tentang bola

f 6, 2010

Saya terhitung orang yang tak menyukai (sepak) bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia hiperbolik-lebai yang dapat kita baca dari unggahan status di facebook. Seperti status facebook anda hari ini, mungkin saja.

Sepak bola merupakan gelanggang kemanusiaan yang dipentaskan secara populer. Sepak bola hari ini bukan lagi sekedar olah raga ‘mencari keringat’, namun lebih dari itu: nasionalisme, kejayaan, dan bisnis, diaduk-aduk penuh haru. Johan Huizinga sejak jauh hari (1938) menengarai perilaku manusia yang suka akan permainan sebagai kajian sosiologi. Bila perang dianggap sebagai bagian dari ‘sistem bermain’ manusia, apatah sepak bola. Azyumardi Azra, salah satu intelektual muslim kita pernah menulis di Kompas pada Piala Dunia 2006 tentang indikasi sepak bola telah menjadi ‘agama’ baru. Sayang, ingatan saya lamat-lamat soal artikelnya. Yang saya ingat sepak bola memiliki umat, yakni fans yang ‘rela berjihad’ untuk kejayaan sepak bola; memiliki ulama, yakni wasit sebagai penjaga otoritas religiositas sepak bola; memiliki pesantren, yang sudah jelas dapat ditebak: Sekolah Sepak Bola; memiliki ormas, baik yang ‘garis keras’, maupun yang ‘moderat’ dalam representasi klub yang memainkan teknik menghalalkan segala cara hingga permainan cantik a la total football, maupun permainan samba. Pendeknya, dalam sepak bola semua ada.

Meski tak maniak, istri saya mengagumi sepak bola. Dukungan secara total diberikannya kepada tim-tim dari Asia yang diharapkannya menjadi rising star, seperti Korea Selatan dan Jepang. Dukungan purba manusia yang diberikan di atas bangun primordialisme, dan sedikit rasis saya kira. Saya tak berkomentar banyak, sepanjang dukungan yang diberikannya tak melanggar hukum positif negara manapun. Saya pun memperhatikan saja bila ia menempel jadwal pertandingan, dan rajin menulis skor serta tim-tim apa yang akan bertanding. Karena Piala Dunia 2010 digelar di Afrika Selatan, yang secara geografis berada pada garis lintang dan bujur yang tak jauh dari tanah air, jadilah kita dapat menikmati pertandingan tak terlalu larut. Pukul 19.00 dan 21.00, jadwal pertandingan yang nyaris tak mungkin kita nikmati bila Piala Dunia digelar di jazirah Eropa.

Petang menjelang, gelap mulai turun. Kami menyimak pertandingan demi pertandingan. Umumnya saya menyimak dengan tekun, tak peduli tim apa yang bermain. Saya mengidolakan Takeshi Okada, pelatih Jepang yang tenang, dan dingin. Bukan karena kemampuannya mengocok komposisi pemain bintang untuk bertanding, tapi gayanya yang kalem itu. Saya tak pernah berteriak ketika gol tercipta, meskipun saya bukan tak senang atau apriori dengan mereka yang merayakan gol dengan euforia. Saya seratus persen menghargai bagaimana orang merayakan kemenangannya, ekstase yang didapat, dan selebrasi sebagaimana Roger Milla mendemonstrasikannya di lapangan.

Sebagai sosiolog-kapiran saya justru suka memperhatikan tingkah para suporter kita, baik yang menonton live di stadion, menonton bareng di kafe atau kos-kosan, menonton di rumah, atau mengomentari via status facebook. Saya suka membayangkan bagaimana kira-kira perasaan suporter-suporter itu. bagaimana sistem nilai yang ia anut soal sportivitas, aturan permainan, juga penghargaan atas lawan. Saya membayangkan bagaiamana hidupnya di jalani seharian ini, apakah diimpit utang, dimarahi atasan, takut-takut dosa karena menilap uang yang bukan haknya, atau sedang marahan dengan pacar yang membuatnya menemukan kanal untuk melampiaskannya atas nama sepak bola. Individualitas karakter-domestik suporter menjadi anonim justru ketika dibawa ke ruang publik. Anonimitas suporter menjelma menjadi energi untuk membuat orang dapat berbuat apa saja, bahkan mengeyampingkan sejenak sistem nilai individualnya untuk kemudian berlindung pada riuh rendah selebrasi suporter lain yang crowded.

Saya senang memperhatikan suporter yang siap mati demi tim kesayangannya. Suporter yang membangsat-bangsatkan wasit, termasuk suporter yang mempekok-pekokkan pemain. Juga suporter yang atraktif dalam gaya dan busana. Saya juga suka mengamati bagaimana suporter menilai jalannya pertandingan. Membedah peluang gol, dan bagaimana gol tercipta. Pendeknya sepak bola menjadi panggung bagi sosiolog, untuk kembali membuka teori-teori dramaturgi Erving Goffman soal frontstage dan backstage. Serta konsep diri ‘I’ dan ‘me’ yang dilansir George Herbert Mead. Juga bila dikaji sebagai id dalam konsep diri Sigmund Freud di samping ego dan superego.

Saya mengapresiasi gol-gol indah yang terjadi, berbeda dengan istri saya yang bergembira bila tim kesayangannya berhasil menyarangkan gol ke jaring lawan, tak peduli bagaimana gol itu dibuat. Sepanjang saya membaca buku-buku mengenai sepak bola, gol disebut indah bila dikocek sejak jauh dan mampu menjebol pertahanan lawan. Permainan Diego Maradona pada babak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko antara Argentina dan Inggris sering disebut gol terindah sepanjang masa. Maradona berhasil menggocek bola, dan mempermainkan 5-6 pemain Inggris sebelum melesakkan bola ke gawang yang dijaga Peter Shilton. Gol juga disebut indah dari tendangan pojok bersambut sundulan cantik. Atau tendangan jarak jauh di luar garis pinalti yang melesak sukses, syukur-syukur seperti tendangan pisang David Beckham yang diributkan banyak fisikawan kita dan diprotes kiper-kiper karena sulit ditebak maunya. Sepanjang Piala Dunia 2010, seperti kata komentator-komentator setidaknya ada dua gol paling manis. Pertama gol yang dicetak Douglas Sisenando Maicon dari celah sempit sejajar kiper saat pertandingan Brasil versus Korea Utara pada penyisihan Grup D. Gol lain, tentu saja yang disarangkan secara mesra oleh pemain entah siapa dalam pertandingan entah siapa melawan siapa di grup apa (karena saya cari-cari dari ingatan yang terserak dan bantuan mbah google tanpa kata kunci yang meyakinkan dan tak ketemu pula) sebagai tendangan bebas hampir 30 meter dari kotak penalti yang menghasilkan gol. Sesuatu yang kabarnya jarang terjadi.

Selama saya mengikuti ulasan sepak bola, tragika yang menyertai selalu lebih menarik ketimbang permainan bola bundar itu sendiri. Kisah-kisah gol tangan Tuhan Maradona, hilangnya piala Jules Rimet di Piala Dunia Inggris 1966, ambisi Hitler dan Mussolini dalam Piala Dunia 1934, tewasnya pemain Kolombia Andres Escobar setelah melakukan gol bunuh diri dalam Piala Dunia 1994 sejatinya merupakan sejarah yang melengkapi tragi sepak bola. Karena itu pula, saya tak ribut ketika Frank Lampard pada pertandingan 16 besar Jerman versus Inggris mencetak gol yang tak diakui wasit. Pemanfaatan teknologi, seperti kata bos FIFA Sepp Blatter bahwa teknologi akan mereduksi kemanusiaan sepak bola saya sepakati diam-diam dalam hati. Bagi saya, lebih baik kita meributkan sepanjang masa kontroversi sepak bola ketimbang menonton pertandingan rigid, yang berserah pada teknologi. Marah, sesal, air mata, cacian, tandukan Zidane, adalah ekses sepak bola yang perlu dirayakan. Tanpa itu semua, saya berjanji tak akan menonton Piala Dunia lagi. Meski berbeda cara menikmati Piala Dunia, saya selalu mencintai istri saya. Sungguh.

Gambar diunduh di: http://www.zimbio.com

Iklan

8 Tanggapan to “tentang bola”


  1. jagoan saya ndak sampai melaju ke semifinal, mas. saya suka bola kalau pas ada suguhan atraksi pemain yang hebat sekaligus indah. ada sensasi tersendiri.

  2. millati Says:

    Salam kenal… Saya millati(blog: lha-kiye-nyonk.blogspot.com)

    Btw, apa itu “I” dan “me”…

  3. atdee Says:

    sepakbola adalah proses mas. dan (saya suka quotation ini), only through process we can learn something. banyak yang bisa kita pelajari dari lapangan itu sendiri. teamwork, nasionalisme, strategi, sportivitas, bahkan menerima kekalahan. cobalah melihat proses di dalam permainan, dan potretlah dari sudut pandang sosiologi, karena saya tidak paham ilmu tentang itu. lagipula, dengan mencintai sepakbola, maka kita akan lengkap sebagai pria, hahaha…

  4. masmpep Says:

    @ sawali tuhusetya: masih ada piala dunia 2014 pak. mudah2an jagoannya masuk.

    @ millati: teori dramaturgi merupakan teori yang hendak menjelaskan bagaimana orang bersikap, mengapa dia bersikap seperti itu. fronstage atau konsep diri ‘I’ adalah perilaku yang dapat dilihat dari seorang individu ketika bertindak. sedang backstage atau konsep diri ‘me’ adalah karakter asali individu tersebut yang tidak menjadi dasar tindakannya karena berbagai sebab: takut, malu, tak enak, dlsb.
    teori-teori tindakan dalam sosiologi umumnya dibagi dalam paradigma fakta sosial dan paradigma definisi sosial. paradigma fakta sosial mengandaikan individu bertindak berdasarkan sistem-sistem sosial yang ada dalam masyarakatnya. prinsipnya individu umumnya menghindarkan diri dari perilaku menyimpang (patologi sosial). (catatan: fakta sosial adalah konsep utuh. jadi fakta di sini bukan ‘fakta’ atau ‘realitas’ yang kita pahami sehari-hari).
    sebaliknya individu juga kadang-kadang bertindak atas pilihannya sendiri. tak peduli sistem sosial apa yang berlaku. perilaku menyimpang dalam sosiologi bersifat non etis, bukan baik buruk. baik atau buruk relatif. sesuatu yang dulu buruk, sekarang bisa dianggap baik. gusti nurul, puteri sri mangkunegara misalnya, pelopor penggunaan celana panjang selain untuk berkuda. kala itu, tahun 1930, gusti nurul melakukan praktik patologi sosial, perilaku menyimpang. namun kini perempuan bercelana panjang sudah dianggap norma biasa. bahkan bercelana pendek di atas lutut jauh sekali masih pantas saja. kita bisa lihat di mall, perempuan-perempuan muda kita bercelana serupa celana dalam saja. sudah mall nya dingin, opo gak masup angin, he-he-he.
    begitu.

    @ atdee: betul mas. sepak bola adalah rangkaian proses. tak hanya permainan 2 x 45 menit. tapi permainan sepanjang detik, seumpama jantung yang berdetak, tak, tik, tuk, suara sepatu kuda, ha-ha-ha.

  5. bolehngeblog Says:

    wah hebat mas..katanya gak suka bola tapi menjelaskan sepakbola secara rinci nih…

    salam kenal (saya temannya pak sawali, ya pak sawali ??)

    bolehngeblog

  6. Mas Sidieq Says:

    Kalau saya dari dulu termasuk orang yang suka sepak bola (walaupun hanya nonton dan main PS, tapi tak pernah main sepak bola,hehehe….). Menurut saya sepak bola sudah menjelma menjadi olah raga yang luar biasa. Sepak bola adalah seni, skill, kekuatan, sikap, jatidiri, kebanggaan, eksklusifitas, dan bisnis. Bahkan menjadi terkait dengan kepercayaan, contohnya di Argentina ada sebuah desa yang menganggap Maradona sebagai Dewa, di banyak negara sepak bola banyak dikaitkan dengan hal mistik (terutama negara kita Indonesia) misalnya menyewa jasa dukun dan pemasangan ajimat atau susuk.

    Meskipun banyak pendapat dari (orang-orang yang mengaku) kalangan profesional bahwa sepak bola adalah olah raga, jadi tidak terkait dengan polotik, sikap pemeintahan, militer dan ideologi negara. Nyatanya pendapat itu tidak sepenuhnya benar. Contohnya pada pertandingan Argentina vs inggris di perempat final tahun 1986, oleh banyak rakyat Argentina kemenangan itu dianggap sebagai balasan terkait dengan perang dan konflik Inggris vs Argentina dalam perebutan Kepulauan Falkland (Malvinas) sejak tahun 1950-an hingga 1982. Contoh alinnya adalah Silvio Berlusconi (Perdana Menteri Italia, yang menjabat sebagai pemimpin partai Forza Italia) menjadikan klub sepak bola AC Milan untuk menarik massa dan melanggengkan jabatannya antara 1986 dan 2004.
    Dan masih banyak kejadian-kejadian lain yang mengaitkan sepak bola dengan hal diluar olah raga, baik yang tercatat maupun tidak.
    Pokoknya sepak bola adalah hal yang menarik, fantastis, dan sudah mendarah daging (terutama bagi pri…). Bahkan banyak orang menganggap “kalau kamu tidak suka sepak bola berarti kamu bukan laki-laki”. (Benarkah???)
    Pokoknya, Keep football lover..!

  7. Areep Says:

    Ane ndak suka sepak bola, soale biasa mengganggu acara yang ude di tunggu2 hehehe


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: