nasi kucing

f 3, 2009

nasi-kucingMakan adalah soal cara. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya nasi bakar. Bila ia dibungkus daun jati, Orang Cirebon menyebutnya nasi jamblang. Dibungkus selagi hangat dengan daun pisang muda lain lagi namanya: nasi timbel. Dibungkus sejumput-kecil di Bali disebut nasi jinggo. Di Tegal orang bilang nasi ponggol. Lain lagi Wong Solo dan Wong Jogja, inilah yang populer sebagai nasi kucing.

Nasi kucing bisa kita dibeli di sepanjang jalan di Solo dan Jogja. Di sudut-sudut gang, setiap ada keramaian tak pelak lagi, mereka pasti sedang lek-lekan, keplek ilat menyantap nasi kucing—hati-hati, karena sebagian lagi tak menyantap nasi kucing tapi Ciu Bekonang. Di Solo nasi kucing dijual di hik, sedang bila di Jogja dijajakan di gerobak angkringan. Bentuknya sama: nasi sekepal dibungkus daun pisang dengan lauk sambal bandeng atau oseng tempe. Dijual dalam gerobak yang mangkal di tempat-tempat strategis. Selain gerobak penjual menyediakan satu kursi panjang di depannya.

Kita dapat makan secara swalayan. Di sudut kanan gerobak ada perapian, untuk menjerang tiga teko. Satu berisi air putih, satu berisi wedang jahe, satu lagi berisi teh kental—karena itu sebagian orang menyebut ‘gerobak tiga teko’. Di sebelah perapian dihamparkan macam-macam lauk dan jajanan: tempe dan tahu goreng, tempe dan tahu bacem, macam-macam sate semenjak sate usus, sate telur puyuh bacem, sate keong, sate kulit, sate (tempe) gembus, dan sate gajih sandung lamur. Masih ada jajanan: lentho, timus, combro—tanpa oncom, dan peyek. Kemudian paling kiri ditata nasi kucing bertumpuk rapi. Anda perlu sedikit jeli, karena ada sejumlah pedagang hik yang menyediakan didih—darah yang dibekukan dan digoreng. Tak perlu khawatir, di Solo toleransi ummat cukup tinggi—di samping pengonsumsi didih memang cukup banyak. Meski di jalan-jalan di jual rica-rica dan sate jamu—sate babi, tak pernah ada masalah. Anda cukup mengetahui mana yang boleh dimakan. Penjual tak memaksa dan tak bermaksud menjebak.

Tak perlu khawatir kursi bangku tak dapat memuat pengunjung. Karena pedagang nasi kucing telah menyediakan berlembar-lembar tikar di sebelah gerobak. Bila angkringan mangkal di mulut gang, maka anda dapat makan di pinggir jalan. Benar-benar di pinggir jalan, sehingga pejalan kaki hanya berjarak satu-dua meter dari nasi kucing yang sedang anda buka. Sebagian pembeli bahkan tak suka duduk di kursi angkringan. Mereka lebih suka duduk di tikar. Menghabiskan malam dengan bercengkerama dengan kawan-kawan. Makanya, makan nasi kucing kurang dari tiga peserta tak afdol. Bersama lima orang dianjurkan.

Lalu, mengapa nasi kucing, hik, dan angkringan? Ini ada ceritanya. Disebut nasi kucing karena porsi dan lauknya persis seperti kita akan memberi makan kucing di rumah. Lalu hik. Suku kata yang unik karena tak ada dalam kamus bahasa jawa, dan hebatnya lagi, tak ada artinya yang pasti. Sebagian mengartikan hik sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Saya katakan pada anda: jangan percaya pada tesis ini. Makna hik paling kuat yang saya dapat bersumber dari sejarah panjang tradisi kuliner ini. Idiom hik bersumber dari lagu rakyat yang dinyanyikan pada malem selikuran, tanggal 21 bulan puasa pada zaman Susuhunan Paku Buwono X: ting-ting hik, jadah, jenang, wajik, ojo lali tinge kobong (lampu-lampu minyak hik, jadah, jenang, wajik (nama-nama jajanan pasar—mpep), jangan lupa lampunya terbakar—mpep). Lagu ini memiliki makna religius yang dalam, penuh perlambang. Ting adalah lambang dari riwayat Kanjeng Nabi Muhammad SAW setelah turun dari Jabal Nur di malam Lailatul Qadar. Nabi disambut gembira oleh sahabat dengan menyalakan obor di mana-mana. Jadah, jenang, wajik merupakan jajanan pasar yang enak melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Sedang ojo lali tinge kobong memiliki makna mengingatkan akan bahaya kebakaran. Hik sendiri tidak memiliki makna religius apa-apa. Ia menjadi identitas penjual warung angkringan yang semula menjajakan makanannya dengan berkeliling kampung mendorong gerobak memikul tenong (trims Mas Santo koreksinya–mpep) sambil berteriak hiiiikk…hiiikk….

Dalam perkembangannya pedagang hik tidak lagi menjajakan dagangannya tetapi menetap di suatu tempat-tempat yang biasanya strategis dan ramai. Penjual nasi kucing yang dianggap pionir dalam sejumlah literatur sebagai penjual nasi kucing yang mangkal adalah Pak Man. Pak Man biasa mangkal di dekat Stasiun Tugu Jogja. Hingga kini angkringan Pak Man—yang diganti anaknya Lik Man—masih ramai dikunjungi orang. Menu istimewanya kopi jos. Kopi kental manis yang diberi arang membara. Joss… Menurut penelitian mahasiswa UGM yang terinspirasi karena menjadi pelanggan setia Lik Man, arang ternyata berfungsi menyerap kafein dari kopi. Sehingga kopi jos direkomendasikan baik untuk kesehatan.

Lalu di Jogja disebut angkringan karena demikian egaliternya warung rakyat ini pengunjung dapat meng-angkring-kan kakinya (mengangkat kakinya sambil duduk di kursi). Ukuran kesopanan di warung angkringan adalah tenggang rasa dan tepa selira dengan sesama pengunjung lainnya. Istilah angkringan lebih banyak digunakan di daerah Jogja. Sedang hik digunakan di daerah Solo meskipun bentuk, dan karakteristiknya sama persis.

Pada awalnya nasi kucing hanya dijual di wilayah Solo dan Jogja. Karena cukup bersahabat dengan kocek mahasiswa, nasi kucing merambah hingga ke Salatiga dan Semarang yang tak punya tradisi hik dan angkringan. Nasi kucing juga dapat anda temukan di Purwokerto. Nasi kucing memang makanan anak kos. Di masa-masa krismon saat Reformasi 1998, banyak mahasiswa yang disambung hidupnya dari dua pincuk nasi kucing. Namun nasi kucing tak identik mahasiswa. Kini nasi kucing telah menyebar di seantero Jawa Tengah. Semenjak Solo ke timur hingga Ngawi, dan Magetan. Dari Jogja ke barat melintasi Purworejo, Kebumen, Purbalingga, hingga Tegal.

Di Solo ada beberapa angkringan yang populer. Misalnya Pak Kumis di Bilangan Manahan dengan segmentasi anak gaul dan eksekutif muda. Mau yang agak ‘berat’, mampirlah di angkringan sebelah timur Monumen Pers. Di sana banyak ngumpul aktivis muda, semenjak aktivis pers, LSM, pergerakan, atau mahasiswa yang sok-sokan pengin jadi aktivis tapi belum kesampaian. Di seputar kampus anda bisa menyambangi boulevard belakang UNS persis di gerbangnya atau gerbang ‘Perahu Nabi Nuh’ ISI. Tempat lain yang ramai adalah angkringan Solagratia di Jalan Petir. Kalau saya merekomendasikan langganan saya: angkringan Yono dan Tono (Bersaudara) di depan kampus UNS bersebelahan dengan Studio Foto Modern. Angkringan Yono dan Tono (Bersaudara) ini tidak legendaris. Namun deskripsi saya soal kelengkapan jamuan angkringan dapat anda temui di angkringan ini, meski belum tentu anda temui di angkringan lain.

Nah, kapan anda ke Solo dan mencicipi nasi kucing? Bila anda telah mencobanya, jangan ragu untuk menuliskan testimoni anda di sini.

Iklan

19 Tanggapan to “nasi kucing”

  1. semuayanggurih Says:

    angkringan (dan hik) pada dasarnya sesuatu yang berbeda dengan nasi ponggol. bila angkringan dijual pada malam hari, ponggol justru dijual pada pagi hari sebagai sarapan pagi. baru beberapa saat terakhir ini saja ponggol dijual pada malam hari, sebagai cara mendapatkan penghasilan tambahan dari orang-orang yang nongkrong menghabiskan waktu. dan karena tegal relatif sudah dikuasai oleh penjual ponggol, maka model angkringan jarang dijumpai (saya sendiri belum pernah melihat angkringan model jogja di tegal).
    dari segi jenis makanan, ada perbedaan mendasar. bila angkringan menjual nasi kucing (yang lauknya seperti makanan kucing, bahkan sekarang sudah ada diversifikasi lauk), tetapi ponggol tetap mempunyai satu lauk khas yang tidak boleh tertinggal: sambel goreng tempe. bila ada pilihan lauk lain akan lebih bagus, tetapi sambel goreng tempe adalah prasyarat minimal suatu nasi bungkus disebut sebagai ponggol.
    saya sendiri waktu sekolah di semarang jarang makan di angkringan. bukan apa-apa sih, hanya masalah kantong saja. percaya atau tidak, makan di angkringan menghabiskan duit yang lebih daripada makan di warung biasa. bila nasi sebungkus dihargai seribu (dan pasti menghabiskan 2 bungkus; 3 bahkan jika kelaparan), es teh manis seharga seribu juga, dan gorengan dihargai 350rp (biasanya comot 3 buah), maka sekali makan menghabiskan 4rb perak. dengan uang segitu, saya bisa dapat nasi telur dan es teh manis di warung biasa. angkringan hanya saya tuju saat terpaksa saja, misalnya waktu lembur dan perut keroncongan jam 1 malam.

  2. masmpep Says:

    @ semuayanggurih
    trims mas infonya. saya mengenal ponggol setelah ia massif dijual malam hari. ternyata tradisi ponggol dimulai sejak pagi hari.

    angkringan model jogja di tegal? coba di depan DPRD, di depan RSUD Kardinah, atau di dekat Marina. paling tidak itu yang telah terdeteksi oleh saya. kabarnya masih ada 3 lokasi lagi. namun saya belum ketemu.

    angkringan mahal? sepakat. untuk perhitungan mahasiswa, angkringan memang (jatuhnya) lebih mahal dari warung biasa. namun untuk ukuran orang yang sudah bekerja, angkringan sedikit lebih murah. o, ya, saya langganan angkringan saat mahasiswa karena entah mengapa sebagian warung di bilangan kos-kosan sudah tutup bila malam, atau menu yang disajikan sisa siang tadi. makan malam paling umum kala itu yang ‘enak-enak’ seperti nasi goreng, cap cay, pecel lele atau sate madura. dibanding menu-menu ini, angkringan lebih murah.

    menu saya: nasi dua, gorengan dua, sate gajih sandung lamur satu. agar hemat minumnya air putih (saya jarang minum es teh. bila benar-benar gerah, saya lebih suka memesan air es, he-he-he). bila lapar, nasi tiga bungkus, namun tak pakai sate gajih sandung lamur….

  3. semuayanggurih Says:

    oya, terminologi ponggol setan baru muncul setelah ponggol mulai dijual malam. karena dijual malam, akhirnya dinamani ponggol setan (karena menurut orang jawa, setan keluar pas malam kan, bukan waktu pagi hari). alasan kedua dinamai ponggol setan, karena sambel goreng tempenya pedes banget; pedese kaya setan, kalau orang bilang. alasan ketiga, untuk pembeda saja dari warung lain, yang ujung-ujungnya menarik pembeli untuk datang biar dagangannya laku. that’s the story behind ponggol setan.
    finally, the secret of ponggol setan is revealed, hahaha….

  4. cherry Says:

    selain nasi kucing, di solo jg ada pisang owol..bahas donk..
    aku pengen tenan mangan pisang owol sm roti bakar sik terkenal kae lo ng daerah ngendi lali? kalitan po? pojokan SMA opo ngono.
    tp sapa tau ada info pisang ongol yg lbh enak..:)

  5. harismosa Says:

    hahahaa.. refreshing!!
    barusan berasa lg jalan kaki di daerah ngasinan,inget jaman emas dulu! hehe..

    bang, ekspansi nasi kucing udah sampe jakarta juga loh,, mungkin bandung tunggu waktu aja. malah curiga saya ngga sampe 2010 model nasi kucing udah sampe ke daerah lucky plaza (tempat belanja eceran favorit orang kita di scott’s road,singapur), lah wong mau cari tempe penyet aja sekarang udah ada.. hehe

    apalagi jaman krisis begini, mungkin bgt nasi kucing diperhitungkan 😀

  6. masmpep Says:

    @ cherry
    wah, ketoke lagi ngidam ki mbak. ada warung sugali–susu segar boyolali/milk fresh crocodile forget–di belakang beteng vasternburg yang rame. ‘rame’ dalam tradisi kuliner bisa diartikan ‘enak-tapi-mahal’, atau ‘murah-tapi-gak enak’ atau ‘gak-enak-sekaligus-gak-murah-tapi-banyak-pembeli-keren’, he-he-he. kalo gak salah namanya she jack. dan kabarnya mereka mengklaim sebagai warung sugali pertama di solo–setidaknya tertulis di spanduk penutup warung ‘pioneer susu segar di kota bengawan’.

    beteng vasternburg ini sekarang sudah rata dengan tanah. posisinya ada di sekitar bundaran gladag. gak usah susah-susah ding mbak. di gladag ada galabo: gladag langen bogan. pemkot solo mengumpulkan kuliner-kuliner legendaris solo di satu tempat, di gladag–depan beteng plaza. mau apa aja ada. harjo bestik. sugali she jack. nasi liwet wongso lemu….

    @harismosa
    saya memang menyimak di televisi dan membaca di koran bahwa ekspansi nasi kucing sampai juga di jakarta. namun saya belum mencoba mencicipi secara langsung, jadi belum bisa menuliskan testimoninya.

    selain itu saya mengapresiasi ekspansi nasi kucing di wilayah jawa tengah dalam konteks ekspansi nasi kucing adalah ekspansi selera. orang gombong, orang slawi, orang ngawi diajak menikmati tradisi kuliner yang tak pernah ada sebelumnya di sana. kalau di jakarta, kabarnya hampir semua kuliner dari indonesia, hingga mancanegara ada. kuliner ini pada awalnya diperuntukkan bagi penikmat asal daerah yang mukim di jakarta. baru kemudian membuka penetrasi pasar kepada penikmat dari daerah lain. apalagi kalau ekspansi ke singapura, weleh-weleh. ‘Mc Donaldisasi’ nasi kucing dong.

    jadi, ya kalau mau coba rasa yang otentik, datanglah di mana tradisi itu dibangun….


  7. Dulu ketika aku masih nganglang buwana di Sala n Yogya sekitar tahun 80’an yang nikmat dari angkringan sega kucing terutama suasananya bukan menunya. Bayangkan ketika mulut mahasiswa dibungkam, di situlah kita bisa bebas mengobral unek-unek. Dari soal nomor SDSB hingga persoalan politik. Yang masih aku ingat ketika wedangan di prapatan Pasar Ngemplak, Sala tiba-tiba datang orang berpostur tegap. Tak begitu lama dia memperlihatkan selembar foto kepada orang di sampingku duduk. Sambil ngendika “ngeten niki sami kaliyan sampeyan mboten Pak ?” Kontan yang diajak bicara lemes dedes. Ternyata keesokan harinya tersebar kabar bahwa gali paling top di kawasan situ telah ditumpas petrus. Innalillahi wa inna ilaihi raa jiuun. Alhamdulillah.
    So, bagaimana ya suasana angkringan sekarang ???? kuangen aku !!!

  8. masmpep Says:

    wah, wah. mengenang masa lalu nih mas? wah. angkringan jaman dulu serem ya. sampe terkait gali. petrus. subversif. wah. wah. serem.

    angkringan sekarang wangi mas. banyak mahasiswi mau nongkrong di sana. angkringan banyak yang mempertautkan asmara mahasiswa (sayang saya bukan cerita sukses, ha-ha-ha).

    SDSB? sekarang namanya cap jie kia. dulu sempat populer sekali. tapi kayaknya sekarang sudah berkurang. mungkin tukang becak pada maen friendster sama facebook, jadi kehabisan waktu, he-he-he (yang ini maksa).

  9. nakjaDimande Says:

    wah.. wah.. jadi kangen nasi kucing..
    berhubung kucingnya adl saya, jd perlu bbrp bungkus utk membuat kenyang 😀

  10. masmpep Says:

    @nakjaDimande
    pernah nyoba nasi kucing juga to? wah. anda beruntung sekali pernah mencoba kuliner satu ini, he-he-he.

  11. zudika Says:

    di jatim juga ada nasi kucing.
    nasinya simple, komposisinya nasi, ikan asin, urap, sambal, dll.
    poko’nya sangat sederhana. makanya di sebut nasi kucing.
    disebut nasi kucing karena pake’ ikan asin. sama kaya’ kucing, makanannya pake’ ikan asin.

  12. masmpep Says:

    wah, saya baru dengar ‘teori’ ini mas zudika. disebut nasi kucing karena pakai ikan asin. rasanya gimana. ‘selera jawa timur’ yang pedas-asin?

  13. Dofar Says:

    Di Jogja dekat kostku di Sagan, belakang RS Panti Rapih ada angkringan yang gak jual nasi kucing, tapi sego macan. Tertera jelas di spanduknya. Tapi ukuran porsinya sama dengan nasi kucing kebanyakan.

    btw, makan di angkringan memang jatuhnya lebih mahal. Tapi bagi saya dan Helmy (teman kampus yang kini PNS di BKD Kab Tegal) harga tak jadi persoalan. Kami lebih melihat romantisme angkringan lebih penting dari sekedar harga. Setiap kali ketemu bareng di Jogja tuk beberapa hari, tak afdhol rasanya jika tak mampir di angkringan. Pun ketika masih jadi mahasiswa.

    Menu kami saat lapar, biasanya masing-masing menghabiskan: nasi 2 bungkus, sate endog puyuh 1 tusuk, gorengan 5, intip atau krupuk 1 bungkus, es teh atau teh manis atau sejenisnya 2 gelas. Jika ditotal harga sekarang, masing-masing menghabiskan 9ribu – 10ribu.

    Angkringan jadi tempat nyaman tuk ngobrol, diskusi, curhat, cuci mata sambil lesehan, dll. Tapi di Jogja bukan hanya angkringan yang enak tuk kongkow, ada satu lagi yaitu warung Burjo. Menu utamanya bubur kacang ijo biasanya plus ketan item, indomie goreng rebus, gorengan, krupuk, aneka minuman dari yang dingin hingga panas. Bahkan sekarang di Jogja, warung-warung burjo menyediakan menu nasi plus tempe penyet, endog dadar, dll. Kebanyakan buka 24 jam.

    Rata-rata pedagang angkringan di Jogja berasal dari Klaten. Puluhan angkringan yang pernah kusambangi secara acak di Kota Jogja, Sleman, Bantul, bahkan Wonosari mengaku berasal dari desa-desa di Klaten.
    Nah, kalau burjo kebanyakan pedagangnya dari Kuningan Jawa Barat.

    Bagi saya angkringan dan warung burjo adalah warung penyedia makanan yang paling merakyat dibanding yang lainnya, bahkan warteg sekalipun.

  14. masmpep Says:

    @dofar
    benar mas. orang makan di angkringan sudah gak ‘makan nasi kucing’ lagi. tapi sudah membeli romantisme–sok cultural studies ah, he-he-he. seperti halnya ke cafe. atau resto. atau hotel. atau bungalow. episode ekonomi hari ini adalah jual beli citra dan suasana, tampaknya.

    tapi kalo makan nasi kucing ‘sebanyak’ itu, wah, wah, anda tak tergolong mahasiswa rantau yang prihatin. sungguh. saya menjadi iri karena porsi saya hanya setengah dari itu–karena keterbatasan sumber daya finansial, tentu saja.

  15. racheedus Says:

    Angkringan? Nasi kucing? Membuat saya kangen dengan Yogya. Dulu, medio 1987, saat mulai sekolah di Yogya, nasi kucing dijual 100 perak. Murah meriah! Sekarang sudah berapa, Mas?

  16. masmpep Says:

    @rachedus
    nasi kucing memang klangenan. banyak orang yang pernah bermukim di jogja, dan kini bermukim di kota lain memilih nasi kucing sebagai hidangan klangenan. banyak dari mereka tak makan ‘nasi’ lagi, tapi telah makan ‘nasi kucing’ sebagai sebuah identitas.

    saya menikmati nasi kucing semenjak dihargai Rp. 400, Rp. 500, Rp. 600, Rp. 700, Rp. 1.000, dan saat ini ada yang dibandrol Rp. 1.500 hingga Rp. 2.000.

  17. setyo Says:

    mas tulisannya keren… minta ijin saya link di FB saya ya… 🙂

  18. dini Says:

    banyoknyo………..oreng yaong dale nihhhk!


  19. salam kenal,om

    saya jadi ‘junkies’ /pecandu nasi hik sejak sekolah di djokdja, demikian pula seorang temen saya.

    bertahun2 kemudian kami ketemu lagi di kota lain, temen saya sudah jadi bankir, tapi kalo malam- tetep saja dia klayapan cari makan nasi kucing- berhubung jomblo bahagia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: