bali

f 24, 2008

religiusitas-bali

Sebelum berkesempatan menjejakkan kaki di pulau dewata, saya masih beranggapan hanya ada satu kota tujuan wisata paling nyaman bagi saya, yakni Jogja. Namun sesaat setelah saya menyeberangi Pelabuhan Gilimanuk, pandangan saya berubah. Bila Jogja merupakan kota bernuansa klasik dengan suguhan budaya, kuliner, dan peradaban Jawa dalam tradisi berabad-abad, Bali menawarkan lansekapnya yang eksotik meskipun Bali tak ketinggalan pula dalam budaya, filsafat Hindu yang menjiwai kehidupannya, dan kuliner, tentu saja.

Oleh sebab sebuah tugas, saya berkesempatan ke Bali. Saya dibekali tiket pesawat, akomodasi, dan transport lokal. Kesempatan mengunjungi Bali saya pikir tak akan terulang dua kali, karena persoalan biaya dan waktu yang tak terjangkau bagi saya. Karena itu dua minggu sebelum bertolak saya membeli buku panduan wisata—sedapat mungkin wisata budaya; peta, dan mencari tahu pada sahabat yang pernah berkunjung ke pulau dewata ini. Setelah berhitung-hitung saya memutuskan mengajak istri. Konsekuensinya saya kemudian memilih menggunakan jalur darat, mengurangi budget hotel, dan mengirit akomodasi. Jadilah kami backpacker, namun saya justru merasa beruntung karenanya.

Perjalanan darat sungguh menyenangkan. Apalagi bus yang kami tumpangi hanya memuat kursi untuk 24 penumpang, cukup lega. Saya juga terobsesi untuk menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan, utamanya perjalanan selepas Surabaya menuju Banyuwangi. Maklum saja, sejauh ini kota paling timur yang saya kunjungi baru Surabaya. Namun ekspektasi saya tak kesampaian. Saya menumpang bus malam, yang berangkat senja dan tiba di Bali pagi-pagi. Praktis pemandangan Surabaya-Banyuwangi tak dapat saya nikmati karena malam yang gelap sehingga saya memilih untuk tidur lelap.

Fajar telah menyingsing di ufuk. Terlihat jelas semburat kemerahan di timur. Maklum saja, saya telah berada di atas Ferry yang menyeberangkan kami dari Pelabuhan Ketapang menuju Gilimanuk. Dari sahabat yang pernah ke Bali saya tahu bila Ketapang-Gilimanuk bisa dilihat dari masing-masing daratannya, sehingga bila kita melempar ketapel dari Banyuwangi batu yang kita lontarkan bisa sampai di Bali. Mulanya saya tak percaya, pasti itu hanya hiperbola kebiasaan orang kita. Namun saya keliru. Karena Ketapang-Gilimanuk layaknya menyeberangi danau saja. Cukup 30 menit perjalanan.

Memasuki Bali kita akan menyusuri wilayah Jembrana. Sesaat setelah mendarat saya harus mengakui bahwa Bali benar-benar pulau dewata. Sepanjang jalan rumah-rumah tertata rapi. Pagar berornamen pura. Setiap rumah memiliki Sanggha, tempat peribadatan keluarga. Dari seorang sahabat yang beragama Hindu saya tahu bila umat Hindu mementingkan Sanggha-nya terlebih dahulu ketimbang rumah. Tak heran bila saya mendapat Sanggha-Sanggha yang megah, berukir khas bali dengan motif suluran, namun tepat di sebelahnya kita dapati rumah-rumah pemilik yang bersahaja. Sejumlah Sanggha tampak eksotik dengan Meru, bangunan serupa candi kecil bertajuk ijuk bersusun tiga. Sebagian Meru dililiti kain putih. Sebagian lagi menambahkan pohon Kamboja Bali yang berbunga putih bersih dengan kelopak lima hingga tujuh helai. Menambah eksotik Sanggha. Dan Bali.

Buku panduan wisata yang saya beli memang cukup lengkap. Terutama wisata budayanya. Setiba di Denpasar kami menuju Hotel Pamecutan. Pamecutan merupakan salah satu dari tiga puri yang membangun federasi menjadi Kerajaan Badung, selain Puri Denpasar dan satu puri lagi yang saya lupa: Puri Kesiman. Puri Pamecutan dikelola oleh keluarga puri menjadi hotel. Harganya pun murah. Mulai dari Rp. 100 ribu semalam. Namun sayang, ketika kami datang Puri Pamecutan sedang direnovasi sehingga kami hanya menginap di Hotel Intan Sari persis di depan Puri Pamecutan. Hotel kami tak menarik, maksudnya tak bernilai sejarah, konstruksi bangunan modern biasa. Namun Hotel Intan Sari terhitung lengkap. Sewanya sama, Rp. 100 ribu semalam.

Saya beruntung menginap tepat di jantung Denpasar. Denpasar kota yang tak terlalu ramai—keramaian Bali terkonsentrasi di sepanjang jalur Kuta-Legian-Seminyak yang telah melegenda. Tak ada PKL di Denpasar. Tak ada pengemis. Tak ada pengamen. Trotoar bersih meski sempit. Jalan-jalan di Denpasar pun sempit. Jarang yang empat lajur. Lalu lintas padat, namun polusi belum menjadi masalah. Pendeknya Denpasar kota yang bersih—tak seperti Jogja yang makin hari makin ‘kapitalis’.

Dari Bilangan Pamecutan saya cukup berjalan kaki sejauh 300 meter menuju Pasar Badung. Pasar Induk Bali. Di pulau ini, setiap desa memiliki Pura Desa, yang dikelola Desa Adat atau Desa Pakraman menurut Bahasa Bali. Sehingga di mana-mana terdapat pura. Sekira 100 meter dari Pamecutan menuju Pasar Badung kita dapat singgah sejenak di Pura Maospahit, pura pertama di Bali yang dibangun oleh pelarian bangsawan Majapahit yang menolak diislamkan Demak. Namun sayang, kita tak boleh memasuki areal pura.

Tepat di depan Pasar Badung ada sebuah pura, bangunan baru. Di seberang jalannya ada lagi sebuah pura kuno, sayang saya lupa namanya. Berjalan sedikit lagi ke arah barat kita akan menjumpai Kantor Walikota Denpasar, Kodam Udayana, dan Lapangan Puputan Badung. Di sisi Lapangan terdapat Pura Jaganatha, pura terbesar di Denpasar dan Museum Bali tepat disebelahnya.

Lapangan Puputan Badung punya cerita sendiri. Di lapangan terbuka ini, 102 tahun yang lalu Raja Puri Badung, Raja Puri Pamecutan dan Raja Puri (?) : Kesiman melakukan puputan, bertempur hingga mati. Tak kurang 3.600 kerabat puri dan rakyat termasuk ibu hamil dan anak-anak melakukan puputan, dan gugur. Dunia bereaksi, mengingat Puputan Badung bukanlah peristiwa pertempuran dengan gladi perang, penyergapan, atau penyerangan frontal. Puputan Badung merupakan ‘demonstrasi’ kerabat Kerajaan Badung, bersenjata keris dan tombak melawan bedil dan meriam. Kerabat kerajaan berjalan beriringan, dan Marsose dengan tanpa kendala berarti menembaki massa ‘tak bersenjata’. Setelah mengunjungi Bali saya semakin tertarik dengan sejarah Bali, dengan puputannya. Setidaknya terdapat tiga puputan yang melegenda: Puputan Buleleng dikomando Patih Ketut Jelantik, Puputan Badung, dan Puputan Margarana dipimpin Letkol Ngurah Rai tahun 1947.

Menjadi backpacker di Bali terhitung sulit, dibanding Jogja, misalnya. Mobilitas hanya dapat dilakukan dengan taksi, travel atau bemo (angkot). Tak ada bus kota. Taksi yang ada tanpa argo—dan mahal. Hanya di Bali saya mendapati angkot (bemo) dengan tarif mahal: Rp. 6 ribu. Dua kali lipat rata-rata tarif angkot di tanah air. Untuk menuju satu objek wisata, dari Denpasar ke Ubud misalnya, yang hanya berjarak 30 km, kita harus naik bemo tiga kali. Tak praktis, dan jatuhnya mahal, apalagi bila kita jatuh ke tangan calo. Dari Denpasar ke Kuta yang hanya berjarak 10 km, kita harus naik bemo dua kali. Di Denpasar saja ada enam terminal.

Karena itu pilihan yang bijak adalah: naik travel. Berbagai macam mobil disediakan. Dari L300 yang bertarif mulai dari Rp. 2o0 ribu per lima jam, atau yang paling murah, hingga Kijang Innova dengan tarif Rp. 750 ribu per lima jam. Tarif travel dihitung per lima jam, per tujuh jam, per sepuluh jam dan per dua belas jam. O, ya, dengan menyewa travel kita sekaligus telah mendapat sopir dengan kualifikasi guide. Travel telah menyediakan kombinasi paket wisata, atau kita memilih kombinasi sendiri. Mereka umumnya telah tahu tempat-tempat yang dapat dikunjungi. Selain travel masih ada moda angkutan yang lebih murah: sewa sepeda motor. Sepeda motor disewakan selama 24 jam, dan tarifnya hanya Rp. 50 ribu. Namun bagi kita yang tak menguasai medan, naik sepeda motor lebih menyulitkan.

Soal makanan juga susah-susah gampang, utamanya mencari yang halal. Meski Bali menjanjikan wisata kuliner yang menggoda, saya terhitung hati-hati. Orang Bali telah mengetahui mana makanan yang halal bagi muslim, namun pandangan mereka terhadap kehalalalan hanya sebatas bukan babi, tidak termasuk bagaimana proses penyembelihan hewan yang syar’i menurut Islam. Cara paling aman: datanglah ke Rumah Makan Padang. Bila bosan, carilah Warung-Warung (Sate) Madura. Saya menyesal tak dapat banyak mencicipi kekayaan kuliner Bali. Bahkan makan nasi jinggo—persis nasi kucing di Solo—pun saya berpikir-pikir, dan akhirnya tak jadi.

Saya memiliki waktu tiga hari di Bali. Hari pertama saya gunakan untuk putar-putar kota berjalan kaki. Ke Pasar Badung. Lapangan Puputan Badung. Kemudian ke Museum Bali. Hari kedua saya menyewa travel untuk 10 jam, menuju Ubud-Danau Bratan-Tanah Lot. Karena saya menyewa travel, sebelum ke Ubud saya berkesempatan mampir di sebuah desa (Sukawati?) menonton pertunjukan Tari Barong. Di desa ini tak kurang lima kelompok mementaskan Tari Barong setiap hari pukul 09.30 selama satu jam, dan Tari Kecak pada pukul 18.00 juga selama satu jam. Desa ini memang daerah tujuan wisata pertama sebelum wisatawan melanjutkan ke tujuan lain. Sehingga waktu pertunjukan disesuaikan. Pementasan pukul 09.30 misalnya, memungkinkan wisatawan dari denpasar berangkat pukul 08.00. Boleh mampir sejenak di sentra kerajinan perak. Baru menonton tari.

Selepas suguhan Barong, saya meluncur menuju Ubud. Ubud merupakan tempat bermukim sejumlah pelukis ternama—utamanya dari Spanyol seperti Bonnet dan Blanco. Mereka termasuk yang mula-mula mempopulerkan pariwisata di Bali. Di Ubud saya berkesempatan menyambangi Puri Ubud, melintasi Jalan Utama Monkey Forest—seperti Jalan Malioboro di Jogja. Mengintip Kebun Raya Ubud dari mobil yang berjalan pelan-pelan karena jalan yang sempit. Kemudian meluncur ke Danau Bratan di Bedugul. Bedugul berada di ketinggian. Danau Bratan merupakan danau terluas kedua di Bali setelah danau di Gunung Agung. Danau Bratan selalu diselimuti kabut. Eksotik, terlebih terdapat Pura Ulun Danu di tepi danau. Bila air pasang, sekeliling pura diliputi air. Benar-benar cantik. Saat saya berkunjung, sepasang wisatawan dari China tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Oh, hooo… ujarnya berulang-ulang. Pura Ulun Danu juga diabadikan untuk menghiasi pecahan Rp. 50 ribu kita.

Selepas Bedugul, saya menuju Tanah Lot. Pura-Pura di Bali bertabur di setiap desa. Namun tak semua ‘kharismatis’ seperti Pura Ulun Danu, atau Pura Besakih, juga gugusan pura-pura di karang laut Tanah Lot. Siluet pura di karang yang bolong tak kuat menahan derasnya gelombang paling sering diabadikan wisatawan, meskipun di Tanah Lot terdapat setidaknya empat pura.

Esoknya saya harus kembali ke rumah, berangkat pukul 14.00. Masih ada waktu untuk pesiar ke kawasan Kuta. Namun sayang, istri saya kecapekan. Meski demikian saya tak menyesal tak sempat ke Kuta. Karena Bali telah saya nikmati di sepanjang perjalanan menuju Ubud, menuju Bedugul, dan ketika ke Tanah Lot. Kuta kabarnya telah crowded, dan belum pantas bagi saya bertemu bule-bule setengah telanjang.

Iklan

13 Tanggapan to “bali”

  1. semuayanggurih Says:

    bicara bali… saya baru dua kali ke sana, dan yang terakhir kali adalah pada saat saya kelas 2 SMU, tahun 1998 dalam acara studi tour (piknik, maksudna). yup, sudah lama sekali. entahlah, bagaimana bali sekarang, terutama setelah ada 2 kali bom yang menghebohkan. kesan saya waktu itu sih biasa-biasa saja. kalo banyak orang bicara tentang kuta yang aduhai, saya rasa juga biasa saja. mungkin ini karena saya anak pantai, jadi sudah terbiasa melihat pantai. hanya yang membedakan ada “sumur”, yang di daerah saya nggak ada. saya sih nggak begitu tertarik dengan begituan -bukannya saya hombreng, hehe…, tetapi karena saya lebih suka dengan yang lokal saja.
    tentang obyek wisata yang lain… saya juga kurang bisa menikmatinya. yah, maklum saja, karena rombongan saya terdiri dari sekitar 200 orang; crowded, malah nggak nyaman.
    intinya, kesan saya tentang bali adalah biasa aja tuh. saya lebih suka bandung, banyak neng geulis. bahkan anak seumuran SMP aja udah tau dandan yang modis. bandung is my obsession indeed…

  2. masmpep Says:

    @atdi
    banyak orang ke bali secara berombongan. cara seperti ini–tak hanya ke bali, termasuk ke mana saja–tak meninggalkan banyak cerita. kita harus mematuhi jadwal yang telah disusun rapi, plus peserta yang banyak membuat kita tidak otonom dan santai.

    saya terhitung beruntung karena berpergian hanya berdua. sehingga saya bisa bebas mendesain tempat-tempat yang akan saya tuju. mau makan apa. mau istirahat di mana. bedanya dengan wisata berombongan, wisata sendirian lebih mahal. namun sesuai dengan ekstase yang kita dapat. apalagi bila ongkos wisata kita ada yang mbayari, he-he-he.

    kuta-legian-seminyak-sanur-jimbaran adalah bali masa lalu. bali masa kini adalah ubdu-bedugul-kintamani-sukowati. banyak wisatawan mukim hingga berbulan-bulan. menikmati bali yang tenang. mempelajari filsafat dan budaya bali–eklektik antara hindu, jawa kuno, dan bali sendiri saya kira. menikmati eksotisme lansekap. mengamati orang-orang yang bersahaja.

    gadis bali? saya merasa mereka lebih eksotik ketimbang gadis bandung yang modis, kosmopolit. gadis bali lebih otentik indonesia, apalagi saat mereka berkebaya, kemudian khusuk menjunjung sesajen bersembahyang di pura. (mohon maaf bila mengkomparasikan keperempuanan seperti ini. mas atdi yang mancing sih, he-he-he)

  3. kadek niti Says:

    Tanah Lot memang memukau

    Update info : http://www.tanahlot.net

  4. masmpep Says:

    ya (mas?) kadek. benar-benar pulau dewata deh…

  5. kamboja Says:

    salam mas. ah kalo ke bali titip AB sama bunga kamboja ya,.. hehe,…

  6. masmpep Says:

    @ kamboja
    saya selalu ingin ke bali lagi. dengan rencana perjalanan yang ‘independen’ (bukan rombongan). saya mencintai lansekapnya. eksotismenya. sejarahnya. budayanya. namun kurang dapat menikmati makanannya, he-he-he.

    o, ya. AB apaan mas. baru denger?

  7. cherry Says:

    halo dik. salam kenal ya..aku mestine kakak tingkatmu adoh banget ng fisip. aku bukan aktifis n cuma sempet mampir sebentar di kentingan.
    bar moco ttg nasi kucingmu di milis marake kangen solo.
    u hv a great writing style 🙂
    n pas moco tulisan liyane ya ternyata km bisa menjadi pencerita yg sangat baik. salut. hehehe
    ngomong2 soal bali (lg sensitip sm bali soale meh entuk wong bali) aku ke sana bbrp kali tp malah gk sempet menikmati semua kekayaan bali sik kok critakan itu. jd kyne untuk kunjungan berikutnya aku meh nodong minta diajakin jalan2 ke tempat2 sik eksotis yg km sebutin itu 😛
    ada rekomendasi tempat mana yg wajib dikunjungi?

  8. masmpep Says:

    @ mbak cherry
    ya mbak. saya sudah ‘mengenal’ mbak sejak lama. meski hanya nama. namun saya mengira mbak kuliah di pertanian, he-he-he..

    meh entuk tiang bali? wah, asik dong mbak. kalo mudik sekalian liburan…. saya menyukai wisata gak tiba-tiba. awalnya wisata bareng orang tua saat kecil. mengunjungi tempat-tempat menarik. selesai. baru saat kuliah saya meminati wisata. sebelum wisata saya banyak mencari tahu seperti apa daerah yang akan saya kunjungi. utamanya sejarah, budaya, dan kulinernya. atau saya suka membaca tulisan travelling ke daerah-daerah, dalam hati saya ingat-ingat bila suatu saat berkesempatan ke sana.

    karena itu pula saya tak suka berjalan berombongan. biasanya kalau berombongan saya selalu menyempatkan diri ‘menghilang’ seorang diri. paling gak di daerah sekitar penginapan (agar tak kehabisan waktu, biasanya saya memilih tak begadang seperti rekan-rekan. saya tidur cepat, namun bangun pagi-pagi sekali, saat teman-teman masih lelap. nah, itulah waktu independen saya. dulu saat Kentingan ada acara di tawangmangu setiap subuh saya selalu ‘ngilang’).

    obyek apa di bali yang menarik? saya tak begitu suka pantai. karena itu saya cenderung tak memasukkan kuta-legian-seminyak-benoa sebagai daerah tujuan wisata saya. cobalah bermalam di ubud. atau kintamani. tampak siring juga boleh. tak rame, tapi kita bisa jalan-jalan di sawah (meskipun namanya sawah, saya kira ‘sawah’ di bali punya retorika berbeda dengan ‘sawah’ di boyolali, ha-ha-ha). bertanya sedikit-sedikit dengan penduduk. makan makanan unik-unik.

    o, ya. wisata akan berkesan bila kita membekali diri dengan ‘pengetahuan (atau keingintahuan) mengenai sejarah, budaya, dan kuliner’ daerah itu. kalau soal pura, tak usah ke bali di prambanan kita bisa lihat yang lebih besar. mau pantai, tak perlu ke kuta di parangtritis bisa. tapi kalau kita meminati sejarah, kita dapat membedakan mengapa prambanan dan pura ulun danu berbeda….

    komen posting yang lain yak. posting tentang kentingan juga ada….

  9. cherry Says:

    wah kok bs aku dituduh dr pertanian…kan gk ada potongan sm sekali 🙂

    nah itulah yg beda dr aku sm visi n misimu ke bali.
    n mungkin ke banyak tempat lainnya.
    aku paling suka sm pantai. wlopun gk bs renang n gk akan nyemplung, tp duduk2 di pinggir pantai itu bener2 amazing 🙂

    apalagi masalah bangun pagi dan menghilang..waduh..anti pati.
    di sana bangun biasanya jam 10. tidur lg jam 12an malem. n klo pergi hrs ada yg nganterin. soale gk tau jalan sm sekali 🙂
    eh tp naik mio asik jg lo. aku nyewa seminggu n sempet kejungkel nabrak motor laen..hehehe

    klo urusan paket, dulu untung udh pernah studi tour juga pas sma jd udh pernah ke besakih, sangeh, tanahlot, sukowati, sm beberapa tempat lain lupa kmn aja. tp klo sekarang, berhubung si beli tukang surfing ya kemana2 yg dicari pantai mulu.
    tp menurutku pantai bali lbh bersih n asri, walopun itu di kuta yg dikenal sbg pantai andalan n tujuan utama. mereka bener2 ngerawat tempat itu krn itu aset mereka untuk mncari nafkah.
    apalagi pantai2 lain yg gk begitu sering didatengin wisatawan lokal..wuih asik beneeer suasananya. padang-padang, nusa dua, petitenget, seminyak juga bagus kok pantainya. klo lg gk musim liburan lokal isinya ya cm bule-bule yg berjemur2 ria gk pake baju 🙂
    bandingin sm parangtritis ato baron yg udh kotor n mengerikan sekali keadaannya 😦

    kmrn sih sempet ke kintamani. brenti bntr buat foto2 tus naek ke warung2 yg jualan kue bantal. km ngerasain gk? kue dr ketan dibungkus daun kelapa muda (janur), ada isi kacang merah ato pisang. klo isi pisang bentuknya kotak segi empat, klo isi kacang merah bentuknya segitiga (ato kebalik ya? hehehe lali)
    terus baliknya lewat daerah mana ya aku lupa. lewat sawah2 jg yg memang klo aku lewatnya pas pagi ato siang pasti minta turun saking asiknya. tp berhubung udh sore2 n hujan2 jd cuman lewat aja 😛

    n tentunya the ‘must’ place we hv to visit adalah tugu monumen bom bali. sangat2 crowded n klo mo foto sendirian jelas gk bisa saking banyaknya org mo foto di sana. dari pagi sampe malem sampe pagi lagi tetep ramee.
    pengennya ke jimbaran ato ubud tp blm kesampean. klo lewat2 doang sih udh. tp berkunjung ke galeri2 belum..hiks.

    yadah ntr klo ke bali lg aku minta diajakin ke pura deh 🙂

    oke aku baca2 tulisanmu yg laen. soale sambil kerja nih jd bacanya blm sempet kemana2 n komentar yg lain2.

    bisa add friendster, facebook ato multiply ku dik
    isinya gk bermutu n gitu2 aja sih. hihihihi..

  10. masmpep Says:

    @ cherry
    itu mbak masalahnya. mengingat dan membaca. jadi perjalanan akan bermakna kalau kita mengingatnya. rutenya lewat mana. ini tempat apa. bagaimana sejarahnya. dst. perjalanan rasanya beda. sok-sok intelek gitu, ha-ha-ha.

    karena itu saya suka naik bus ketimbang naik motor atau mobil (nyetir sendiri maksudnya. tapi belum bisa. kan cita-cita orang indonesia punya mobil:). naik bus memberiku kesempatan menikmati pemandangan dari balik kaca. o, ini kota ini. ini kota itu. ternyata kota ini seperti ini. seperti itu. jadi sambil berjalan saya mengingat-ingat. dan terus menikmatinya (karena itu juga kalau dalam perjalanan tertidur rugi. kadang perjalanan menyenangkan ‘di perjalananya’. ketika sudah sampai, kadang-kadang kita tak semangat lagi karena ‘sudah banyak kembarannya’).

    beli-nya orang bali dan suka surfing pula. wuihh. keren mbak. jantan kedengerannya. gak seperti backpacker sok intelektual kayak saya, ha-ha-ha. emang mukim di mana. kok bisa kecantol tiang bali?

    kemudian kalau ke daerah wisata, cari yang ‘lebih’. jadi kalau ke ubud, ya ke puri ubud. tanya satu-dua dengan pecalang. sok-sok peneliti gitu mbak. apalagi kalau kita meyakinkan pake kaya mata tebel dan tas punggung dicangklong, he-he-he. paling gak ya ke galeri. ke museum diutamakan (pas saya ke museum juga gak ada ‘wisatawan’ di sana. paling banter anak ‘study tour’). mukim satu dua malam di ubud. mengamati perilaku bule-bule. dan petani-petaninya. saya kira ini soal orientasi perjalanan saja.

    ke pantai juga menarik kok. seperti sanur. tempat terdamparnya kapal Wangkang Sri kumala, milik seorang tionghoa bernama Kwee Tek Tjiang yang berbendera belanda. karamnya kapal ini ternyata berlanjut hingga terjadi puputan badung. nah, wisata ke sanur tetap ‘intelek’ kan, he-he-he.

  11. rian Says:

    salam kenal mas
    wah,,seru2 ya pengalamannya, jadi pengin juga ke bali,sepertinya ‘backpacker’ lebih nyaman dan murah tapi tidak tahu tujuan dan tempat mukim , ini yang jadi masalah
    untuk kendaraan di sana kalau aku kayanya lebih suka naik motor, lebih murah hehehe..lagian tiap hari bawaanya mongtor 😀
    kebalikan dari sampeyan mas..kalo ga nyetir ndiri malah sering lupa wong jadinya malah tidur hehehe
    ada rekomendasi tempat tinggal murah di ubud mas..?
    suwun

  12. Lintang Says:

    He he he ternyata merasakan kenyamanan yg sama ketika menyadari bahwa di Bali tidak ada PKL, gepeng, pengamen dkk

    Terus terang saya ke Bali hanya “nongkrong” di Kuta dan Sanur karena keterbatasan waktu singgah, tulisan mas mpep ini membuat saya bertekad utk ke Bali lagi dengan pendekatan baru, tidak hanya mengamati night life-nya saja tapi mengikuti pendekatan mas mpep yang : membekali diri dengan ‘pengetahuan (atau keingintahuan) mengenai sejarah, budaya, dan kuliner’ daerah itu 🙂

  13. de darma Says:

    salam kenal mas,makasi dah berkunjung ke bali..klo kbali lg mampir kerumah saya ya di seminyak….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: