tour de java (1)

f 13, 2009

gedung_merseka-bandungSaya terhitung beruntung pernah menjejak kaki hampir di sepanjang daratan Jawa. Dari Pelabuhan Merak di Serang hingga Pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Semenjak Jalur Pantai Utara Jawa yang jejaknya dibangun Deandles, hingga jalan lintas selatan (dan jalan lintas selatan-selatan). Sebagian besar ruas telah saya lalui, baik dalam keadaan terjaga di dalam bus maupun tertidur. Obsesi mengelilingi Jawa telah saya rintis semenjak kuliah di Solo.

Saya menyebutnya Tour de Java. Setidaknya tiga kali saya berkeliling Jawa. Pertama kira-kira tahun 2002. Start dari Lampung, menyeberangi Selat Sunda menuju Jakarta. Dari Jakarta saya ke selatan menuju Bandung. Dari Bandung saya bertolak ke Solo. Tour de Java (2) saya mulai dari Solo, Januari 2003. Menuju Pati, melewati Blora. Dari Pati menyusuri Pantai Utara Jawa dan singgah di Tuban. Dari Tuban ke Surabaya dan kembali ke Solo. Setahun berikutnya saya memulai perjalanan dari Solo menuju Tulungagung. Kemudian ke Blitar, berlanjut ke Malang. Dari Malang ke Surabaya, oper ke Tuban. Dari Tuban menuju Bojonegoro, singgah di Magetan dan kembali ke Solo.

Selebihnya tidak secara khusus Tour de Java—saya sebut saja ‘sisipan tour de java’—saya pernah menjajal trek Magetan-Madiun-Ponorogo-Wonogiri-Sukoharjo-Solo. Pernah pula melintasi trayek Solo-Bawen-Banjarnegara-Purwokerto-Tegal. Melintasi jalur tengah di Jawa Tengah pun menarik: Jogja-Magelang-Temanggung menuju Banjarnegara. Pengalaman yang tak terlupakan juga saat saya memulai petualangan dari Tegal menuju Kebumen, kemudian menyusuri Jalan Lintas Selatan-Selatan sepanjang Ambal, Mirit, hingga Petanahan. Ketika aktif dalam organisasi mahasiswa, untuk kepentingan Musyawarah Nasional pers mahasiswa di Bandung saya pernah menikmati perjalanan sepanjang Solo-Jogja-Purwokerto-Bandung, kemudian melewati jalur Cianjur-Jakarta sebelum kembali ke Solo. Untuk jalur Pantai Utara Jawa semenjak Serang hingga Semarang saya lalui berulang-ulang bila saya mudik Lampung-Solo PP.

Saya ingin membagi pengalaman Tour de Java dalam empat sesi. Tour de Java (1), (2), (3) dan Serpihan Tour de Java. Saya memiliki satu peta Jawa yang cukup besar tertempel di dinding. Saya memiliki obsesi untuk mencoret ruas-ruas jalan yang telah saya lalui dengan spidol. Tour de Java (1) merupakan titik tolak saya untuk mulai mencoreti peta Jawa itu. Tour de Java (1) ini pula yang memberi pengalaman bagi saya untuk bermalam di suatu kota yang disinggahi, untuk merencanakan jalan-jalan malam di alun-alun atau pusat kota.

Saya berkesempatan memulai Tour de Java saat akan kembali akan kuliah dari Lampung menuju Solo. Saya tidak ingin menyusuri jalur konvensional Pantai Utara Jawa, tetapi melenceng ke selatan memanfaatkan trayek selatan via Bandung. Kebetulan orang tua turut mendorong. Untuk pengalaman, katanya sambil tersenyum kecut ketika menambahi uang saku karena perjalanan ‘keluar jalur’ ini. Baiklah. Perlu anda ketahui, saya tak familier dengan Jakarta. Dan tak pernah sekalipun menjejakkan kaki di Bandung.

Saya terbiasa menyusun rencana jadwal perjalanan. Bila anda dari Sumatera hendak menyeberang menuju Jawa, utamanya Jakarta, pastikan bila jadwal perjalanan anda diproyeksi tiba di ‘ibukota yang lebih kejam dari ibu tiri’ itu saat pagi hari. Hari terang membuat kita yang tak berpengalaman dan tak menguasai medan menjadi lebih tenang. Saya memulai perjalanan dengan memperhitungkan waktu tiba di Jakarta paling tidak saat fajar. Dari rumah saya berangkat agak siang. Setiba di Bandar Lampung saya transit hingga petang. Kesempatan ini saya pergunakan untuk berkeliling kota.

Pukul 21.00 saya melanjutkan perjalanan dari Bandar Lampung menuju Pelabuhan Bakauheni. Dalam hitungan saya, di Bakauheni saya harus transit ‘mengulur waktu’ sejenak. Saya memilih menikmati pempek yang saya beli di Bandar Lampung. Selepas menyeberangi Selat Sunda, saya tentu kesulitan menikmati pempek atau penganan khas Sumatera dengan cita rasa yang orisinal dan otentik. Lewat tengah malam saya menaiki Ferry, menyeberangi Selat Sunda menuju Pelabuhan Merak, berlanjut menuju Jakarta. Tiba di Jakarta sesuai proyeksi, pukul 04.00. Mandi, kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Sepanjang perjalanan sebisa mungkin saya menebarkan pandang ke sisi jendela. Saya merencanakan ke Bandung via Puncak. Namun bus-bus yang ada tak menuliskan ‘Bandung via Puncak’. Bertanya (masih) malu. Jadilah saya tiba di Bandung tanpa tahu melewati jalur mana. Di bus pula saya teringat ada asongan yang menjual telur rebus. Murah, Rp. 1.000 dapat dua biji. Saya ragu membelinya, namun beberapa penumpang saya lihat tak ragu memakannya setelah dicium dan diteliti. Belakangan saya menduga-duga, mudah-mudahan itu telur asli—bukan palsu buatan Cina seperti di televisi.

Sebelum tengah hari saya telah berada di Terminal Cicaheum Bandung. Tak ada saudara, tak mengenal kota, orientasi saya hanya satu: pusat kota adalah alun-alun. Dengan menumpang angkutan kota saya tiba di Alun-Alun Bandung. Bandung kota yang sejuk. Namun dari sopir angkot saya tahu bila derajat kesejukan Bandung berkurang drastis. Pastilah karena global warming, batin saya bila yang berbicara adalah aktivis mahasiswa. Di alun-alun saya sempat mampir ke sebuah pusat pertokoan—tak tahu namanya. Saya menikmati kota yang masih bersahabat ketimbang Jakarta. Mungkin problem kota-kota di Indonesia hampir seragam: tata kota yang payah, sampah, banjir, pedagang kaki lima, kemacetan, dan lain-lain (yang anda bisa isi sendiri). Namun Bandung sedikit lebih baik. Kondisi yang sejuk menurunkan tensi darah demi melihat kesemrawutan kota.

Ekspektasi saya di Bandung adalah mencicipi kuliner khas pasundan di sarangnya. Saya berputar-putar mencari warung atau restoran khas Sunda namun tak menemuinya. Karena lelah, akhirnya saya mencoba siomay pinggir jalan. Rasanya pun saya lupa karena tak istimewa. Saya mencoba mengingat-ingat dari bacaan: apa yang khas dari Bandung? Ya, ya. Jalan Asia Afrika. Saya menikmati Gedung Merdeka tempat Konferensi Asia Afrika yang mepet jalan. Ah, sayang tanpa halaman. Saya tak habis pikir bagaimana gedung semanis itu dirancang dibangun tanpa menyediakan halaman yang boros seperti Istana Negara. Kemudian saya ingat Jalan Dago. Jalan Dago ada di pusat kota Bandung, sedang kawasan Dago ada sedikit ke utara (?). Naik angkutan umum saya mengejar ke Dago.

Dago merupakan kawasan wisata. Banyak terdapat penginapan di sana. Namun bagi wisatawan sambil lalu seperti saya, Dago hampir-hampir tak menarik. Saya diantar sampai di Terminal Dago. Sudah sampai mas, angkot ini berakhir di Terminal Dago, kata sang sopir. Hanya terminal? Namun saya hanya menjerit dalam hati. Saya kecewa, tak ada apa-apa di sana. Dari sopir saya tahu bila Dago hanya tempat peristirahatan. Kalau mau, ada Curug Dago sekira 500 meter dari terminal. Curug atau air terjun, ah, bolehlah.

Curug Dago cukup menarik. Air terjunnya besar. Jalan menuju ke curug berkelok-kelok sekira 200 meter menuruni tebing. Jalan telah dibangun dengan paving block, berundak-undak. Menuju curug tak sulit. Curugnya besar dan deras. Sayangnya saat itu hanya ada saya seorang di sana. Curug Dago terhitung (sangat) sepi. Samar-samar di sela derasnya curug, persis di tebing curug saya mengintip ada semacam bangunan (gazebo), tapi seperti makam kuno di dalamnya. Soalnya dari kejauhan saya melihat ada kembang setaman. Untuk mencapai gazebo itu kita harus rela sedikit basah. Saya tak berminat menengok lebih jauh. Selain takut basah, saya takut hantu karena kesan mistiknya.

Di Bandung saya menghabiskan waktu seharian. Kira-kira sejak pagi hingga petang. Petang hari saya harus bertolak ke Solo. Semula saya ingin menumpang kereta api. Namun kereta api hanya berangkat pagi hari dari Bandung. Pilihan jatuh pada bus. Saya sempat kecele, karena terminal keberangkatan bus ke jurusan Jawa Tengah dan Timur dari Bandung bukan di Cicaheum, melainkan Terminal Leuwipanjang. Berkejaran dengan waktu yang mulai gelap saya berbalik menuju Leuwipanjang. Sepanjang perjalanan hujan turun deras menggguyur Bandung. Setiba di Leuwipanjang saya segera mencari bus jurusan Solo. Membayar tiket. Dan tertidur karena kelelahan bertualang seharian. Saya hanya ingat dibangunkan saat transit makan malam, namun karena capek saya memilih tidur hingga terbangun pukul 04.00, saat bus telah tiba di Terminal Tirtonadi Solo.

Ada beberapa hal yang menjadi pelajaran bagi saya dari Tour de Java (1) ini. Pertama, dalam perjalanan saya selanjutnya saya berusaha banyak-banyak mencari pengetahuan dan orientasi dari kota tersebut. Karena itu saya menyesal tak sempat ke Pasar Buku Palasari, Gedung Sate dan Masjid Agung Bandung yang artistik. Kedua, agar dapat lebih menikmati perjalanan, saya sempatkan menginap di losmen (murah). Trik mencari losmen murah nanti saya ceritakan di edisi Tour de Java (2).

Gambar diunduh dari: beritabandoeng.com

Iklan

7 Tanggapan to “tour de java (1)”

  1. semuayanggurih Says:

    bandung sekarang tidak secantik bandung dulu. panas, macet. hawa dingin hanya terasa di pagi hari. yang cantik hanyalah neng geulis saja; satu dari beberapa kecantikan yang tertinggal. bisa diperhatikan, kota-kota yang memiliki kampus (negeri) jurusan planologi cenderung kumuh dan tidak teratur. semarang, bandung, dan sekarang ini yogyakarta. entah apa sebabnya, you try to find it yourself.

  2. mpep Says:

    @semuayanggurih:
    neng geulis? ah, ah. saya tak berani berkomentar. takut di penalti istri, ha-ha-ha. bandung kumuh dan tak teratur karena ada jurusan plaonologi (perencaaan wilayah dan kota)? saya kira tesis ini berlebihan mas. kalau republik ini pemerintahannya amburadul bukan berarti karena dirjen dikti mendirikan jurusan ilmu pemerintahan di setiap kampus.

    kota kumuh dan semrawut karena faktor yang dapat kita tarik dari hulu sampai hilir. saya tak ingin menyesali keadaan. buktinya mereka yang mendapat kalpataru bisa berbuat di saat kita semua merasa musykil, tak mungkin, utopis, ‘klenik’.

    kata kunci a’a gym (kebetulan dari bandung) bagus: mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini. saya kira tak ada ungkapan sebagus ini di tengah krisis kepercayaan diri kita hari-hari belakangan ini.

  3. haris Says:

    sy pernah membonceng motor dari bandung-solo. melewati cirebon, pekalongan, batang, kendal, semarang, dan sejumlah kota yg tak sy ingat. bener2 menengangkan. he2.

  4. masmpep Says:

    @haris
    saya lebih suka berjalan-jalan naik. bus. naik bus membuat saya berkesempatan menikmatinya di balik jendela tanpa perlu konsentrasi dengan kendaraan di muka. dari bandung-solo lewat cirebon? saya lebih suka bandung-solo lewat purwokerto (lintas selatan).

    wilayah selatan jawa, meskipun bersisian dengan garis pantai selatan samudera indonesia tidak segersang jalur utara yang bersisian dengan laut jawa. pemandangan jalur selatan eksostik. gunung gemunung. bulak sawah dilambari padi yang menghijau beranjak bernas menguning. ah, ah. sayang saya tinggal di wilayah pantai utara jawa, he-he-he.

  5. simul Says:

    saya pernah ke Bandung saya kesana mau silaturahmi ke saudara bersama rombongan keluarga “Kondangan”tepatnya ke kampung Soreang Kabupaten Bandung disitu terkenal dengan pabrik garmen, dari Tegal meluncur dengan kencangnya memasuki Kota Cirebon Jalan sudah mulai merayap, di Pertigaan jalur menuju Bandung – Jakarta jalan macet total diiringi gerimis yang tak kunjung reda, sambil lihat pedagang asongan sibuk lalu lalang menawarkan aneka jajanannya, mobil mulai merayap jalan begitu lepas dari Cirebon langsung tancap gas sesampainya Palimanan disana hujan sangat deras mobilku terasa sulit dikendalikan jalan tertutup kabut, medannyapun belok-belok naik turun akhirnya memaksa tuk rehat, namun dirasa hujan tak kunjung reda juga takut kemalaman akhirnya kuputuskan tuk terus melanjutkan perjalanan, memasuki kawasan hutan cagar alam Cadas Pangeran yang kata orang “angker” ku semakin bersemangat untuk menginjak pedal gas mobil, anga-angannya pengin cepat sampai, alhamdulilah sampai juga di gerbang perbatasan Sumedang- Bandung hatiku terasa lega. Masuk ke Kota Bandung melalui Jalan M.Toha menuju Terminal Cicaheum takut nyasar lebih baik memutuskan berhenti beli rokok di warung kecil sambil bertanya jalan mana yang harus ditempuh tuk menuju kampung soreang,padahal sudah diberi tahu alamat pun sudah ada… eh.. seperti biasa kalo gak nyasar katanya pa’deku “ora mangseg” benar kata orang tua kita dulu ” Bingung kaya ning bandung” memang benar adanya bolak-balik, mondar-mandir paling juga kesasar.Susah-susah dahulu senang kemudian, Nyasar-nyasar dahulu sampailah kemudian.Oleh karena itu tolong sama masmpep kalau jalan lagi ke Bandung tolong inget-inget ya… juga saya minta peta nya biar gak nyasar, nuhun……

  6. wonggunung Says:

    Tahun 1995 semasa masih SMA, aku dan teman-teman study tour ke Bandung. Tempat yang wajib dikunjungi adalah Museum Geologi dan so pasti Tangkuban Perahu walaupun sudah bukan wilayah Bandung lagi (kali yeee…). Aku nginep di sebuah hotel (melati). Betapa terkejutnya aku tatkala melihat salah satu pemain sepakbola legendaris Afrika seorang Roger Mila nginep bareng sama aku di hotel melati. Padahal sewaktu mbelain AC Milan tentunya sewaktu tanding nginep di hotel berbintang. Wah memang benar kata orang tua bola itu bulat posisi kadang di atas kadang di bawah. Bandung terkenal akan peuyeum (terutama peuyeumpuan). Temenku pernah cerita, Kalau jalan-jalan ke Bandung ketemu cewek 10 yang jelek (maaf) cuma 1, setelah aku ke Bandung ya emang benar. Emang pas kalau Sunda itu diplesetkan jadi suka dandan. Pengin rasanya ke Bandung survei Factory outlet, karena aku sama om semuayanggurih kalau sudah punya modal pengin jualan baju yang kaya di factory outlet buat tambah-tambah penghasilan (ini khusus buat aku, kalau om semuayanggurih gak perlu tambahan penghasilan dia cuma butuh peuyeum-puan Bandung ajah)

  7. masmpep Says:

    @simul
    saya pernah ke bandung dua kali. namun sayang, dari bandung-purwokerto dan sebaliknya dari purwokerto-bandung saat hari gelap. padahal saya sudah menanti-nanti jalur nagrek yang terkenal saat liputan mudik setiap tahun. jalur ini memang rawan macet, dan kaya sejarah. seperti cadas pangeran. nama ini diambil dari nama Pangeran Kusumadinata IX/Pangeran Kornel(1791-1828) yang berekasi keras kepada Daendels atas penghisapan tenaga rakyat dalam proyek jalan raya pos deandles yang menghubungkan jawa semenjak anyer di banten hingga panarukan di jawa timur. lima ribu pribumi dari kadipaten sumedang dikabarkan tewas.

    jalan toha. muhammad toha ini seorang pemuda yang melakukan kamikaze, serangan bunuh diri di gudang senjata jepang di dayeuhkolot bandung. muhammad toha melakukannya bersama muhammad ramdan. namun ramdan keburu tertembak sebelum berhasil meledakkan gudang dengan bom yang dipasang di tubuhnya. toha-lah yang berhasil meledakkan gedung sekaligus menyebabkan jenazahnya turut hangus terbakar.

    @wonggunung
    museum geologi? menarik juga tuh. selama ini yang saya rencanakan bila ke bandung mampir di teleskop boscha di lembang. pengen juga menyusuri factory outlet (fo) di bandung. kabarnya di jl. braga a.k.a jl. juanda ya.

    kalo peuyem(puan), hmm. memang tiada duanya, ha-ha-ha.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: