tujuh belas tahun tanpa sayur

f 29, 2008

sayuran-hijauTujuh belas tahun pertama hidup saya lalui tanpa sayuran. Saya tida tahu mengapa saya tidak doyan makanan jenis ini. Belakangan saya baru tahu, bahwa kecenderungan untuk tidak suka sayur ini naluriah bagi anak-anak: bahwa tekstur dan rasa sayur secara alamiah tidak disukai anak-anak. Namun saya tak ingin menyerah pada ‘teori’ ini. Sampai berusia tujuh belas tahun saya tak mengalami masalah menjalani hidup tanpa sayur. Oleh sebab pengetahuan, saya mulai mencoba mengakrabi sayur. Apalagi, kalau bukan karena kesehatan. Hidup sehat bagi intelektual dekat dengan adagium: hidup cerdas.

Kesadaran untuk sehat bermula sejak saya duduk di bangku kuliah. Sehat kabarnya praktis saja: makan serat-bergizi, istirahat cukup, olah raga, dan berpikir yang indah-indah saja. Sejak lama saya ingin menjadi orang Asia yang ideal: berpikir filosofis a la timur, yoga, vegetarian. Wah. Prototype manusiwa dewasa, berbahagia, berurat dalam garam kehidupan. Ya, ya. Layaknya bhiksu-bhiksu shaolin. Setiap melihat film kungfu dengan setting masa-masa abad pertengahan saya merasa inilah konsep dunia ideal. Warganya hidup sehat. Jago silat. Punya nilai-nilai. Setia pada kebenaran. Ada tokoh antagonis. Yang baik awalnya kalah. Namun tenang saja, semua bisa diatasi pada akhirnya.

Selama tujuh belas tahun, ‘sayur’ yang saya doyan hanya sayur sop. Itupun isinya kol, kentang, wortel, sedikit daging atau balungan. Kemudian ‘sayuran’ lain yang saya doyan adalah gori; nangka muda yang dibuat gudeg oleh orang Jogja. Saya sama sekali tak menyentuh ‘sayuran hijau’. Orang tua saya tak kurang mendorong saya untuk suka sayuran. Namun sesuatu yang dipaksa biasanya tak berakhir bahagia. Saya memberanikan diri menyantap sayuran karena kesadaran akan ‘hidup sehat’. Citra yang ideal bagi ‘seorang yang intelektual’. Saat itu memang momentumnya saat saya kuliah, dimana saya hidup dalam konstelasi intelektual setiap hari. Hidup sehat bagi intelektual dekat dengan adagium: menjalani hidup dengan cerdas.

Pertama-tama saya merasa dapat menerima daun singkong (sampai sekarang daun singkong ‘sayuran’ favorit saya). Apalagi dengan sambal. Bisa sambal terasi. Sambal bawang. Atau sambal apa saja, kecuali sambal kecap. Enak disantap dengan ikan goreng atau bakar. Tapi saya lebih suka menyantapnya dengan tempe goreng-tepung atau bakwan wortel—buatan istri saya (tak pernah ada menu seperti ini di warung, karena ini menu kreasi istri saya yang menurutnya pun aneh, karena dibuat dengan request saya dan coba-coba, dan ternyata pas). Pada awalnya saya hanya menyantap daun singkong sebagai lalapan bila sedang jajan ikan bakar di luar rumah. Bila ibu saya memasakkan di rumah, tak pernah saya sentuh. Tak tahu, buatan ‘warung’ rasanya lebih menggoda. Dari makan sayur bila jajan di luar, lama kelamaan saya menyukai daun singkong kapan saja.

Pada awalnya saya menyukai sayur, saya tak berpikir soal rasa. Saya hanya sedang berjuang untuk ‘hidup cerdas’. Sehingga dalam satu sendok yang saya jejalkan ke mulut terdapat sayuran yang saya balut dengan lauk. Setelah menyuap satu sendok saya kembali menyuapkan lauk lagi. Praktis, dimulut saya hanya ada paduan lauk, sayur, lauk. Saya pun lupa bagaimana rasanya sayur itu.

Hingga saat ini, boleh dibilang saya masih belum bisa makan kangkung, terong, genjer, dan kubis. Selebihnya, saya ‘berani’ menyantapnya. Selain tidak merokok, saya berbahagia dapat menikmati sayur kini….

Gambar diunduh dari: surya.co.id

Iklan

2 Tanggapan to “tujuh belas tahun tanpa sayur”

  1. cherry Says:

    hihihi baca jadi ketawa..soale podo nasibe. wlopun bisa dibilang pilih2 aku msh doyan bayem, slada, brokoli, sama wortel mentah..tp jangan coba2 ngasih aku sawi ijo (sik ng mie ayam kae)+ kaylan, pakcoy, dan kangkung.huweks…
    klo km suka logika, orang yg banyak makan sayuran apalagi sayuran mentah pasti lbh kinclong kulite, contone wong sundo..rak do kinclong2 to dibanding wong jowo sik mangane gudeg ro daging2an 😛
    tp bwt aku pribadi, logika orang sunda itu gk mempan membuat aku doyan kemangi, leunca ro pohpohan bwt lalap sambel..intine wong sundo ki nggragas..hehehe

  2. masmpep Says:

    wah, wah. kok jadi rasis ngene mbak. wah, aku ra tanggungjawab nek ditangkep densus 86 lho…

    sokur mbak. sudah doyan sayuran. soal kulit bersih atau gak itu lebih banyak karena TAKDIR mbak, ha-ha-ha.

    sawi ijo di mie ayam? justru model sayuran jenis gini yang pertama2 bisa ku makan. sawi kalo dicampur mie ayam, oke. tapi kalo dimasak sendiri, atau dicampur mie rebus gak doyan. makan sawi di mie ayam pun pake metode seperti yang aku ceritain di posting: sedikit sawi, sesendok banyak mie, disambung sesendok mei yang banyak, mie lagi, kerupuk, es teh. jadi lupa deh rasanya sawi, tau2 abis. dicerna lambung deh….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: