tentang maaf dan memaafkan

f 2, 2009

“Saya paling tak suka dibohongi. Saya menghargai kejujuran, meskipun kejujuran itu pahit.” Saya provokasi anda untuk tak serta merta percaya kepada untaian kata mutiara yang sering dijadikan motto dalam curriculum vitae ini. Saya lebih sering mendapatinya sebagai teori belaka, karena masih banyak orang yang tak siap mendengar berita buruk, kepahitan, termasuk memaafkan.

Sepanjang hidup saya, tak pernah sekalipun saya berkelahi. Saya tak tahu apakah karena saya seorang penakut, atau seorang yang lebih dapat diajak berpikir ketimbang berbaku-hantam, atau seorang yang lebih suka menghindari konflik. Saya cenderung orang yang berusaha tak menjadi bagian, aktor, maupun subyek konflik. Menurut pengalaman saya, hampir semua konflik dapat diselesaikan dari dua sikap: maaf dan memaafkan.

Bagi penduduk di bangsa yang berharga diri tinggi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keperwiraan yang dapat dengan segera menjadi amok, perkara meminta maaf adalah persoalan besar. Harga diri, mendekati hidup dan mati. Tak terhitung banyaknya orang yang siap dan rela untuk mati ketimbang meminta maaf, atau paling kurang meminimalkan konflik. Harga diri tak sebanding dengan nyawa, karena nyawa kedudukannya beberapa trap di bawah harga diri.

Saya tak sedang mengatakan bahwa saya seorang yang tak berharga diri. Harga diri bagi saya bisa bermakna berkebalikan dengan kewiraan. Harga diri tak harus ditunjukkan dengan amok, tetapi dapat mewujud dalam sikap, tindak tanduk, lagak lagu, atau ucap kata. Harga diri tak hanya semata-mata defense mechanism, meskipun jauh-jauh hari ada ungkapan sadumuk bathuk senyari bumi. Entah mengapa kemudian ada ungkapan wong ngalah luhur wekasane. Saya percaya kecerdasan verbal anda tak mengatakan sebaiknya kita mengalah melulu, atau sebaliknya, sudah seharusnya kita berkelahi selalu.

Soalnya sederhana saja. Saya percaya anda pun telah mafhum, bahwa kata maaf, tolong dan terimakasih mulai tak eksis dalam perbendaharaan percakapan kita sehari-hari. Saya pun masih sebentuk makhluk, yang daripadanya terdapat keinginan untuk selalu menang, memenangi kehidupan yang jauh-jauh hari diistilahkan Thomas Hobbes sebagai homo homini lupus. Ceritanya pun ada.

Seperti saya uraikan dalam mukadimah, saya tak pernah sekalipun berkelahi. Seingat saya, menendang orang pun hanya satu kali. Itu pun kepada adik saya. Sebelum menjadi mahasiswi yang membanggakan kini, adik saya ketika kecil terbilang bandel. Kegemarannya mengganggu saya. Saya dididik untuk mengalah oleh ibu, sehingga umumnya saya hanya menghindari kebandelannya. Satu waktu, dalam kejengkelan-anak-anak yang memuncak, tertendanglah pinggang adik saya. Sontak ia terduduk, mengejan, dan lemas. Saya, menurut terminologi homo homini lupus mestinya menyeringai bangga. Tetapi tidak. Cepat-cepat saya membantu adik bangun, dan meyakinkan ia tidak apa-apa. Saat itu saya sudah lupa dengan kejengkelan-kecil saya. Saya berharap adik saya tak apa-apa. Saya harus bersyukur karena ia kini menjadi seorang dewasa yang menyenangkan, dan tak ada masalah akibat tendangan-tak-sakit saya itu dulu. Saya menduga ia hanya kaget saya melawan untuk sekali itu dan terakhir kalinya.

Mengingat kejadian ini saya seringkali geli, sekaligus bersyukur. Saya mendapati banyak menjadi saksi atas dipukul, atau ditamparnya seseorang oleh orang lain yang menurut sistem sosial kita dianggap sebagai kepala keluarga—alhamdulillah lagi, ini terjadi tak di rumah saya—sehingga sang terpukul dan tertampar kesakitan. Saya yang melihat saja merinding, dan seperti turut merasa bersalah pula. Saya percaya sang pemukul dan penampar itu pastilah dalam sepersekian detik khawatir, lupa dengan kejengkelannya sejenak, dan hendak berniat menolong sang terpukul dan tertampar. Setidaknya seperti yang pernah saya alami. Tetapi sepanjang saya menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga tetangga, tak pernah saya mendapati sang pemukul dan penampar menolong terpukul dan tertampar. Entahlah, sepersekian detik itu ternyata tak mampu melebur maafnya. Entahlah, harga dirinya lebih agung, perwira, ketimbang gengsinya. Saya berbaik sangka, bisa saja ia telah memaafkan, namun gengsi untuk menolong. Dikira apa?

Ada lagi. Soal kejujuran dan maaf. Ada satu waktu saya merasa berbuat salah kepada seseorang, sebab tak jujur. Saya tak nyaman, karena itu saya berniat berterusterang, mengakui kekhilafan, dan meminta maaf. Meminta maaf bagi saya perkara besar. saya harus mengalahkan gengsi, saya harus mendefiniskan-ulang makna harga diri, saya harus menguatkan hati, saya menyusun kata-kata beberapa hari. Satu adagium yang paling menguatkan saya adalah: saya tak suka dibohongi, saya menghargai kejujuran meskipun kejujuran itu pahit adanya. Saya sering mendengar orang mengatakan ini, tak ada salahnya saya mempraktikkannya.

Satu hari, saya meminta maaf kepada seseorang itu. Saya mengaku salah. Saya berharap ia memaafkan saya, dengan menghargai kejujuran saya. Pasti menyakitkan, karena itu saya memberi waktu baginya untuk memaafkan saya. Saya menduga ia pun penganut paham ‘kejujuran-meski-pahit’ itu. Namun ekspektasi saya tak memuaskan. Meski saya berusaha berempati dengannya, saya kira saya tak salah bila berharap kejujuran saya menjadi ‘sesuatu’. Saya kecewa ketika ia ‘menghukum’ saya, seperti bila ia mengetahui kebohongan saya dari orang lain, alias saya tidak jujur. Saya sempat pesimis, bahwa jujur atau tidak sama saja ‘derajat hukumannya’. Beberapa waktu saya skeptis. Meskipun seseorang itu kemudian dapat memaafkan saya, dan kembali memperlakukan saya sebagaimana ia memperlakukan saya sebelum saya membohonginya. Saya kemudian belajar banyak dari pengalaman ini. Bahwa meminta maaf itu sulit, sekaligus memberi maaf pun tak gampang. Kejujuran sebagai perantaraannya saja tak cukup cepat membuat maaf diberikan. Saya pun belajar untuk lebih menghargai kejujuran, yang lebih dari sekedar teori dan kata-kata mutiara dalam curriculum vitae. Kalau tak benar-benar dapat menerima kejujuran, saran saya tak usah lagi anda menulis ungkapan mutiara ini dalam daftar riwayat hidup anda, atau menjadi motto dalam pembuka skripsi-tesis-disertasi.

Lain waktu, saya melakukan satu kesalahan yang lain, kepada orang yang lain. Saya cenderung untuk tak suka berkonflik. Saya selalu ingin terjadi harmoni dalam kehidupan saya, yang tentunya tak sekedar teori. Karena itu, ketika terjadi konflik, cepat-cepat saya meminta maaf kepadanya. Saya katakan pula, bahwa beberapa saat lagi kami akan berpisah oleh jarak, dan mungkin tak akan bertemu-muka lagi. Saya meminta maaf, dan agar ketika ia meninggalkan kota ini mengenangkan hal-hal paling baik saja dari saya dan dia. Saya belajar untuk berempati kepadanya. Hatinya tentu telah terluka, dan membutuhkan sekian waktu untuk mengobatinya. Beberapa waktu saya menunggu, seseorang ini tetap tak ingin memberi maafnya. Beberapa teman telah memprovokasi saya, bahwa saya telah melakukan sesuatu yang seharusnya, kewajiban saya telah gugur, dan soal maaf saya diterimanya itu perkara lain. Saya menggeleng. Saya meminta maaf bukan hendak menggugurkan kewajiban. Saya meminta maaf karena ingin mengembalikan harmoni seperti sedia kala, satu derajat lebih utama ketimbang memenuhi kewajiban pendosa.

Hingga ia meninggalkan kota. Saya menyesal sekali, bahwa kesan baik kami selama ini ditutup dengan permusuhan. Butuh waktu tiga tahun sehingga seseorang ini benar-benar memaafkan saya. Bisa jadi seseorang ini melapangkan dadanya memaafkan saya setelah saya menulis posting sahabat-sahabat paling baik dalam blog ini. Saya tak sedang merajuknya, karena bagi saya seseorang ini memang salah satu sahabat terbaik saya. Mungkin karena derajat kedekatan kami ini pula, sehingga ia benar-benar butuh waktu karena telah saya kecewakan hatinya.

Satu orang lagi pernah saya kecewakan karena satu sikap saya. Beberapa waktu kemudian saya berusaha meminta maaf kepadanya. Awalnya tak secara verbal, namun melalui sikap-sikap saya yang menunjukkan iktikad baik. Cerita satu orang ini hampir sama dengan cerita seseorang-seseorang terdahulu yang telah saya ceritakan. Butuh waktu hingga empat tahun sehingga ia benar-benar memaafkan saya. Selama beberapa waktu ketika menunggu maafnya, saya beberapa kali mendapat perlakuan yang tak menyenangkan, sebenarnya. Saat saya silaturahim hingga beberapa jam, saya ditinggalnya tidur, dan tak menemui saya kecuali ketika saya pamit. Beberapa saat kemudian ia memberi pesan pendek bahwa sedang sakit. Satu waktu, beberapa kali ketika saya kebetulan mampir ke kotanya dan mengirimi pesan pendek akan singgah, pesan pendek saya tak berbalas. Begitupun ketika ia berkali-kali singgah ke kota saya, tak sekalipun ia mampir ke kediaman saya, seperti kawan-kawan lain. Namun beberapa kali ia menyenangkan hati saya. Mentraktir makan nasi kucing di angkringan, memberi saya gelang manik-manik-tanda-persahabatan ketika saya satu kali membantu tugas-tugasnya. Namun lain waktu ia tak meresepons positif pesan pendek saya, atau mengabaikan saya ketika silaturahim padanya. Saya sempat bingung oleh sikapnya: sudahkah benar-benar memaafkan saya, atau memaafkan-namun-ketika-ingat-luka-itu-tak-dapat-memaafkan? Seperti pengalaman yang lalu, saya tak ingin meminta maaf saya lebih rendah beberapa derajat menjadi menggugurkan kewajiban.

Beberapa bulan lalu, ia mengunjungi kediaman saya. Menengok keponakannnya yang baru berumur empat bulan. Setelah itu pesan pendek kami berbalas seperti empat tahun lalu. Sejak saat itu saya merasa ia telah benar-benar memaafkan saya.

Meminta maaf tak sederhana, memberi maaf juga kiranya. Tak sesederhana pesan pendek:  ‘Sepuluh jari tersusun rapi. Bunga melati pengharum hati. SMS dikirim pengganti diri. Memohon maaf setulus hati. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Met Idul Fitri 1431 H’ atau “Jika HATI sejernih AIR, jangan biarkan IA keruh. Jika HATI seputih AWAN, jangan biarkan dia mendung. Jika HATI seindah BULAN, hiasi IA dengan IMAN. Minal Abidin Wal Faidzin’
yang kita forward ke semua nomor yang ada di telepon genggam dua hari menjelang lebaran. Puitis. Teoretik. Dingin.

Sudah banyak kearifan soal idiom maaf dan memaafkan ini. Aa’ Gym menyimpulkan ribuan jam ceramahnya dalam satu sikap untuk menjaga (kebersihan) hati. Saudara saya kaum Samin hidup bahagia karena menghindari jauh-jauh srei dan dengki. Berdasarkan pengalaman saya menyimpulkan bahwa maaf dan memaafkan adalah satu sikap yang perlu diamalkan, bukan dijadikan kata mutiara.

gambar diunduh dari: ezzati.onsugar.com

Iklan

11 Tanggapan to “tentang maaf dan memaafkan”

  1. nurrahman18 Says:

    wah sungguh bnyk ulasan2 dr pengalaman pribadi anda.salut.
    tp stiap org bth wkt yg tdk sama utk brani meminta maaf..

  2. alamendah Says:

    (maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
    Mengakui kesalahan dan meminta maaf terkadang membutuhkan keberanian yang besar.

  3. Abdi Jaya Says:

    saya kurang sreg bila orang meminta maaf lewat media seperti sms atau telpon. Alangkah lebih baik bila keduanya bertemu lalu berjabat tangan dan saling memaafkan. Hati akan lebih mudah menerima perlakuan seperti itu


  4. maaf dan memaafkan sekarang ini (nyaris) telah luntur, masmpep. nilai2 kekerasan yang tampil vulgar di sekitar kita benar2 telah menghancurkan nilai2 kearifan itu. semoga anak2 kita tak terkena imbasnya. bagamaimanapun juga maaf dan memaafkan idealnya menjadi etika sosial yang niscaya utk diaplikasikan dalam kehidupan sehari2.

  5. agus raharjo Says:

    Memaafkan itu lebih sulit dari kadar hati..
    sedang minta maaf itu lebih sulit dari perspektif perilaku…

    Salut untuk yang bisa melakukan keduanya….
    Salam kenal masmpep

  6. RAH Says:

    memang benar, sangat susah untuk meminta maaf, apalagi sampai dalam bentuk yang paling formal,misal,berjabat tangan dan menyatakan kesalahan yang dilakukan secara sadar dan memverbalkan permohonan maaf tersebut.

    lalu saya jadi berpikir, jangan2 saya juga punya salah terhadap orang lain (yang mungkin sangat fatal), namun saya tidak menyadari kesalahan tersebut, sehingga tak terpikirkan untuk meminta maaf.

  7. haris Says:

    ya, maaf dan terimakasih sudah jadi klise. sudah jadi sesuatu yg terlalu banyak dikatakan tapi pada satu saat, kita akan mengerti dua kata itu secara mendalam dan personal.

  8. masmpep Says:

    @ nurrahman 18, alamendah, agus raharjo:
    sekedar refleksi saja mas. dalam cerita ini mungkin saya bisa menceritakan tentang maaf dan memaafkan. sebagai manusia saya tak berani menjamin bahwa sikap, tindak tanduk dan perilaku yang lain juga sama. lintasan hidup saya kan dilewati beragam momentum.

    @ abdi jaya:
    idealnya begitu. namun saya juga tak tahu benarkah saya sudah seideal itu. maklumlah, saya kan berpotensi khilaf juga.

    @ sawali tuhusetya, RAH, haris:
    posting ini hanya mencoba merawat kesadaran kita. banyak hal yang kita keluhkan soal maaf dan memaafkan. mudah-mudahan kita dapat mengaplikasikannya, tak sekedar teori, sebagaimana posting ini yang menjadi teori pula sesaat setelah ia dituliskan.

  9. aida Says:

    bnar skali!!

  10. iie Says:

    Saya baru saja meminta maaf yg saya rasa kesalahan bukan dari saya,,tp untuk kebaikan keluarga sya meminta maaf terlebih dahulu,,bagi sy untuk saat ini minta maaf sgt berat sekali,,dimana sy hrus menurunkan ego n gengsi…hmmm,,,terasa berat,,,sampe meneteskan air mata,,T_T

    • masmpep Says:

      Saya pernah memiliki teman bernama risya. Apakah saya pernah mengenal anda sebelumnya? Meminta maaf memang berat, pada prosesnya. Namun setelah itu melegakan, pada akhirnya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: