ketua kelas

f 29, 2008

anak-sekolahMenjadi ketua kelas lebih banyak tak enaknya, ketimbang bahagianya. Jangan membayangkan ketua kelas adalah jabatan prestisius yang berwibawa dan ditakuti semua warga kelas, apalagi bila ada warga kelas yang bandel, mbadung, dan ‘semacam preman sekolah’. Menjadi ketua kelas justru menjadi beban ketika harus mengakomodasi kepentingan kelas dengan beragam karakternya (jangan menuduh saya mengutip tiga teori utama Marx: kesadaran, kepentingan dan perjuangan kelas, he-he-he). Meski demikian tetap banyak cerita menarik dari posisi ini.

Saya menjadi ketua kelas sejak sekolah dasar. Namun baru pada kelas tiga. Pada kelas satu dan dua saya hanya menjadi wakil ketua kelas, posisi yang sama tidak enaknya dengan ketua kelas. Sebenarnya pada kelas satu dan dua sekolah dasar peran ketua kelas belum tampak. Wali kelas lebih banyak mengambil alih tugas-tugas memimpin kelas.

Dalam pemilihan ketua kelas, biasanya kandididat dipilih dari antara warga kelas. Siapa yang memperoleh suara terbanyak menjadi ketua kelas. Kemudian berturut-turut wakil ketua kelas. Sekretaris. Dan Bendahara. Dan seksi-seksi (bila ada). Sepanjang saya terlibat dalam banyak lembaga kemudian, saya tidak pernah mencapai posisi bendahara. Dulu, sewaktu SD warga kelas yang menjadi bendahara telah di-setting ‘anak orang kaya’. Pola seperti ini selalu menjadi pegangan. Siapapun boleh menjadi ketua kelas, namun tidak sembarang warga boleh dipilih menjadi bendahara. Selama bertahun-tahun di SD, bendahara kami selalu satu nama: Dewi Rahmadani, putri seorang Minang pemilik toko paling ramai di kecamatan kala itu. Setiap saya mencari tahu apa sebab bendahara harus ‘anak orang kaya’, saya memperoleh penegasan: biar kalau duit kas kelas hilang, bapaknya mau mengganti….

Menjadi ketua kelas memang memiliki sedikit privilese. Masing-masing wali kelas menerapkan aturan berbeda. Yang paling sering dibebaskan dari piket harian namun bertanggungjawab menjamin warga kelas yang bertugas piket melaksanakan tugasnya. Bila piket harian tidak beres, ketua kelas bertanggungjawab, termasuk menggantikan tugas piket secara sukarela tanpa bea. Pada awal mendapat privilese semacam ini saya lebih banyak merasakannya sebagai beban daripada sebagai kekuasaan. Meskipun pada kenyataannya teman-teman melakukan tugas piket dengan baik. Bila ada yang membangkang, saya hanya perlu mengingatkan. Secara represif: bila tidak piket, saya laporkan kepada wali kelas! Jurus ini relatif efektif. Secara umum, teman-teman meyakini menjadi ketua kelas lebih disayang guru dan tidak disukai warga kelas. Tidak disukai terutama karena kewenangan yang dimiliki dalam hal mengingatkan petugas piket harian. Hanya mengingatkan, karena kalau memaksa saya tidak berani, ha-ha-ha.

Sepanjang ‘karier’ saya sebagai ketua kelas, saya pernah ‘terjerumus’ menjadi ketua kelas saat kelas 3-6 SD. Kelas 1 SMP. Dan Kelas 2 SMA. Saat kuliah ada kelembagaan baru bernama Koordinator Tingkat (Koti), atau nama lain. Bedanya, Koti adalah jabatan seumur hidup hingga menjadi sarjana. Alhamdulillah, saya tidak pernah merasakan menjadi Koti ini.

Iklan

3 Tanggapan to “ketua kelas”

  1. om dessy Says:

    yaaap, belajar jadi negarawan emang susuah….

  2. masmpep Says:

    @ mas dessy:
    mudah-mudahan menjadi ketua kelas relevan dengan menjadi negarawan, mengingat saya tak pernah membaca bahwa bung karno, hatta, atau sjahrir pernah menjadi ketua di kelasnya….

  3. lala Says:

    saya pikir menjadi ketua kelas merupakan awal dimana kita belajar memimpin dlm lingkup kecil sejak dini… dan pemimpin adalah bukan sekedar atasan, akan tetapi merupakan suatu wadah dimana kita bisa berbagi…
    mukan hanya sekedar meminta. ini yang saya rasakan ketika saya sebagai komisaris mahasiswa dikampus. saya merasa puas ketika dapat memberi info tentang perkuliahan atau info dosen kepada kawan di lokal. berbeda ketika saya blm menjadi komisaris, saya hanya selalu menuntut dan meminta info dan bantuan kepad komisariss…heehee he


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: