tour de java (2)

f 14, 2009

jembatan-merah-surabayathe-red-bridge-09Kali ini saya berkesempatan mengitari separo wilayah Jawa Timur bagian utara. Satu waktu di awal tahun 2003 bersama sejumlah teman, saya untuk pertama kali mencoba trek Solo-Pati via Blora. Perjalanan saya lanjutkan ke Tuban melintasi Juwana dan Rembang. Kemudian bertolak ke Surabaya. Menghabiskan dua malam di bilangan Jembatan Merah dan kembali ke Solo. Banyak hal yang menarik dan perlu saya catatkan untuk anda.

Berbekal pengalaman tour de java (1), saya mencoba menyusun rencana perjalanan yang lebih matang kali ini. Perjalanan pertama saya mulai dari Solo menuju Pati, untuk berlebaran haji di rumah seorang sahabat. Kami, saya, S a.k.a D, EJS, HGRS, HWP, dan SP bertolak dari kos saat petang, menjelang takbiran. Menumpang bus, kami menyusuri jalur Solo-Blora-Pati. Pemandangan menyuguhkan lansekap perkebunan jati yang sambung menyambung. Maklum saja, Blora dan Grobogan dikenal sebagai daerah penghasil jati yang legendaris di Jawa. Saya membayangkan, mungkin di semak-semak rimbunan jati ini Pramoedya Ananta Toer dulu menghabiskan masa kecilnya bermain perang-perangan.

Saat langit mulai gelap kami tiba di Pati. Kota kecil. Sangat kecil, mengingat Pati adalah bekas ibukota Karesidenan Pati. Dari HWP, tuan rumah yang menjamu kami, Pati terhitung kota pensiunan. Dengan dinamisasi kota yang berjalan lamban. Cenderung stagnan. Namun bukan berarti Pati tak menarik. Pati cukup ideal saya kira, sebagai kota yang nyaman ditinggali bersama istri dan tiga anak di rumah mungil. Ah, asal ada sinyal hp, listrik menyala sepanjang hari, Kompas bisa dibaca tiap pagi, dan ada akses internet saya kira saya akan senang hati menjadi warganya. Apalagi Pati memiliki makanan khas: nasi gandul.

Mencicipi nasi gandul membuat saya semakin betah di kota tenang ini. Nasi ditaruh di piring berlapis daun pisang kluthuk (pisang biji) kemudian diguyur kuah kental kuning kecoklatan bersantan dari kendil (kuali tanah) yang dihangatkan dengan api kecil di atas bara. Dalam kuah turut dimasak jeroan sapi yang dipotong kecil-kecil. Bila masih kurang, penjual menyediakan aneka lauk seperti daging, hati, limpa, usus, ata kikil sapi yang akan segera digunting ke dalam piring bila kita minta.

Meski bersantan nasi gandul bercitarasa ‘lembut’, tidak membuat perut merasa penuh, atau tak nyaman. Nasi gandul memang trade mark Pati, yang berakar dari bilangan Gajahmati. Disebut nasi gandul karena awalnya dijajakan keliling kampung dengan cara dipikul. Sehingga dari jauh pikulan terlihat ‘gandul-gandul’. Ada juga yang percaya pada tesis disebut ‘gandul’ karena nasi disajikan di atas daun pisang, bukan di atas piring sehingga ‘menggantung’ atau ‘nggandul’. Dari dua tesis ini, tesis kedua saya kira cenderung mengada-ada. Menggantung di atas daun pisang? Bukankah ditaruh di atas daun pisang? Sebenarnya tesis pertama pun tak kurang mengada-ada. Bila nasi gandul diberi nama karena dulu dijual dengan cara dipikul, mengapa dawet ayu, tahu gejrot, sate atau baksa yang juga dipikul tak disebut ‘dawet gandul’, ‘tahu gandul’, ‘sate gandul’ dan ‘bakso gandul’. Dari semua tesis itu saya lebih percaya pada tesis bahwa Orang Pati menyukai kata ‘gandul’. Titik.

Selama di Pati saya sempatkan berkeliling kota. Meluncur menuju Pantai Kartini di Rembang. Mencoba adrenalin di atas perahu motor kecil ke gugusan karang yang disebut warga setempat sebagai Pulau Putri. Saya cenderung tak menyukai pantai yang panas, dan membuat gerah. Namun jajaran rumah nelayan di sisi pantai menjadi hiburan tersendiri. Rumah yang berdempetan tak rapi, namun saling berebutan memancarkan antena televisi ke langit. Dari kejauhan, antena-antena televisi itu membentuk mozaik, serupa pegupon (sangkar burung) yang dipancang di tiang bambu.

Dari Pati saya melanjutkan perjalanan seorang diri, silaturahmi ke rumah Budhe di Tuban. Saya tak menyia-nyiakan kesempatan melintasi jalur pantura ini, karena kesempatan untuk mengulanginya terhitung langka. Pantura, meski berada pada satu garis pantai yang sama ternyata memiliki karakteristik yang berbeda. Pantura barat sejak Merak hingga Cirebon dipenuhi rumah makan di kiri dan kanan jalan. Maklum, daerah ini merupakan tempat transit bus malam antarprovinsi dan antarpulau.

Pantura sejak Brebes hingga Semarang lain lagi. Di sini tak banyak rumah makan dan jalur Pantura tak berbatasan langsung dengan laut. Melewati jalur ini bahkan kita seperti tak sedang melintasi ‘jalur di sisi pantai’. Di wilayah Batang kita malah menembus hutan jati yang panjang. Nah, Pantura sejak Semarang hingga Surabaya benar-benar otentik dengan karakteristik pesisirannya. Di sisi jalan persis pada sejumlah titik kita bersebelahan dengan laut. Lengkap dengan kehidupan pesisirnya: perahu-perahu yang ditambat saat siang, amis wangi pantai dan ikan asin, rumah-rumah nelayan yang bersahaja, dan, ini yang menarik: kehidupan religius yang dapat dipotret bahkan dari bus secara sambil lalu.

Dari literatur yang ada memang disebutkan kedatangan Islam di tatar Jawa berangkat dari pesisir. Tradisi maritim membuat wajah Islam menjadi egaliter dan terbuka di wilayah pesisir. Mereka tak segan mengenakan simbol-simbol agama yang telah menjadi budaya dalam kesehariannya. Kopiah dan sarung hampir selalu melekat di badan nelayan-nelayan ini. Kerasnya ombak dan dinginnya laut tak membuat mereka abai terhadap kewajiban-kewajiban agama. Meski masyarakat pantai distereotipkan ‘keras’, atau ‘apa adanya’, namun ketika bertemu mereka berkopiah dan bersarung tak ada gambaran lain yang lebih tepat kecuali: bersahabat sekaligus bersahaja. Bersahaja adalah kalimat halus dari kemiskinan yang merantai mimpi mereka. Rasanya tak adil, mereka bergelut menaklukkan laut dengan biaya operasional yang tinggi, risiko yang keras, namun memperoleh hasil yang tak sepadan. Peralatan yang semakin tertinggal, lingkungan yang mulai ngambek terhadap pencemaran, siklus utang-ijon-makelar-juragan kapal bertumpuk-tumpuk membuat kesahajaan mereka menemukan momentumnya. Hanya pada keagungan penciptaNya mereka berserah dan mensyukuri hidup. Begitu kira-kira saya ‘melebih-lebihkan’ potret masyarakat maritim Jawa Timur sebelah utara.

Hampir seluruh Jawa Timur memang di kenal sebagai kota santri. Semenjak wilayah pantai utara berpusat di Tuban. Kemudian wilayah selatan dengan poros Jombang. Kawasan tapal kuda Mojokerto hingga Gresik dan Surabaya tak usah disebut lagi. Tradisi ini berkembang hingga timur di Banyuwangi dan Jember. Daerah satelit Jawa Timur, yakni Madura juga dikenal sebagai pulau santri. Di rumah Budhe, suasana kota santri jelas terasa, apalagi mertua Budhe memiliki masjid dan pesantren kecil. Jadilah saya seorang ‘Gus Tituler’ dua hari, dihormati berlebihan oleh santri-santrinya. Menjadi tamu keluarga kiai ternyata menyenangkan juga. Saya membatin, pantas saja banyak orang ingin ‘merebut’ kekuasaan dalam mimpinya. Dihormati secara berlebihan oleh orang cukup membuat saya besar kepala.

Tuban kota yang terhitung ramai. Berada tak jauh dari Laut Jawa, kota ini sudah berusia hampir delapan abad. Sejarah Tuban telah dimulai sejak zaman Wali Songo, terutama Sunan Bonang yang bermukim dan kemudian wafat di Tuban. Sebelumnya Tuban dikenal sebagai daerah kekuasaan Ronggolawe, panglima perang Raden Wijaya pendiri Majapahit yang belakangan memberontak karena tak puas soal bagi-bagi kekuasaan. Bila berkesempatan ke Tuban, coba mencicipi Legen. Legen adalah nira dari pohon Siwalan. Siwalan hampir menyerupai kelapa. Daging buahnya dapat dimakan, lebih lembut dari kelapa muda. Legen bila direbus hingga mengental akan menjadi gula Jawa. Sebaliknya bila difermentasi akan menjadi ciu; arak Jawa.

Kemudian: Surabaya…. dari Tuban saya melintasi Lamongan dan mencicipi Wingko Babat. Saat kecil dulu saya mengira Wingko Babat makanan sejenis Soto, sejenis Soto Babat. Saya baru tahu kemudian bila Wingko adalah sejenis penganan terbuat dari kelapa, tepung ketan dan gula. Sedang Babat adalah nama desa di Lamongan. Jadi Wingko Babat berarti Wingko dari Desa Babat. Sama sekali tak berhubungan dengan babat sapi.

Sudah lama saya ingin menjejakkan kaki di Surabaya. Kesempatan itu baru tiba. Di kota ini saya tak punya kenalan apalagi saudara. Pengalaman bertualang di Bandung membuat saya meniatkan diri akan bermalam di losmen (murahan). Saya sering mendengar perihal kota ini. Namun sesampai di Terminal Bungurasih saya bingung juga. Biasanya orientasi saya alun-alun. Namun saya tertarik dengan bus yang menuliskan Jembatan Merah di kaca depannya. Jembatan Merah merupakan jembatan legendaris di Surabaya. Di sekitar tempat itu Brigjen Mallaby panglima tentara sekutu tewas dalam insiden yang memicu Pertempuran 10 November 1945 yang kita kenang sebagai Hari Pahlawan. Coba-coba, sedikit iseng, mendekati konyol saya melompat ke dalam bus.

Jambatan Merah ternyata seruas jembatan kecil saja. Bercat merah, terhitung berada di pusat kota. saya kemudian menyewa becak, sesaat setelah tiba. Minta diantarkan ke losmen paling murah. Becak di Surabaya berbentuk ramping, dan biasanya tanpa terpal penutup. Becak melaju kencang, seperti temperamen orang Surabaya. Saya diantar ke sebuah losmen yang benar-benar murah: Rp. 10 ribu semalam. Ongkos becaknya malah lebih mahal, Rp. 3 ribu. Saya menginap di belakang Jembatan Merah, dan tak jauh dari…. Masjid Sunan Ampel. Saya tersenyum-senyum sendiri.

Tak salah saya kira bila saya menjadikan Jembatan Merah sebagai ‘pangkalan pendaratan’. Kawasan ini cukup strategis, dekat dengan Pusat Jajanan Malam Kya-Kya yang menutup jalan malam hari. Kya-Kya merupakan pusat jajan dengan mengambil lokasi menutup Jalan Kembang Jepun saat malam hari. Sambil menikmati bintang di langit, meja-meja di susun di badan jalan. Di beberapa titik ada konsultasi dan ramalan garis tangan atau menggunakan kartu. Kya-Kya juga disebut-sebut dalam novel Remy Sylado dalam novelnya yang berjudul sama: Kembang Jepun.

Masih kebetulan, di belakang penginapan saya terdapat kompleks Masjid Sunan Ampel dan pemukiman Arab. Jembatan Merah benar-benar menarik. Di muka kita mendapati kawasan Pecinan (Kembang Jepun), di belakangnya kita sudah sampai di Kampung Arab. Di belakang Kampung Arab kita tiba-tiba telah berada di Kampung Jawa, tempat orang Jawa hidup ‘bersama sunannya’.

Selain itu masih dengan berjalan kaki kita dapat menyaksikan bangunan kantor redaksi Jawa Pos, dan Kantor Pos dan Giro, Kantor Asuransi Jiwasraya dan sejumlah gedung tua dengan dekorasi klasik, bergaya art deco. Maklum saja, Jembatan Merah yang melintang di atas Kali Mas ini merupakan pusat kota Surabaya pada masa pemerintahan swasta VOC, jauh sebelum kolonial Belanda berkuasa. Sebagian gedung ini didirikan menghadap sungai, mengikuti pola tata kota kolonial di mana sungai menjadi ‘jalan protokol’ kota.

Meski Surabaya kota yang panas, dan kian semrawut namun saya beruntung sempat singgah di Jembatan Merah. Berjalan kaki pelan-pelan di kota tua Surabaya ini. Mengenang Gesang yang mengabadikan dalam langgamnya: Jembatan Merah sungguh gagah. Berpagar gedung indah. Setiap hari yang melintasi. Silih berganti….

Gambar diunduh dari:  merahdarahku.blogspot.com

Iklan

9 Tanggapan to “tour de java (2)”

  1. haris Says:

    perjalanan jauh yang menyenangkan, mas. btw, keluarga idamanmu itu dengan tiga anak ya? plus kompas, listrik, sinyal hp, dan internet?hi3.

  2. yanu Says:

    pengalaman biasa pun selalu bisa menjadi romantis ketika direkonstruksi ulang (menginterpretasi teori “alternasi” Peter L. Berger dalam Sosiologi humanis)

    🙂

  3. masmpep Says:

    @ haris
    he-he-he. tau aja. ternyata bisa menghayati idea ‘keluarga idaman’ saya ya. sederhana aja kan?

    @yanu
    wah, aku wis lali karo teori-teori. opo meneh peter berger. tapi kalau ‘melebih-lebihkan’, atau ‘membesar-besarkan’ sesuatu aku masih ingat. dan selalu kulakukan dalam menulis, he-he-he.

  4. mulyo Says:

    he.he..he… menarik juga jalan-jalan keliling muter-muter pulo jawa, kapan-kapan ajak donk. Karena saya dari kecil gak pernah kemana-mana kecuali tour d’ tegal, saat membacanya terasa saya sedang jelajah mengitari indahnya jawa, namun sayang karena saya gak pernah tau kota-kota di jawa saya gak melihat seperti apa sih wajah pulau jawa, lo bisa masmpep menampilkan “Visualisasi” wajah kota yang disinggahi dengan foto-foto yang menarik, sehingga pas kita baca oh.. seperti itu toh … kotanya… makanan khasnya… trus… landmarknya….eh matur nuwun sudah baca komen saya, saya tunggu tour-tour berikutnya……daaahh…

  5. masmpep Says:

    @mulyo
    visualisasi? tulisan ini mengajak anda memiliki imajinasi mas mulyo. lebih enak membayangkan dari kata-kata, ketimbang melihat fotonya. kata-kata kadang mampu membuat sesuatu yang nyata terlihat lebih indah dari aslinya kan, he-he-he.

    alasan utama: tak punya kamera. dan telepon seluler yang saya punya fiturnya cuma untuk sms dan telepon saja, ha-ha-ha.

  6. jogjakini Says:

    Sama sama bro,
    Trims comentnya di jogjakini.wordpress.com
    Sukses

  7. ajie Says:

    Udah jalan-jalan di Simpang Lima Pati di sore hari , Mas? Menarik dan mengesankan lho. Di sana setiap sore hari hingga malam selalu dipenuhi oleh pedagang kaki lima, pedagang lesehan maupun berbagai mainan anak-anak. Ramai dan semarak.

  8. masmpep Says:

    @jogja kini
    sama-sama mas.

    @ajie
    simpang lima semarang pernah. simpang lima pati, yang mana ya. rasanya saya tak menemukannya. bahkan ‘pusat kota pati’ saya tak tahu persisnya di mana. kepadatan pati merata saja. hampir seperti tak ada simpul keramaian.

    namun saya percaya, senja yang cerah. kemerahan oleh pendar mentari di barat. adalah momen paling menggetarkan…

  9. ajie Says:

    Simpang Lima Pati adalah nama lain untuk kawasan Alun-alun Kota Pati, Mas. Kapan-kapan main lagi ke Pati dech, entar bisa bermalam di rumahku kalau tidak keberatan.
    Nanti aku ajak jalan-jalan menyusuri Kota Pati di malam hari. Pasti dech suasananya lebih indah dan berkesan. Apalagi saat Malam Minggu ramainya bukan main kawasan ini. Soalnya kawasan Simpang Lima Pati dipenuhi oleh ratusan pedagang dan pengunjung dari berbagai kota di sekitar Kota Pati.
    Di samping Simpang Lima Pati, tempat lain yang biasa digunakan mangkal anak-anak muda Kota Pati adalah kawasan Stadion Joyokusumo Pati.
    Disini banyak terdapat pedagang makanan lesehan, warnet, cafe dan karaoke khas Kota Pati. Dijamin dech Night Life Kota Pati tak kalah mengasyikkannya dibanding kota-kota besar yang lain.
    Salam hangat!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: