Dari Film ke Film

f 26, 2011

Saya menggemari film, meskipun tak maniak betul. Bagi saya film merupakan salah satu produk seni dan intelektual yang paling gampang menggerakkan hati saya, membuat saya terinspirasi selain membaca buku. Saya menyukai film terutama oleh sihir imajinatif film. Saya tak tahu apakah kesan saya atas imaji film dapat diteoretisasikan. Saya hanya merasa mengalaminya dan akan saya bagi kepada anda melalui posting ini.

Sihir imajinatif film ini membuat saya menjadi individu yang lain. Dalam satu saat, beberapa jenak, saya hanyut dalam realitas filmis. Saya tak paham betul tetek bengek artistik film namun saya menyukai imaji filmis pada adegan orang berdialog, dengan suara yang jernih, hingga detail gemerisik gerik tubuh  terdengar jelas. Saya menulis posting ini karena menyukai iklan terbaru mie instan merk Indomie, versi Larut Malam Enaknya Indomie, juga iklan Pas Hujan Pasnya Indomie. Iklan ini menceritakan gambaran yang filmis: tokoh berdialog kepada dirinya sendiri sambil memasak mie instan saat malam hari. Dialognya jernih, musik latar akustik minimalis juga terdengar jernih, bahkan suara serak aktornya terdengar jelas.

Bila menonton film di bioskop imaji filmis ini membuat saya larut dalam hyperealitas yang menyenangkan. Dengan akustik ruangan yang baik, imaji filmis orang yang berdialog dengan suara yang jernih, detail suara di sekelilingnya, misalnya suara yang hadir sebab ia beringsut dari kursi, gemericik air di wastafel saat tokoh mencuci piring, terdengar syahdu. Momentum yang paling saya nikmati dari imaji filmis sebuah film adalah saat-saat film selesai diputar. Setelah dua jam sebelumnya saya hanyut dalam imaji filmis satu film, larut dalam hyperealitas, bahkan merasa menjadi orang lain dalam realitas filmis dalam angan, tiba-tiba saya tersadar film telah selesai. Beberapa film membuat saya tergetar, oleh beberapa detail sinematografinya. Misalnya: Gie, Laskar Pelangi, atau Minggu Pagi di Victoria Park.

Saat menonton Gie imaji saya turut larut dalam cerita film yang mengalir. Dengan segera saya mengidentifikasi sebagai bagian dari film. Saya membayangkan diri saya menjadi Herman Lantang yang diperankan Lukman Sardi. Menjadi aktivis mahasiswa yang hebat, marah melihat penindasan, bla-bla, bla. Sebagai satu produk kebudayaan yang dibingkai dalam imaji, sebuah film memiliki durasi. Ketika ia secara sadar diputar, maka tak terlawan pula ia harus berakhir. Film habis. Layar bioskop masih menampilkan credit title pekerja film yang setengah mati memproduksi film yang dalam dua jam selesai ditonton orang. Orang-orang acuh, bergegas keluar bioskop. Lampu-lampu bioskop menyala.

Saya paling menikmati momentum ini: mengakhiri realitas filmis dalam imaji saya, pelan-pelan, sebelum akhirnya bioskop terang sama sekali dan calon penonton baru akan menggantikan duduk di kursi saya sebelumnya. Belum puas saya menjadi Herman Lantang dalam Gie atau menjadi Gandi dalam Minggu Pagi di Victoria Park, film sudah berakhir. Dari realitas filmis yang belum tuntas, saya biasanya menunggu lebih lama di kursi bioskop, membaca running text yang menuliskan sederet nama pekerja film yang ditulis kecil-kecil di layar, sembari menunggu penonton lain keluar. Pelan-pelan saya beranjak dari kursi, menghela napas, satu-satu, kemudian keluar bioskop. Bioskop-bioskop di tanah air hari ini umumnya ada di mal dan pusat perbelanjaan. Sehabis menonton film, dalam ruang yang akustiknya baik, sejuk air conditioning, saya kemudian harus keluar bioskop. Terpaksa mendengar riuh pengunjung mal membuat imaji filmis saya berantakan. Tak lama kemudian saya telah lupa pada imaji filmis dan kembali menjejak realitas. Ah, film.

Detail-detail filmis seperti ini yang membuat saya ingin menonton film lagi, dan lagi. Saya gemar membaca buku atau menonton film yang sama berulang-ulang. Saya cenderung tak gampang bosan. Menonton film yang sama berulang-ulang membuat saya dapat lebih menghapal detail film. Selain adegan dialog yang filmis, lagu yang diputar dalam film juga terdengar lebih imajinatif. Faktor akustik bioskop tentu saja besar, namun lagu yang menjadi soundtrack film rasanya lebih magis, ketimbang didengar melalui radio atau ditonton dari layar kaca televisi. Menonton dan mendengar lagu Donna Donna Donna ciptaan Joan Baez yang dinyanyikan Sita Nursanti membuat saya larut dalam imaji yang filmis. Atau mendengar lagu Berhenti Berharap original soundtrack film 30 Hari Mencari Cinta membuat saya tersayat. Aku pulaaaaaa…nggg (harap dinyanyikan dengan penghayatan, mata terpejam, dalam angan hati disayat-sayat tipis)/ Tanpa dendam/Kuterima kekalaaa…hannnku. Saat itu saya merasa Erros menciptakan lagu itu untuk saya yang tak juga memiliki kekasih hati. Bersama Akhdiyat Duta Modjo saya menghayati momentum tidak mempunyai mahasiswi teman dekat, hanyut dalam imaji filmisnya. Berkali-kali saya mendengar lagu ini dari radio atau menonton video klipnya di televisi, namun hanya dengan menonton di bioskop imaji filmisnya dapat saya rasakan. Nikmat betul rasanya menghayati kesendirian. Meski begitu saya tentu saja pemuda yang pantang menyerah, karena saya sepakat pada Jhoni Iskandar: Patah hati bukan sifatnya lelakiiii/Apalagi sampai nekat bunuh diri/Putus cinta itu soal yang biasa/Aku tak putus asaaaaaa…. (harap dinyanyikan dengan intonasi penuh, dalam hati hembuskan napas kuat-kuat, hempaskan beban, nikmati pesona kelaki-lakian anda).

Saya berjanji akan menonton film lagi. Dan tak pernah bosan.

Iklan

3 Tanggapan to “Dari Film ke Film”

  1. Robbie Darrwis Says:

    weeuuuuuw…robbie darrwis banget, dan robbie darrwis menyukai tulisan ini.

    film ‘FIKSI’ juga bagus tu, mas. meski dalam ceritanya berkesan datar, tapi tetap enak ditonton. cukup humanis. sound directing_nya juga bagus

  2. ncep Says:

    wuakeh men rekkk…..kesel mocone….
    nyat mie instan kie sangat2 bisa di handalkan og…

  3. semuayanggurih Says:

    serendipity. sama my sassy girl. absolutely recommended kalo pengen liat film romantis.
    kalo pengen yang rada mikir (dan relatif baru), inception (leo di caprio) mantap juga tuh. juga thank you for smoking.
    yang menyentuh hati: pay it forward, the boy in the stripped pajamas, 3 idiots (ini malah udah pernah diputer di sctv).
    coba tonton deh, mantabbbh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: