lembah code, imogiri, perbukitan menoreh

f 10, 2009

versl_gondolayu_woning_1Satu pagi yang jingga. Matari malu-malu bersinar menembus keremangan fajar. Saya berjalan kaki melintasi Jl. dr. Sardjito. Melongok Jembatan Gondokusuman yang membentang di atas Kali Code. Pada lembahnya bertumpuk rumah-rumah mungil. Saya menuruni tangga pelan-pelan, mencoba memahami Code dari sisinya. Hari masih pagi. Masih ada waktu siang nanti ke Imogiri, batin saya. Menziarahi peradaban Mataram, Surakarta dan Yogyakarta di bukitnya.

Code baru bangun dari lelapnya pagi itu. Lorong di sisi sungai masih lengang. Saya berjalan pelan-pelan. Rumah yang dari kejauhan seperti bertumpuk ketika didekati semakin terlihat membentuk mozaik mengikuti kelerengan dan kontur. Jalan kecil yang dilapisi paving block bersih. Saluran limbah dan drainase ditutup semen, namun diantisipasi dengan tali air. Bersih, dan kering. Tak ada kesan kumuh. Tak ada kesan ‘hitam’.

Code senapas dengan sejarah Kota Jogja. Code pulalah yang menyodet kota dengan manis, berkelok-kelok di jantung Jogja. Sejak tahun 1969 masyarakat mulai bermukim di lembahnya, pada bekas kompleks pekuburan Cina. Code yang menghiasi wajah kota Jogja terhitung tanah milik raja (Sultan Ground). Tak butuh waktu lama Code menjadi sesak. Kondisi seperti ini tentu tak strategis karena daya dukung dan daya tampung Code terbatas. Warga kemudian mengorganisasi diri. Ada Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya Pr, 1929-1999) yang mendampingi warga. Romo Mangun selain pastor cum arsitek juga Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup.

Usaha Romo Mangun dan Paguyuban Rukun Agawe Sentosa (RAS) tidak selalu mulus. Namun usaha bertahun-tahun ini membuahkan hasil. Romo Mangun diganjar penghargaan Aga Khan Award Tahun 1992 untuk karya arsitektur terbaik di negara berkembang. Perjuangannya diabadikan dalam Museum Mangunan di Lembah Code Gondolayu. Warga kini melanjutkan kehidupan Code dengan menggelar Merti  Code setiap tahun. Menghayati lingkungan, memaknai air sebagai sumber kehidupan, dan berbagi kehangatan di pinggir kali

Code kini hadir dengan wajah baru yang semarak dan bersahabat. Satu malam, saat hendak membeli bunga potong untuk istri di Bilangan Kotabaru saya menyempatkan mampir menikmati Code di bantarannya di Gondolayu. Pemuda-pemuda menggelar tikar dan menjajakan penganan ringan. Nasi kucing, dan rupa-rupa jajanan. Aliran Code beriak pelan, berwarna keperakan oleh sebab tempias cahaya rembulan yang bulat penuh. Mahasiswa-mahasiswi bercengkerama dengan manja. Sebagian bergurau dengan rekannya. Saya hanya mampu tersenyum. Membayangkan wajah istri yang memelas menghimpit rindu di rumah mertua. Membayangkan adik saya yang sedang berjuang menggapai mimpinya melanjutkan pendidikan di Jawa. Merindukan teman-teman lama: S a.k.a D dan SL, sahabat yang dulu kuliah di Jogja. Sedang apa mereka? Saya berdoa mereka berbahagia dengan kehidupannya kini. Sambil menyantap indomie goreng pelan-pelan. Membuang pandang pada malam Jogja yang berpendar

Peluh menetes dari kening saya. Hari telah beranjak siang. Hari ini saya telah menguatkan hati untuk ke Imogiri. Ke makam raja-raja Jawa, leluhur saya. Maksudnya leluhur sebagai pengayom tanah Jawa, bukan karena saya keturunan salah satu dari mereka. Saya seperti anda, seorang kawula biasa saja. Imogiri berada tak jauh dari Jogja. Saya menumpang bus dengan membayar ongkos Rp. 3 ribu saja. Imogiri hari itu lengang. Maklum saja, Imogiri bukan daerah tujuan wisata utama, setidaknya bila anda melakukan study tour, atau kunjungan kerja ke Jogja. Justru itu saya bergembira. Imogiri dapat saya nikmati diam-diam, dalam keheningan.

Bukit Imogiri menanjak. Pada ratusan trap anak tangga. Beberapa pengunjung mencoba menghitungnya, namun tak kompak jumlahnya dengan sesama pengunjung lain. Mereka kemudian membangun teori-teori magi Imogiri. Saya tersenyum saja. Mendaki trap ini memang melelahkan. Tak usah berpanjang-panjang menghitung anak tangga, menjamin sampai di bukit dengan selamat saja membutuhkan konsentrasi. Namun magi tetap baik dipelihara. Setidaknya Imogiri memiliki makna transenden yang lebih dalam.

Terdapat tiga kompleks makam raja, sesuai perjalanan sejarah Mataram yang habis dibagi tiga, kemudian menjadi lima. Mataram, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta, Pura Mangkunegara, dan Pura Pakualam. Kompleks tidak dibuka setiap hari, dan ketika saya berkunjung pintu makam ditutup rapat. Di pendopo sambil melepas lelah saya menguping pembicaraan satu rombongan ditemani guide. Guide bercerita panjang lebar, saya mengiyakan sambil membandingkan sejarah Mataram yang saya baca dari buku. Sebagian besar akurat. Guide menyebut-nyebut air dari enceh (gentong; gerabah, Jw): dari Rum (Turki), Siam (Thailand), Palembang dan Aceh yang berkhasiat. Sebagai seorang yang menekuni Sosiologi saya menitipkan satu botol kemasan air mineral kosong kepada guide agar diisi.

Di atas bukit Imogiri saya melepas pandang. Semak, perdu dan rerimbunan menghampar di kejauhan. Saya membayangkan masa-masa sulit Mataram didirikan Panembahan Senopati lima abad lalu. Saya dapat membayangkan perjalanan Tumenggung Wiraguna memboyong Rara Mendut putri pampasan perang dari Adipati Pragola pengusa Pati yang selesai ditumpas Mataram dalam fragmen Rara Mendut gubahan Mangunwijaya. Wiraguna menerobos hutan Gunungpati di Semarang, Salatiga, dan Selo di Boyolali. Saat tiba di Selo, Wiragunan tertegun sejenak. Setelah melewati hutan yang lebat, rombongan tiba di  hamparan sawah yang menghijau.

Saya tak dapat mengira-ira perbukitan apa yang membentang di dekat Imogiri itu. Entahlah, saya hanya dapat membayangkan Perbukitan Menoreh di Kulon Progo yang belum pernah saya datangi namun terasa magis. Perbukitan yang banyak mewarnai perjalanan peradaban Jawa. Tempat perwira-perwira TNI bergerilya saat perang kemerdekaan. S.H. Mintaredja (1933-1999) mengabadikan Menoreh dalam 300 jilid serial Api di Bukit Menoreh, yang bertutur mengenai perjalanan membangun dinasti Mataram oleh Sutawijaya. Hingga kini Api di Bukit Menoreh dianggap belum selesai, meski sang penggubah telah meninggal dunia.

Tak ketinggalan Susilo Bambang Yudhoyono mengarang Palagan Terakhir (di Bukit Menoreh). Satu cerita menggetarkan soal keksatriaan, dan keberanian, dan kewiraan, dan api dendam dan ambisi kekuasaan. SBY membacakannya di Taman Ismail Marzuki beberapa hari lewat:

Palagan Terakhir

Kutatap Bukit Menoreh pewaris legenda
Guratan sejarah ketika raja berebut tahta
Di sepanjang pelana, di kolong awan jingga
Ksatria berlaga untuk sebuah nama

Meski Menoreh tak terbakar karena ilalangnya
Api amarah tetap menyala
dan tak pernah padam,
membakar jiwa yang haus kuasa
dalam kemarau panjang
dan bencana persaudaraan di Tanah Jawa

Di malam hening, bebatuan bertutur kisah
ksatria muda yang bertafakur di akhir laga
menengadah, dan membisikkan pesan
untuk sebuah zaman yang belum datang

Biarlah bukit ini mengakhiri kisahku
dan mengubur mimpi-mimpi buruk
di atas palagan tak kering darah

Dengan hatiku
Kupadamkan bara penebar maut dan dan raga
Di sini. Di tanah ini

Semarang, 26 Januari 2004

Saya merapatkan jaket, hawa Imogiri senja mulai sejuk. Sambil melantunkan lamat-lamat Palagan Terakhir saya menuruni anak tangga Imogiri. Membayangkan menjadi kstria Jawa yang telah menuntaskan misi yang diemban dari raja untuk membela negara. Berpeluh dan berlumpur yang diseburkan derap langkah kuda. Saya berimajinasi: Surjan yang saya kenakan basah. Iket wulung telah lepas membuat rambut tergerai. Saya meletakkan pedang berkilat kemerahan. Selesai. Tak ada yang lebih membahagiakan bila kedamaian tercipta di bumi. Ksatria desersi. Tak ingin menghadap raja unutuk memuaskan ambisi kuasa. Namun di hati kecintaaan pada negerinya tak terhitung tebalnya.

Gambar diunduh dari: http://www.flowgi.org

Iklan

3 Tanggapan to “lembah code, imogiri, perbukitan menoreh”

  1. daPHIInci Says:

    mas
    emang suka tour keliling kota yaa ?
    wiih asik dong .
    oleh2nya mana ?
    hhaha 😀

  2. simoel Says:

    Luar biasa sungguh beruntung saya bisa bertemu langsung dengan seorang penulis yang heroik, terima kasih mas….saya terus mendukung atas karya-karya yang telah diukir dan terpahat di blog. Lanjutkan….

  3. Elfrida Says:

    wah, buagus buanget tulisannya, perpaduan antara sejarah dan sosial, jos buanget. Salam kenal dari Elfrida. God Bless


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: