arogansi intelektual

f 13, 2009

a-mildHampir sebagian besar dari kita menakar seorang dari pandangan pertama. Pada kesan permulaan itu kita menimbang apakah akan tersenyum ramah, tersenyum pura-pura ramah, antusias mengobrol, berpikir kemungkinan bekerjasama atau mengabaikannya sama sekali. Celakanya, saya terhitung salah satu orang yang tak pandai merebut kesan pertama ini.

Kesan permulaan ini berhubungan dengan pekerjaan saya. Sudah tiga tahun lebih saya bekerja, sepanjang waktu itu pula saya harus meyakinkan diri sendiri dan banyak orang bahwa saya ‘memiliki kemauan keras untuk belajar’ sehingga mereka ‘tak perlu ragu untuk mempercayai saya’. Selama bertahun-tahun saya membangun posisi berpijak, namun terkadang dalam waktu sekejap orang-orang—mereka yang lebih tua dan senior itu—dengan segera meruntuhkannya.

Beberapa kali misalnya, saya mewakili kantor untuk berbicara dalam sejumlah pertemuan. Pada beberapa pertemuan, ekspektasi penyelanggara kontan menurun mengetahui saya yang mewakili kantor untuk berbicara. Maklumlah, saya seorang muda, dengan status jabatan pada strata paling rendah di kantor.

Dalam banyak pertemuan itu saya mengalami sejumlah ‘perbuatan tidak menyenangkan’ yang dapat disebut sebagai arogansi intelektual. Dalam satu pertemuan yang berbicara soal pendidikan, misalnya berkali-kali saya harus menahan keki. Seorang bapak, tentu saja senior dengan segudang pengalaman organisasi beberapa kali mem-faith accompli saya.

Dalam setiap pertemuan yang digelar, sang bapak diberi kesempatan memberi sambutan, karena ia kebetulan menjabat ketua organisasi, komite, atau dewan ini itu. Biasanya, sang bapak tak hanya memberi sambutan, namun sekaligus memberi materi. Alasannya selalu seragam dari waktu ke waktu: saya ada acara di tempat lain, sehingga tak dapat mengikuti pertemuan ini hingga selesai. Karena itu, selain sambutan saya akan menyampaikan materi sekalian.

Dalam menyampaikan materi, sang bapak berbicara panjang lebar. Merebut pembicaraan seorang bapak yang sedianya akan berbicara dalam perspektif teknis, seorang bapak lagi dalam perspektif hukum, serta menyelingkuhi kesempatan saya yang sedianya akan berbicara dalam perspektif kebijakan publik. Sang bapak akan berbicara hingga satu atau satu setengah jam, dalam mata acara yang disebut sebagai ‘sambutan’.

Selesai? Belum. Sesaat setelah menyampaikan sambutan sang bapak tak juga turun dari podium. Tanpa meminta persetujuan pembawa acara apalagi moderator ia membuka satu termin tanya jawab. Alasannya sama, ia tak dapat mengikuti pertemuan hingga selesai. Sambutan cum materi selesai. Tanya jawab selesai. Dengan sumringah ia meninggalkan pertemuan. Kami dua atau tiga ‘pembicara’ lain saling pandang dan tersenyum kecut. Periode emas dalam satu pertemuan telah direbutnya. Ketika kami berbicara, publik mulai bosan karena beberapa materi—terpaksa—mengulang pembicaraan sang bapak.

Dalam pertemuan lain, sang bapak-muda yang berbeda juga melakukan arogansi intelektual, setidaknya kepada saya. Kami berbicara panel dengan dua atau tiga orang pembicara. Mengetahui saya ‘pembicara pocokan’, serta merta ekspektasinya menurun. Biasanya, kalau yang datang pimpinan saya, mereka diberi kesempatan berbicara pertama-tama. Karena lembaga kami memang lebih banyak berbicara dalam konteks makro. Namun bila yang datang saya, saya dialihkan berbicara pada kesempatan terakhir.

Berbicara pada kesempatan terakhir merupakan pengalaman buruk bagi pembicara di manapun, siapa pun ia. Periode emas pertemuan umumnya telah lewat. Konsentrasi pendengar mulai menurun, sebagian gelisah karena periode pertemuan mendekati jam makan siang. Menjadi pembicara pada kesempatan terakhir adalah tragedi. Apalagi yang berbicara adalah seorang muda dan pemula seperti saya. Tragedi-komedi.

Berbicara pada kesempatan terakhir adalah tragedi dan komedi bagi saya. Sang bapak-muda, yang mengetuai lembaga ini itu, biasanya mem-faith accompli saya. Biasanya ia bertanya: mas mpep, ada yang ingin disampaikan? Saya pura-pura tersenyum meskipun dalam hati dongkol sekali. Saya diundang a.k.a mewakili kantor dalam pertemuan itu hadir sebagai pembicara. Pertanyaan sang bapak-muda itu jelas intimidatif. Saat saya sudah duduk di depan, di barisan pembicara masih ditanyakan: apakah (masih) ada yang ingin disampaikan?

Bila tidak pura-pura mengintimidasi, sang bapak-muda itu biasanya mengumumkan melalui mikropon: ya, pembicara terakhir adalah mas mpep. Dalam lima menit mas mpep akan berbicara secara makro mengenai bla-bla-bla. Ya. Ya. Betapa degil bapak-muda satu ini. Saya di-fait accompli untuk berbicara hanya ‘lima menit’ dalam suasana yang intimidatif pula. Ketika saya berbicara ‘lima menit’ itu, berkali-kali sang bapak-muda melirik jam tangannya. Mengingatkan dalam gesturnya: sudah mendekati jam makan siang. Sebaiknya berbicara pokok-pokok saja, kalau diperlukan diakhiri saja. Sang bapak-muda biasa menyemil snack di depan meja, tak berpikir di otaknya bahwa ia tadi telah berbicara hampir satu jam lebih dan tak berpikir soal ‘jam makan siang’.

Namun pada kesempatan lain, ekspektasi penyelenggara kadang-kadang berlebihan terhadap saya. Meski tahu yang datang adalah saya, seorang seorang muda, dengan status jabatan pada strata paling rendah di kantor mereka tak peduli. Kemudaan saya terbayar lunas oleh lembaga tempat saya bekerja. Mereka beranggapan siapapun orang dari lembaga saya, tentulah memiliki kualifikasi untuk berbicara dalam perspektif isu yang menjadi concern lembaga kami.

Kondisi ini membuat saya sedikit besar kepala, namun disaat bersamaan grogi juga. Terutama bila mereka bertanya hal-hal sensitif secara kritis. Kadang-kadang, sering kadang-kadang, kadang-kadang sering, kebijakan lembaga saya berbeda dengan sikap individual saya terhadap satu isu. Dalam banyak pertemuan dan diskusi di mana saya hadir mewakili diri saya sendiri saya merasa dapat berbicara apa saja dengan leluasa. Mendapati kritikan pedas, saya tak oleng. Saya merasa telah menyusun argumentasi yang cukup. Namun ketika berbicara mewakili lembaga, saya harus berbicara dalam isu-isu yang menjadi kebijakan lembaga. Faith accompli lagi.

Saya tidak sedang mengeluh. Saya pun tidak mendendam bila suatu saat kelak ‘menjadi tua dan senior’ untuk mengulangi perlakuan yang sama. Saya hanya ingin berbagi bahwa ada  sejenis makhluk yang diciptakan dengan intelektualitas yang arogan. Mudah-mudahan sejenis makhluk itu bukan anda, tentu saja.

gambar diunduh dari: evelynpy.files.wordpress.com

Iklan

11 Tanggapan to “arogansi intelektual”

  1. Lex dePraxis Says:

    hmmm, faith accompli apa yah artinya?

  2. semuayanggurih Says:

    wakakaka, nasibmu mirip dengan saya bos. tapi kayanya masih mendingan saya. dalam forum, seringkali justru saya yang diberi kesempatan pertama. alasannya: tentu saja karena tempat saya bekerja yang dipandang sebagai “penguasa” dalam menentukan arah pembangunan daerah. seringkali saya juga diserang (gak tau, mungkin sentimen terhadap lembaga kali), tapi saya jawab aja. lagian saya yakin, mereka juga gak ngerti kok, saya yang lebih ngerti kebijakan makro daerah.
    terkadang saya bahkan menunda pengambilan keputusan (seringkali pada rapat permohonan ijin lokasi), karena tidak sesuai dengan aturan. dikomplain? ah, sering. tapi cuek aja. saya merasa dilindungi dan mendapat full back-up dari lembaga saya bernaung. dan sampai sekarang saya juga masih dipercaya tuh. so, nothing wrong about me, I guess.

  3. nakjaDimande Says:

    sukses ya mas mpep..! disitulah tantangannya.. dan akhirnya masmpep akan menjadi yang muda yang dipercaya.. seperti Rasulullah, amiin 🙂


  4. kenyataan seperti itu memang banyak terjadi di berbagai forum, masmpep. mereka yang merasa serba tahu rupanya tak mau kalah pamor dg pembicara sehingga ketika diberi kesempatan utk berbicara, dia jadi tiran, hiks, merepotkan banget orang yang memiliki karakter semacam ini.

  5. haris Says:

    he2. itu suka duka kerja jadi pns ya mas? tetap semangat! hajar saja orang2 tua ituh!

  6. alamendah Says:

    tetap semangat…
    libas yang tua-tua dan tak tahu diri…
    merdeka!!

  7. lintang Says:

    Turut berduka cita mas eh maksudnya turut bersimpati mas 🙂

    Jadi seperti lihat iklan A mild “Yang Muda Tidak Dipercaya” dan “Hanya Yang Tua Boleh Bicara” meskipun arogansi intelektual di kasus mas mpep bukan masalah umur tapi siapa tahu kesan pertama yang ditangkap mereka itu.

    Wah kalo gitu penampilannya harus diubah mas, kacamata bisa memberi kesan tua lho apalagi yang bingkainya tebal-tebal :))

    Peace mas mpep!

  8. masmpep Says:

    @ Lex dePraxis
    semacam ‘melakukan sesuatu yang kita tidak ingin. namun situasi mengharuskan kita melakukannya. semacam ‘ditodong’ untuk melakukan, tanpa bisa menolak’.

    @ semuayanggurih
    sip mas. menarik sekali kalau bisa seperti itu. bisa mengarogansikan intelektual tuh, he-he-he

    @ nakjaDimande
    seperti rasul? ah. masih jauh….

    @ Sawali Tuhusetya
    semoga ketika saya ‘tua’ tak mengulangi arogansi yang sama pak…

    @ haris
    bagaimanapun saya orangnya anti kekerasan mas. saya orangnya romantis. sumpah.

    @ alamendah
    kita harus merdeka mas. berpikir merdeka. bertindak merdeka.

    @ lintang
    mudah2an saya tak pernah pakai kacamata mbak. saya suka membaca. mudah2an tak memakai kacamata membuat kegemaran saya satu ini tak terganggu.

  9. isyaratpena Says:

    Assalamu’alaikum..

    semoga mas mpep bisa tetap ber-Khusnudzon, pasti ada hikmahnya, ehmm…apa mungkin ada sesuatu dlm diri kita yg memang perlu ditingkatkan kali ya..

    Salam

  10. RAH Says:

    alam dan psikologi birokrasi kita memang masih feodal, jadi cukup wajar jika terjadi hal demikian.
    tapi ini menjadi pelajaran penting buat kita. kamu yang sudah mengalami ini tentu akan memiliki pandangan yang lebih jernih ketika masuk dalam fase tersebut. dengan begitu, akan lebih siap untuk tidak bersikap demikian terhadap orang lain.
    orang dengan watak seperti itu memang selalu ada. orang semacam itu sukar untuk bisa berempati. latar belakang sejarah memengaruhi perilaku.

    aku dukung terus.
    sesuk dadi pembicara apa maneh pep?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: