praja muda karana

f 29, 2008

dsc03316Setiap anak sekolah di republik ini adalah seorang Pandu. Motivasi seseorang menjadi Pandu hanya dua kemungkinannya: sukarela atau terpaksa. Disebut terpaksa bila ia menjadi Pandu karena kewajiban sekolah. Sukarela, karena menjadi Pandu bagi seorang bocah begitu membanggakan. Menjadi keyakinan umum dalam diri kami saat itu, bila kami menjadi Pandu berprestasi maka kami akan mudah menjadi polisi, atau tentara. Anda semua tentu tahu, polisi, tentara, dokter, dan insinyur adalah ‘cita-cita yang paling generik diucapkan bocah’ ketika ditanya mimpinya. Pada periode belakangan baru ada yang menjawab: menjadi artis, atau peragawati. Tak ada yang ingin menjadi wartawan, penulis, pemadam kebakaran, atau petani tambak.

Saya anggota aktif Pandu sejak SD hingga SMA. Namun sepanjang masa itu saya tak pernah memiliki sertifikasi baik kecakapan umum maupun khusus. Meski saya dalam hati percaya memiliki kualifikasi itu. Saat menjadi Pandu Siaga, kami lebih banyak berlatih dalam permainan-permainan. Saya lebih banyak lupa dari ingatnya. Seperti apa nama Barung kami. Kemudian ketika naik kelas 4 SD, saya dilepas Perindukan Siaga masuk ke dalam Pasukan Penggalang dalam suatu upacara yang mengharukan. Ketika menjadi Penggalang kami mulai berlomba mengisi Syarat Kecakapan Umum (SKU). Hampir 90% SKU Penggalang Ramu saya telah terisi saat kelas 4 SD itu. Entah mengapa, pembina kami tidak pernah serius membimbing kami sehingga kami mendapat strip Penggalang Ramu yang gagah itu—seperti anak-anak SD tetangga. Meski demikian Pasukan kami terhitung aktif. Serangkaian Jambore setiap tahun kami ikuti. Saya dipilih menjadi Ketua Regu Kancil, dengan wakil ketua regu sahabat saya M. Fahruddin. Regu ‘Kancil’ menjadi nama regu paling umum saat itu. Kabarnya karena Kancil adalah binatang cerdik. Sehingga setiap Pandu harus mampu menjadi Kancil: cerdik namun tak licik. Bila Jambore, bendera ‘Kancil’ paling banyak berkibar. Selain menjadi Ketua Regu, saya ditunjuk menjadi Pemimpin Regu Utama (Pratama). Ada dua regu Pandu Putra kami: Kancil, dan satu regu lagi saya lupa, dipimpin Maswin Andrianto. Sebelumnya regu Pandu kami hanya satu. Diketuai Maswin dan saya wakilnya.

Saat SMP saya kembali aktif sebagai Pandu. Beberapa kali kami mengikuti Jambore tingkat kecamatan, kabupaten, hingga provinsi. Saya menjadi anggota regu Rajawali, dengan ketua regu Hidayat yang juga Pratama kami. Saat itu Tahun 1996. Kwartir Nasional menggelar hajatan Jambore Nasional. Beberapa dari kami mendaftar untuk menjadi peserta. Tak satu pun dari kami yang telah memiliki dua strip Penggalang Rakit—persyaratan peserta. Namun saya yang SKU Penggalang Ramu 90% terisi telah lebih siap dibanding kawan-kawan lain, terutama karena peserta diuatamakan kelas satu dan dua SMP. Senior-senior saya—seperti Hidayat—yang masuk kelas tiga mulai aktif menyongsong ujian akhir sehingga tidak (boleh) ikut mendaftar. Bersama dua orang lainnya, saya terpilih mewakili kecamatan sebagai peserta. Kami kemudian mendapat strip Penggalang Rakit, tanpa mengisi SKU—sesuatu yang saya sesali hingga kini. Bahwa pembina-pembina kami tak pernah serius membimbing kami memperoleh Panggalang Rakit. Saat SMP kegiatan Pandu kami memang bersifat insidental, hanya saat-saat akan Jambore saja. Selepas Jambore, Pasukan SMP kami memiliki dua regu. Saya menjadi salah satu ketua regunya yang kami beri nama: Elang

Saat SMA saya hanya aktif menjadi Pandu tak sampai satu tahun. Sebabnya, sekolah saya di luar kecamatan. 30 Km dari rumah sehingga saya selalu pulang larut sehabis latihan. Entah mengapa, saat kuliah saya tak berminat lagi berseragam coklat muda dan coklat tua ini.

Iklan

8 Tanggapan to “praja muda karana”

  1. semuayanggurih Says:

    saya sendiri males jadi pramuka. sering disalahgunakan senior buat ngerjain adik tingkat. alhasil, karena nggak pernah berangkat latihan walaupun ekskul pramuka diwajibkan, akhirnya nilai ekskul saya jadi c deh. padahal itu satu-satunya ekskul yang saya ikuti, hehe… sucks pramuka, hampir gak punya pengalaman baik yang bisa diceritakan di dalamnya. sori, ini memang subyektif, karena memang pengalaman saya seperti itu. bagi yang punya pengalaman baik, that’s good

  2. masmpep Says:

    @ semuayanggurih:
    ya, kadang-kadang senioritas menyenangkan juga. pada dasarnya setiap kita suka dipuji, dilayani, dan dihormati sampai terbungkuk-bungkuk. hanya mereka yang setia menjaga kesadarannya saja yang menghidari feodalitas model ini. motivasi saya–dan anak-anak kecil lainnya saya kira–menjadi pandu bukan hendak mengamalkan dasa darma pramuka yang akan mengantarkan kita masuk sorga itu. tapi karena saya (pernah) bercita-cita menjadi tentara. paling tidak seragam pandu mirip-mirip tentara, ha-ha-ha.

  3. ressay Says:

    jadi inget waktu bentak-bentak adek kelas. Cewek, cantik, putih, beuh…nafsuin.

    Tapi bandelnya, gak ketulungan.

    Udah aja, aku maki-maki dia, dihadapan wajahnya persis.

    Parfumnya, beuh….

  4. ressay Says:

    website lapmi sudah terdaftar

    http://www.lapmi-solo.co.cc

    hanya saja, sampai saat ini aku belum bisa install wordpress di servernya. katanya sih masih dalam perbaikan.

    menyebalkan memang.

  5. masmpep Says:

    @ ressay
    gimana proyek web lapmi? gak pake wordpress aja?
    trims link praja muda karananya….

  6. aela ika Says:

    pramuka memang sangat menyenangkan buatku.
    aku bisa dapet temen dan aku bisa berlatih kepemimpinan.
    tapi sayang nya banyak angkatan di atasku yang tidak memahami seluk beluk kepramukaan, dan mereka hanya mengajarkanku tentang cara membentak-bentak orang ato adik tingkat.
    dan sampai sekarang aku masi mencari “apa sich pramuka itu sebenarnya??”

  7. masmpep Says:

    @aela ika
    ‘apa sich pramuka itu sebenarnya?’ wah. ini pertanyaan sulit. mereka yang bergiat dalam kepanduan juga belum tentu tahu menjawabnya. seperti ‘orang-orang gila’ pendaki gunung. kalau ditanya mengapa mereka repot-repot mendaki, paling dijawab dengan senyum. lebih bagus kalau dijawab: karena gunung itu ada di sana, mengutip pendaki gunung legendaris asal Inggris Sir George Leigh Mallory. Because it is there, itu saja.
    jadi, bagaimana sebenarnya pramuka bergantung pada motivasinya. kalau dia mau gagah-gagahan, maka menurutnya pramuka adalah wahana untuk nggaya, atau mbentak2 di hadapan adik2nya. kalau dia mau mencintai alam, mungkin dia akan berkata kalau dengan aktif dalam pramuka dia dapat melakukan ‘cinta alam dan sesama manusia’. dst.dst.

    aela sendiri aktif di kepanduan apa, dimana, kapan, dan bagaimana rasanya?

  8. alamendah Says:

    Pramuka memberiku banyak pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan pendidikan mental. Seperti yang dirasakan oleh calon peserta Raimuna X Kwartir Daerah Jawa Tengah 2009 ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: