sahabat-sahabat paling baik

f 6, 2009

manda-sulis-bayu-doni-sugeng-me-asep-hima-adibTerminal bus menjelang petang. Saya antarkan engkau menanti bus yang akan mengantarkan menuju mimpimu di bumi Nusa Tenggara. Saya sorongkan sebuah buku. Komik Sosiologi. Engkau tergagap, tak menyangka. Agar engkau selalu ingat kampus, dan menjadi sosiolog sampai dalam belulangmu, kata saya. Engkau tersenyum. Pada tanganmu yang kiri aku berikan sebuah Poci*. Supaya engkau selalu ingat, bahwa engkau memilki sahabat di Tegal, kata saya lagi. Engkau tak dapat berkata-kata. Bus telah terlihat di muka terminal. Engkau bergegas melompat di pintu belakang bus. Tersenyum kepada saya sebentar. Saya mengangguk-angguk. Mungkin ini pertemuan terakhir kita. Entahlah, bila suatu saat Tuhan mempertemukan kita kembali. Saya menghela nafas pelan-pelan: perpisahan kita benar-benar otentik.

Berapa banyak anda memiliki kenalan, teman, dan sahabat? Mungkin anda seperti saya. Memiliki ratusan kenalan, puluhan teman, namun hanya beberapa dari mereka yang benar-benar berkualifikasi sahabat. Kenalan, teman, dan sahabat saya kategorikan berdasarkan derajat kedekatan. Saya tak peduli arti menurut kamus, karena kamus bilang tiga frase itu adalah sinonim bagi frase lainnya.

Saya hanya ingin mengatakan bahwa diantara sekian puluh kenalan dan teman kita, tak banyak yang benar-benar menjadi sahabat. Yang turut menangis bila kita dirundung kesulitan. Yang tergetar hatinya karena kepergian kita. Yang—ada ungkapan dalam Bahasa Tegal yang bagus; tega larane ora tega patine. Tega sakitnya tidak tega matinya. Seberapapun kita ‘tega’ terhadap sahabat, pada akhirnya kita ‘tak tega’ juga.

Betapa persahabatan meruntuhkan ego kita, kemarahan yang memuncak, sebal yang menggumpal, sedikit benci, atau percikan iri. Semua luruh, untuk kemudian kita berbaik kembali dengan sahabat. Bagi mereka yang pernah putus cinta, sering membesar-besarkan arti sahabat—tak tahu saya bila itu bagian dari ‘manajemen kegagalan’: pacar mungkin hanya sesaat, tetapi sahabat hingga liang lahat. Atau, ‘saya tak dapat menerima cintamu, karena persahabatan kita lebih berarti daripada berpacaran. Saya tidak ingin merusak persahabatan kita dengan cinta’, begitu biasanya seorang gadis menolak bujangan yang telah dikenalnya dengan baik sebagai teman ketika menyatakan cintanya. Soal motif sang gadis tak perlu kita perdebatkan, meskipun kalimat penolakan itu lebih banyak bersifat ‘kalimat manis menolak cinta—yang tak menyakiti’ ketimbang sang gadis benar-benar memuja persahabatan. Bila sang gadis juga kepincut, kenapa persahabatan tak dibawa sampai ke pelaminan, begitu logika sahabat saya, yang beberapa kali tergigit cinta—meminjam judul lagu hits Hello.

Derajat persahabatan merupakan sesuatu yang tak bisa dibuat, sekaligus tak dapat disangkal. Bisa saja kita bertahun-tahun hidup satu kamar di asrama dengan seorang teman, namun kita tak pernah memiliki chemistry sehingga klik menjadi sepasang sahabat. Persahabatan berbeda tipis dengan berpacaran, bergantung chemistry, bergantung momentum, bergantung ‘hal-hal tak dapat dinalar’. Persahabatan dapat terpelihara hingga masa yang lama. Namun ada pula persahabatan yang ‘berakhir’ ketika berpindah kota, ketika kita bersahabat dengan orang lain. Namun sahabat sejati tak lekang oleh kota, oleh sahabat lain, oleh permusuhan, oleh perpisahan.

Sepanjang perjalanan hidup saya yang belum genap seperempat abad, ada beberapa nama yang demikian dekat dalam pertemanan. Semasa sekolah dasar saya memiliki sahabat MF. Saat sekolah menengah saya intim dengan AT. Mereka merupakan tetangga satu desa. Sesaat setelah merantau, saya bersahabat dengan RAH di kampus. Dan RW serta KZ, sahabat satu organisasi saya. Juga ada S a.k.a D dan EJS teman satu pondokan. Selebihnya saya punya selusin sahabat, yang entah mengapa kini tak seklik dulu lagi.

Saya berbahagia karena sahabat-sahabat saya telah menemukan mimpinya. Terakhir adalah RAH, sahabat yang saya gambarkan dalam satu paragraf di muka postingan ini. Tiga tahun lebih kami terpisah oleh jarak. RAH bergerilya mewujudkan mimpinya. Dari kampus ke kampus. Dari kota ke kota. Sederhanya menjadi: trainer. Hingga seminggu kemarin RAH mengontak saya. Akan berkunjung ke kota saya. RAH mengabari posisinya di kota tempat ia tinggal, 6 jam perjalanan bus dari kota saya.

Kami berjanji akan bertemu. Saya masih bertanya-tanya, mengapa RAH tiba-tiba akan berkunjung? Apakah dia sedang ada proyek di kota saya? Pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu, karena RAH adalah sahabat lama saya. Persahabatan kami diikat oleh kegandrungan ilmu-ilmu. RAH menepati janjinya. Suatu hari ia benar-benar telah hadir di kontrakan saya. Tampak letih. Sedikit lebih tua. Rambutnya tak semodis semasa mahasiswa. RAH telah menjadi laki-laki yang lentur terhadap pergulatan hidup dewasa. RAH telah menjadi seorang ‘aktivis lapangan’ yang bersemangat sekaligus tak dapat menyembunyikan kelelahan fisiknya.

RAH mengabari akan bertolak ke sebuah kota di Nusa Tenggara. Dia diterima menjadi peneliti oleh sebuah lembaga bergengsi. Menjadi peneliti, pengajar, atau pekerja sosial pada lembaga-lembaga bergengsi—dimana kita dapat berkarya tanpa pusing memikirkan pendapatan yang kurang—merupakan cita-cita kami bersama sejak dulu. Bedanya RAH kesampaian, saya harus banting setir. Nusa Tenggara? Beberapa saat saya membayangkan: Nusa Tenggara jauh dari kota saya. Kota kelahiran RAH 6 jam perjalanan dari kota saya. Bila kami berkesempatan cuti, RAH tentu memilih mudik ke rumah orang tuanya, dan saya akan mudik ke rumah orang tua saya, 15 jam perjalanan dari kota saya. Simpulan sederhana saya: pastilah ini pertemuan kami yang (mungkin) terakhir, kecuali Tuhan memudahkan pertemuan kami.

Sahabat-sahabat saya tersebar di negeri ini. Hampir tak mungkin bertemu lagi, kecuali dengan sahabat-sahabat kecil di kota kelahiran saya MF dan AT. MF menjadi guru di SMK milik pemerintah di kota saya. AT kini bermukim di sebuah kota kecil di Gorontalo, mengadvokasi penghijauan lahan. S a.k.a D mengelana di Kalimantan, menjumput mimpinya bekerja di perkebunan bergengsi. EJS di kini mukim di utara Sumatera, bekerja di sebuah BUMN. RW berada pada kota yang jaraknya 4 jam perjalanan dari kota saya, menjadi ketua organisasi mahasiswa tingkat provinsi. KZ sesaat lagi akan menjadi ambtenar di sebuah kota yang juga tak dekat, 5 jam perjalanan bus menuju timur dari kota saya.

Persahabatan diikat oleh perasaan. Saya menghela nafas. Dari sahabat-sahabat saya, mungkin dengan RAH, S ak.a. D, dan EJS kemungkinan bertemu saya demikian kecil. Namun saya bersyukur masih sempat mengingat saat-saat perpisahan kami. Karena hanya kepada RAH saya dapat mengingat momentum perpisahan kami dengan otentik. Dengan S a.k.a D dan EJS misalnya, kami berpisah sesaat setelah kami lulus kuliah. Di saat kami berjuang memperebutkan mimpi, sehingga hingga kini saya kesulitan mengingat-ingat: kapan terakhir kali saya bersama mereka karena kami ternyata tidak sempat mengucapkan kata perpisahan.

Sampai hari ini saya percaya, kami hanya terpisah oleh jarak, namun tidak berjarak dalam hati.

*) Poci adalah teko gerabah khas Tegal. Poci dipakai sebagai teko khusus minum teh. Diuatamakn bila anda menikmati teh poci berikut tempe mendoan, dan kacang rebus.

Iklan

21 Tanggapan to “sahabat-sahabat paling baik”

  1. haris Says:

    persahabtan bagai kepompong kata sinden tosca, mas. he2. kata milan kundera, sahabat2 lama itu bagai cermin yang tempat kita bs melihat diri kita dengan jujur. utk itulah mereka akan selalu kita hargai!

  2. ressay Says:

    kalau boleh milih. pilih sahabat atau cinta?

  3. semuayanggurih Says:

    persahabatan kadang berakhir dengan cinta. sebaliknya, cinta jarang berakhir dengan persahabatan.

  4. masmpep Says:

    @ mas haris
    kenapa kalau kita bicara sahabat selalu filosofis. lebih dari itu menurut saya, sahabatlah yang membuat hidup kita berwarna: kebandelan2 kecil, kenakalan-kenakalan usil, humor2 jail, sikap2 tengil (lagi pas ‘il’ sih, he-he-he)

    mas ressay
    saya pilih mencintai sahabat. philia, agape, eros dan amor. dalam tradisi bercinta umat yunani: kita harus mencintai tuhan, kita harus mencintai sesama (sahabat). kita harus mencintai pasangan hidup kita. jadi cinta yang kumplit yang bersegi tiga.

    mas atdi
    ini kalimat mantap. berdasarkan pengalaman ya mas, ha-ha-ha.

  5. om dessy Says:

    terharu juga….., “belahan jiwa” yang kita cari, peneman dunia dan akherat…., soulmate

  6. ressay Says:

    @masmpep
    hehehe..boleh juga itu di buat tulisan khusus mas.

    oh ya, daftarin blogmu di http://bengawan.org

    Lumayan, bisa nambah traffic blogmu.

  7. masmpep Says:

    @ressay
    tulisan khusus soal cinta? setiap posting ini ditulis dengan cinta kok.

    bengawan.org? boleh tuh. biar gimana2 kan pernah jadi wong solo. apa kabar solo? adakah demo2 di solo yang menarik? tak demo kau mengutuk israel?

  8. ressay Says:

    @masmpep
    hehehehe…kalau itu mah aku tahu. gimana mas, dah dapat hasil dari cintamu selama ini?

    Orang yang pernah jadi wong solo boleh kok jadi anggota bengawan.

    Demo yang paling menarik menurutku itu demonya warga keturunan timur tengah yang mendemo Israel. Memang sih pesertanya gak sebanyak ketika solo di buat macet oleh demonstrasi Abu Bakar Baasyir.

    Menarik karena baru kali ini aku lihat satu komunitas keturunan timur tengah turun ke jalan. Selain itu juga, aku lihat beberapa orang-orang syiah.

  9. masmpep Says:

    @ressay
    alhamdulillah. lagi menghitung bulan. mudah-mudahan menjadi anak yang membanggakan seperti om ressay.

    israel? blog ini ada menu ‘kota-kota’. pengennya sih menulis kesan dari kota-kota yang ada. sayangnya masih kota-kota di indonesia. kapan ya, bisa jalan-jalan ke israel yang eksotik. ke palestina. salat di masjidil aqsa. berziarah ke bethlehem….

  10. RAH Says:

    wah mengharu biru banget narasi deskripsinya.

    memang, terlalu banyak sejarah yang kita buat. engkau telah diantarkan sampai ke tanah Tegal, dari bumi Lampung-mu. sementara aku sendiri lebih jauh terlempar dari tumpah darahku, Gombong. namun saya yakin mozaik-mozaik ini nantinya akan bertemu menjadi rangkaian sejarah persahabatan kita.

    dan yang harus saya yakini, persahabatan ini justru akan semakin berkualitas, seiring dengan kualitas dan kapasitas hidup kita.

    dan semoga ini bukan perjumpaan terakhir, karena kita tentu berhak merancang sejarah. kita tentu berhak dan punya alasan untuk tetap menganggap bahwa sosiologi, kampus, pers kampus, dan solo, sebagai bagian sejarah kita bersama, yang akan kita ziarahi bersama, suatu saat nanti, seperti yang selama ini kau lakukan saat kau memiliki waktu rehat cuti kantormu, maupun dengan alasan lain, studi banding mungkin.

    …………., dan tentu Nusatenggara sangat mengharapkan kedatanganmu. semoga.

    Salam.

    RAH

  11. masmpep Says:

    @RAH
    muncul juga kau. jangan pernah berhenti menggenggam ideal-ideal yang telah terbangun selama ini. tak boleh kita berkata: ini semua sistem. sistem terlalu menggurita. dst. dst. berbuatlah. kecil-kecil. berdampak maupun tak berdampak. jangan pernah relakan dirimu larut dalam sistem bagitu saja. saya yang akan menyesalinya pertama kali (ini sekaligus memotivasi diri ‘berbuat sesuatu’, ngefek maupun tidak, ha-ha-ha)

    satu saja pesanku: buatlah blog. bercelotehlah di rumah maya ini, he-he-he.

    nasehatku juga satu: ndang rabi. percayalah, merantau, apalagi bukan di daerah kampus akan menjadikan kita pria-pria kesepian. kesepian untuk mengutarakan gagasan. biarlah istrimu jadi korban (seperti istriku): bila ada hal-hal yang menggelisahkan harus rela mendengarkan orasiku sejam saat sore hari, ha-ha-ha.

  12. RAH Says:

    ha, rupanya itu yang selama ini kau rasakan, menjadi Musa yang berhadapan dengan Kemaharajaan (Sistem) Pharaoh (Fir’aun), di tengah kaum Israil yang cerdas tapi culas, sehingga membutuhkan Harun sebagai partnernya.

    jika memang idealitas tersebut digambarkan dengan ideom2 itu, saya rasa kita memang harus berbuat, tentu dengan dipijaki optimisme bahwa apa yang kita lakukan akan berarti.

    semoga ketika Musa atau Isa hadir, ada Hawarii2 yang mampu ikut untuk merubah tatanan zaman.

    nge-blog, ya aku sebenarnya sudah punya tapi emang jarang tak sambangi n belum terpublikasi. ya semoga besok ada waktu yang bisa aku gunakan untuk itu. aku pun sudah haus nulis, meski gak punya energi, apalagi metodologi.

    rabi, sesuatu yang memang sedang saya rencanakan, semoga secepatnya terlaksana. mohon do’anya.

    met berkarya

  13. eri Says:

    Pertama2 ijinkan saya menyampaikan trims yg sebesar2nya…karena saya ternyata masuk jajaran yang dianggap sahabat oleh mas Peb…Berteman dg kalian merupakan salah satu pengalaman hidup yg paling indah buat saya…suer…saya sedang tidak mengungkapkan sesuatu yg berlebihan…apa adanya…Walaupun seingat saya sempat juga persahabatan kita dibumbui dengan pertengkaran & gak enakan…hi..hi…menjadikan persahabatn itu semakin “lezat”..
    Mas Peb…kapan2 ceritain ya pengalaman kita waktu ke Jurug lewat Bengawan Solo, atau berenang di KarangAnyar, atau waktu ke “Paris”, atau waktu ke Rembang rumah Hima)…kayaknya lumayan seru…

  14. masmpep Says:

    @ RAH
    aku selalu mendoakan engkau sesegeranya menunaikan sunnah rasul itu bro….

    @ eri
    pertengkaran itu selalu mengganggu saya. saya ingin cerita kita dikenang dengan baik. namun ternyata itu butuh waktu. saya percaya ikatan persahabatan kita lebih kuat ketimbang gesekan itu. karena itu pula saya tak ragu menyebutmu ‘sahabat paling baik’ karena memang begitu adanya….

    pengalaman ke rumah hima (pati bung, bukan rembang, piye to) tunggu saja postingan ‘tour de java 2’ yang sedang saya rencanakan.

    pengalaman ke karanganyar, kolam renang panggung, jurug, dan bengawan solo–saya menghabiskan bengkoang yang kita beli patungan. kau hanya berujar: doyan kali kau bengkoang rupanya, untuk menyindirku yang tak (mau) mengerti dan mengembat habis semua, ha-ha-ha. tenang bro, akan saya ceritakan.

    provokasi si S a.k.a D untuk mau ngomong juga ya….

  15. EJS Says:

    Iya maksud ku Pati mas Peb…Ingat tha..?Rencananya kita kan mau makan enak (misal; bakar sate) ke rumah Hima dalam rangka Lebaran Haji, ga taunya malah manyun….karena ternyata di rumah nya Hima ga ada Ibunya..Terpaksa ku turun ke pasar dan memasak masakan andalan…ikan teri sambal…Ku melihat teman2 makan dg rakusnya…entah karena kelaparan atau memang karena masakan ku itu yg enak…
    Besoknya kita ke (kalo ga salah) pantai Kartini dan nyebrang ke Pulau Putri…Berangkat dengan mini bus tua kepunyaan Bapakknya Hima, Sonda sang supir unjuk kebolehan…Salut buat Sonda….benar2 mantan supir Medan rupanya…
    Setelah itu kita mampir ke rumah Mbah nya Hima…makan ikan (kalau ga salah ikan bandeng) enak bgt….bis tu ngambil rambutan dari pohon di sebelah rumah si Mbah…pokoknya pengalaman yg ajib..

  16. harismosa Says:

    1000 kawan masih sangat kurang,
    1 musuh terlalu banyak,
    2, 3 atau 4 sahabat membuat hidup berwarna…

    ndak tau betul apa ndak, belum ada riset seputar hipotesis inii 🙂
    yang pasti kita perlu banget punya sahabat, sahabat yang betul2 sahabat.. iya toh??

  17. masmpep Says:

    @ EJS
    ha-ha-ha. jadi pengen mengulang kembali. mungkin gak ya? ya, ya. sonda yang nyetir mau belok kiri tapi mengarahkan ke kanan. ‘sopir medan’, memang paling tepat. i, ya. jadi inget sambel teri-mu itu. tandas tuntas. tapi tumis sawi tak laku–sampai-sampai kau paksa soulmatemu: S a.k.a D dan hari menghabiskannya. yang aku ingat lagi: kalian kecanduan AFI 1. bela-belain nonton, teriak, melenguh, ih. menjijikkan, ha-ha-ha. (tapi pas AFI 2 aku jadi promotormu. kan katanya banyak ‘artis’ yang ditemukan tak sengaja. temannya kirim biodatanya, fotonya, dan semacam itu ke produser. aku belikan kamu tabloid… apa ya. lupa. tapi dasar kowe bakatnya jadi bos ya gak masuk seleksi di surabaya itu….).

    S a.k.a D. Diajak ngomong tu anak. kalo-kalo khilaf mengambil ‘jalan pintas’ ha-ha-ha.

    @ harismosa
    benar mas. memiliki musuh, atau memusuhi atau dimusuhi membuat tak nyaman. mudah-mudahan kita menjadi orang yang tak memiliki musuh.

    hipotesis mas haris itu menarik. mengapa tak kau jadikan tesis saja bung? sosiologi sahabat? ilmu baru!

  18. EJS Says:

    Feb, itu foto kapan…kayaknya diambil setelah tahun 2004 ya?

  19. masmpep Says:

    @EJS
    kita sengaja bergambar setelah dikau tak lagi kos, he-he-he. sayang. dan, maaf.

  20. jeng lin Says:

    persahabatan tentu ga memandang apakah kita sedang bersama-sama ato qta sudah terpisah. ku merasakan betul dari sd, smp, sma, kita memang punya teman yang dekat tapi untuk bisa dekat sampai sekarang sangatlah sedikit. mereka sibuk dengan suami, anak, kerjaan.sekian lama kamu di solo, masa cuma RAH yang cuma nyantol jadi sahabatmu,dari satu angkatan yang lebih dari 40 orang.ketika kuliah sahabat memang kita dapatkan, namun ketika kita dah satu persatu ninggalin solo, kita baru benar benar tahu siapa sahabt kita sebenarnya.


  21. […] saya. Bisa jadi seseorang ini melapangkan dadanya memaafkan saya setelah saya menulis posting sahabat-sahabat paling baik dalam blog ini. Saya tak sedang merajuknya, karena bagi saya seseorang ini memang salah satu […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: