mereka yang menjaga tradisi

f 14, 2009

majalah-kentingan-62601578304_660Selasa siang (13/1) Pak Pos mengantarkan paket dari kawan LPM Kentingan UNS berisi Majalah Kentingan Edisi XV dan Buletin Civitas terbaru. Dalam beberapa jenak saya merasa kembali muda. Mengenang persinggahan saya yang tak terlalu lama dengan Kentingan. Sepanjang pengalaman saya tergabung sebagai wadyabala Kentingan, saya memang lebih banyak menjadi ‘anak bawang’. Saat mengikuti Diklat Jurnalistik Dasar, mengikuti Masa Rekrutmen Anggota (Marka), menjadi anggota dan pengurus saya adalah satu-satunya mahasiswa semester satu. Sisanya rekan-rekan semester tiga, dan semester lima. Pengurus Kentingan saat itu sebagian besar mahasiswa semester tujuh, semester sembilan bahkan ada yang semester sebelas. Sepanjang ‘karier’ saya di Kentingan saya banyak terlibat dalam edisi-edisi awal Civitas di bawah asistensi Budhe LisDha. Pada penerbitan Majalah Edisi XIII (2003) (?) saya hanya terlibat sebagai salah satu penulis Rubrik Kentrung.

Memegang Majalah Kentingan edisi paling baru ini menjadikan saya berada pada mozaik evolusi persma yang masih akan berlangsung entah sampai kapan. Sebelum saya membuka halaman demi halaman, majalah terbaru Kentingan sudah mencuri perhatian. Bentuknya lebih ringkas. Saya tak berpengalaman sebagai lay outer sehingga tak tahu ini ukuran apa. Yang terang lebih kecil dari A4. Bentuknya mengingatkan saya pada Jurnal Balairung Edisi 2001, dan 2003 yang tersimpan rapi di rak buku saya. Bila revolusi kemasan koran diawali oleh Jawa Pos dan diimani hampir semua koran saat ini—lebih ringkas ukurannya—saya berasumsi revolusi ukuran ringkas majalah dimulai oleh Kentingan. Balairung memang menerbitkan sejumlah jurnal yang ukurannya juga ringkas, namun majalah-majalah yang mereka terbitkan masih berukuran ‘konvensional’. Saya kira ukurannya masih A4.

Kemudian mata saya tertuju pada cover. Kentingan menampilkan cover bergambar kartun tiga dimensi bergenre manga. Saya pun mulai paham, mungkin ini salah satu bentuk evolusi cover persma kita. Soal cover bergambar kartun tiga dimensi, saya kira LPM Edents FE Undip yang memulainya. Setidaknya bisa kita lacak pada Majalah Edents Edisi XXVI, XXVII, dan XXVIII (2004).

Saya tak sabar membuka Majalah Kentingan. Saya mencoba membaca cepat (skimming) hingga akhir. Saya kembali mendapati evolusi dalam teknik penulisan artikel, utamanya sudut pandang penulisan. Pada halaman-halaman majalah saya mendapati liputan-liputan yang dengan tegas mencantumkan ‘oleh’ di bawah judul tulisan. Sudut pandang penulisan seperti ini memungkinkan tanggungjawab atas isi tulisan merupakan tanggungjawab sang wartawan (penulis), bukan tanggungjawab redaksi c.q. pemimpin redaksi. Pola sudut pandang penulisan sebagai tanggungjawab redaksi c.q. pemimpin redaksi mengingatkan saya pada Kasus cerpen Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin yang dianggap menghina umat Islam. Redaksi Majalah Sastra c.q. Pemimpin Redaksi H.B. Yassin-lah yang bertanggungjawab atas pemuatan cerpen tersebut mengingat Yassin tak ingin mengungkap siapa Kusmin yang merupakan nama samaran. Kasus paling aktual apalagi kalau bukan perseteruan Tempo dengan Tommy Winata atas pemberitaan ‘Ada Tomy di Tenabang’. Bambang Harymurti diseret ke pengadilan sebagai Pemimpin Redaksi Tempo, bukan wartawan penulisnya.

Sudut pandang penulisan model ini merupakan evolusi persma, yang juga terjadi pula pada koran-koran, misalnya Kompas. Sepanjang pengetahuan saya Kentingan telah memulai tradisi sudut pandang penulisan ini sejak Edisi XIV (2005). Namun Majalah Himmah UII Edisi XXXVII (2004) yang secara eksplisit menyebutkan perubahan evolusinya. Dalam catatan redaksinya, Himmah mengaku merubah orintasi kepenulisan ini setelah mereka membaca dan bertemu dengan Bill Kovach, penulis buku Sembilan Elemen Jurnalisme yang di Indonesia diadopsi oleh Jurnal Pantau terbitan Komunitas Utan Kayu. Jurnal Pantau giat melakukan kampanye genre ‘baru’ jurnalistik yang mereka sebut sebagai ‘jurnalisme sastrawi’ (literary juornalism). Selain oleh Kovach, Himmah mengakui bila mereka mendapat sentuhan dari Violet B. Valdez Direktur Center for Journalism Universitas Anteneo Manila Filipina. Valdez mengenalkan apa yang disebut Himmah sebagai pyramid of competence. Namun sayang, saya tak mengenal Valdez dan Himmah pun tak menjelaskan lebih lanjut pyramid of competence ini.

Pada persma-persma yang baru (berdiri), orientasi kepenulisan dengan sudut pandang ‘saya’ oleh wartawan juga mulai menggejala. Seperti Kompas Mahasiswa Unnes. Dalam majalahnya yang tak mencantumkan nomor edisi (2008)—sehingga saya berasumsi ini edisi pertama—Kompas Mahasiswa juga menggunakan sudut pandang ‘saya’ dalam orientasi kepenulisannya. Bahkan Kompas Mahasiswa sedikit lebih berani memberi deskripsi ‘tak penting’ sebagai pembuka tulisannya untuk memberi kesan ‘jurnalisme sastrawi’. Saya sebut ‘tak penting’ karena Kompas Mahasiswa menuliskan deskripsi saat-saat pertemuan dengan narasumber. Misalnya, cuaca siang yang panas, perjalanan yang melelahkan, dan sejenisnya. Sayangnya, deskripsi ini belum utuh. Kompas Mahasiswa hanya menuliskan di awal tulisan. Selanjutnya, tulisan Kompas Mahasiswa ‘murni’ berbentuk liputan seperti yang kita kenal selama ini. Bila Kompas Mahasiswa mendeskripsikan saat pertemuan dengan narasumber, saat perpisahan (misalnya hujan turun rintik-rintik, atau angkot sudah habis karena malam) tak dituliskan. Perkenalan saya dengan Kompas Mahasiswa terjadi karena mereka pernah mewawancarai saya untuk satu tema yang pernah saya tulis sebelumnya di Suara Merdeka.

Kembali pada Majalah Kentingan. Saya mulai membaca dengan teliti masing-masing rubrik. Rubrik yang menarik perhatian saya adalah Surat Pembaca. Saya juga membaca sejumlah terbitan persma lain pada rubrik ini untuk membandingkan. Isinya, hampir 80 persen mengeluhkan fasilitas kampus yang tak sesuai janji—dikomparasikan dengan biaya kuliah yang semakin meninggi. Saya segera teringat rubrik Surat Pembaca Kentingan (dan persma lain saya kira) pada edisi dekade akhir 1990an. Saat itu Surat Pembaca berisi hampir seluruhnya ajakan kepada mahasiswa untuk tidak apatis dengan kondisi sosial yang ada, mengeluhkan budaya diskusi yang ter(di)sumbat, mendorong kebebasan mimbar akademik, dan menyoroti ospek agar tidak menjurus pada premanisme dan bullying. Sejumlah Surat Pembaca menyoroti ‘militerisasi kampus’ oleh Resimen Mahasiswa (Menwa) sebelum mereka berevolusi menjadi Korps Mahasiswa Siaga (KMS).

Kentingan seperti edisi-edisi sebelumnya kembali menampilkan galeri foto. Rubrik foto ini segera menarik perhatian saya. Pilihan temanya sederhana: ekspresi siswa SMA merayakan (dan menangisi) kelulusan Ujian Akhir Nasional (UAN). Dari pilihan temanya saja, foto-foto yang ditampilkan sudah memenuhi kualifikasi ‘foto jurnalistik’, utamanya dari sudut pandang ‘ekspresi’ yang (hendak) ditampilkan. Saya harus menyebut beberapa foto, misalnya foto polisi yang turut membubuhkan tandatangan pada seragam seorang siswa. Juga foto sepasang (kekasih?) di muka sekolah: sang laki-laki menenangkan sang perempuan yang berselaput muka sendu. Imajinasi pembaca didorong untuk menafsirkan: apakah sang siswi tidak lulus, atau sang siswi masih kelas dua sehingga sedih ditinggal lulus, bahkan membayangkan sang siswi kehilangan dompetnya pagi itu pun boleh karena Kentingan tak cukup memberi informasi dalam bentuk narasi, judul foto atau caption. Mungkin Kentingan menganggap foto-foto yang ditampilkan berada dalam mainstream tema yang universal—maksudnya terjadi di setiap kota di republik ini. Saya harus mengapresiasi (entah fotografernya, entah siswa ‘model’ foto) yang berkonvoi keliling kota dengan…. bersepeda!

Rubrik Pentas dan Bentara menarik untuk dikomentari. Selama saya bergiat di Kentingan, rubrik Pentas dimaksudkan sebagai rubrik yang memotret-mendeskripsikan peristiwa budaya-kesenian. Sedang Bentara saya kira sebagai kelanjutan (pengganti) rubrik Kentrung. Bedanya dengan Pentas, Kentrung atau Bentara (?) dimaksudkan untuk menuliskan realitas kesenian dan kebudayaan dalam bentuk narasi. Membaca Bentara mengingatkan saya pada Kentrung, termasuk filosofi rubrikasinya. Namun dua tulisan dalam Pentas kurang kuat mendeskripsikan event Dalang Bocah dan Pentas Seleksi Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Jateng. Deskripsi pada dua tulisan ini lebih banyak berbentuk narasi, belum pada deskripsi sang dalang memainkan wayang, maupun penari menunjukkan kebolehannya. Saya harus menyebut satu nama sepanjang pengalaman saya bersama Kentingan sebagai penulis Pentas yang paling ‘berdaging’—meminjam Fikri Jufri, yakni Adhinata Kusuma. Bang Adhin, mantan mahasiswa komunikasi UNS ini adalah mantan Pemimpin Perusahaan LPM Kentingan (2000-2001) yang lebih mahir menulis deskripsi Pentas ketimbang menjadi manajer usaha LPM.

Semasa menjadi salah satu wartawan lokal di Solo, dari redaktur saya diberi tahu bahwa seorang wartawan yang andal harus pernah duduk dalam Desk Olahraga, dan Desk Seni Budaya. Mengapa, tanya saya. Karena mereka akan terlatih untuk mendeskripsikan suasana, gerak, dan ekspresi, kata redaktur saya. Saya setuju dengan redaktur saya, bahwa menceritakan pertandingan Persib vs Persebaya selama 90 menit membutuhkan stamina yang kuat agar tulisan menjadi ‘utuh’ dan ‘berdaging’. Sebaliknya, redaktur saya bilang bila menulis paling gampang bagi wartawan adalah tema kriminal. Wartawan kriminal biasa nongkrong di Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) ‘menunggu berita’. Kejadian yang masuk sudah memenuhi kualifikasi 5W+1H dalam berita acara kepolisian. Tentu wartawan kriminal yang suka melakukan investigasi tidak termasuk dalam kriteria redaktur saya itu. Saya tak tahu, beruntung atau tidak, sepanjang ‘karier’ saya menjadi wartawan yang sebentar pula itu, saya ditempatkan di Desk Pemerintahan (dan Kota).

Pada rubrik Riset, saya hanya tertarik dengan sampel yang diambil, 500 orang. Selama ini Kentingan membuat riset biasanya menggunakan sampel 100 orang, dengan metode yang dari edisi ke edisi ‘baku’: dibagi 10 sampel per fakultas, dan 20 sampel untuk FKIP karena besaran massa mahasiswanya lebih banyak. Selain jumlah sampel lima kali lebih banyak, pada Riset edisi ini Kentingan telah berani menyasar sampel pada semua kampus di Solo. Terakhir yang menggoda saya: iklan. Selama ini persma lebih banyak bersandar (dan bersumber) pada dana rektorat dari potongan SPP mahasiswa. Kentingan kali ini berhasil mendapatkan iklan-iklan yang representatif. Sebut saja iklan PT Pos Indonesia yang mencolok di cover belakang. Soal iklan kembali mengingatkan saya pada iklan-iklan Kentingan terdahulu (dan persma lain saya kira). Karena fungsi Bidang Usaha yang tak berdaya, iklan-iklan persma kala itu lebih banyak berbentuk iklan layanan masyarakat. Iklan layanan masyarakat bagi persma mengisayaratkan dua hal: pertama persma gagal mengaet calon pengiklan. Kedua, persma benar-benar memosisikan diri sebagai alternatif gerakan dalam konteks pergerakan mahasiswa. Iklan-iklan layanan masyarakat dalam konteks kedua memang lebih bernas, menarik perhatian, nakal, dan satire.

Akhirnya saya mengucapkan selamat kepada awak Kentingan (dan persma lain) yang masih setia membumikan sebuah tradisi (menulis dan menerbitkannya)—meminjam tagline Kedaulatan Rakyat.

Iklan

16 Tanggapan to “mereka yang menjaga tradisi”

  1. semuayanggurih Says:

    bos, tulisane panjang banget to?

  2. hasan Says:

    Kentingan. Menyebutnya menjadikan saya bernostalgi dengannya karena saya pun pernah menjadi salah seorang awaknya. Bang Tri (Wahyu), Bang Oscar (Yogi), mBa LisDha, mBa Titis,Bang Subeck, Bang Irwan, adalah sederet nama-nama yang saya patut hormat kepada beliau-beliau, karena saya kira kontribusinya yang tidak kecil dalam membangun eksistensi Kentingan.

    Sekarang ini saya relatif jarang bergumul dengan wacana jurnalisme, sehingga trend-trend dan tren jurnalisme tidak begitu banyak ter-update. Saya merasa menjadi sangat awam.
    ———————————-
    Terkait dengan perkembangan entah ini disebut evolusi atau revolusi yang terjadi di tubuh Kentingan, saya lihat memang cukup menarik. Saya harapkan, jika perubahan ini dapat dilihat dari tampilan majalah, baik dari sisi lay outing, maupun isi majalah, saya harap ini tidak sekadar dipahami dalam kerangka luarnya saja, namun perubahan ini landasi pemahaman yang jelas atas setiap perubahan tersebut. Terlebih perubahan ini tidak sekadar mengikuti trend jurnalisme yang berkembang.

    Jika dalam tulisan Kawan Febry disebutkan misalnya, bahwa apa yang dilakukan oleh Himmah UII dalam model jurnalismenya banyak diilhami oleh Bill Kovack dan Valdez dari Jurusan Jurnalisme Universitas Ateneo de Manila, maka harus betul-betul dipahami apa pesan-pesan Kovack tersebut. mengutip Luhan, medium is the message, mungkin jika dibaca lebih jauh akan ketemu konteks ideologisnya. (Wah kok jadi emosional gini, kayak mahasiswa baru kenal penyakit kiwo /kiri saja).

    Tentu tidak harus dipahami dalam konteks kecurigaan ideologis, sehingga terus menuding Bill Kovack lewat 9 elemen Jurnalismenya, model jurnalisme yang banyak diwacanakan oleh Majalah Pantau yang tergabung dalam Komunitas Utan Kayu. Kelompok yang selama ini dianggap membawa wacana liberal yang banyak disupport Amerika (Setahu saya buku Bill Kovack, beserta dengan buku-buku berhaluan liberal lain dan buku-buku tentang Amerika, dibagikan gratis oleh Kedubes Amerika di Jakarta¬, bekerja sama dengan Institut Studi Arus Informasi/ISAI).

    Yang jelas hal semacam ini harus menjadi mainstream berpikir aktivis pers kampus. Setiap penerbitan majalah harus dilalui dengan studi yang mendalam dalam segala sisinya. Jika berkaca pada pengalaman ketika bergerak dalam dunia pers kampus, setiap generasi ingin memiliki sesuatu yang menjadi penanda zamannya. Biasanya ini diwujudkan melalui perubahan isi majalah. Meskipun hal ini disemangati oleh keinginan untuk melakukan perbaikan, namun karena tidak dilakukan studi yang mendalam akhirnya, perubahan yang terjadi menjadi ahistoris dan dianggap keluar dari paradigma yang sudah dibangun lama oleh pers kampus itu sendiri.

    ——————————————————-x x x ——————————————————-
    Ternyata saya tidak bisa banyak nulis tentang isi majalah, kebetulan sekali saya juga gak megang majalah pers kampus sama sekali sehingga tidak cukup mampu melakukan kajian komparatif dan menjlentrehkannya dalam tulisan–atau aku sudah lupa. Jadi sekian saja dulu.

  3. masmpep Says:

    @ semuayanggurih:
    namanya juga tulisan nostalgia. lagi pengen nulis banyak, he-he-he.

    @Hasan:
    ‘penyakit kiwo’, he-he-he. sepanjang perjalanan saya di kampus saya malah baru mendengar frase itu sekarang. dulu sering dipake: leftist, new leftist, atau kekiri-kirian. gitu saja. namun ‘penyakit kiwo’ paling menarik saya kira. akan saya populerkan ah.

    soal persma. membicarakan persma setelah tak lagi di kampus membuat saya harus menuliskan beberapa catatan: persma terbukti banyak melahirkan seorang yang bukan siapa-siapa menjadi seorang penulis yang hebat. meski dengan cara-cara: penerbitan produk jurnalistik yang bertele-tele dan tak efisien. untuk menulis satu artikel atau features 5.000 sampai 10.000 karakter saja butuh waktu dua bulan. menerbitkan majalah 80 halaman saja menghabiskan waktu satu tahun. mempersiapkan diklat jurnalistik tiga-empat hari saja paling tidak menyisihkan kesempatan tiga bulan. dan lain-lain, yang berbulan-bulan.

    saya sempat gemas dengan ketidakefisienan ini. namun selepas bergiat dalam persma, aktivis-aktivis persma pun dapat mengikuti ritme media massa yang terbit harian, atau mingguan. ini berarti soal efisiensi bukan soal benar bagi (mantan) aktivis persma. namun dari ketakefisienan ini aktivis persma menjadi matang.

    soal ‘ideologi’ kepenulisan. saya harus mengapresiasi teman-teman Himmah. mereka tahu mengapa harus mengubah orientasi kepenulisan. atas dasar apa mereka berubah. sikap seperti ini yang tak banyak berlaku bagi persma. termasuk Kentingan.

    soal kualitas kepenulisan. betapapun buruknya kualitas tulisan, saya harus mengapresiasi mereka. saya berkenalan dengan sejumlah teman yang pada awalnya menulis dengan ‘tak logis’, berisi ‘tuduhan’ sekaligus ‘propaganda’, ‘alur tak sistematis’, ‘ bertabur diksi tinggi, namun tak perlu dan tak konteks’, atau ‘tanda baca yang payah’. namun pada akhirnya mereka menulis hebat. tulisan-tulisan buruk mereka itu adalah batu yang harus disandung ketika mereka belajar berlari….


  4. Sewaktu Bill Kovack datang ke UII kebetulan pada waktu itu saya datang sebagai romli (rombongan liar ha…3x), namun dalam sesi tanya-jawab saya sempat diberi kesempatan oleh Lukas W (dulu pendiri AJI/moderator). Perhatian besar Kovack adalah kebenaran jurnalistik itu bersifat subjektif dan historis. Dia mencontohkan apabila korban kecelakaan berjumlah 12 orang itu adalah benar, tapi kebenaran itu bisa terbantahkan apa bila 5 menit kemudian ada 2 orang yang meninggal, jadi jumlahnya 14 orang. Angka yang disebutkan keduanya benar sehingga tidak bisa saling dipertentangkan. Inilah ajaran Kovack yang yakini hingga haari ini.

  5. atta Says:

    Ah, adhin -begitu saya biasa memanggil Adhinata Kusuma- pasti senang membaca tulisan ini 🙂

    Sekarang dia bergiat di sebuah harian lokal di balikpapan, kal-tim.

    Dia dulu begitu mencintai aktivitas di Kentingan.

  6. abdul Says:

    wah, mas mpeb ketinggalan jaman….. penyakit kiri mah dah populer sejak dulu di kalangan kanan… hehe….

    komentar soal ketidakefisienan, sebenarnya ada satu paradigma yang menjadi ciri khas di persma, yakni paradigma pembelajaran. sebenarnya paradigma ini juga berlaku bagi pers manapun. namun, di persma, paradigma semacam ini perlu ada penekanan lebih.

    dampak dari paradigma tersebut adalah sesuatu yang tidak efektif dan efisien karena, misalnya, untuk membahas tema majalah saja perlu berbulan-bulan, untuk reportase saja harus berkali-kali diulang, dan sebagainya.

    paradigma ini merupakan kebutuhan mendasar untuk mempertahankan eksistensi persma. sifat amatir yang melekat dalam tubuh persma mebuat para pegiat persma mengalami proses regenerasi yang cukup cepat, setiap tahun, sehingga persma senantiasa diisi orang-orang baru. artinya, proses penularan pengetahuan dari yang “senior” ke “yunior”nya berlangsung cepat.

    nah, ini menarik untuk dikaji lebih jauh lagi. proses penularan pengetahuan dibangun lewat sistem kaderisasi. secara filosofis, seharusnya persma perlu mematangkan sistem kaderisasi mereka. namun, di tataran metodologis, sistem yang dibangun jangan sampai matang. karena kalok matang, kemungkinan akan terjadi stagnasi hingga proses penularan pengetahuan yang dilakukan menjadi monoton. jadi, di tataran metodologis, perlu ada pembaruan-pembaruan dengan memperhatikan kebutuhan menurut zamannya.

    demikian dulu
    salam

  7. masmpep Says:

    @mas yossy
    Sayang sekali, saat diskusi itu saya tak diundang, dan tak menjadi romli pula sehingga saya pun tak dapat merangkum jejak Kovack dengan utuh. Dari ‘pengakuan’ awak Himmah dan membaca beberapa Jurnal Pantau saya bahkan tak dapat menangkap ‘ideologi kebenaran’ dari liputan seperti yang mas yossi katakan. saya lebih banyak melihat pengaruhnya pada orientasi kepenulisan ditandai dengan pencantuman nama penulis secara by line, dan deskripsi tulisan yang renyah, namun tetap sarat makna.

    @mas (mbak atta?)
    saya termasuk mengidolakan mas adhin (kira-kira kalau ‘beliau’ baca posting saya, ditambah testimoni ini bang adhin lebih senang lagi gak ya, he-he-he).

    o, ya. kalau ada kontak bang adhin, tolong teruskan alamat blog ini agar bang adhin lebih ‘termotivasi’. meski ‘beliau’ saat ini tak berdomisili dekat dengan solo dan kentingan lagi….

    @mas abdul
    saya sepakat bila bertele-telenya proses dalam aktivitas persma adalah bagian dari proses pembelajaran. biarkan saja bertele-tele, menerbitkan majalah dengan kualitas ‘payah’. namun ketika telah menjadi ‘alumni’ mampu menghiasi media massa dengan ide-ide, dan spirit yang telah terbangun dari persma.

    soal kaderisasi. saya mendapati sejumlah persma yang memiliki legenda dan nama besar yang terjaga dalam perjalanan panjangnya dimana aktivis datang silih berganti. sebagian (besar) lagi persma membangun legendanya hanya pada periode-periode tertentu. legenda ternyata tak hanya persoalan kaderisasi, namun juga input kader baru, termasuk konstelasi yang ada, bercampur menjadi satu menjadikan persma membangun legendanya.

  8. Arif Giyanto Says:

    Ketemu lagi, Feb. Aku usul, anak-anak Kentingan bikin komunitas di http://www.ning.com atau sejenisnya. Anak-anak Pabelan baru rintis itu. Oia, udah kasih selamat buat Rahmad atas Ketum Badko, belum?

  9. masmpep Says:

    @mas arif
    komunitas ‘ning’ itu kayak apa mas. baru denger. ‘keunggulannya’ apa dibanding fasilitas-fasilitas lain?
    rahmad? beberapa posting saya ‘menyinggung2’ kamerad kita satu itu kok.

  10. haris Says:

    utk ukuran persma, mas, lebih baik belajar utk bercermin soal kedalaman berita, kerenyahan tulisan, dan standar jurnalistik yang makin baik. bagi saya, perubahan2 seperti byline dan pemakaian sudut pandang aku harus dilengkapi dengan kemampuan reportase dan penulisan yang baik. kadang sy jengah jika melihat ada persma yg sok2an pakai sudut pandang aku dlm laporannya dan pakai byline tapi beritanya gitu2 aja. huh. he2.

  11. masmpep Says:

    @haris
    saya bisa memahami gregetmu melihat wajah persma kita. namun saya menyikapinya dengan lain. saya melihatnya secara optimistis. soal ‘perubahan genit’ persma, saya juga mencatatnya di posting ini. bahwa perubahan gaya penulisan by line, kemudian jurnalisme sastrawi menjadi gaya penulisan jurnalisme yang disastra-sastrakan. menulis deskripsi-deskripsi yang tak penting bagi isi tulisan. saya melihatnya bukan sok-sokan. hanya mereka berbuat yang tak mereka sendiri tahu ‘dasarnya’–saya sederhanakan sebagai ‘ideologi’ dengan tanda petik.

    karena itu saya mengapresiasi HimmaH. yang tahu mengapa mereka berubah. mereka ‘ideologis’, sesuatu yang tak populer di persma kita. saya masih bersyukur dengan keberadaan persma berbentuk lpm. mereka punya tradisi yang panjang, sistem rekruitmen, kaderisasi, kelembagaan ‘reguler’. haris tahu, berapa banyak lembaga kemahasiswaan membuat ‘bidang pers’. dengan ‘genit’ membuat ‘majalah’, ‘buletin’, dan ‘jurnal’. ketua bidangnya segera menjadi ‘pemimpin redaksi’. tak pernah diklat. tak pernah baca buku ‘Seandainya Saya Wartawan Tempo’, atau ‘Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia’, juga ‘Pers Mahasiswa Indonesia: Patah Tumbuh Hilang Berganti’ dan ‘Perlawanan Pers Mahasiswa: Protes Sepanjang NKK/BKK’, pada mereka ini jangankan mas haris, saya pun gemeeessss….

  12. RAH Says:

    ya, jayalah pers mahasiswa indonesia!!!

  13. Diyah Says:

    wah..waktu itu saya yang ngirim itu majalah….
    trimaksih ulasannya..
    walopun saya baru menemukan ini postingan hari ini, -tapi say udah baca emailnya….

    uhm..
    kita sedang membuat majalah dan buletin baru, -bersmaan-, semoga bisa sampai ke tangan para alumni, biar dikritisi…
    tapi sayang..lost contact..
    hufh…
    coba ada satu link untuk kita berkumpull….
    sementara kita punya group dan fb kentingan -dg alasan, fb sedang sering diakses-

    silahkan add…

  14. masmpep Says:

    @ Diyah
    saya tentu senang bila selalu dikirimi majalah dan bulletin (ter)baru kentingan. membaca terbitan jurnalistik mahasiswa bagi saya semacam nostalgi murah tentang mimpi-mimpi masa muda. dulu.

  15. Andika Says:

    Alumni Kentingan ya, Mas? Jadi malu, karena dua tahun masa saya menjadi Staff Usaha Lain, bidang ini tetep belum berdaya.hahaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: