oblong hitam, sepatu sandal gunung dan tas ransel yang efektif menutupi punggung saya. Dalam tas ransel yang besar ini saya membawa sedikit buku, namun tak terlupa membawa sangu air putih dalam botol bekas kemasan air mineral. WNSDM termasuk teman yang hapal kebiasaan saya ini, sehingga ia kerap meminta barang satu-dua-tiga teguk air minum saya. Saya memberinya dengan senang hati, sebagaimana ajaran uraian hikmah agar kita selalu member air, api dan garam.

Lain lagi SWW. Sahabat saya satu ini saya kenal intim saat satu waktu kami berdua terlambat mengikuti ujian semester. Pada akhir-akhir kuliah, teman-teman mengambil matakuliah yang berbeda-beda. Kondisi ini membuat teman-teman harus mandiri dan tak bergantung pada teman satu angkatan. Begitu juga ketika menghadapi ujian. Waktu dan tempat ujian harus dicek dengan teliti agar tak keliru. Saya dan SWW salah satu contohnya. Satu waktu saat masa ujian semester kami santai bercengkerama di Jembatan Asmara dengan sejumlah teman. Saya mengira teman-teman yang bersantai bersama di sana mengambil mata kuliah yang sama dengan saya. Saya kaget luas biasa, ketika teman-teman yang lain baru keluar ruang ujian dan ternyata mereka teman yang mengambil matakuliah yang sama dengan saya. Saya dan SWW berusaha menghadap dosen pengampu dan menceritakan permasalahan kami. Dosen pengampu tersebut memahami kondisi yang kami hadapi dan mempersilakan kami mengambil ujian susulan. Saya dan SWW kemudian ujian bersama dalam keheningan di ruang dosen.

Iklan

Satu Tanggapan to “Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara”

  1. Hasan Says:

    Wah, memori yg kuat. Sy mnikmati skali uraianx n ingin skali kmbli k masa2 jd mhssw sok pinter kala itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: