Archive for the 'makan-makan' Category

di bawah bendera warteg

f 11, 2009

wartegHampir setiap kita pernah mendengar idiom Warteg, melihat ujud Warteg, sampai menjadi pelanggannya. Namun ketika ditanya bagaimana karakteristik Warteg, kiranya tak banyak dari kita yang mampu menjawabnya secara memuaskan. Realitas ini mengindikasikan bahwa Warteg merupakan ‘sesuatu yang ilmiah’, yang dapat diidentifikasi menurut metodologi riset seperti pengamatan, studi literatur hingga in depth interview hingga observasi partisipan. Warteg, dan kuliner pada umumnya ternyata tak sekedar soal makanan, namun telah menjadi satu ilmu. Baca entri selengkapnya »

Iklan

nasi kucing

f 3, 2009

nasi-kucingMakan adalah soal cara. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya nasi bakar. Bila ia dibungkus daun jati, Orang Cirebon menyebutnya nasi jamblang. Dibungkus selagi hangat dengan daun pisang muda lain lagi namanya: nasi timbel. Dibungkus sejumput-kecil di Bali disebut nasi jinggo. Di Tegal orang bilang nasi ponggol. Lain lagi Wong Solo dan Wong Jogja, inilah yang populer sebagai nasi kucing. Baca entri selengkapnya »

dunia persatean

f 18, 2008

beringharjo-sate-gajihDari sekian ribu jenis masakan Indonesia, hanya dua yang diakui ‘khas Indonesia’ dalam dunia kuliner internasional. Keduanya adalah nasi goreng, dan sate. Tradisi kuliner nasi goreng pun masih diragukan keindonesiaannya, mengingat sejumlah kebudayaan juga mengenal tradisi ini. Misalnya negara-negara di Jazirah India dan Arab mengenal nasi yang dimasak dengan minyak samin, seperti Nasi Kabuli. Hanya sate yang dianggap paling otentik Indonesia. Namun belakangan negara serumpun kita Malaysia mengklaim sate sebagai kulinernya, setidaknya kuliner ‘khas Melayu’. Memang cari gara-gara saja negara serumpun kita itu. Baca entri selengkapnya »

makanan anak kos

f 29, 2008

makanan-anak-kosSetidaknya dua kali saya menjadi anak kos di dua kota yang berbeda pula: Solo dan Tegal. Menjadi anak kos di Solo lebih membahagiakan saya. Kami bersembilan belas orang. Sepenanggungan dalam mencari makan setiap hari, namun beda nasib dalam perkara asmara. Pada umumnya kami satu selera dalam soal makan: berbahagia bila mendapat yang enak, murah, banyak. Di Tegal saya lebih menderita. Sebabnya saya tak cocok cita rasa pesisiran yang asin, dan ‘unik’. Baca entri selengkapnya »

tujuh belas tahun tanpa sayur

f 29, 2008

sayuran-hijauTujuh belas tahun pertama hidup saya lalui tanpa sayuran. Saya tida tahu mengapa saya tidak doyan makanan jenis ini. Belakangan saya baru tahu, bahwa kecenderungan untuk tidak suka sayur ini naluriah bagi anak-anak: bahwa tekstur dan rasa sayur secara alamiah tidak disukai anak-anak. Namun saya tak ingin menyerah pada ‘teori’ ini. Sampai berusia tujuh belas tahun saya tak mengalami masalah menjalani hidup tanpa sayur. Oleh sebab pengetahuan, saya mulai mencoba mengakrabi sayur. Apalagi, kalau bukan karena kesehatan. Hidup sehat bagi intelektual dekat dengan adagium: hidup cerdas. Baca entri selengkapnya »