pesan pendek dan menunggu

f 26, 2009

pesan-pendekApakah anda termasuk orang yang sering menunggu. Tepatnya tak berdaya, sehingga menjadi orang yang menunggu, bukan ditunggu. Tak perlu khawatir, menunggu merupakan jenis momentum yang jamak terjadi di negara berkembang seperti republik ini. Semua harus melalui proses menunggu. Lalu, apa yang menarik? Ada, tentu saja.

Menunggu itu menyebalkan? Ya, ya. Tapi tunggu dulu. Saya kira menyebalkan, menyenangkan, membahagiakan, atau dinanti-nantikan adalah soal bagaimana memperlakukan momentum ini. Berapa banyak kejadian daur-hidup kita sejak dari kandungan hingga dilahirkan berikut prosesi pemberian nama, turun ke tanah pertama kali (tedak siti), memasuki masa sekolah, mulai bekerja, menikah, memiliki anak, hingga meninggal. Sejatinya semua adalah proses menunggu. Orang tua kita menunggu-nunggu kelahiran kita. Kita menunggu-nunggu dapat mahir bersepeda ketika beranjak bocah. Pacar kita menunggu-nunggu kesediaan kita untuk bersama mengaruhi bahtera perkawinan. Bawahan kita menunggu-nunggu kita pensiun agar ia menggantikan kita. Kita kemudian menunggu-nunggu waktu kembali kepadaNya. Malaikat maut juga menunggu-nunggu waktu yang tepat mencabut nyawa. Bangsa kita menunggu-nunggu kapan sejahtera.

Karena menunggu merupakan keniscayaan, makanya tak perlu ada ungkapan ‘menunggu itu menyebalkan’. Prinsipnya, bagaimana kita tak dijajah momentum menunggu. Dan bagaimana kita berbuat sesuatu selagi menunggu.

Menunggu angkutan umum bisa jadi merupakan pekerjaan paling menyebalkan. Apalagi di negara berkembang macam Indonesia. Kereta api, pesawat terbang (yang ini katanya, karena belum pernah mencoba), bus, angkot, bahkan dokar. Tak peduli angkutan telah penuh sesak. Semua hanya boleh menunggu agar pengemudi memiliki mood untuk mau memulai perjalanan. Tak perlu protes, karena pengemudi cukup demokratis: mau menunggu silakan duduk manis. Tak mau menunggu silakan naik angkutan berikut, yang berarti menunggu angkutan yang menunggu. Menunggu dengan menunggu memang menyebalkan.

Mengapa tidak menunggu dengan melakukan aktivitas lain? Saya punya kebiasaan saat menunggu. Membuka telepon genggam—yang murah saja dan fiturnya tak rumit tetapi selalu ada pulsanya. Mulai mengirim pesan pendek ke sejumlah teman. Lama dan baru. Yang tak sempat saya sms bila sedang tak ada kesibukan. Karena ‘tak ada kesibukan’ biasanya saya isi dengan membaca, menonton gosip di televisi, tidur, makan siang, ngobrol, atau jalan-jalan. Hampir tak ada waktu khusus bagi saya untuk sengaja mengirim pesan pendek via telepon seluler, kepada banyak kawan. Sekedar say hello, atau silaturahmi tanpa keperluan khusus.

Menunggu bagi saya adalah momentum. Untuk bersilaturahmi dengan teman-teman yang tersebar di banyak kota, mengejar mimpi-mimpinya. Menunggu bagi saya menjadi produktif, karena saya kemudian berbalas pesan pendek. Memanfaatkan fasilitas layanan pesan pendek yang sudah sangat murah kini, tapi kita masih tak sempat juga. Saya urutkan teman-teman sejak teman kampus, teman semasa di kos dulu, teman satu organisasi, teman dari tanah kelahiran, teman bertemu dalam momen khusus, teman kantor. Saya biasa mengirimkan pesan pendek secara personal. Maksudnya bukan pesan pendek yang ditulis untuk dikirim pada banyak orang sekaligus. Seperti pesan pendek saat hari raya yang semakin tak kreatif, dan kering. Saya membiasakan diri mengirim pesan pendek saat hari raya secara personal. Lebih intim. Meskipun  saya mengirim pesan pendek yang ada pertanyaan di dalamnya tetap dikirim-balik pesan pendek ‘jenis borongan’ itu: ‘Saat beduk telah bertalu. Takbir telah dilantunkan.  Ketupat mulai dijerang di atas kompor. Saya sekeluarga mengucapkan selamat hari raya. Tak komunikatif!

Bertanya kabar. Guyon. Mencoba menyesuaikan karakter masing-masing teman. Ada yang biasa menggunakan bahasa daerah, bahasa nasional-baku, bahasa pisuhan, bahasa prokem. Ada yang gemar mengirim pesan sangat pendek. ‘Ya’. ‘Tdk’. ‘D mn’. ‘Kpn’. Satu kata sekali kirim. Ada yang suka curhat. Ada yang suka menyingkat karakter dan saya kesulitan membacanya:
Teman: ‘Ass. Sbb :P. Aq lom nah k kmps lg? mang km mo kul ap? ktm d sn j y. tq’.
Saya: bertanya dalam hati (apa maksud huruf-huruf ini?)

Maksudnya:
“Assalamualaikum. Sori baru bales. Aku belum pernah ke kampus lagi. Emang kamu mau kuliah apa. Ketemu di sana/sini saja ya. Terimakasih’. Karakter ‘Tq’, ‘nuwun’, atau ‘trims’ maupun ‘thanks’ adalah kalimat pemenggal pesan. Maksudnya, sebagian rekan mengetik karakter ‘tq’ yang berarti: cukup sekian (jangan sms lagi). Jangan coba-coba mengirimkan pesan pendek lagi. Karena jawabannya biasanya satu kata: ‘blm tau. tq’. Kawan model ini suka yang praktis-praktis saja. Tak suka model pesan curhat. Dan mendekati menyebalkan.

Seorang kawan gemas bila dikirimi pesan yang diakhiri dengan: ‘bls. gpl’. Saya tahu pesan apa yang perlu saya balas atau tidak, termasuk yang harus saya balas segera atau kapan-kapan, kawan saya itu menggeram kepada saya padahal bukan saya yang mengirim pesan itu. Dalam hati saya menyetujui kawan saya itu. Sepanjang pengalaman saya mengirim pesan pendek saya memang tak pernah mengakhiri pesan dengan karakter jenis itu. Seorang kawan pernah mengirimi saya pesan dan ia membutuhkan ‘balasan segera’. Ia menulis di akhir pesannya: ‘harap segera memberi respons’. Saya mengangguk-angguk, mengakui kualifikasi kesantunan kawan saya itu yang di atas rata-rata. Saya kira mengirim pesan pendek dengan santun menunjukkan berada pada kelas apa kita dapat digolongkan. Seorang rekan semasa kuliah dulu saat satu pesan dihargai Rp. 350 mengirim pesan yang ‘intimidatif’: ‘klo gak di bls berarti iya’. Saya masih memakluminya, saat itu perusahaan penyedia jasa telekomunikasi memang menetapkan tarif layanan yang benar-benar ‘menciderai rasa keadilan’.

Ada lagi rekan yang suka mengirim pesan pendek bertele-tele. Saya, misalnya sedapat mungkin mengirim pesan pendek secara ringkas, dan jelas. Misalnya mengajak jalan bersama saya akan mengirim sms: ‘Bro, bsk sabtu mlm pkl 19.30 nongkrong di alun2 gmn? Ktm di rmhmu’. Bandingkan dengan rekan yang suka basa-basi, tak praktis, dan bertele-tele:
Teman: ‘sbtu ke alun2 yuk.’
kawan: ‘sbtu kpn. sbtu ini apa sbtu dpn?’.
Teman: ‘ya sbtu ini. gmn?’.
Kawan: ‘ok. jam brp?’
Teman: ‘enaknya jam brp?’
Kawan: ‘jam 8 gmn?’
Teman: ‘8 pagi apa mlm?’
Kawan: ‘mlm. Ktm d mn?’
Teman: ‘d sn j’
Kawan: ‘sn itu sana ap sini?’
Teman: ‘sana’
Kawan: ‘alun2 sblh mn.’
Teman: ‘shelter dpn smp’.
Kawan: ‘ok. Ak d jmput y’.
Teman: ‘astaghfirullah, bocaaahh’.
(dalam hati sambil membanting foto sahabatnya itu saat dulu berlibur di Parang Tritis).

Menunggu. Kadang saya memanfaatkannya dengan membaca koran lama. Majalah bekas yang ada di sekitar itu. Meskipun lama, selalu ada informasi yang tak basi. Mengisi waktu. Kadang bila tahu pasti menunggu saya menyiapkan sebuah buku untuk dibaca. Bila sedang berminat, saya mengajak berbincang rekan di sebelah bangku. Bercerita apa saja. Menunggu waktu. Atau anda gemar bermain game? Silakan saja. Namun saya tak berminat karena tak menyukainya.

Saat ini sering saya berharap pada momen menunggu. Rekan-rekan saya di Solo, di Pekalongan, di Lampung, di Jogja, di Gorontalo, di Tegal, di Kebumen, di Tuban, di Jakarta, di Malang, di Magelang, di Purwokerto, di Semarang, di, di, kapan lagi akan saya kirim pesan pendek bila tak ada momentum ini?

Iklan

19 Tanggapan to “pesan pendek dan menunggu”

  1. yanu Says:

    hahahahahaha……ada satu dosen unpad yang aku kenal rada “nyleneh” bilang padaku : “soekarno mulai menjadi “besar” setelah di Bandung, Hatta jauh-jauh dari padang, “menyala” juga setelah menghirup Bandung, PKS (kalau tidak mau bilang ikhwanul muslimin) benih2nya juga dari Salman ITB, dst….intinya, parahyangan adalah kawah candradimuka yang khas setelah solo si “sumbu pendek”. hatta Gadjah Mada-Majapahit pun tidak mampu menundukkannya secara de jure…akhirnya, mentalitas masyarakat di bumi padjajaran yang kenyang agresi ini, melahirkan watak “lemah-mengalah” yang itu justru menjadi kekuatan besar diplomasinya (bisa ditilik di sejarah Otto Iskandar Dinata (Otista), Gatot Subroto, dsb dan bisa pula disaksikan dalam karakter keseharian masyarakatnya”

    @ menunggu…??? buku black swan mengajarkan bahwa matematika dasar dalam hidup kita adalah “munculnya kejutan-kejutan hidup esok hari” yang tak sepenuhnya dapat diprediksi hari ini. memang sepertinya menunggu adalah sunatullah dan jawaban atas hakekat sesuatu yang kita sebut “waktu”.

    🙂

  2. masmpep Says:

    @ yanu
    berbahagialah mereka yang tinggal di bandung. tapi yanu bukan di bandung kan? tapi saya selalu mendoakan selalu berbahagia, ha-ha-ha.

    menunggu. menunggu kejutan? menarik juga. saya lebih suka memanfaatkan menunggu dengan membuat kejutan-kejutan sendiri. kepada teman. melalui pesan pendek yang tak diduga-duga. dia terkejut? mudah-mudahan saja.

  3. RAH Says:

    menunggu, sebagaimana yang sya alami, menjadi semacam ketidakpastian atas sebuah keniscayaan. saya yakin itu akan terjadi, namun kita tdk bisa menyebutkan misalnya, besok, ahad, 1 Maret 2009 pkl. 13.23. kita hanya bisa menyebut Insya Allah maret.

    kenpa sya hanya bisa menyebut itu.

    di sinilah titik bertemunya konteks menunggu dengan sebuah kepastian. menunggu dan kepastian dipertemukan oleh do’a (karena sya beragama). dengan do’a kita merasa berada pada titik eksistensial tertinggi.

  4. firdausharis Says:

    jadi ingat Leo Tolstoy: “Tuhan tahu tapi dia Menunggu”.

    apalagi manusia yak?

  5. yanu Says:

    menurut filsafat asy’ariyah (versinya karen amstrong) yang dianut mayoritas sunni, di setiap kejadian sekecil apapun di sepanjang rentangan waktu ini “Tuhan itu selalu campur tangan”, jadi Tuhan sibuk banget Ris..hehehehe….mana yang bener ya ?? tapi aku lebih suka tuhan yang santai…hihihihi…

  6. life choice Says:

    wah, ide bagus mas.. 🙂

  7. masmpep Says:

    @ RAH
    menunggu-doa-keniscayaan. ramuan yang filosofis. agak berat. tapi saya setuju. menunggu keniscayaan dengan berdoa tentu lebih baik ketimbang menunggu keniscayaan dengan berbalas pesan pendek, he-he-he.

    ah, bung. kadang-kadang kita dibesarkan oleh momentum-momentum. membuat kita semakin matang, atau sebaliknya tambah rapuh. kalau sudah begini saya selalu bersyukur dengan lintasan, periode, dan jenis momentum yang menghampiri saya.

    tak ada yang berbahagia ketimbang hidup paripurna: telah menjajal segala jenis momentum. mampu melewati atau tidak saya kira bukan tanggungjawab kita lagi. pada momentum inilah doa memainkan perannya.

    gimana, buku sosiologi kehutananmu? ada yang menarik?

    @firdausharis
    tuhan tahu, tetapi mengapa harus menunggu. tidakkah tuhan menjadikan menunggu sebagai ujian? bagaimana bila makhluk tak sabar menunggu, dan mengabaikanNya karena tuhan ‘mempermainkannya’?

    @yanu
    ‘campur tangan tuhan’. hah. abot tenan ki. ra nyandak, ha-ha-ha.

    @life choice
    trims bu (?), atau pak (?). silakan berbalas pesan pendek. mari kita budayakan pesan pendek yang santun. setidaknya dimulai dengan menghindari karakter ‘bls’, he-he-he.

  8. om dessy... Says:

    menunggu……, emang sangat-sangat bagaimana kita melatih jiwa, pikir, hati, sebenarnya cuma masalah manajemen aja….., kagak lebih……

  9. muhamadmuiz Says:

    Kalo saya ngejak janjian nongkrong di alun-alun kaya di atas, kalimat sms saya seperti ini:
    “Malem Minggu, 19.00, Aku ke rumahmu. Kita nongkrong di alun-alun. Aku pengen nge-fresh-in pikiran. Ajak juga yang lain.”
    Saya cenderung mengurangi unsur mengajak yang mengandung tawaran antara “mau” atau “tidak”. kalo langsung tembak aja seperti itu kan enak… 🙂
    kalo nelpon pun juga. Misal, Aku pengen maen ke kosan temen, aku akan bilang:
    “Sejam lagi aku ke kosanmu.” dan langsung aku matikan. gak usah nunggu jawaban kesanggupan orang yang kita telpon.
    orang yang kita telpon dengan langsung kita matikan telpon seperti itu, mau gak mau pasti bakal bener-bener ngusahain. jadi gak terbengkalai gitu.
    aku lebih cenderung menyatakan sesuatu yang menegaskan.
    mungkin karakter yang aku gunakan agak nyrempet kaya gaya militer ya? kaya gaya komando gitu. tapi gak apa lah… hehe… 🙂

  10. muhamadmuiz Says:

    satu lagi. aku begitu menyesalkan dan sebel dengan gaya SMS yang suka make karakter huruf gede-kecil gede-kecil. makin bikin susah ngebacanya. seperti: “eH l9 dMn? kT mAeN yU… lW lG 9 sBuk kAn? mMpUn9 lG pD kMpL nEcH. mNuRuT lW sNdRi kT eNknYa kMn? bLs gPl”


  11. bisa jadi saya termasuk orang yang punya watak ndak sabaran kalau harus menunggu, masmpep, hehehe …. btw, salam kenal juga, mas, makasih kunjungan dan komentarnya. blognya oke!

  12. masmpep Says:

    @om dessy
    mamajeman menunggu=manajemen jiwa, pikir, hati. ramuan yang pas mas….

    @muhammadmuiz
    saya pun sedang belajar menulis sms yang santun, namun ringkas. kalau mengajak saya lebih suka menawarkan waktu, tempat, dan ‘mau ngapain’ dalam satu sms. namun saya menghargai pilihan waktu dan tempat dari lawan interaksi. saya hanya mengurangi kemungkinan sms yang bersahut-jawab tak perlu.

    tapi kalo ada sms: ‘aku maen ke kosmu sejam lagi’ dan kemudian hp mati, bila ada keperluan saya akan segera menutup gorden rapat-rapat dan pura-pura tak dengar bila pintu diketuk agar sang tamu ‘tahu diri’, ha-ha-ha 🙂

    untuk sms terakhir saya pun kesulitan membacanya. maklum, karakter-karakter terterntu sangat ‘berbau kampus dan mahsiswa’. interpretasi saya atas sms: “eH l9 dMn? kT mAeN yU… lW lG 9 sBuk kAn? mMpUn9 lG pD kMpL nEcH. mNuRuT lW sNdRi kT eNknYa kMn? bLs gPl” bisa berarti:

    ‘eh, lagi di mana? kita maen yuk… lo lagi gak sibuk kan? mumpung lagi pada kumpul nih. menurut lo sendiri kita enaknya kemana. balas gak pake lama’. ah. uhuiii. akhirnya bisa memecahkan sms ini setelah saya baca tiga kali, ha-ha-ha.

    @sawali tuhusetya
    nah itu pak. seperti kata om dessy: manajemen hati. biar sabar menunggu, ya maen sms-an aja pak. tapi sms yang santun.

    mari kampanyekan sms santun, he-he-he.

  13. yanu Says:

    thanks berat buat pertanyaan kritisnya.

    1. kritis tidak selalu = kreatif, tapi kreatifitas adalah buah dari gagasan yang kritis. ya, tentu saja tidak ada harga mutlak untuk premis itu.

    2. ya menjadi kritis tidak harus meragukan sesuatu, itu hanya rumus dari Descartes saja, filsuf lain juga punya caranya sendiri, seperti derida dengan metode “dekonstruksi”, atau Giddens dengan “reflective monitoring” dsb.

    3. rasionalitas manusia akan menuntun pada apa yang disebut sebagai “perhitungan” atau dalam bahasa teori yang lebih kongkrit adalah “pertukaran” (exchange). akan banyak faktor yang menjembatani dari pikiran menjadi sebuah tindakan. sebab, kadang kreativitas bisa mengundang resiko atau tidak menguntungkan bagi seseorang, jadi, kritis bisa berhenti pada otak dan mulut saja, tidak sampai pada tindakan, jika saja dihitung merugikan.

    4. sebab sebenarnya dalam kehidupan ini semua jawaban adalah bersifat “sementara”. kalopun ada yang merasa menemukan “jawaban akhir” atas sesuatu hal, saya yakin akan ada orang lain yang memberikan/memperbaiki jawaban itu. jadi, konklusi bukan akhir dari suatu proses berpikir kritis.

  14. semuayanggurih Says:

    menunggu… saya lebih suka membunuh waktu dengan membaca. bacaan apa? tergantung mood. bila ada buku bagus yang belum selesai saya baca, pasti jadi teman. tapi bila mood sedang jelek, maka bacaan yang pas adalah yang ringan dan membuat hati ceria, seperti komik.
    anyway, menunggu-yang-paling-enak-disambi-baca-buku adalah menunggu pup rampung. daripada waktu terbuang percuma untuk nongkrong dan gak ada kerjaan, daripada waktunya buat ngerokok (alhamdulillah saya gak ngerokok), mendingan buat baca buku. lumayan lama (dan sering dipisuhi orang rumah) gpp, yang penting bisa baca buku dengan tenang. yup, waktu pup ada waktu dimana saya menjadi orang yang otonom secara penuh, berkuasa atas diri saya seutuhnya. dan waktu itu pantas diganjar dengan membaca.

  15. masmpep Says:

    @yanu
    manusia berhenti bersikap dan berpikir kritis sesaat sebelum sakratul maut. saat itu–seperti yang dikatakan ahmad wahib–adalah titik ketika kita telah menjadi ‘aku’.

    @semuayanggurih
    saya masih heran dengan kebiasaan satu ini. banyak orang yang melakukannya dengan merokok, atau membaca. saya? bagaimana bisa. proses itu butuh konsentrasi bung, tak bisa disambi, he-he-he.

  16. dwiki Says:

    Bung Febri. menunggu kelahiran anak dan menunggu malam pertama sama-sama mendebarkan. sama-sama panas dingin. kalau kelahiran anak: mendebarkannya dari jantung ke atas; sedang menunggu malam pertama: debarannya dari jantung ke bawah. wekekeke. maaf komennya dari hp SonyEricsson K750i, tulisannya kecil-kecil.

  17. RAH Says:

    bisa gak ya dikaitkan antara menunggu dengan waktu senggang (leisure time), suatu konsep yang sangat akrab digeluti olh sosiologi sehingga muncullah konsep sociology of leisure time yang saya lupa penggagasnya. jika hal itu memang berkaitan, saya bisa mengatakan bahwa menunggu sekarang telah beralih atau dapat dialihkan menjadi sebuah kesenangan (pleasure). bahkan dari apa yang disebut menunggu sekarang telah menjadi lahan bisnis.
    adanya mall, pusat perbelanjaan, fasilitas hiburan lain adalah sebuah proyek bisnis dalam rangka memenuhi leisure time ini yang barangkali ‘menunggu’ menjadi alasannya.

    gimana the sociologiost?
    —————————————
    buku sosiologi kehutanan tersebut banyak berakar dari konsep sosiologi kritis,suatu wacana yang sudah lazim di kalangan scientist sosiologi dan imu sosial lain.yang menarik, buku ini ditulis oleh San Afri Awang, seorang sarjana kehutanan, bukan seorang sosiolog, meskipun diterbitkan (dan diberi pengantar) oleh penerbitan milik Heru Nugroho.

    tapi hal ini kemudian menjadi biasa jika kita berpikir bahwa paradigma kritis ternyata telah merambah semua disiplin akademis. tidak seperti yang awalnya saya pahami bahwa sosiologi kritis merupakan hak prerogatif sarjana sosiologi untuk memperbincangkannya. ya, sebuah arogansi intelektual saya kira.

    jangankan disiplin kehutanan yang tentu di lapangan banyak menemukan konflik-konflik kehutanan, disiplin akuntansi saja yang katakanlah dibesarkan oleh kapitalisme Amrik, paradigma kritis juga sudah masuk.saya pernah melihat buku karangan dosen akutansi Unibraw Malang yang menggunakan paradigma kritis.

  18. masmpep Says:

    @dwiki
    menunggu dan mendebarkan memang sesuatu yang paralel. itu bila kita menunggu dengan menunggu mas. coba menunggu dengan mengirim pesan pendek. deg-deg plas rasanya, he-he-he.

    @RAH
    leisure time telah menjadi unit analisis sosiologi dalam mengidentifikasi kelas sosial mas. kelas sosial dapat dibaca dari bagaimana seseorang menggunakan waktu luangnya: mengojek, ngerumpi, main golf, atau internetan. sosiologi waktu luang juga dapat mengukur tingkat pengangguran: pengangguran terbuka, setengah menganggur, mencari pekerjaan, atau orang yang bekerja tapi suka menganggur…

    paradigma kritis sosiologi kehutanan. menarik itu. secara saya pernah kira2 dua minggu di sebuah lsm yang concern dengan isu lingkungan. beberapa hari yang mendampingi community organizer naik gunung betung di lampung. mereka mendampingi masyarakat ‘perambah hutan’ dengan konsep ‘hutan kemasyarakatan’ vs ‘bulan bhakti gotong royong’ yang diintroduksi dephut.

    mudah2an hutan, dan penghuninya tak dijadikan komoditas intelektual. ya kan bung.

  19. daPHIInci Says:

    saya setuju sm masmpep, menunggu itu ngga keraasa kalo ada yang kita kerjakan.. makanya kaloo udah tau bakal janjian sama orang yang punya kebiasaan ngaret..kita bawa buku yg bisa dibaca, bawa novel, koran, ataupun buku pelajaran,, yang penting bisa jadi teman menunggu.
    hhe..

    btw, saya link yaa blognya mas mpep,, makasii udah sering mampir di gubuk maya saya yang ga kelas itu,, hehehe 🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: