jakarta

f 29, 2008

jakarta-malam-hariJakarta memang magnet bagi bangsa ini. Dari 8-12 juta penduduk Jakarta, pasti ada salah satu diantaranya yang tercatat sebagai saudara dekat kita, ipar saudara jauh, kenalan yang diaku saudara, seseorang yang kita aku-aku kenal, kenalan tetangga desa atau kenalannya teman jauh kita. Pendeknya, setiap warga negara bangsa ini pasti memiliki seorang yang dapat dijadikan orientasi ketika terdampar di Jakarta. Baik yang kita tahu alamatnya, maupun yang hanya kita ketahui ancar-ancar alamatnya, atau yang hanya kita ingat namanya saja.

Jakarta menawarkan gula-gula kehidupan yang gemerlap. Apa saja ada di Jakarta. Jakarta yang semakin sempit dipetak-petak untuk pemukiman, perkantoran, pabrik-pabrik ternyata masih mampu menyediakan lahan yang luas untuk kawasan ekowisata. Makanan seluruh dunia ada. Profesi yang tidak pernah terbayangkan ada, eksis di sini. Setidaknya ini gambaran yang saya dapat dari bacaan dan televisi.

Saya juga punya contact person di Jakarta. Saudara dekat saya bermukim di Bilangan Bintaro dan Depok. Saudara dekat-agak jauh tersebar di sejumlah lokasi lain. Beberapa kali saya mengunjungi Jakarta. Saya mulai ingat sejak saya ‘liburan’ di Bintaro saat kelas 2 SD. Kesan umum saya pada Jakarta: sumpek. Jalanan macet. Kota yang tidak teratur. Kota yang asosial. Saya pernah menjejakkan kaki di belasan kota di republik ini, saya merasa di Jakartalah ruang publik paling asosial terbangun. Di tempat-tempat umum Jakarta, hampir semua warga menghidari kontak sosial tak perlu dengan orang di sekililingnya. Tak bertegur sapa bukanlah hal yang mengurangi kesopanan. Bertanya pada orang dijawab acuh tak acuh. Semua pandangan menyelidik. Menerka-nerka: apakah ini bentuk penipuan modus baru?

Terlalu banyak penipuan di Jakarta. Warganya demikian protektif. Hal serupa tak saya jumpai di kota-kota lain. Stereotip ‘bangsa yang ramah’ justru tak kita temui di ibukota yang menjadi representasi negara kita. Beruntung, kondisi asosial ini hanya berlaku di tempat-tempat umum dan keramaian. Di lingkungan pemukiman, warga Jakarta tak kurang guyub dibanding warga kota-kota lain. Maklum saja, mereka umumnya perantau. Jauh dari teman, kenalan, maupun sanak kerabat. Pada tetangga mereka banyak berharap.

Semasa kuliah, sejumlah teman bersemangat untuk menapaki hidup dari Jakarta. Jakarta menawarkan segalanya. Pusat intelektual, poros kebudayaan, episentrum politik. Mengawali karier dari Jakarta demikian menjanjikan. Sejak awal saya berusaha menghindari Jakarta untuk ‘bekerja’. Sebabnya, saya punya pengalaman ‘buruk’. Untuk kepentingan skripsi, saya mengunjungi dua orang responden di Jakarta. Saya diantar seorang teman, Eko Adi Prasetya yang lebih menguasai medan. Dua malam saya di Jakarta. Di sela-sela interviuw dan observasi saya mencoba merenungi geliat kehidupan Jakarta: bangun dini hari. Mengejar bus kota. Terjebak macet. Bekerja seharian. Bergegas pulang. Terjebak macet kembali. Tiba di rumah sesaat setelah rembang petang. Mandi air hangat. Menyelonjorkan kaki di sofa seraya menonton televisi dan bercengkerama dengan keluarga. Pukul 21.00 paling lambat kita harus sudah di atas tempat tidur.

Saya bersyukur tak harus menjadi warga Jakarta untuk sekedar bertahan hidup, survival of the fittest dan menjadi homo homini lupus. Tentu saya percaya pandangan saya atas Jakarta ini masih di kulit arinya wajah ibukota kita itu.

Gambar diambil di: skyscrapercity.com

Iklan

7 Tanggapan to “jakarta”

  1. om dessy Says:

    Jakarta…. jakarta….., bermimpilah

  2. masmpep Says:

    @ om dessy:
    jakarta adalah tempat bermimpi. slawi adalah tempat paling baik untuk berpijak. melalui blog kita dapat berbuat, he-he-he

  3. WAWAN Says:

    hidup..the jackmania!!!!

  4. hasan Says:

    jakarta, jakarta, jakarta,

    kota yang demikian keras.

    selamat buat teman-teman yang telah mampu menaklukkan jakarta,

  5. masmpep Says:

    @ mas wawan+ mas hasan:
    bangunlah jiwanya, bangunlah badannya
    untuk jakarta raya….


  6. Jakarta kota metropolitan..
    sangat keras hidup dijakarta.

  7. woody Says:

    kok gambarnya simpang lima semarang sih mas??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: