tentang cium tangan

f 27, 2010

Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di boulevard (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang keluar kota, ada acara keluarga, atau alasan lain yang dibuat-buat, yang intinya tak bisa hadir. Adik-adik yunior organisasi saya juga datang, berboncengan sepeda motor. Sebagian tak saya kenal, karena memulai kuliah setelah saya tak di kampus itu lagi. Tak apa.

Adik-adik yunior menghampiri saya, dan serta merta mencium tangan saya. Pada awalnya saya kaget, namun sambil mencari-cari jawaban yang filosofis, saya memberikan punggung tangan saya untuk dicium. Kaget, karena sepanjang pengalaman saya menjadi mahasiswa, tapi pernah kami mencium tangan senior, seberapapun tuanya, atau seberapapun berkuasanya ia (agak hiperbola, maksudnya seberapa berpengaruhnya dia karena pekerjaannya kini, bagi bangsa ini). Awalnya saya menduga-duga, mungkin karena saya sudah lama meninggalkan kampus, sehingga dikira oleh adik-adik mahasiswa ini saya sudah tua.

Namun pandangan saya segera keliru. Adik-adik mahasiswa angkatan 2010, alias angkatan paling akhir, juga mencium tangan kakak-kakak kelasnya, angkatan 2009 ke belakang. Sambil mencomot cenil saya mangangguk-anggukan kepala sendiri, tanda sedang berpikir. Saya kira mencium tangan telah menjadi tradisi baru, setidaknya dua-tiga tahun belakangan ini. Saya mengingat seorang teman, sekira sepuluh tahun lalu ketika banyak mahasiswa mentradisikan kultur baru: berjabat tangan sambil mengucap salam sebagai sesama muslim, dan aktif mengintroduksi nomenklatur-nomenklatur arabia semacam: afwan, akhi, antum, ifthor. Kawan saya itu mengapreasiasinya sebagai sebuah pembentukan tradisi. Saat itu saya pun diam-diam mengamati, tentu saja sebagai sosiolog-kapiran. Setiap perubahan sosial, yang ditandai oleh introduksi perilaku baru yang diinisiasi secara mengglobal, tentu menarik untuk diamati, tepatnya ditonton dari sayup-sayup kejauhan.

Lalu, bagaimana seorang sosiolog-kapiran mendudukkan gerakan-perilaku-baru, yang dalam bahasa lebih keren: purifikasi, atau penajaman identitas, dan semacam itu, dengan perilaku yang dibiasakan adik-adik yunior saya ini: mencium tangan, siapa pun yang dianggapnya tua. Tanpa tahu maknanya?

Makna mencium tangan? Tanpa sempat membaca buku referensi, saya kira mencium tangan merupakan tradisi bangsa ini sejak lama, sejak kita semua ini pernah kecil dulu. Lalu, apa istimewanya? Jelas istimewa saya kira. Karena, cium tangan pada masa-masa lampau diperuntukan bagi orang yang dituakan. Orang yang dituakan tentu berbeda makna dengan orang tua. Apalagi orang sekedar tua karena lebih dulu lahir. Cium tangan, menurut pengalaman kelampauan saya bermakna ketakziman.

Seorang muda, memberi hormat, takzim, dengan mencium tangan orang yang dituakannya, dihormatinya. Cium tangan saya kira paralel dengan tradisi munjungan, alias mengirim hantaran kepada orang yang dituakan, dan dihormati ketika orang Jawa menggelar hajat. Dalam versi kekinian yang diwaspadai oleh KPK secara cermat, apalagi kalau bukan parcel.

Hormat, takzim, dituakan. Karena itu tak semua orang yang dituakan dengan senang hati menganggap dirinya tua dan hormat. Makna takzim berkebalikan dengan perlindungan dan pengayoman. Seseorang yang diberi penghormatan, wajib ain hukumnya memberi perlindungan dan pengayoman kepada mereka yang menghormatinya. Arswendo Atmowiloto dalam novel Canting menulis adik-adik Raden Ngabei yang kesulitan hidup menyatakan pasrah bongkokan kepada sang kakak, Ngabei yang karena usaha istrinya berjualan batik di Pasar Klewer hidup berkecukupan. Tak seperti umumnya bangsawan yang tak dapat mengikuti gerusan laju zaman yang kapitalistik. Pasrah bongkokan dapat berarti menyerahkan jiwa raganya dalam perlindungan dan pengayoman sang kakak. Meskipun pada akhirnya Ngabei berujar: tak usah menyalahkan kapitalisme, tak usah menyalahkan nasionalisme (maksudnya merosotnya kewibawaan keraton). Semua (harus) bekerja. Semua (harus) berusaha.

Potret perubahan sosial di Solo pada masa-masa setelah perang kemerdekaan hingga tahun 1970-an dalam Canting memang tidak secara khusus menyebut soal cium tangan. Namun pasrah bongkokan saya kira adalah bentuk ideal dari penghormatan yang berkebalikan dengan pengayoman yang diharapkan.

Dalam konteks masyarakat santri, misalnya mencium tangan ulama dan keluarganya juga dimaknai sebagai penghormatan berkebalikan dengan keutamaan ulama yang diharapkan terpancar kepada dirinya. Keutamaan ini dalam konteks rasul disebut syafaat. Saya bersyukur, pernah mencecap penghormatan santri meskipun saya tak memiliki keutamaan yang diharapkannya. Ceritanya, seorang kawan saya semasa SMP tercatat sebagai putera seorang kiai di kecamatan kami yang memimpin pondok pesantren. Hampir setiap siang selepas pulang sekolah, saya ‘belajar kelompok’ bersama anak sang kiai. ‘Belajar kelompok’ di sini maknanya adalah: sedikit belajar mengerjakan tugas, dilanjutkan mengobrol, menonton televisi, atau melempari mangga di sawah belakang pondok. Karena putera pak kiai dihormati oleh santrinya layaknya seorang Gus, maka saya juga sedikit banyak dihormati sebagai ‘temannya Gus’.

Saya mendapati banyak orang yang segera menarik punggung tangannya ketika disambut cium oleh orang lain. Saya kira orang-orang model ini memahami betul soal penghormatan, ketakziman, pengayoman dan keutamaan. Sebagian yang lain justru menikmati ketika punggung tangannya disruput hidung banyak orang.

Soal makna cium tangan sudah. Soal cara mencium tangan, ternyata perlu kajian hermeneutika tersendiri. Pada masa-masa lampau, saya hanya tahu mencium tangan dengan satu cara: meraih dengan lembut punggung tangan orang yang kita hormati. Dan secara takzim pula meletakkannya di depan hidung, atau sekurang-kurangnya di kening. Cara ini pula yang diperlihatkan Habibie ketika mencium tangan Soeharto dalam gambar foto yang sampai pada kita sekarang. Juga ciuman tangan Sudi Silalahi kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Atau cium takzim Anggodo Widjojo kepada (mantan) Jaksa Wisnu Subroto.

Karena cium takzim ini pula, saya sering benar-benar mencium aroma tangan orang yang saya hormati. Seorang sahabat saya, dari keluarga santri yang taat pernah bercerita pengalamannya mencium tangan sejumlah kiai. Banyak kiai merupakan orang yang zuhud atau asketik. Tapi tak sedikit juga yang banyak bergaul, memberi kontribusi sosial bagi masyarakatnya. Tak heran, bila mencium tangan (sebagian, tentu saja) pak kiai, tercium aroma…. sate kambing. Saya mohon maaf kepada teman saya karena telah membongkar rahasia ini. Saya kira teman saya itu hanya sedang ngidam sate kambing saja, di sela-sela padatnya jadwal santri sebagaimana diceritakan dalam Negeri 5 Menara oleh A. Fuady.

Jadi jelas, mencium tangan diletakkan dihidung atau kening. Karena itu saya shock ketika adik-adik kita generasi zaman akhir mencium tangan orang yang dituakan di… sebelah pipinya. Pipi? Ya, ketika seorang siswi berprestasi (kalau tak salah UN, atau olimpiade) diundang SBY ke istana dan mencium tangan sang presiden di pipinya. Dari literatur cara bercium tangan yang saya lihat sekilas di google, tak ada model cium tangan dengan punggung tangan diletakkan di pipi. Tengok saja cium tangan Anas Urbaningrum atau Margiono kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Atau cium tangan Dian Sastro kepada suaminya Indraguna Sutowo sesaat setelah ijab kabul pernikahannya.

Jadi, saya belum tahu apakah nanti saat akan pamit dari boulevard ini untuk pulang ke kota saya sekira sembilan jam perjalanan bus dari Solo, akan memberi punggung tangan saya untuk dicium adik-adik yunior, atau segera menariknya. Cenil sudah habis, tapi  tahu kupat baru datang. Es teh sudah tambah satu gelas lagi sedang matahari mulai tinggi.

Gambar diunduh dari: dewarahayu.wordpress.com

Iklan

10 Tanggapan to “tentang cium tangan”

  1. yanu Says:

    pertama kali menginjakkan kaki di tatar sunda, tradisi cium tangan yang semula “sakral” dan hanya di lingkungan pesantren tradisional di jatim, tiba-tiba menjadi kebiasaan rakyat sunda yang umum-dan-biasa…pertama canggung, lama-lama serasa tak lengkap tanpa cium tangan dan cipika cipiki..hehehe, tapi dari literatur yang pernah kubaca, cium tangan itu justru tradisi dari kolonial, karena mereka terbiasa mencium cincin yang melingkar di jari tangan ratu/raja mereka, dibawa oleh para penjajah ke negeri2 jajahannya…hmmm, wallahu’alam.

  2. alamendah Says:

    (Maaf) izin mengamankan KEDUAX dulu. Boleh, kan?!
    Jika bertemu dengan orang ‘sepuh’ saya sering mencium tangan mereka. Tetapi jika tangan saya yang dicium oleh junior saya rasanya gimana gitu. sehingga lebih sering saya tarik cepat2.


  3. wah, menarik juga ternyata kajian tentang cium tangan, masmpep. agaknya tradisi ini telah menyatu secara emosional, sehingga seringkali dianggap tdk memiliki rasa hormat pada orang yang dituakan kalau tdk mencium punggung tangan.

  4. marsudiyanto Says:

    Saya kurang paham yang mendasarinya, tapi budaya cium tangan sudah mewabah kemana2.
    Kadang kikuk juga ketika bekas murid yg sekarang sama2 jadi guru dan jadi teman saya, melakukan cium tangan saat ketemu saya.
    Padahal tiap hari ketemu.
    Tapi selagi yang melakukan ikhlas, saya mengikuti ajah…

  5. semuayanggurih Says:

    cium tangan (bagi saya) ya di hidung mas. dan tidak semua orang berhak mendapat kehormatan itu. bagi saya, yang wajib mendapat cium tangan adalah orangtua (dan mertua), kerabat dekat yang sudah sangat berjasa, serta orang yang sangat saya hormati karena posisinya, integritasnya, dan contoh yang dapat saya ambil darinya. so, tidak banyak, hanya beberapa. bukannya saya sombong atau apa, tapi itu salahsatu cara saya memberikan penghormatan. itulah sebabnya bahkan kepada om/bulik/saudara, tidak semua saya cium tangannya. sebagai ganti, saya ulurkan kedua belah tangan untuk bersalaman

  6. masmpep Says:

    @ Yanu: Wah, ketambahan info menarik soal sejarah cium tangan. Mestinya posting ini dilengkapi dengan sejarah cium tangan ya. Seperti kalau di film kita sering lihat di barat yang dicium tangannya adalah puteri. Itupun posisi di punggung tangan dan dikecup. Tapi tak ada yang mencium tangan rajanya.

    @ alamendah: Kadang saat hendak menarik tangan cepat-cepat juga rikuh mas. Takut menyinggung….

    @ Sawali Tuhusetya: Ya, sebagai wacana alternatif bolehlah pak, kita mendiskusikan hal-hal kecil yang kadang tidak sederhana.

    @ Marsudiyanto: Sip pak. Memang segala sesuatu yang penting ikhlas, he-he-he.

    @ semuayanggurih: Kira-kira, begitu juga sikap yang saya terapkan mas. Memilih mencium tangan, sebagai penghormatan saya atas tradisi itu dan orang yang saya cium tangannya. Btw, kalau pas cium tangan aromanya apa mas, sate kambing??

  7. semuayanggurih Says:

    seringnya sih bau rokok mas, ahahaha…

  8. muhamadmuiz Says:

    ada yg beda lagi mas: cium tangan ke habaib punya model sendiri. dicium bolak-balik, atas bawah

  9. han's kalkar Says:

    soal cium tangan bagi saya artinya dalam banget,karna yang tangannya di cium wajib memberi,restu, kenyamanan,ketentraman,bener-bener mengayomi bagi si pencium tangan,jadi menurut saya yang tanganya di cium tidak hanya sekedar lebih tua usianya,lebih senior sekolahmya,lebih berpengaruh posisinya/kedudukannya,lebih kaya hartanya,karena saya mencium tangan hanya kepada orang tua dan mertua,kalau itu menurut saya wajib,tapi kalau temen senior,atau bos di tempat kerja,ndak lah,…..terkesan aneh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: