Empat Tahun Paling Manis

f 17, 2008

gapuraBerbahagialah bila kita berkesempatan kuliah disaat tak banyak sahabat kita di republik ini yang dapat menikmatinya. Apalagi bila kita menuntut ilmu pada jurusan dan kota yang memang kita idamkan. Mendapat bonus bila: kita menjadi mahasiswa indekosan. Bila saat ini anda sedang kuliah dan terus meratapi nasib karena alasan-alasan apapun, betapa meruginya anda….

Saya menjadi anak kos tiga kali. Pertama di Bandar Lampung, kira-kira satu bulan saat bimbingan belajar Pra UMPTN. Kedua di Solo saat kuliah. Ketiga di Tegal, saat bekerja. Menjadi mahasiswa indekosan lebih banyak bahagianya ketimbang sengsaranya. Bila ada sinetron atau novel menggambarkan mahasiswa indekosan menderita, sungguh itu kebohongan besar. Menjadi mahasiswa indekosan berarti menjadi manajer bagi diri sendiri. Apalagi saya kuliah pada jurusan ilmu sosial, waktu yang menggelinding tak habis di bangku perkuliahan sehingga saya dapat berbuat banyak. Sesekali membolos pun tak apa.

Menjadi mahasiswa ilmu sosial memang manis. Sudah jamak bila mahasiswa ilmu sosial berusaha setengah mati mencitrakan dirinya look smart, kritis, jago berdebat, dan ‘tergetar hatinya melihat penindasan’. Namun citra ideal ini lebih banyak dibayangkan ketimbang diwujudkan. Menjadi mahasiswa ilmu sosial berarti menjadi mahasiswa yang anti kemapanan. Semakin melawan kemapanan, derajat ‘kesosialan’ anda meningkat.

Beberapa bentuk perlawanan ini yang dapat saya catat: kaos hitam (hitam merupakan lambang perlawanan, keteguhan hati, juga—mengutip seorang kawan dari tradisi syiah: ‘berduka atas penindasan yang masih terjadi di muka bumi’). Kemudian celana jeans (Celana jeans adalah celana yang umum dipakai pekerja pada Abad XVII-XIX di perusahaan pertambangan di Jazirah Amerika. Jeans pada awalnya merupakan kain yang sangat kaku sehingga jeans ketika pertama kali dibuat diperuntukan sebagai bahan layar kapal laut. Jeans bolehlah disebut sebagai jenis kain proletar yang kemudian paling mendunia hari-hari ini)

Lalu apalagi kalau bukan: sandal gunung (jepit). Untuk yang satu ini memang sok-sokan Mapala (Saya pernah ikut Diksar Ruang Mapala selama satu minggu penuh, dan lulus—karena hanya dua jam setiap sore, di kampus pula. Kemudian Diksar Lapang selama sepuluh hari yang hanya mampu saya ikuti dua hari saja, ha-ha-ha).

Ada bag cover. Tas punggung ini mencitrakan ‘peneliti lapang’. Tas punggung saya selama mahasiswa hanya satu, dibeli dari beasiswa BBBM (Saya juga tak tahu kepanjangan BBBM ini apa. Pokoknya ada info beasiswa, syarat-syarat terpenuhi, cair deh. Hanya saja saya masih tertib membelanjakan beasiswa ini untuk keperluan yang ‘sedapat mungkin akademis’. Seperti tas punggung ini. Saat saya mendapat beasiswa Supersemar tahun berikutnya, saya langsung meluncur ke Jogja dan membelanjakan semuanya untuk memborong buku di Social Agency dekat UIN sekarang)

Obsesi lain: rambut gondrong. Berambut gondrong penginnya meniru-niru kaum hippies tapi ketika saya memanjangkan rambut malah lebih mirip Edi Brokoli. Jangan lupa pula untuk menenteng-nenteng buku berjudul Sesat Pikir Teori Pembangunan, Isme-Isme Dewasa Ini atau Teori Sosial dan Praktik Politik. Bila berbicara sesering mungkin mengutip Anthony Giddens, Derrida, Dachrendorf, atau paling kurang Sindhunata. Mengobrol di warung angkringan meski gojegan tetap serius merumuskan setting Pemilu Raya BEM.

Karena itu saya tak dapat menutupi iri hati saya pada kawan-kawan yang menghabiskan seluruh jatah 14 semester di bangku kuliah, plus 4 semester ijin selang, dan 2 semester perpanjangan….

Iklan

17 Tanggapan to “Empat Tahun Paling Manis”

  1. semuayanggurih Says:

    mas mpep, saya adalah contoh nyata betapa lulus lama ternyata nikmat (sekaligus nyebelin juga), hehe…
    nikmatnya karena bayar kuliah tetep murah, sedangkan adik kelas saya bayarnya udah mahal banget (bisa sedikit pamer sama junior). nikmat juga karena dengan status mahasiswa, maka kita bebas buat ngelakuin apa aja. yang juga nikmat, karena saya nyambi kerja, jadinya selain masih dapat jatah kiriman (karena belum lulus), juga dapat gaji dari kerja sambilan. untuk ukuran mahasiswa, hal ini bisa menjadikan tingkat gizi meningkat drastis. saya juga bisa membeli beberapa barang yang diidamkan: gitar, bola, ponsel, dan PC. so, gakpapa lulus telat, asalkan lulusnya karena kerja dan bukan karena malas.
    nyebelinnya: bosen ditanyain ortu kapan lulus. akibatnya, saya jadi jarang pulang karena bosen dengar omelan. yang nyebelin lagi, di tempat kerjaan, reward saya hanya dihargai dengan ukuran SMA. alasannya, karena belum lulus. sempet juga diultimatum dosen pembimbing skripsi karena kemajuannya rendah: pilih kerja atau skripsi. dan dengan berat hati, akhirnya saya pilih skripsi. tapi yang paling menohok hati, waktu nunggu dosen buat bimbingan dan ketemu junior, trus ditanyain: lagi ngapain mas, nunggu asistensi ya? saya juga lagi nunggu dosen. deg, jati terpaku. kok ternyata saya dah jadi mbah tapi belum lulus juga? hahaha… mengenang romantisme masa lalu memang membuat kita serasa muda kembali.

  2. masmpep Says:

    ya. menjadi mahasiswa memang menyenangkan. apa yang saya kabarkan ini adalah gambaran ‘menyenangkannya’ mahasiswa ilmu sosial. mungkin hal-hal ‘menyenangkan’ bagi mahasiswa ilmu eksakta berbeda, dan mas atdi dapat membaginya.

    menjadi mahasiswa abadi rasanya seperti menjadi mahasiswa paripurna. bila bagi mahasiswa eksakta keabadian ini disebabkan malas, atau bekerja, pada mahasiswa sosial keabadian ini lebih banyak disebabkan karena malas, atau menjadi aktivis.

    tak salah bila aktivis-aktivis mahasiswa saat ini, misalnya ketua-ketua pengurus pusat organisasi mahasiswa ekstrauniversitas adalah mahasiswa angkatan 1998, 1999, atau 2000. Soe Hok Gie dalam memornya menyebut: aktivis politik yang berkartu mahasiswa.

  3. ressay Says:

    Semoga aja aku gak lama lulusnya.

    Karena kalau gak lulus, harus siap-siap mendengarkan omelan orang tua.

    Le, kapan luluse?
    Nak, kapan kamu lulus? biar cepat kerja…

    Tanpa sepengetahuan mereka, aku pun sudah kerja. Walaupun kerja serabutan. Jaga warnet, mengerjakan makalah, jadi pembicara, belajar bareng di HMI, jadi pengobrak-abrik diskusi, jadi penanya yang ditakuti di kelas (diantara banyak anak HMI yang juga ditakuti).

    Akankah aku mendapatkan itu semua ketika aku lulus nanti?

  4. masmpep Says:

    tenang saja mas ressay. setiap momentum pasti membentuk karakterstiknya sendiri. sampai sekarang saya masih rindu kuliah. namun setelah bekerjalah saya dapat mewujudkan mimpi-mimpi tertunda dulu:
    – beli rak buku dan mengisinya satu-satu.
    – memberi kado buku untuk adik dan sepupu2 (sekaligus menyarankan: belilah buku sebagai kado!).
    – beli thengkleng pasar klewer, harjo bestik (dulu kemahalan. makan-makan deh, he-he-he)
    – berkesempatan ke sebuah pulau nan eksotik (nanti saya ceritakan di posting baru)
    – berkesempatan menjejakkan kaki di kamar hotel bintang empat dengan fasilitas kantor :).
    – berkesempatan menjadi ‘abang’ dan ‘diabangkan’ oleh adik2 junior.
    – saya justru semakin produktif menulis artikel dibanding semasa mahasiswa.
    – dan setelah bekerja pula saya baru berani melamar anak orang, ha-ha-ha.

  5. ressay Says:

    hehehehe….

    kemungkinan besar aku bakal kayak gitu juga donkz. hehehe…jadi gak sabar.

  6. doel Says:

    assalammualaikum mas mpep… numpang mampir… soal mahasiswa-mahasiswaan ntu, ane gak pengen komentar ah… ntar malah bikin ente tambah iri…. hehe…

    eh, ane usul mas mpep, kalok semboyannya blog ntu diganti aje… masak nulis di blog kok pake “katakan dengan tinta”. mending “katakan dengan keyboard” kan lebih pas…. hehehe….

  7. masmpep Says:

    @ ressay
    jangan buru2. bekerja membuat kita memiliki sumber daya tertentu. tapi menjadi mahasiswa tetaplah membanggakan. tak punya uang bangga. tak punya karya bangga. tak punya pacar bangga, ha-ha-ha.

    jangan. jangan. jangan cepat lulus. banyak-banyaklah buat cerita semasa mahasiswa. biar besok banyak yang dapat disombongkan, he-he-he.

    @doel:
    justru itu mas doel, diceritakanlah barang sikit-sikit pengalaman menjadi mahasiswa abadi–yang membuat saya tambah iri (ini kesimpulan dari komentar anda lho, bukan ‘tuduhan’, he-he-he). paling gak, mas doel berbahagia menjadi mahasiswa abadi. menjadi mahasiswa abadi bagi mas doel adalah pilihan. ya, ‘pilihan’ merupakan sesuatu yang mahal saat ini, saat tak semua orang punya ‘pilihan’ atas tindakannya, atas hidupnya.

    semboyan ‘katakan dengan tinta’? ya. sementara kan masih di dunia maya, ditulis dengan keyboard. tapi ‘katakan dengan tinta’ ini spirit mas doel. bahwa suatu saat blog ini bisa dibukukan, ditulis juga dengan tinta (percetakan) seperti kambing jantan.com. apalagi mengingat ekspektasi terhadap blog ini terhitung tinggi, ha-ha-ha

  8. ressay Says:

    hehehe…dah mulai promosi di friendster nih. ayo tingkatkan lagi. Misalnya gabung dengan milist tertentu.

    atau pasang mesin langganan seperti feedblitz atau feedburner.

    atau dengan mengomentari blog lain.

    http://botd.wordpress.com/?lang=id/

  9. masmpep Says:

    ya lah. mosok kalah sama mas ressay. namanya juga blogger pemula yang membawa misi citizen journalism, halah. ada blog-blog bagus yang kira-kira se tema dengan blog ini gak mas ressay?

  10. ressay Says:

    wah kurang tahu aku.

  11. haris Says:

    ternyata ni mas febri ya? he2. piye kabarmu?

    wah, jadi mahasiswa itu emang menyenangkan, sekaligus kadang mencemaskan. sampai saat ini, sy kadang masih berpikir status mahasiswa itu enak, nyaman. taoi melihat satu per satu kawan lulus, rasanya jadi harus berpikir ulang. tapi yang jelas: masa2 ini memang membahagiakan, mas!

  12. muhamadmuiz Says:

    Salam kenal…

    ehm…
    ehm…
    ehm…
    Salam kenal…
    jadi mahasiswa itu super susah.
    jadi anak indekost itu ultra susah.
    akh….
    banyak yang ga nyambung antara yang dijejelin di kampus sama kehidupan sehari-hari… membingungkan.

  13. masmpep Says:

    @muhamadmuiz
    salam kenal juga. trims dah mampir. menjadi mahasiswa-indekost super susah? wah, kalau saya justru menikmatinya. menjadi mahasiswa indekos benar-benar menjadi manajer bagi diri sendiri…

    kalau banyak hal yang diajarkan dari kampus kurang faktual dengan realitas, saya setuju. namun saya belajar, bahwa bangku kuliah mengajarkan kita prinsip2 hidup. justru interaksi dengan teman, kehidupan berorganisasi, pengalaman di kos, cerita patah hati, merupakan pelajaran yang mendewasakan dan mematangkan.

    mas muhamadmuiz kuliah jurusan apa sih?

  14. muhamadmuiz Says:

    di jurusan Ekonomi Pembangunan. realitas pembangunan di berbagai negara berkembang bener-bener bikin frustasi pikiran. semua di sekitar begitu menyiksa. akhirnya, kita hanya bisa onani intelektual. tak ada yang bisa dibenarkan. kebenaran hanya milik pengetahuan dan kekuasaan (maaaf, minjem bahasa Focault). semua hanya milik diskusi ilmiah. (maaf, terlalu bernafsu. kebeneran, aku lagi menikmati tentang sesuatuyang berapi-api. pikiranku lagi kacau)
    Mas, buka Bloge IMt oh, belakangan banyak di posting tulisan-tulisan yang nyentuh banget sama “essai-essai Tegal Prismatik”nya njenengan

  15. masmpep Says:

    @ muhamadmuiz
    kenyataan itu dihadapi mas, bukan disesali. berbuatlah sesuatu yang kecil-kecil saja. jangan menyerah dan berkata: ini karena sistem, bagaimana lagi sistemnya begini. onani intelektual saya kira adalah bentuk ‘perbuatan kecil2 itu’. ketimbang frustasi, menulis lebih produktif. ada prinsip NGO yang dapat dijadikan inspirasi: kapitalisme mungkin sesuatu yang tak terelakkan dan takterlawankan. namun kita harus berbuat sesuatu. paling tidak, kapitalisme tidak dengan mudah berbuat lebih banyak, dan kapitalisator (?) termasuk kompradornya tak dapat tidur nyenyak begitu saja.

    blog imt? ok. sesaat lagi mas buka. trims untuk apresiasinya.

  16. muhamadmuiz Says:

    Hehe… maaf Mas, bukan itu maksudku. Di Blog itu memang gak akan ditemukan Tegal Prismatiknya Mas. Cuma, ada tulisan-tulisan yang menyinggung-ngyinggung tentang kondisi Tegal. Muaranya ke Peran mahasiswa di Tegal. Aku pernah baca tulisan Njenengan yang mbahas tentang ini. Ketika menyoroti pergerakan mahasiswa tegal dan tradisi intelektualnya. Jadi saya hanya mengundang Mas untuk bergabung. lumayan seru perdebatannya.
    Thanks…

  17. karishachan Says:

    Yah, memang, menjadi mahasiswa itu menyenangkan, walau kadang banyak masalahnya,, tapi meninggalkan kesan tersendiri… dan saya berusaha membuat kesan yang baik dalam masa kuliah saya… mudah2an jadi kenangan indah… hehehe…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: