‘virus’ apito

f 13, 2009

apito2Tegal merupakan pusat pertumbuhan di kawasan Pantai Utara Jawa, di barat Jawa Tengah. Eksistensi Tegal dapat ditelusuri dari kreativitas warganya yang bergiat di sektor ekonomi. Tak usah dibahas lagi, Warung Tegal (Warteg) merupakan salah satu penandanya. Karena itu kegiatan berkesenian dan budaya menjadi sesuatu yang mewah di tlatah ini. Namun tidak bagi Apito. Apito Lahire lengkapnya.

Beberapa waktu kemarin saya mendapat pesan pendek dari seorang pegiat kesenian Tegal, meskipun saya belum pernah bertemu muka dengannya. Undangan untuk menonton pentas Teater Semut dari Kendal bertajuk Labirin Sukma di salah satu sekolah swasta milik Nadhlatul Ulama, di pinggiran kota. Karena saat itu saya tak punya agenda lain, saya menyempatkan hadir. Bersama istri yang sedang mengadung lima bulan. ‘Teori-teori kehamilan’ mengatakan jabang bayi sangat baik diberi santapan rohani, umumnya musik-musik klasik. Saya tak mengerti jenis seni satu ini, sekaligus tak memiliki sumber dayanya. Pentas teater juga seni, dan mudah-mudahan baik bagi calon anak kami, pikir saya.

Tiba di lokasi, saya mendapati ratusan remaja memenuhi sekolah. Saya sempat ragu, apakah saya salah jadwal. Tak biasanya acara kebudayaan dihadiri ratusan orang, remaja yang modis-modis pula. Namun saya keliru. Mereka, remaja—sebagian besar gadis berjilbab—yang masih kinyis-kinyis ini adalah calon penonton pentas. Mereka antusias, ingin segera menjadi ‘warga kebudayaan’, sesuatu yang masih di luar impian kebanyakan anak muda. Mereka bercanda, seperti bila saya melihat anak-anak remaja mengantre tiket bioskop yang memutar film-film horor-komedi-seks yang sedang in. Saya tergetar. Beberapa waktu sebelumnya saya pernah menyesali kota ini. Tak seperti Solo di mana lima tahun saya pernah tinggal. Hampir setiap minggu ada saja rupa-rupa kegiatan di Taman Budaya Jawa Tengah Solo. Tinggal pilih. Berbeda dengan Tegal. Memang Tegal memiliki Gedung Kesenian, Gedung Kesenian (Kota) Tegal dan Gedoeng Rakjat Slawi. Namun pentas yang dilakukan masih dipublikasikan melalui undangan ‘dari mulut ke mulut’ diantara pegiat keseniannnya. Saya yang beberapa tahun tinggal di kota ini masih sering terlewat bila ada kegiatan seni dan budaya.

Saya merinding. Teringat satu nama yang sering saya dengar. Satu nama yang tak menyesali keadaan namun berbuat sesuatu: menggelar sendiri kegiatan seni budaya. Tak jadi penonton, apalagi menjadi pengharap—seperti saya. Adalah Apito Lahire, anak muda Tegal yang pernah menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia Jogja yang saat ini masih giat berteater.

Teater memang bukan ‘barang baru’ di Tegal. Sebelumnya telah ada Teater RSPD yang dimotori Eko Tunas, Yono Daryono, dan YY Haryogurino. Teater ini sangat aktif pada permulaan 1980an hingga 1990an. Masa-masa setelahnya kiprah teater ini mulai surut, setidaknya dilihat dari frekuensi pentas produksinya. Namun mereka sempat menggelar Festival Teater RSPD. Enthieh Mudakir misalnya, pernah dinobatkan sebagai Aktor Terbaik Festival Teater RSPD tahun 1987. Sebelum teater, saya pernah mendengar di Tegal pada masa sesudah perang kemerdekaan terdapat Akademi Sinematografi sebelum pindah dan bergabung dengan ISI Jogjakarta. Sayangnya informasi saya terbatas soal ini.

Kegiatan seni dan budaya memang sebuah gladi kolektif. Tak dapat ditunjuk hanya pada satu atau dua nama. Tidak hendak membesar-besarkan, namun Apito memilih langkah berbeda. Ia mencoba menggiatkan teater dari sekolah, bila sebelumnya aktivis teater lain berangkat dari komunitas. Apito mulai menebar ‘virus’ teater pada komunitas pelajar. Ia membina teater di sejumlah sekolah, yang kebanyakan bukan sekolah negeri dan berada di pinggiran kota. 250 pelajar yang menghadiri pentas Teater Semut kemarin adalah garansi, bahwa calon ‘warga kebudayaan’ Tegal akan bertambah. Masih muda-muda pula. Sebagian dari mereka adalah aktivis muda teater dari Teater Byar Pet (?) SMU Wahid Hasyim Talang, Teater MAN Babakan dan Teater SMA N 1 Kota Tegal. Apito sendiri bergiat di Teater Pawon, Teater Lare’s Dramatic dan belakangan dekat dengan di Teater Qi.

Menjelang siang pentas dimulai. Di Laboratorium Seni sekolah—sebagaimana tempat undangan yang dikirim melalui pesan pendek pada saya. Ah, ya. ya. ‘Laboratorium Seni’. Jenis laboratorium yang tak jamak di saat ilmu sosial dan humaniora masih menjadi paria diantara ilmu eksakta yang berjaya dengan rupa-rupa laboraorium: Laboratorium Fisika, Laboratorium Kimia, Laboratorium Biologi, Laboratorim Praktik Perbengkelan. Laboratorium Seni penuh, meski tidak sesak.

Teater Semut dengan pengalaman 27 tahun menyajikan pentas yang kuat siang itu. Remaja-remaja ini antusias menyimak. Sebagian besar mungkin pengalaman pertamanya. Lima belas menit pertama pentas hening, terpusat pada dua aktor yang berakting. Lima belas menit kedua, sebagian penonton mulai kasak-kusuk. Tema yang disuguhkan soal filsafat kematian, nurani baik dan buruk dalam labirin-labirin sukma yang digambarkan dalam setting labirin dan personifikasi degup jantung memang terhitung ‘berat’. Mendekati akhir, penonton mulai bercakap-cakap, ngobrol, atau bermain telepon genggam. Namun saya masih optimistis . Salam Teater Byar Pet bergema berkali-kali: ‘Salam Byar Pet. Byar-Byar-Byar. Aku… cinta padamu’. Dengan gerakan spartan, bergegas, dan serempak dari pegiatnya, sekira 50 remaja. Semakin merinding.

Laboratorium Seni. Entah memang demikian namanya atau ‘akal-akalan’ Apito dan kawan-kawan. Namun saya tergetar. Identitas adalah penanda. Tak peduli ruang itu sejatinya adalah aula, bila diberi identitas ‘Laboratorium Seni’ orang akan berpikir bahwa di lingkungan itu seni sedang bergeliat. Saya menjadi iri. Tak banyak aula yang didesain sebagai ruang publik bagi acara kesenian. Misalnya dengan memberi ruang sebagai panggung, tempat duduk yang berbanjar dan meninggi. Konstruksi atap yang memudahkan tata pencahayaan. Dst. Dst. Saya iri namun tak berbuat apa-apa. Apito iri dan menyulap aula menjadi ‘laboratorium seni’. Itulah bedanya.

Kebudayaan Tegal hari ini memang terdiri dari beberapa poros. Poros teater sudah saya ceritakan di muka. Poros sastra juga menggeliat, meskipun lebih banyak sebagai penyair ketimbang cerpenis atau novelis. Beberapa penyair yang setia berpuisi misalnya Dyah Setyawati yang pernah menggelar Mantu Budaya saat menikahkan anak perempuannya di Pangkah. Kemudian ada Agus Tarjono seorang perangkat desa asal Brebes yang karena aktivitas kepenyairannya dikenal dengan sebutan Lebe Penyair. Untuk cerita pendek ada SN Ratmana, yang beberapa kali pernah saya kunjungi—karena saya lebih tertarik pada cerita pendek dan novel. Untuk puisi berbahasa Tegal, ada sejumlah nama seperti Lanang Setiawan yang menyadur Tembangan Banyak dari Nyanyian Angsa karya WS Rendra. Sejumlah antologi Puisi Tegalan telah diterbitkan oleh pegiat sastra Tegal. Sebagian pegiat seni Tegal adalah orang yang numpang lahir di Tegal dan bergiat di daerah lain. Mereka misalnya Eko Tunas—di Semarang, Agus Noor—di Jogja, atau Soekanto SA—penulis cerita anak Majalah Kuncung.

Seni tradisi banyak berkembang di tengah masyarakat. Namun dua nama, Ki Entus Susmono dengan Wayang Rai dan Ki Slamet Gundono bersama Wayang Suket-nya menjadikan seni tradisi Tegal berkembang menjadi seni tradisi-kontemporer-intelektual yang diterima masyarakat, pekerja seni sekolahan, dan media massa—yang suka ‘pilih-pilih’ dalam mempublikasikan nama-nama baru. Seni rupa? Saya tak banyak memiliki informasi. Kalaupun ada, kebanyakan mereka adalah pelukis. Salah satunya Risto (Widodo?) pelukis asal Lebaksiu. Beruntung saya pernah bertemu dengannya tahun 2006 saat Pameran Pembangunan Tegal. Risto sempat melukis wajah saya dengan krayon di atas kertas. Hingga kini lukisan itu masih saya simpan di kediaman saya.

Kemudian tradisi intelektual dalam olah nalar; diskusi. Saya ingin menyebut beberapa komunitas, yakni Lembaga Nalar Terapan (LeNTera) yang digawangi antara lain oleh Akhmad Saefudin  seorang jurnalis muda dan Fatin Hamam, aktivis muda Muhammadiyah. Saya beberapa kali mengikuti diskusi LeNTera, kelompok studi yang pernah menerbitkan Tahu Serius: Sebuah Antologi Slawi Ayu. Kemudian ada Lingkar Studi Slawi (LiSUS) yang digiatkan Helmy Alamsyah, pernah menjadi jurnalis dan kini mengelola Majalah Lentera serta Akhmad Mudofar anak muda Redaktur Suara Pertiwi. LiSUS terhitung aktif menggelar diskusi dibanding LeNTera. Mereka menyusun silabus, term of refference dan membuat resume diskusi. Sayang LiSUS belum menerbitkan satu pun jejak kepenulisan. Terakhir, adalah Kelompok Studi Idea. Kelompok studi ini telah menerbitkan empat edisi Jurnal IdeA. Diskuis-diskusi Idea tahun 2007 digiatkan oleh Andi Supriyadi, berlanjut tahun 2008 oleh Trianto Budiatmoko dan oleh Febrie Hastiyanto tahun 2009.

Pentas Labirin Sukma berakhir. Ditutup oleh diskusi kecil dengan sang sutradara Aslam Kussatyo. Ratusan penonton belum beranjak. Saya masih merinding sambil teringat proposal Klub Penulis Slawi yang saya kirimkan ke SMAN 1, 2 dan 3 Slawi awal semester lalu. Saya bukan contoh yang baik dalam bidang menulis, namun saya memberanikan diri menggagas komunitas penulis bagi pelajar. Belajar bersama-sama, berbagi, dan saling menguatkan kepercayaan saja misi saya. Namun hingga kini proposal berikut silabus materi pertemuan klub itu belum ada kabarnya dari pihak sekolah. Sambil merinding saya teringat Apito. Mungkin saya harus memulai dari sekolah-sekolah pinggiran, sambil terus menulis agar saya benar-benar disebut sebagai penulis. Mengabarkan dengan tinta.

Gambar diunduh dari: begawantegal.blogspot.com

Iklan

16 Tanggapan to “‘virus’ apito”

  1. yanu Says:

    creative minority….semoga orang-orang seperti Apito Lahire tidak terbunuh dalam sepi setelah ada orang-orang seperti masmpep yang mengabarkan “perdjoeangan” itu lewat tinta.

    oh ya, aku sedang mencoba menjadikan rumahku sebagai tempat penggemblengan bakat-bakat menulis anak muda di subang…mohon siapa aja bisa kasih saran konsep pengembangannya….atur nuhun 🙂

  2. apito lahire Says:

    ente juga kena virus lanang, berhasil membuahi istrimu.
    pertama terimakasih karena telah memberi impresi pada kegiatan teater semut kemarin. kedua aku mau konfirmasi bahwa aku bukan anggota teater qi. aku punya teater lares dramatic yang telah berdiri sejak tahun 2000.
    bagiku sebuah peristiwa harus terus dibuat, diciptakan, nekat, cuek kadang sedikit banal sering kulakukan. beberapa tahun lalu sepulang dari medan kegilaan jogja aku nekat ngumpulin manusia-manusia tiap minggu pagi di lapangan ekoproyo talang buat latihan nulis, olahtubuh, cingcong dan lain-lain.
    aku nyebar virus aneh ngamen baca puisi tiap rumah kampung kota pada temen-temen dulu namanya pawon dan kst: komunitas sastra tegal.
    yang namnya proses berlangsung ada yang pilek, batuk, step tapi ada juga yang trance kayak aku. beberapa bikin gerombolan sendiri, aku seneng artinya virus itu sudah mulai di hidupi mungkin jadi antivirus.
    aku sangat hormat pada dosen, guru-guruku, kompetitorku karena dari merekalah aku tetap gatel, jungkirbalik.
    aku kagum pada yono daryono, al. piek, al.wijati, lanang, atau pun siapa saja bahkan aku masih menunggu abror yang sarjana teater isi tapi lagi nganggkrem berkarya.
    miroj lagi asal jalan mungkin nebeng, julis nh, lagi melempem, tonni, ya masih tertib hidupnya.
    dewan kesenian jadi kuburan, gedung rakyat slawi jadi artefak.
    jebule siasat pentas main minggu pagi teater semut juga strategi untuk ngobyok2 penonton mau njambangi teater. nah seandainya ada orang yamg terkena virus kayak aku apa yang akan kau lakukan?
    tiarap apa cuma….ngomong…ampun…

  3. masmpep Says:

    @yanu
    saya sudah membuat konsep klub penulis slawi. ada silabusnya, kalo berminat. asal kapan2 saya diundang jadi pematerinya, he-he-he.

    @apito lahire
    he-he-he. tulisan ini memang memancing mas apito untuk muncul. teater qi? nanti saya koreksi. saya tak menulis ‘apito anggota teater qi’, tapi ‘dekat dengan teater qi’. kalau anak kalimat ini mengganggu akan saya edit.
    ‘virus’ apito. setelah tersihir olehnya saya coba googling ‘teater di tegal’. ternyata jumlahnya banyak. dan aktif. saya jadi berkesimpulan sebagian (besar) pegiat seni-budaya tegal hari ini adalah eksponen teater. tapi publikasi masih terbatas mas. teater masih jadi pentas elitis, intelek, dan menengah atas. namun ikhtiar pentas di balai desa atau lapangan kampung, maupun happening art di jalan saya kira usaha taktis untuk membumikan teater di tlatah tegal.

    gemparrrr!!
    (meminjam salam budaya a la apito).

  4. kanjengragil Says:

    Tulisan yang disusun sangat bagus, panjang dan berisi, tidak semua blog writer mampu menulis seperti mas mpep, isinya pun berbobot. Kebudayaan murni yang selama ini ditinggalkan, semoga dari sini mulai kembali bangkit dan disukai generasi muda.

  5. kanjengragil Says:

    Oh iya terima kasih untuk kunjungannya ke bandunggeulis.wordpress.com, saya akan coba menulis lebih banyak lagi tentang dunia kuliner kota Bandung dan insya Allah juga budaya-nya.

  6. haris Says:

    semangat, mas. kalo di solo, kami senantiasa memulai dari klub kecil, kelompok elite. dari situ, berkembang sedikit demi sedikit. kuantitas bukan ukuran, kualitas sajalah mas feb. susah kalo kita mau ajak orang banyak. tenaga kita akan habis sendiri. he2.

  7. masmpep Says:

    @kanjengragil
    trims mas. kalimat paling manis pagi ini. saya senang membacanya, he-he-he.

    @haris
    ya.ya. kalo komunitasmu akan membuat sesuatu, saya dikabari ya. siapa tau bisa partisipasi….

  8. muhamadmuiz Says:

    hmmm… mengembangbiakkan budaya menulis? menggairahkan! mungkin itu yang masih kosong di tlatah kita: Tegal.
    tradisi; sebuah konsistensi dan kontinuitas. Semangat terus ya Mas. semoga berhasil.
    aku juga sudah beberapa kali sowan ke rumah Pak Sutji (SN Ratmana), beliau memang enakan kalo diajak ngobrol. semua karya-karya beliau pun sudah kubaca, kecuali satu yang berjudul “Asap Itu Masih Mengepul”.
    Mas Apito, piye kabare? kayong wis suwe yah aku ora dolan maring umahe sampeyan. ya wis, ngapuntene mawon.

  9. tengkuputeh Says:

    Zaman teater saat ini sudah meredup…
    padam dan samar2. Masih adakah mereka???

  10. Edi Psw Says:

    Kalau di surabaya ada virus apa ya?


  11. beberapa hari yang lalu, saya juga mendapatkan sms dari mas aslam kalau teater semut akan pentas di 4 kota. sayangnya saya ndak bisa mengikuti momen acara ini. saya juga pernah ketemu dg mas apito di kendal. kalau ndak salah pas ada acara lomba baca puisi dan penulisan cerpen dalam gelar budaya.

  12. masmpep Says:

    @sawali
    setidaknya kan sudah saya kabari pak, he-he-he. posisi di kendal ya pak?

  13. apito lahire Says:

    tadi siang saya baru latihan lagi di jalan. ngamen baca puisi lagi. kembali melakukan pembacaan atas tubuh, vokal, kuping, pembauan. panas dihadapi dengan kekuatan aktor. saya ingat waktu di jepang saya melakukan hal yang sama. keliling antara taman, ngobyok-ngobyok ruang, bengok-bengok di kuil dan komat-kamit menemui akar riuh jalanan. saya seperti mendapatkan tenaga baru, ajian-ajian natural. hidup ternyata medan visual dan auditif.
    rendra mnungkin pernah melakukan apa yang dinamakan pencantrikan di bengkel teaternya.
    ken zuraida, istri tercintanya malam ini melantunkan barzanji di alun-alun kota tegal, besok saya ke magelang ketemu para pendekar hebat.
    tadi saya ketemu ibu penyapu di jalan. ia bilang,
    “sapulidi adalah hidup”.

    wahwah aku jadi malu, metafora pemersatu hanya digesekkan di aspal

    • kawan SD-Apito Says:

      ah, rasanya senang bercampur haru…punya kawan satu kelas kala SD dulu. trnyata sudah jadi penggiat seni di Tegal…

      tapi, mungkina engkau lupa karena saat kelas 5 pindah ke SD lain…satu hal pelajaran paling menonjol adalah PMP dan Kesenian-khusunya baca puisi, paling menggelegar saat baca puisi dikelas…hahaha

  14. andrian Says:

    pei kabare kang kapan nie main ke kota kendal yang sunyi ini sapa tau sya bisa cari tambahan ilmu dengan panjenengan?
    jujur saya masih baru mulai belajar tentang teater?
    oo yaw vidio labirin sukma untuk pementasan di tegal saya bisa minta copyanya?

  15. andrian Says:

    semut skarang poenya (teatersemut.blogspot.com)ikut isi komen dong tuk kritik AND saranya biar semut juga bisa ikut mempertahankan budaya seni menyang tlatah iki?!?!?!?!?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: