kerja keras adalah energi kita

f 5, 2010

Sore itu cuaca cerah. Setelah beberapa bulan dihajar kemarau berkepanjangan, kota kami sedikit sejuk kini. Saya tak sedang mengeluhkan situasi yang biasa disebut sebagai pemanasan global ini. Bersama istri dan putri kami yang belum genap enam bulan kami telah lama berencana berjalan-jalan dengan sepeda motor, ke pinggiran kota.

Sebenarnya kota kami kecil saja meskipun ia secara administratif menjadi ibukota kabupaten. Dan di pinggiran pula. Sehingga untuk tiba di pinggiran kota tak membutuhkan waktu lama. Melintasi sawah yang hampar-menghampar membuat saya merinding. Dalam hati saya berdoa, semoga hamparan sawah ini tak segera beralih fungsi, setidaknya hingga putri kami beranjak besar nanti. Saya sudah berjanji kepada diri sendiri, besok akan membawanya ke persawahan itu. Bersama bekal nasi bungkus, dan penganan, dan minuman, dan kletikan, dan buku tulis. Akan lebih baik bila ia telah pandai menulis. Sehingga satu atau dua puisi tercipta.

Biasanya, selepas berjalan-jalan, perlahan, kami mampir sejenak di Alun-Alun. Mampir di pedagang martabak langganan kami, yang hingga kini saya pun tak tahu namanya siapa. Martabak ini tak istimewa benar, hanya karena murah kami membelinya. Satu porsi dibandrol Rp. 5 ribu saja. Menu pilihan kami biasanya martabak isi pisang dan coklat. Seperti hari-hari sebelumnya, setiap membeli saya senang memperhatikannya meracik bahan, menuangkan ke dalam loyang, menaburi gula dan cokelat. Saya paling menyukai sesi (memperhatikan cara) memasak ketika sedang membeli makanan.

Saya biasa mengobrol apa saja. Kadang-kadang saya tanyakan soal isu-isu nasional atau lokal yang sedang hangat. Semacam dugaan korupsi, pemilu, kesannya pada presiden atau tanggapannya atas pro kontra mantan presiden Soeharto yang diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Biasanya saya lebih banyak mendengar, sambil mencoba mengingat-ingat komentar mereka. Bagi saya komentar-komentar ini adalah refleksi asali dari komentar sejenis oleh pakar atau mereka yang memiliki ‘wewenang ilmiah’ di koran yang sering saya baca.

Loyangnya dua buah. Karena masih sore, tak banyak orang yang antri. Saya perhatikan ia tak lagi menggunakan kompor mintak (tanah), karena di bawah loyang menjulur slang dari tabung gas 3 Kg. Saya sering mendengar dan membaca soal pro kontra konversi minyak tanah ke LPG. Umumnya mereka yang keberatan menggunakan LPG karena kekhawatiran yang berlebihan. Tak hanya orang-orang, saya pun sebelum menggunakan gas juga mengalami hal yang sama. Saya praktis bersentuhan dengan gas sesaat setelah menikah. Ketika awal mengontrak rumah (hingga kini), kami melengkapi dapur dengan kompor gas dan tabungnya. Di rumah saya sebelumnya, hingga kini, masih menggunakan kompor minyak tanah. Hanya istri saya yang telah menggunakan kompor gas sebelumnya, di rumahnya

Masyarakat kita sebelumnya telah familier dengan kompor minyak tanah. Teknologi ini dengan segera mengkonversi teknologi purba sumber energi dari kayu bakar atau arang. Tak sedikit kompor minyak tanah menimbulkan petaka, utamanya kebakaran. Almarhum Benyamin Sueb yang dekat dengan rakyat kecil kemudian menggubah Kompor Mleduk, satu lagu yang laris pada masanya dan menjadi penanda bahwa kita tak boleh bermain-main dengan api.

Saya tanyakan kepada penjual martabak itu, sebab apa ia menggunakan kompor gas. Ia bercerita banyak. Katanya minyak tanah hilang dari pasaran. Kalaupun ada harganya pun mencapai 300 persen Harga Eceran Tertinggi (HET). Saya tak menyela, namun di dalam hati saya membatin bahwa kota kami memang termasuk kota yang menjadi lokasi konversi minyak tanah ke LPG. Saya pun masih membatin, bahwa pemerintah pusat punya hitung-hitungan makro ekonomi, bahwa subsidi untuk minyak tanah senilai sekian rupiah, akan lebih sehat bagi APBN bila subsidi itu bisa ditalangi dari selisih penjualan gas yang lebih murah. Subsidi minyak tanah dapat dialokasikan untuk sektor lain, begitu kira-kira pikir pemerintah.

Masih dalam hati saya hendak mengatakan kepadanya, bahwa minyak tanah memang perlahan ditarik dari pasaran. Agar skema permintaan dan penawaran mengalami penyesuaian. Agar penawaran LPG mampu mengubah permintaan konsumsi minyak tanah dalam kondisi minyak tanah yang langka di pasaran. Saya katakan dalam hati, bahwa kebijakan ini secara makro dan teoretik tentu dapat dipertanggungjawabkan. Kalau soal spekulan, tak usah ditanyakan lagi. Saya kira ia akan menjadi musuh masyarakat, dunia dan akhirat. Namun analisis sederhana ini tak sampai hati saya katakan. Karena baginya keadaan sedang sulit, sehingga saya percaya ia tak akan peduli dengan teori-teori ekonomi pembangunan. Salah-salah ia akan menjadi skeptis.

Penjual martabak masih bercerita, bahwa menggunakan gas lebih murah hampir empat kali lipat ketimbang membeli minyak tanah sesuai ‘harga pasar’. Ia mengaku tak tahu sebab musababnya, bagaimana bisa minyak tanah menghilang dari pasaran dan harga pasarannya melambung tinggi, namun di saat bersamaan muncul gas 3 Kg dengan harga terjangkau. Sekilas penjual martabak itu merasa diuntungkan oleh kehadiran gas, meskipun nilainya tentu tak sebesar 400 persen lebih itu. Asumsi empat kali lipat ini dihitung dengan menggunakan harga pasar minyak tanah. Bila pengandaiannya menggunakan HET minyak tanah, bisa jadi penjual martabak ini tetap diuntungkan, dengan persentase yang tak prestisius seperti yang ia bayangkan.

Istri saya sedang mencandai puteri kami. Saya kira ia pun tertarik dengan isu-isu perencanaan, ekonomi pembangunan, dan krisis energi global. Martabak yang kami pesan telah matang. Kami kemudian melanjutkan berjalan putar-putar ke komplek rumah toko di pusat kota (kecil) kami. Hendak membeli pempek sebagai logistik menonton televisi nanti malam. Maklum saja, sebentar lagi sore ini berganti menjadi malam minggu.

Dalam perjalanan saya teringat dengan ibu saya, nun jauh di kota kecil di pulau Sumatera. Hingga kini ia belum beralih menggunakan gas. Sebabnya sederhana saja, kekhawatiran berlebihannya terhadap kemungkinan bahaya kompor gas. Sebab lain yang lebih praktis, karena kota kecil kelahiran saya itu belum menjadi wilayah konversi minyak tanah ke gas. Sesaat setelah menjadi wilayah konversi, maka saat itu pula pilihan menggunakan gas adalah pilihan paling efisien.

Mengingat ibu membuat saya berpikir bahwa kerja keras P.T. Pertamina dalam program konversi minyak tanah dan gas tidak semata persoalan perencanaan pembangunan, ekonomi makro, struktur APBN dan semacam itu. Kerja keras P.T. Pertamina terutama adalah membangun budaya energi yang bijak. Membangun perilaku pemanfaatan dan pengonsumsi energi yang bertanggungjawab. Sudah banyak iklan layanan masyarakat di mass media bahwa menggunakan energi gas tak berbahaya, asal tahu caranya. Namun tahu caranya saja juga tidak cukup, karena standard mutu produk juga harus tetap dijaga. Beberapa kali saya mendapati keluarga atau tetangga mengeluhkan kemungkinan tabung gasnya bocor sebab klep sambungan antara tabung dan slang gas berkualitas buruk. Klep ini barangnya kecil dan tampak sepele, namun karenanya tabung gas menjadi tak rapat.

Saya termasuk orang yang takut terhadap kemungkinan bahaya tabung gas, namun saya tak hendak menjadi paranoid. Karena paranoid jelas tak produktif, sedang gas kini menjadi sumber energi yang ‘tak terhindarkan’. Karena itu, mendengar rencana pembangunan kota gas di beberapa kota dekat sumber energi membuat saya harap-harap cemas. Ketika seorang sahabat alumnus sebuah universitas di Timur Tengah mengatakan bahwa apartemennya mendapat suplai gas gratis dari pemerintah, tak ubahnya air bersih PDAM, yang terpikirkan bagi saya adalah kemungkinan bahayanya.

Bangsa ini telah banyak bekerja (dengan keras). Namun yang kita dengar setiap hari lebih banyak kritik dan syak wasangka. Saya percaya semua dari kita akan berubah, baik karena didorong oleh kesadaran maupun ditekan oleh keadaan. Kerja keras sejatinya adalah energi kita, dan energi kita diperoleh, dikembangkan dan dimanfaatkan dengan kerja keras pula.

Iklan

5 Tanggapan to “kerja keras adalah energi kita”

  1. RAH Says:

    wah dadi kelingan kampung.

    tentang konversi mitan ke LPG,publik ternyata sudah bisa diyakinkan oleh rezim tentang keuntungan menggunakan LPG, dibandingkan dengan mitan.
    sebelumnya, banyak sekali yang kontra terhadap kebijakan tersebut. hal tersebut wajar, karena LSM dan media massa (yang berseberangan dengan rezim) mungkin lebih banyak menggunakan paradigma skeptisisme.sementara itu dipihak lain, pemerintah selalu melakukan persuasi kepada publik dengan pandangan optimismenya.
    hal ini memang harus terus dipertahankan. kritik itu penting, namun nada optimisme harus terus dibangun.

    mari kita bekerja keras


  2. Blogie walking neh sambil memperkenalkan pernikahan adat yang ada di Indonesia.

  3. masmpep Says:

    @ RAH
    dalam konteks dan derajat obyektivitas tertentu saya sepakat dengan adagium: kritik membangun. saya mendapati bahwa kritik tanpa solusi, maupun skeptisisme sama sekali tak produktif. mencoba, dan berani mengakui kesalahan bila kebijakan ternyata keliru bagi saya lebih sehat bagi bangsa ini….

    @ pernikahan adat
    sumonggo….

  4. Areep Says:

    mas maap saya kok nyari2 tentang forum diskusi mengenai raden jambat nggak ada ya…
    bisa minta linknya..?

  5. millati Says:

    Waw, martabak isi pisang cuma 5 ribu rupiah? Kayaknya di Blangpidie gak ada makanan semurah itu…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: