tour de bantul

f 26, 2009

batik imogiriBantul selama ini dikenal sebagai daerah yang penuh dengan cerita muram. Kemiskinan, dan ketertinggalan menjadi problem klasik Bantul dalam konstelasi pergaulan antarwilayah di Jogja. Padahal Bantul menawarkan pesona yang tak kalah menarik ketimbang episentrum Kraton-Malioboro. Selain pantainya yang sambung-menyambung di selatan, Bantul bergeliat dalam kreativitas kriya. Kasongan sebagai sentra industri gerabah dan keramik memang telah mendunia. Tetapi siapa yang tahu bila Bantul memiliki lebih dari itu.

Bersama teman-teman kelas saya berkesempatan menjelajah Bantul, pada satu hari yang cerah di bulan Mei. Perjalanan yang tak biasa karena kami tak hendak ke Pantai Parangtritis, Parang Kusumo, atau Samas maupun Krakal, seperti biasa bila kita menyebut obyek wisata Bantul. Kali ini kami akan belajar dari sejumlah sentra seni kriya, berturut-turut Manding, Wukirsari, Tembi, dan Sewon.

Perjalanan dimulai semenjak pagi. Jogja sedang bergembira hari itu. Langit bersih, matahari memancarkan sinarnya cenderung terik. Jalur Jogja-Parangtritis kami lalui dengan meninggalkan petak-petak sawah yang sedang menghijau. Saya tak ingin melepas pandang. Membebaskan angan pada satu mimpi sejak dulu, yang kini harus diimpit pelan-pelan dalam hati. Semenjak pertama kali menjejak pulau ini, hati saya telah kepincut. Pulau ini memberikan kehangatannya bagi seorang pendatang-padahal-bukan seperti saya.

Karena itu pula saya sempat berjanji pada diri sendiri untuk menjadikan Jogja, atau Solo sebagai pangkalan hidup keluarga saya kelak. Setidaknya, di Jawa Tengah, atau paling kurang di Jawa. Meski hari ini saya belum berkesempatan memiliki KTP Jogja atau Solo, saya cukup puas berdamai dengan takdir untuk menjadi warga Jawa Tengah, di bagian paling jauh dari sentrum Mataraman. Tak apa. Setidaknya saya masih dapat menikmati Jogja dan Solo dalam perjalanan pagi itu. Melintasi Bantul.

Saya menghela napas berkali-kali. Sawah tampaknya bukan primadona Bantul, karena di wilayah ini hanya 60% lahannya saja yang produktif dicetak menjadi sawah. Selebihnya perbukitan yang kurang subur. Justru karena itu lanskap Bantul menjadi cantik. Lembah yang hijau rapi oleh jajaran padi, dipagari bukit-bukit yang juga hijau dengan berjenis-jenis pohon. Saya belum puas mengkhayal ketika bus yang kami tumpangi membelok di pelataran parkir kawasan Manding.

Manding tak pernah saya dengar sebelumnya. Dari tanya-tanya dan dengar kiri-kanan saya mendapat sedikit informasi soal sentra kerajinan kulit ini. Manding merupakan andalan industri kecil Bantul yang menyumbangkan Produk Domestik Regional Bruto melalui produksi dan ekspor kulit. Macam-macam jenis kerajinan diproduksi seniman Manding yang memulai usahanya dari kepeloporan tiga pemuda sejak tahun 1947.

Saya sebenarnya cenderung tak menyukai kerajinan tangan. Saya masih kesulitan menikmati keindahan jenis seni satu ini. Terutama karena produknya seringkali dibandrol dengan harga yang melebihi batas psikologis dompet saya. Kebutuhan utama saya masih pada sektor primer, belum pada skema-lanjut berupa kebutuhan aktualisasi diri atau prestise. Saya sudah cukup puas melihat-lihat produk kerajinan pada showroom yang tersebar di seantero desa.

Puas menyambangi Manding kami melanjutkan perjalanan menuju Wukirsari, sentra industri batik tulis Bantul. Untuk tiba di Wukirsari kita dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan. Wukirsari berada di sebuah lembah yang dikelilingi perbukitan di semua sisinya. Wukirsari juga dekat dengan Imogiri, tempat dimakamkannya raja-raja Mataram hingga dinasti Ngayogyakarta, Surakarta, Pakualam, dan Mangkunegara. Saya tak menemukan banyak hal menarik di Wukirsari kecuali tiga bungkus ramuan wedang uwuh yang saya beli sebagai buah tangan. Wedang uwuh merupakan minuman hangat yang diperoleh dari seduhan rempah-rempah dan gula batu. Rempah-rempah yang menyerupai sampah, sehingga disebut uwuh; alias sampah dalam bahasa daerah.

Menjelang siang kami meninggalkan SWukirsari menuju Tembi. Tembi kini didesain sebagai desa wisata, menawarkan kerajinan kulit sebagai jualan utamanya. Saat mengunjungi Tembi saya sempat melirik poster Festival Jazz Tembi tahun lewat yang masih ter(di?)tempel pada dinding joglo Tembi. Saya menggumam dalam hati, tampaknya Tembi telah melangkah lebih jauh dari sentra industri kerajinan menjadi desa wisata sesungguhnya. Mungkin jazz bukan janis musik yang dimengerti masyarakat Tembi, namun setiap pertunjukan seni dan budaya sudah sepantasnya diapresiasi.

Di Tembi saya hampir saja membeli oleh-oleh untuk istri. Tetapi apa? Saya sama sekali tak berpengalaman membelikan oleh-oleh kepada orang lain. Beberapa kali saya membeli oleh-oleh dan tampaknya gagal menjadi buah tangan yang menggetarkan bagi penerima. Sampai hari ini saya berkesimpulan bahwa saya tak perlu membeli oleh-oleh, kalaupun istri saya menginginkannya, kapan-kapan saya akan mengantarkannya saja ke tempat oleh-oleh itu dapat dibeli. Saya kira ini mekanisme paling baik bagi orang tak-paham-seni macam saya.

Manding sudah, Wukirsari telah didatangi, Tembi kemudian kami tinggalkan menuju sentra industri batik lurik di bilangan Sewon. Sesaat sebelum tiba saya berkesempatan melewati satu bangunan persegi di perempatan kecil Krapyak. Beberapa teman bertanya pada guide yang mendampingi kami. Tiga orang guide yang kesemuanya orang Bantul itu menggeleng: kami juga sebenarnya tidak tahu itu bangunan apa. Mungkin Ka’bah-nya Bantul. Saya tersenyum dalam hati. Pastilah bangunan serupa benteng itu adalah Panggung Krapyak, panggung yang digunakan raja-raja Mataram untuk membidik hewan buruan yang sebelumnya dengan susah payah digiring prajurit mendekati panggung. Itulah enaknya menjadi raja, mau berburu saja tinggal duduk manis di atas panggung mengarahkan bidikan pada hewan yang didesain berkeliaran di bawahnya. Saya mengkhayal, bila raja sedang jenuh oleh persoalan intrik yang membayang kraton, bolehlah satu dua anak panah dilesatkan pada prajurit yang lugu atau pintar-namun-sok. Biar tahu rasa. Siapa tahu. Dan itulah enaknya menjadi raja.

Seorang rekan dari Sleman membenarkan dugaan saya. Benteng itu persis Panggung Krapyak. Satu bangunan magis dalam imajinasi orang Jogja sebagai penghubung imajiner antara Laut Selatan-Kraton-Tugu-Gunung Merapi. Orde baru menambahkan tetenger baru: Monumen Yogya Kembali sebagai salah satu porosnya, meskipun tak tepat benar dalam garis imajiner, sehingga dapat anda abaikan bila mau.

Masih di Krapyak saya hampir terlonjak gembira karena selain berkesempatan menikmati Panggung Krapyak dalam khayalan imajiner, saya juga melewati Pondok Pesantren Krapyak. Saya tak memiliki hubungan historis apapun dengan pondok satu ini. Hanya karena ia pondok pesantren yang legendaris saya berhasrat untuk menyapunya dalam-dalam dari kaca jendela bus, yang dengan segera meninggalkan pondok dalam lajunya.

Hari itu saya berkesempatan menuntaskan keingintahuan pada Bantul. Batik lurik Sewon sesungguhnya eksotik. Hand made, dibuat oleh buruh-buruh yang bekerja menenun sejak pukul 08.00 hingga 16.00 untuk mendapatkan 10 meter batik yang dihargai Rr. 3 ribu per meter perseginya. Buruh-buruh yang entah karena impitan hidup atau karena menjaga tradisi dengan setia menggenjot kakinya dan membalik-balik alat tenun untuk memperoleh antara Rp. 20 ribu hingga Rp. 30 ribu sehari. Pekerjaan yang saya kira dekat dengan kebosanan, kualitas kesehatan kerja yang tak sehat, diramu sedikit dengan dedikasi, dan dibahasakan dengan berbuih-buih oleh akademisi, pemangku kepentingan pariwisata, kelompok peduli budaya dan termasuk blogger sebagai tradisi. Yang harus dipertahankan hingga mati. Tak peduli buruh-buruhnya mengerjakan dengan dongkol di hati.

Langit Jogja kemerahan saat sore itu saya kembali ke penginapan. Diam-diam saya berharap kelak masyarakat Bantul menikmati kue pariwisata yang sedang digagas pemerintah daerahnya. Dalam hati saya merasa bersama-sama buruh industri di Manding, Wukirsari, Tembi, dan Sewon melepas lelah setelah seharian bekarja, dan saya berdarmawisata, itu bedanya. Mereka mungkin bercanda dengan keluarganya bersama secangkir teh encer. Menikmati langit Jogja yang merah, yang dapat dinikmati siapa saja. Kami sama-sama lelah. Mereka lelah dalam cengkerama bersama keluarga. Saya lelah, berbahagia, namun masih harus mengimpit rindu untuk bercengkerama dengan keluarga, kelak di Bantul juga atau setidaknya di Jogja atau Solo. Kelak, kapan-kapan, masih lama, mungkin saat saya telah pensiun dan berkesempatan menikmati Jogja dengan puas di hari tua. Ya. mudah-mudahan saya diberi kesempatan hidup hingga tua dan menceritakan kepada anda perjalanan Bantul menghabiskan usianya bersama saya.

Iklan

8 Tanggapan to “tour de bantul”

  1. dy4h Says:

    kenapa pengen banget menghabiskan masa tua di jawa tengah???kenapa gag bandung, jakarta, ato kota2 lain…

  2. Dony Says:

    Apakah nanti jawa ini masih bisa mempesona mas?
    Sehabis pulang kampung 2 bulan lalu saya kok jadi makin pesimis, makin banyak tanda-tanda kapitalis disana, mall bertebaran, jadi ga bisa menikmati ketenangan lagi.

    Oh iya maksih mas atas kunjungan dan komen di blog saya, sebenarnya saya juga jadi hobi berkunjung di blog ini gara-gara post “Nasi Kucing” hehehe di Jakarta susah nyari angkringan

  3. Ika Says:

    Wuah, asikny bsa jalan2 keliling mbantul.daerah itu memang cntik,bhkan lbh cntik drpda malioboro yg hiruk pikuk.

  4. masmpep Says:

    @dyah
    karena jawa (tengah) menggetarkan mbak. membuat pengin kembali, dan kembali lagi, he-he-he.
    sedang jakarta rasanya sudah mulai gak nyaman. saya menulisnya di posting ‘jakarta’. masih di blog ini. kapan-kapan boleh mampir tuh.

    @dony
    memang jogja sudah berubah. namun kota-kota lain juga sama berubahnya. kalau dibuat laju perubahannya, maka menurut saya jogja (dan solo) masih menunjukkan trend lebih njawani ketimbang kota-kota lain.
    nasi kucing? ah, ya. saya jadi berkesempatan lagi mencicipinya. namun nasi kucing jogja tak semeriah di solo saya kira.

    @ika
    bantul hanya alternatif saja kok mbak. namun malioboro tetap eksotik kok. bergantung dari sudut apa kita memandangnya, dan bagaimana caranya kita menikmatinya. saya sudah ingin menuliskan satu fragmen maliobro yang paling menggetarkan. tunggu saja…

  5. morishige Says:

    awalnya saya ngira yang segaris itu cuma Merapi, Monjali, Tugu, Kraton, dan Parangtritis.. ternyata masih ada Panggung Krapyak, dan Monjali hanya bikinan orba..
    padahal saya tinggal di jogja udah hampir 3 tahun.. asli, saya malu jdnya..
    nice info, mas..
    btw blognya saya link ya.. 😀

  6. linda belle Says:

    coba keliling bandung aja heheh…

    btw angels n demons udh saya review 2 minggu lalu

    coba deh cek disini hehe :
    http://ti-sky.blogspot.com/2009/05/nonton-nyoookk.html

  7. dek lu' Says:

    apakah di bantul terdapat agen wisata yang menawarkan paket berwisata ke sentra-sentra industri?? mohon informasinya. trmksi

    • masmpep Says:

      Wah, saya tak tahu benar soal agen wisata ini. Tetapi mestinya ada. Saya lebih suka one man show, he-he-he.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: