<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>masmpep</title>
	<atom:link href="http://masmpep.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masmpep.wordpress.com</link>
	<description>verba volant scripta manent</description>
	<lastBuildDate>Wed, 07 Dec 2011 07:42:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masmpep.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>masmpep</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masmpep.wordpress.com/osd.xml" title="masmpep" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masmpep.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah, Kasih, Kesah di Jembatan Asmara</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/11/30/kisah-kasih-kesah-di-jembatan-asmara/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/11/30/kisah-kasih-kesah-di-jembatan-asmara/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Nov 2011 01:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan asmara]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=419</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, indigenous people. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=419&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Melanjutkan pendidikan (tinggi) ke Jawa bagi kami yang haus akan pembangunan di kota kecil pedalaman Sumatera adalah mimpi, menjadi bagian dari cita-cita itu sendiri. Bagi saya ada soal pribadi yang hendak saya genapi: identitas untuk menjadi otentik, <em>indigenous people</em>. Selain itu, kehidupan kampus telah menarik perhatian saya sejak lama. Sesungguhnya saya telah bosan dengan metode belajar saat sekolah. Kebosanan saya menjadi-jadi menjelma menjadi kemarahan, terutama ketika saya SMA. Bersekolah di SMA seharusnya menyenangkan: satu fase pengakuan keremajaan dengan celana panjang abu-abu—untuk menutupi bulu kaki, pubertas, lawan jenis, avonturisme anak muda, dan banyak lagi.<span id="more-419"></span></p>
<p>Soal menjengkelkan dalam kehidupan akademik saat SMA adalah dikotomi Program IPA dan IPS. Sudah umum diketahui bahwa setiap siswa SMA adalah IPS, kecuali dia lolos seleksi IPA. Dan IPS adalah semacam jurusan paria. Saya harus menelan ludah ketika mendapati teman-teman di Program IPA mendapat nilai sempurna di raportnya: 10. Di sekolah saya, nilai tertinggi untuk Program IPS adalah 9. Yang paling membuat saya geram adalah jawaban guru-guru IPS saya ketika saya menggugat soal-soal nilai ini saat jam istirahat. IPS itu ilmu relatif, jadi tidak ada yang sempurna di sana. Relativitas dipahami sebagai ketidaksempurnaan. Dan analogi yang membuat saya kembali tergetar oleh kegelisahan membuncah adalah contoh yang paling sering diucapkan orang: dalam ilmu sosial 1+1 belum tentu=2. Bisa saja jawabnya menjadi 3, 4.</p>
<p>Ilmu sosial relatif. Baiklah, kata saya dalam hati. Analognya saja tidak tepat. Kalau ilmu sosial tak dapat dimatematiskan (ilmu ekonomi sebagai salah satu rumpun ilmu sosial yang dapat dimatematiskan) ya tak usah buat analogi matematis. Katakan saja persamaannya begini: <em>Persamaan 1</em>. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=Harga BBM turun. <em>Persamaan 2</em>. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=ledakan bom buku. <em>Persamaan 3</em>. Harga BBM naik+demonstrasi mahasiswa=kerusuhan. Silakan buat persamaan sebanyak-banyaknya, dan lengkapi dengan argumentasi yang logis. Saya kira ini makna relatif dalam ilmu sosial yang berterima. Setiap sama dengan (=) dalam persamaan ilmu sosial haruslah didukung teori, riset, juga bukti. Untuk alasan inilah kiranya Snouck Hurgronje tekun meneliti soal Aceh hingga melahirkan manuskrip <em>Atjeh Verslag</em> yang kemudian dibukukan dalam <em>De Atjeher </em>termasuk Margaret Mead yang melakukan observasi partisipan—ada yang menyebut hingga 9 tahun—di  Samoa dan menghasilkan <em>magnum opus</em> <em>Coming of Age in Samoa</em>. Jadi ilmu sosial juga berhak mendapat ponten 10 dan tak seharusnya diuji secara <em>multiple choice</em>. <em>Tak iye</em>.</p>
<p>Baiklah. Pilihan saya kemudian adalah Solo. Alasannya sederhana saja: saya belum dapat mengukur kemampuan untuk mencoba Yogya. Alasan logis yang saya pegang untuk menutupi ketidaksiapan saya bersaing adalah: Solo merupakan kota yang kondusif untuk belajar; berbeda dengan Yogya yang <em>crowded</em>, bayangkan 97,5% mahasiswinya saja sudah tidak perawan. Maka Solo adalah pilihan paling taktis, mempertimbangkan alasan-alasan filosofis dan ideologis serta hitung-hitungan terawangan uji skor <em>passing grade</em> saat Bimbel UMPTN. Dan puji Tuhan, nama saya tercantum dalam pengumuman UMPTN dan berhak mendapat satu kursi di Solo.</p>
<p>Mula-mula, sebagai Mahasiswa Baru (Maru) saya harus mengikuti Ospek Gaya Baru—yang disebut Osmaru. Meskipun terobsesi pada lingkungan akademik yang demokratis saya sesungguhnya ingin menjajal Ospek seperti yang ditulis koran-koran tahun-tahun sebelum saya menjadi mahasiswa. Tetapi semangat zaman berubah. Ospek model begitu dianggap tak sesuai Amanat Reformasi dan harus tutup buku. Saya kemudian mengikuti serangkai ceramah, baik dari pejabat Dekanat hingga pejabat-pejabat mahasiswa. Tak apa. Masih ada mekanisme bintang emas dan bintang hitam dalam skema <em>reward</em> <em>and punishment</em>. Karena masih pemalu, saya tak banyak mendapat bintang emas. Saya hanya ingat peraih bintang emas terbanyak adalah mahasiswi Komunikasi bernama L. L memperoleh semacam anugerah <em>privilese</em> dari wajahnya yang menawan sehingga kakak-kakak mahasiswa begitu royal memberi bintang emas kepada. Saya hanya mencuri-curi pandang dari kejauhan, bukan pada bintang emas, tetapi pada Lisa yang pasti tak melirik saya. Saya pun <em>haqul yakin</em> bila L semasa menjadi mahasiswi di kampus tak pernah mengenal ada mahasiswa-kapiran bernama saya. Tak apa. Tak dikenal L tak <em>patheken toh</em>, kata saya menghibur diri.</p>
<p>Meskipun berharap Ospek yang agak-agak keras macam Ospek Teknik, atau Ospek yang <em>nyeleneh</em> macam Ospek Sastra, Ospek di fakultas menarik juga. Saya tertarik memperhatikan pembicara-pembicara: diksi yang digunakan, gestur, penampilan, sambil membayangkan apakah saya mampu berbicara seperti mereka di hadapan paling kurang 200 orang. Saya belajar pula, dengan mengamati diam-diam dalam sayup-sayup kelompok Maru pinggiran, teman-teman Maru yang menonjol. Ada yang menonjol karena bakat memimpin teman-teman, ada yang menonjol karena perbendaharaan istilah sulit, ada yang menonjol karena mengemukakan pendapat dengan tenang dan terstruktur. Masa-masa Ospek Fakultas dan Jurusan saya manfaatkan untuk membaca peta dan menyusun konfigurasi kemampuan teman-teman. Oh, dia <em>nih</em> yang pintar omong, kapan-kapan saya ajak <em>ngobrol</em>. Boleh juga didekati agar tertular pintar. Oh, ini <em>nih</em> mahasiswi idola karena parasnya yang rupawan, kapan-kapan saya harus membuang angan mengobrol dengannya ah, karena tak ada nyali, dan percuma karena dia mungkin merasa tak perlu mengobrol dengan saya. Begitu kira-kira saya melakukan analisis SWOT sederhana.</p>
<p>Itu juga sebabnya ketika Ketua Jurusan mengisi kelas Ospek dan memimpin pemilihan Koordinator Tingkat (Koti) nama saya sama sekali tak disebut. Beberapa teman yang telah menjadi mahasiswa lebih dulu, saya ingat antara lain EAP atau TWS termasuk Maru yang aktif—mungkin karena telah familier dengan lingkungan kampus. Tak heran bila secara aklamasi pula sahabat saya TWS didaulat menjadi Koti. Saya lupa-lupa ingat, namun sepertinya teman-teman bersorak gembira dan bersyukur memiliki Koti yang meyakinkan macam TWS. Setelah itu langkah-langkah TWS memimpin angkatan memang taktis, cekatan. Bagi saya Tunggul seorang yang dewasa, ditambah kacamata yang selalu dipakainya membuatnya semakin <em>look smart</em>, belum lagi penampilannya yang rapi: bersepatu dan kaos atau baju dimasukkan dalam celana panjang yang berikat pinggang rapi. Meski tak intens saya beberapa kali berbincang dengannya. Gaya bertuturnya kalem, mengesankan bahwa TWS benar-benar <em>indigenous</em> <em>Wong Solo</em> meskipun lama tinggal di ibukota.</p>
<p>TWS semakin saya anggap teman dekat karena ia pernah menyeberang ke Sumatera, kampung halaman saya untuk satu urusan pribadi. Bagi saya, siapapun yang berasal dari Sumatera atau pernah menjejak kaki di Sumatera adalah saudara. Beberapa waktu setelah lulus kuliah TWS pernah mengontak saya, mengabari akan singgah di kota saya dari perjalanan sepeda motornya melintasi trek Jakarta-Solo. Saya menyilakan TWS mampir dan kami sempat makan malam bersama. Malamnya kami tidur lesehan di kontrakan saya yang sederhana, karena saya belum memiliki ranjang. Saat sedang nyenyak tertidur saya dibangunkan TWSl. Dengan mata sipit saya menanyakan padanya: <em>what’s wrong</em>? TWS tampak gelisah, ada sapu bung, katanya mendesak. Kalau sedang terjaga mungkin saya menyempatkan diri untuk tersenyum atau tertawa: tengah malam cari sapu, buat apa. Saya bilang sapu di sudut kontrakan. Cekatan dan taktis, seperti gayanya sebagai Koti, TWS mengambil sapu dan menyapu kamar saya. Katanya tadi dia melihat kecoa. Karena saya terbiasa dan tak merasa ada yang salah dengan kecoa—saya anggap sebagai sahabat di kontrakan saya yang sepi—dan kecoa jauh dari urusan-urusan nyawa, saya melanjutkan tidur yang tertunda. Esoknya, meskipun tak terkatakan saya menyampaikan permintaan maaf pada TWS atas ketidaknyamanannya pada kecoa yang memang sudah saya anggap biasa kehadirannya di kontrakan saya.</p>
<p>Dalam Ospek Jurusan saya mulai intens dekat dengan teman-teman. Beberapa Maru yang berasal dari luar Jawa Tengah dan Jawa Timur tampak menonjol karena aksennya masing-masing. Saya masih ingat betul BP sahabat saya asal Tasikmalaya. Sebagai Maru BP tampak berusaha keras menjadi bagian dari teman-teman dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun aksen saya mungkin dianggap Sumatera Kontinental, saya sedikit banyak bisa berbahasa Jawa Saxon. Tak terlalu masalah, paling kurang secara aktif saya bisa <em>listening </em>dan memahami kata-kata bahasa Jawa serta secara pasif saya bisa <em>conversation</em> dengan <em>pronounciation</em> Sumatera Kontinental. Saat makan siang, BP diajarkan secara privat <em>vocabulary</em> Jawa berikut <em>pronounciation</em> agar pas tidak tercemar aksen Sunda Anglikan oleh AW—yang kemudian termasuk Maru pertama-tama yang memelihara rambutnya sehingga disapa Gondrong hingga kini, meskipun terakhir rambutnya saya tahu cepak. Beberapa kata diajarkan, dan BP mengikutinya dengan takzim macam santri belajar ilmu <em>taklim mutakalim</em> kepada Kiai khos darah biru keturunan ormas keagamaan terbesar di tanah air yang massanya diklaim 40 juta jiwa. Tak puas kata-perkata, BP diajarkan secara kilat <em>greetings</em>; perkenalan. Mula-mula kalimat: <em>kulonuwun</em>, kemudian berlanjut <em>kulo segawon</em>. Teman-teman terbahak, BP pun tertawa tak kalah kerasnya. Kalau AW harus masuk neraka karena ilmu sesatnya saya kira kami pun turut serta karena <em>silent of crime</em> yang kami lakukan atas BP yang bertambah pahalanya karena didzolimi dengan riang macam soda gembira.</p>
<p>Selain Budi masih ada RM yang hingga akhir kuliah masih tabah dengan aksen Sunda Saxon-nya. RM dari Banten. Saya ingat RM sulit mengeja satu kata, namun sayang sekali saya lupa kata itu, macam kesulitan orang mengeja Pukesmas untuk menjadi Puskesmas. RM mondok di depan kampus, di Bilangan Jalan Mendung, sama dengan saya. Kost teman-teman fakultas umumnya di samping kampus bilangan Jalan Mega, petir dan anak turunnya, atau di belakang kampus di Bilangan Jalan Surya. Saya kerap berjalan kaki bersama RM, atau A. Kali lain saya bersama ABN, EAP, juga AS.</p>
<p>Kost di Bilangan Jalan Mendung terhitung jauh dari kampus sehingga jarang mahasiswa yang mondok di kawasan elite ini. Kami mahasiswa-mahasiswa yang mondok di depan kampus biasa ke kampus potong kompas lewat Jalan Mendung 1. Namun celaka, beberapa tahun kuliah Rektorat membuat pagar keliling kampus. Meskipun demonstrasi tak kurang-kurang, pembangunan tetap dilakukan. Setelah itu bila ingin ke kampus kami harus memutar melewati <em>boulevard</em>. Beberapa mahasiswi bernyali kerap lewat jalan pintas di pagar Fakultas Teknik. Di sana ada tangga di kedua belah sisi pagar yang harus dinaiki bila ingin potong kompas. Saya ingat satu kali melewati jalur <em>adventure</em> ini, kalau tak salah bersama RM dan A yang biasa memanfaatkan jalur ini. Saya adalah serupa mahasiswa yang tak lincah, takut ketinggian, dan ditanamkan semangat tak melanggar hukum sejak kecil. Sekali menaiki tangga itu membuat saya harus berpikir ulang menanggung risiko. Saya kemudian lebih memilih jalur aman: <em>boulevard</em> kampus, sambil mengagumi mahasiswi-mahasiswi yang lewat, berharap cemas ada teman yang mengendarai sepeda motor sehingga alamat baik dapat boncengan, atau berhenti sejenak membaca jurnal-jurnal bekas di kaki lima trotoar.</p>
<p>Perkuliahan dimulai. Dalam hati saya bersorak, inilah situasi yang saya tunggu. Semester pertama kuliah saya dan teman-teman satu angkatan mengikuti kelas dengan paket yang sama: 18 SKS. Kuliah selama 6 bulan menghabiskan 18 SKS sungguh perkuliahan yang terbilang santai sehingga menjadi menyenangkan bagi saya. Saya merasakan energi teman-teman yang berlebih, saya kira teman-teman juga merasakan perasaan yang sama: ingin segera menguak tabir ilmu Sosiologi secepatnya dan setuntasnya. Ternyata memahami ilmu yang sudah dikenalkan di SMA ini tak gampang. Pelajaran-pelajaran Sosiologi di SMA sungguh elementer, karena saya harus terkaget-kaget mendapat teori-teori dasar: Paradigma Definisi Sosial, Paradigma Fakta Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial yang diintroduksi George Ritzer. Sungguh perbedaan antara Paradigma Definisi Sosial dan Paradigma Perilaku Sosial sangat tipis, butuh pemahaman yang jernih, sementara semasa SMA saya hanya mengenal konsep-konsep Sosiologi semata macam <em>gemeinschaft</em> atau <em>gesselschaft</em>, atau stratifikasi sosial dan semacam itu.</p>
<p>Semester-semester awal saya lalui dengan terbata-bata. Saya kira teman-teman pun mengalami hal yang sama. Saya merasa keki dengan dosen-dosen yang <em>nyerocos</em> mengumbar teori sedang saya belum mampu memberi pertanyaan cerdas apalagi berbantahan dangan <em>feedback </em>sambung-menyambung. Tak ada cara lain kecuali banyak-banyak belajar, begitu kesimpulan saya. Semenjak SMA saya mulai menemukan metode belajar yang menurut saya pas. Ketika kuliah metode balajar tersebut yang saya lakukan. Saat menginjakkan kaki di Solo saya membeli buku tulis untuk catatan kuliah sebanyak 10 buah. Saya sengaja tak membeli binder karena bagi saya yang gemar mengarsipkan catatan—hingga kini catatan dan <em>copy </em>tugas-tugas kuliah masih tersimpan rapi di rak buku saya—mengarsipkan lembaran-lembaran kertas binder berisiko tercecer. Pasal lain terutama karena metode saya mendengar ketimbang mencatat. Meskipun gemar menulis saya menganggap mencacat materi perkuliahan (atau rapat, saat ini) tidak efektif, sama dengan bekerja dua kali. Karena itu konsekuensinya saya harus menyimak uraian dosen dengan tekun tanpa harus mencatat, yang kemudian saya lengkapi dengan membaca buku-buku teks maupun <em>Kompas</em> sebagai pelengkap isu aktual. Saya beruntung karena di tempat kost saya kami berlangganan <em>Kompas</em>, hanya membayar Rp. 3 ribu masing-masing per bulan.</p>
<p>Untuk menguatkan ingatan saya, sejak mula-mula kuliah saya mewajibkan diri untuk bertanya. Karena itu saya termasuk mahasiswa yang hampir pasti bertanya pada setiap kelas perkuliahan. Pada semester-semester awal saya lebih banyak bertanya, menggenapi ketidaktahuan saya atau menegaskan perspektif yang hendak saya bangun dari materi perkuliahan sang dosen. Setelah semester ketiga dan seterusnya saya berusaha untuk tidak bertanya tetapi berpendapat, atau mendebat. Bagi saya metode ini efektif membangun ingatan dan perspektif. Kalau saya mendebat sesuatu bukan berarti sikap intelektual saya tak sepakat dengan sesuatu yang saya debat itu. Seringkali saya mendebat sesuatu untuk mendapat gambaran bagi perspektif itu bagaimana menjawab sanggahan. Saya mempelajari sanggahan dosen, sedikit saya tambahi perspektif saya dan ketika suatu waktu ketika perspektif saya digugat dengan gugatan yang dulu saya pernah sampaikan, secara relatif saya sudah tahu sanggahannya.</p>
<p>Metode ini ternyata lazim digunakan oleh mahasiswa Fakultas Hukum. Dalam menilai sesuatu, mereka—setidaknya—terlatih untuk bersikap dalam sikap pro dan kontra misalnya. Argumentasi-argumentasi perspektif pro mereka pahami dengan teliti sekaligus berusaha menduga kemungkinan sanggahan perspektif kontra. Mereka dilatih membangun argumentasi dari dua atau banyak perspektif sekaligus. Dengan metode ini logika berpikir mereka holistik, sebelum kemudian mereka memilih sikap inteletual menurut perspektif tertentu yang mereka pilih. Ketika diserang atawa disanggah menurut perspektif lain, mereka telah siap karena sanggahan itu sudah dipikirkan. Saya kira sikap intelektual yang holistik macam ini bagus sekali, membuat intelektual bersikap menghormati pendapat orang namun setia sampai mati dengan keyakinan intelektualnya. Saya tak tahu apakah sikap ini dapat dikelompokkan sebagai sikap pluralis yang memahami perspektif intelektual terorisme tetapi tak sependapat dengan teroris.</p>
<p>Untuk sesi-sesi perkuliahan saya harus menyebut beberapa nama yang sungguh mengesankan bagi saya. Sahabat saya AS menurut saya seorang pembelajar yang tangguh. Saya terhitung tak dekat bercengkerama dengan AS namun sebagai sahabat saya mengikuti perkembangan intelektualnya. AS bagi saya seorang mahasiswa <em>correct</em>, bacaannya tuntas dan hapal nyaris kata per kata untuk setiap teori. AS juga mahasiswa yang energik, aktif berolahraga (Ketua UKM Basket Fakultas), rajib berpacaran dan masih sempat-sempatnya <em>cumlaude</em>.</p>
<p>Tak seperti AS, bagi saya menghapal kata per kata satu teori adalah mimpi buruk. Saya cenderung lebih suka potong kompas, memahami maksud teori dan membahasakan menurut bahasa saya sendiri. Metode ini membuat saya—tentu saja menurut saya—lebih memahami satu teori atau konsep, itu kalau kebetulan tafsir saya tepat. Kalau tafsir atau pembacaan saya lamur sedikit, perspektif saya menjadi keliru besar. Saya kerap mengalami hal ini. Sepanjang perkuliahan—dan hingga kini, karena saya gemar menulis—saya berulangkali merevisi perspektif saya. Revisi perspektif saya lakukan karena bacaan baru, atau ketika saya mengulang bacaan lama dan saya mendapati dahulu saya terburu-buru mengambil perspektif. Pemahaman teoritik AS bagi saya paling otentik diantara teman-teman. Satu ketika kami mendiskusikan soal <em>survival of the fittest</em>. AS hapal di luar kepala bahwa secara utuh teori Darwinisme Sosial Herbert Spencer ini, bahwa <em>survival of the fittest</em> adalah tahapan akhir dari sejumlah tahapan <em>natural selection</em> dalam <em>struggle for life</em>. Hal-hal detail seperti inilah yang tak ada pada saya, meskipun saya dan AS sama-sama membaca buku <em>Teori Sosiologi Klasik dan Modern</em> yang sama.</p>
<p>Semasa kuliah saya dan AS pernah mengambil matakuliah Sosiologi Pedesaan pada semester yang sama. Bu RH, dosen Sosiologi Pedesaan memberi tugas akhir matakuliah berbentuk paper. Sejak mula saya tertarik dengan industri Ciu di B. Saya kemudian mengurus surat pengantar dari Dekanat, dan satu hari seorang diri—seperti kegemaran saya—saya meluncur ke B. Hipotesis saya: masyarakat B ini keren, permisif ketika sebagian warganya memproduksi Ciu. Saya ingin mendapat gambaran adakah konflik antarwarga di sana, karena selain terdapat warganya yang memproduksi Ciu sebagian warga B terhitung religius. Istri tokoh nasional yang pernah menjadi pemimpin lembaga tertinggi negara saya tahu berasal dari B. Saya menumpang bus menuju B. Melapor pada Kepala Desa di kantornya, dan disambut dengan hangat. Perangkat desa mengatakan bahwa B memproduksi alkohol 98% secara legal, bukan Ciu. Perangkat desa juga mengingatkan saya, bahwa karena saya membawa surat resmi dari Dekanat saya diijinkan meneliti namun nanti hasil penelitiannya ditulis dengan hati-hati, agar tidak timbul gejolak. Wuih, saya yang ketika itu bergiat dalam pers mahasiswa semakin bersemangat. Pertama-tama, naluri jurnalistik saya mengatakan aparat desa menutupi soal Ciu ini, dan dari sudut pandang jurnalistik ia justru menjadi menantang—apalagi bagi mahasiswa sok jurnalis-amatiran macam saya. Embel-embel ‘silakan meneliti namun harap bijaksana’ semakin membuat saya bergelora. Saya sempatkan bertanya pada kepala desa siapa-siapa pengrajin Ciu (atau alkohol menurut perangkat desa) di B. Meskipun saya hendak mencari informasi langsung di lapangan, masukan perangkat desa bernilai <em>snowball sampling </em>bagi saya yang belum pernah ke B  sebelumnya. Perangkat desa menyebut beberapa kontak pengurus Paguyuban Pembuat Alkohol, yang segera saya datangi.</p>
<p>Tak saya duga sebelumnya, saya bertemu AS di B. Ternyata dia ingin meneliti hal yang sama dengan saya. Karena AS membawa sepeda motor, sedang saya infanteri saja, kami kemudian mewawancarai beberapa pengurus Paguyuban Pembuat Alkohol di B. AS masih sempat memotret saya dengan kamera digital yang dimilikinya—sudah tentu saya tak punya teknologi ini—berpose di depan papan penunjuk ‘Desa Industri Alkohol B’. Potret itu hingga kini saya simpan, sebagai kenang-kenangan dari sahabat saya AS. AS juga memotret proses pembuatan Alkohol dari <em>badek</em>, tetes tebu yang difermentasi. Penelusuran saya kemudian ternyata tak menjawab hipotesis saya yang menggebu-gebu. Produksi Ciu—kalaupun ada—dilakukan secara tak legal dan persentasenya memang tak lebih banyak ketimbang produksi alkohol. Sebagai mahasiswa cum jurnalis-kapiran saya pun tak berhasil mendapati produksi Ciu secara langsung. Saya hanya sempat bertemu seorang informan yang menceritakan soal Ciu ini. Perbedaan antara Alkohol dan Ciu memang tipis. Alkohol adalah hasil fermentasi tetes tebu yang disuling dua kali sehingga kadarnya 98%. Bila disuling hanya satu kali, kadarnya hanya 50-60%, dapat dikonsumsi sebagai minuman keras yang disebut Ciu. Saya kira Paguyuban yang kelasnya memproduksi Alkohol untuk industri memang membuat Alkohol 98% ini, karena margin keuntungan lebih besar ketimbang membuat Ciu saja. Membuat Ciu menjadi Alkohol memang membutuhkan teknologi lebih tinggi—penyulingan dua kali, dan saya memahami bila Paguyuban tak memproduksi Ciu sebab teknologi yang mereka miliki tak sebanding dengan keuntungan Ciu. Saya pun tak ada waktu banyak—selain tentu saja tak ada <em>contact person</em>—untuk menyambangi industri rumahan yang memproduksi Ciu.</p>
<p>Bu RH mengatakan kepada kami yang mengambil matakuliah Sosiologi Pedesaan untuk menulis laporan penelitian dengan sebagus-bagusnya. Silakan gunakan gaya bahasa sendiri, tak harus menurut sistematika penelitian yang baku. Saya kemudian menuliskan laporan penelitian saya berbentuk <em>features</em>—sebagaimana jenis tulisan jurnalistik untuk liputan/reportase yang cocok untuk tulisan <em>investigative reporting</em>. Saya berusaha menuliskan laporan penelitian sebagus mungkin. Saya tahu AS menulis laporan penelitiannya dengan komplit, menurut sistematika penulisan ilmiah. Saya harap-harap cemas menunggu, ikhtiar saya soal <em>features </em>ini. Hingga saat KHS dibagikan saya menelan ludah kecewa. Nilai saya untuk matakuliah Sosiologi Pedesaan <em>cukupan </em>saja, tidak lebih tinggi dari AS. Dalam hati saya menyesali <em>features</em> saya. Saya tak tahu apakah Bu RH tak familier dengan <em>features</em> atau memang <em>features </em>saya jelek. Saya berbaik sangka bahwa memang <em>features</em> saya yang jelek.</p>
<p>Sahabat saya yang lain yang harus saya sebut adalah AW. Bagi saya cerita soal AW ini sungguh mengejutkan. Sepanjang pengamatan saya pada awal-awal kuliah, AW sama sekali tak menonjol seperti saya dan banyak kawan yang lain. Dalam sesi-sesi perkuliahan pada semester-semester awal AW lebih banyak diam sehingga saya tak sempat memperhatian apa yang dilakukannya di kelas. Menginjak semester ketiga AW sungguh menjadi mahasiswa yang lain dari sebelumnya. Dengan segera AW menjadi aktif, banyak bertanya atau menyanggah dosen, dan perspektifnya sungguh kaya, kutipan tokohnya saya tahu ‘berat-berat’. Mengetahui AW melesat dengan bacaan yang beragam membuat saya gelagapan untuk mengejar ketinggalan. Satu hari saya pernah menanyakan kepada AW, mengapa dua semester pertama ia lebih banyak diam. AW mengjawab bahwa ia perlu waktu untuk &#8216;membaca situasi&#8217;. Setelah ia mulai merasa nyaman dengan kelas, ia juga menjadi nyaman untuk lebih aktif dalam perkuliahan. Saya kira AW memang sahabat saya yang rendah hati.</p>
<p>Saat matakuliah Sosiologi Keluarga yang diampu Pak Bagus Haryono saya ingat AW menulis paper dengan perspektif yang berani. AW menggunakan novel <em>Pengakuan Pariyem</em>, prosa liris yang ditulis Linus Suryadi AG atas kehidupan priyayi di Yogyakarta sekira tahun 1970-an. Pariyem adalah babu keluarga priyayi tersebut yang diimpor dari Bantul (?) kalau saya tak keliru mengingat. Priyayi tersebut tak disebut identitasnya, namun saya menduga—menurut analisis teks—bahwa priyayi yang diceritakan Linus adalah Umar Kayam, budayawan dari Yogya. Soalnya sang priyayi ditulis sebagai mantan Dirjen Radio Televisi dan Film (RTF), satu jabatan yang jelas-jelas pernah diduduki Umar Kayam. Priyayi tersebut juga ditulis mengajar di UGM dan UNS. Soal Umar Kayam mengajar di UNS, sebagai dosen tamu sekalipun, saya ragu. Namun sebagai fiksi—kekeliruan AW, saya kira, ketika menulis papernya adalah menganggap Pariyem nyata atau <em>based on true story</em>—saya kira Linus berhak menulis apa saja. Sosok Pariyem yang sakit ginjal dalam teks misalnya, dengan analisis konteks dapat disimpulkan sebagai citra penulis (Linus) sendiri. Linus, sastrawan Yogya seangkatan Emha Ainun Nadjib yang lulus seleksi Akademi Kepolisian namun kemudian memutuskan keluar, pernah sakit ginjal dan memilih pengobatan alternatif hingga sembuh ketimbang menjalani operasi sesuai nasihat dokter.</p>
<p>Menggunakan teks sastra bagi kajian ilmu sosial belum banyak dilakukan, sekurang-kurangnya pada teman-teman, termasuk saya. Selama kuliah saya sendiri belum pernah melakukan analisis konteks sastra, meskipun interteks sastra dengan ilmu sosial menarik dikaji. Sudah diketahui publik bahwa karya sastra dibangun di atas s<em>etting</em> (tempat dan konteks) yang di dalamnya melekat ilmu sosial, sejarah, etnografi, dan seterusnya. Sastra juga memiliki tendens atau amanat yang tak bebas nilai dari ideologi, sehingga kita mengenal Sastra Islam, Sastra Islami, Sastra Wangi, Sastra Eksil, atau sastrawan-kapiran macam saya.</p>
<p>Sahabat lain lagi yang dekat secara intelektual dengan saya adalah RAH. Dengan RAH saya memang dekat secara pribadi. Kedekatan saya bermula saat istirahat Ospek jurusan. Teman-teman mengaso di Hutan FISIP, di atas tikar yang digelar panitia. Saya dan beberapa kawan rebahan di tikar. Seseorang saya dengar menyanyi lirih, lagu <em>Padi </em>dari album kedua <em>Sesuatu yang Tertunda</em>. Lagu yang dinyanyikan sesungguhnya bukan hits seperti lagu <em>Sesuatu yang Indah</em>, melainkan lagu <em>Perjalanan</em>, lagu pertama di Side B. Saya termasuk Sobat Padi dan <em>surprise</em> ada seseorang yang lirih melagukan: <em>kulayangkan pandangku melalui kaca jendela</em>/<em>dari tempat kubersandar seiring lantun kereta</em>/<em>membawaku menyinggahi tempat-tempat yang indah</em>/<em>membuat hidupku penuh riuh dan berwarna</em>…. Saya pun menoleh dan menanyakan namanya. Sejak itu saya memiliki sahabat bernama RAH.</p>
<p>Bagi saya RAH adalah sahabat yang paling banyak saya jadikan tandem berdiskusi. Masa mahasiswa memang dengan sadar saya niatkan sebagai fase membentuk kepribadian, atau dalam konteks intelektual membentuk perspektif sosiologis saya. Saya kerap berdiskusi dengan RAH sambil pulang kuliah. Dari kampus kami jalan kaki bersama ke <em>boulevard</em> depan kampus. Sepanjang perjalanan kami berdiskusi macam-macam. Saya kerap melontarkan sikap-sikap atas sesuatu dan RAH menanggapi. Masa-masa kuliah sekaligus masa saya berlatih kemampuan menulis. Hampir setiap bulan saya mampu menulis paling tidak satu artikel dan RAH salah satu teman yang mula-mula membaca <em>print out</em> artikel tersebut, <em>copy print out</em> yang saya kirim ke media massa. Sepanjang kuliah saya telah mengirim ke banyak media, sejak dari <em>Kompas</em>, <em>Jawa Pos</em>, <em>Suara Merdeka</em>, <em>Solopos </em>dan tak ada satupun yang memuat tulisan saya. Hanya <em>Bengawan Pos</em> yang kini telah bubar, media yang mau memuat tulisan saya semasa mahasiswa. Mungkin saat itu redakturnya sedang lamur, atau kasihan melihat naskah tulisan saya. Honor <em>Bengawan Pos</em> saat itu Rp. 35 ribu, lebih mahal lagi biaya saya menulis sebenarnya: rental komputer, <em>print</em>, amplop dan perangko. Mengirim artikel saat itu mahal karena teknologi mengirim artikel melalui <em>email </em>belum dikenal. Redaktur koran masih gaptek, saya apalagi. Saya hanya percaya: syarat menjadi penulis hanyalah keras kepala, keras kepala, keras kepala. Itu saja.</p>
<p>Saat kuliah—hingga kini sesungguhnya—saya belum memiliki komputer. Saya biasanya memijam komputer teman kost atau menyewa di rental komputer yang masa-masa itu bertebaran di setiap gang. Saya membiasakan diri mengarsip setiap tulisan atau tugas-tugas kuliah yang pernah saya buat dengan memfotokopinya. RAH sering memberi pendapat atas artikel yang saya buat. Hingga kini saya terus memprovokasi RAH untuk menulis juga. Meskipun saya banyak berdiskusi dengan RAH, sesungguhnya RAH teman yang lebih banyak mendengarkan saya ketimbang ia sendiri berbicara. Sehingga meskipun—mungkin—RAH mengenal saya secara mendalam, saya tak mengenal banyak soal dirinya. Sungguh saya merasa kecolongan soal ini, hingga kini. Mungkin juga RAH tipe mahasiswa yang tak ingin banyak cingcong, macam saya.</p>
<p>Sejak mula saya tak ingin menjadi mahasiswa yang serius, yang menghabiskan waktu di kampus-perpus-kakus. Saya pun ingin seperti yang lain, mereguk habis masa-masa indah saat dibilang remaja tak mau namun belum cukup disebut dewasa. Mantera Ashadi Siregar dalam <em>Cintaku di Kampus Biru</em> melekat dalam ingatan saya: pesta, buku, cinta. Saya kira saya dan banyak mahasiswa lain tak gemar berpesta, macam kesaksian Dono Warkop dalam novel-novelnya seperti <em>Dua Batang Ilalang</em> atau <em>Cemara-Cemara Kampus</em>. Tak berpesta rasanya tak mengurangi kualitas masa muda saya. Lalu buku, sudah pasti saya kuliti sampai kulminasi titik jenuh namun membuat adiksi. Kemudian cinta.</p>
<p>Saat menginjakkan kaki di Terminal Tirtonadi satu fajar beberapa hari sebelum registrasi Maru jantung saya telah berdegup kencang. Imaji soal Puteri Solo lekat dalam benak saya. Seluas lebih dari 136.000 km<sup>2</sup>, pulau Jawa ini, hanya gadis Solo dan Bandung yang mendapat tempat istimewa dalam imajinasi publik. Yang pertama disebut Puteri Solo, yang kedua disebut Mojang Priyangan. Tak ada label Puteri Magetan atawa Mojang Banten. Yogyakarta yang punya dua keraton—sesungguhnya yang satu lebih tepat disebut puri—pun tak diimajikan orang seperti Solo dengan Puteri Solo yang <em>Lumakune koyo macan luwe</em>/<em>Sendal jinjit pengrakite</em>/<em>Piyat-piyet suarane</em>/<em>Kelap-kelip berliane</em>. Lagu Puteri Solo ini masih pula memprovokasi <em>Putri Solo</em>/<em>Yen ngguyu dekik pipine</em>/<em>Ireng manis kulitane</em>/<em>Dasar putri Solo</em>…. Kepala saya sampai <em>puyeng </em>membayangkan imaji Puteri Solo ini sekaligus berharap-harap cemas saya dapat memikat salah satu diantaranya.</p>
<p>Selain soal Puteri Solo, Solo juga memikat saya dengan kesahajaannya. Arswendo Atmowiloto menuliskan kesaksiannya soal kehidupan priyayi yang datar namun kaya makna dalam novelnya <em>Canting</em>. Belum lagi lagu Solo di Waktu Malam yang bercerita tatkala <em>Solo di waktu malam hari</em>/<em>Merempuh menarik hati sunyi</em>/<em>Banyak tempat penghiburan asri</em>/<em>Pandangan mata berganti</em>/<em>Jurug dan Tirtonadi yang permai</em>/<em>Daun berbisik di tepi sungai</em>/<em>Kelap kelip sinarnya pelita</em>/<em>Remang remang bercahaya</em>. Sungguh, saya tak pernah menyesal telah menghabiskan bertahun–tahun di Solo.  Solo yang di waktu malam dengan <em>Suara seni yang merayu-rayu</em>/ <em>Meresap dan mendalam di hati</em>/<em>Menawan sanubari</em>….</p>
<p>Sebagai laki-laki tentu saja saya normal, menginginkan cinta, kalau dapat mahasiswi Puteri Solo. Paling kurang keturunan Mangkunegaran atau kalau dapat keturunan Kasunanan sekalian. Namun saya menghadapi realitas objektif dan realitas subjektif yang keduanya tak berpihak pada saya. Realitas objektif yang menyakitkan adalah: mahasiswa yang rupawan sudah ada yang punya. Dalam keputusasaan yang tak tertanggungkan sejumlah kawan mendeklarasikan postulat: setiap mahasiswi rupawan sudah berpacar. Bila ada mahasiswi tak berpacar dia tak rupawan. Tak usah protes, postulat orang putus asa tak memiliki wewenang ilmiah dan jelas tak <em>reliable</em>.</p>
<p>Realitas subjektifnya tak lain adalah saya tercipta sebagai remaja puber yang penakut. Berbincang dengan mahasiswi yang saya taksir adalah mimpi buruk bagi saya. Saya siap sedia berbantahan dengan dosen, bahkan menghadap persiden pun saya kira saya dapat menekan gugup dan mengatasi grogi. Namun mahasiswi, yang rupawan, macam <em>macan luwe</em>? Hah.</p>
<p>Sudah dapat ditebak, karier percintaan saya tak sukses. Beberapa mahasiswi jurusan atau lain jurusan di fakultas pernah menarik minat saya. Saya menggunakan metode—yang ini sungguh Demi Tuhan, jangan ditiru karena tak pernah berhasil—yang saya rancang dapat mengatasi kegugupan saya ketika berada di dekat makhluk hawa. Bila memprospek seorang mahasiswi, umumnya saya mencuri-curi pandang padanya. Saya kira metode ini biasa dilakukan banyak mahasiswa. Saya memperhatikannya diam-diam, dan mulai membayangkan betapa firdaus menjadi kekasihnya. Rupanya saya pengikut setia Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang paling banyak dikutip di surat undangan pernikahan: <em>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</em>/<em>dengan kata yang tak sempat diucapkan</em>/<em>kayu kepada api yang menjadikannya abu</em>. <em>Aku ingin mencintaimu dengan sederhana</em>/<em>dengan isyarat yang tak sempat disampaikan</em>/<em>awan kepada hujan yang menjadikannya tiada</em>. Saya mengungkapkan cinta dengan cara yang sangat sederhana, tanpa kata-kata, dan sekaligus menjadikan tiada hubungan percintaan itu sendiri.</p>
<p>Saya pernah kepincut—dan membuat saya didera gelisah—dengan seorang mahasiswi di fakultas dan di luar fakultas. Trik saya yang tak manjur itu saya gunakan. Saya menganguminya diam-diam. Beberapa kali saya mencoba berkomunikasi, namun tak bisa. Sekedar <em>say hello</em> pun susahnya bukan main. Satu waktu saya berpapasan dengan mahasiswi itu di Jembatan Asmara, dan semua berlalu begitu saja. Saya tak siap memulai percakapan. Kali lain saya sudah merencanakan akan mencegatnya di Jembatan Asmara, namun saya sampai frustasi memikirkan alasan untuk mencegatnya. Pinjam buku? Bertanya mmm…. apa, kostmu di mana?? Ah, sampai saat saya bertemu lagi dengannya di Jembatan Asmara saya belum menemukan permulaan yang memikat. Walhasil, saya sendiri yakin mahasiswi itu tak pernah tahu bila saya sungguh berharap menjadi kekasihnya. Bahkan secara resmi saya pun belum pernah mengenalnya. Saya kira ini yang gawat: dia tak pernah tahu ada mahasiswa bernama saya. Satu-satunya kekeliruan yang saya buat kala itu adalah tidak berkonsultasi dengan sahabat saya AS…. Baiklah, saya melupakan soal cinta sesuai adagium Ashadi Siregar itu. Tak bercinta tak <em>patheken</em>, begitu saya membesarkan hati. (Sepanjang kuliah satu-satunya mahasiswi yang berhasil saya pacari adalah istri saya kini. Dengannya saya merasa lebih banyak dibantu Tuhan ketimbang kelihaian saya sebagai laki-laki memikat wanita).</p>
<p>Meski tak memiliki kekasih, saya memiliki banyak teman di kampus. Sebagai mahasiswa infanteri pejalan kaki, saya bersyukur memiliki sejumlah teman yang kerap membonceng saya dengan sepeda motornya. Maklumlah, jarak kost saya ke kampus ada kalau 3-4 km PP. AJ, AH dan ASP adalah sahabat-sahabat yang kerap membonceng saya. AH sering mampir ke kamar kost saya untuk istirahat sejenak. ASP adalah sahabat yang paling baik, dengan ringan membantu saya mengantar ke beberapa tempat untuk banyak keperluan. AJ adalah teman yang paling sering saya minta membonceng dari kampus ke kost saya.</p>
<p>Bila tak dapat boncengan sepeda motor tak ada pilihan bagi saya kecuali berjalan kaki. <em>Colt </em>kampus saat itu sudah dilikuidasi. Bus <em>Sumber Kencono</em> yang memutari kampus sepanjang Jl. Ki Hadjar Dewantara lama sekali menunggunya di halte, berjubel pula. Daripada mengutuki keadaan saya lebih suka berjalan kaki. Sahabat saya PAA—yang baru menikah—dan ERA paling sering bersama saya menyusuri jalanan kampus yang romantik kalau musim hujan tiba. Guguran bunga flamboyan menutupi aspal kampus. Bila sepeda motor lewat, guguran bunga menyibak. Saya merasa bersahabat dengan Jerry Yan atau Tao Ming Tse yang mukim di tanah <del>Korea</del> Taiwan. Sungguh, kampus saat musim hujan tak ubahnya Korea, atau Jepang, tentu dalam imajinasi saya.</p>
<p>EI dan ERA adalah dua mahasiswi yang ‘hanya’ saya kenal bila ujian. Kami menjadi begitu intim bila ujian tiba, semenjak mid semester maupun ujian semester selama masa perkuliahan saya di kampus. Soalnya sederhana, nama kami bermula dari abjad yang bersebelahan E dan F. ERA beberapa kali meminjami buku renungan harian kepada saya. Menarik, saya berusaha memahami renungan menurut kepercayaan yang diyakini ERA. Teman lain yang selalu di sebelah saya bila ujian adalah GAW. GAW mulanya saya kenal sebagai mahasiswa yang pendiam. Saya sungguh tak menduga ketika di akhir-akhir kuliah GAW menjadi salah satu aktivis mahasiswa papan atas di Solo. Pada awal kuliah saya menjadi salah satu anggota satu organisasi mahasiswa ekstrauniversitas, GAW menjadi mahasiswa ekstrauniversitas yang lainnya. Karier keorganisasian saya mentok, GAW bahkan sempat menjadi ketua salah satu organisasi mahasiswa ekstrauniversitas cabang Solo. GAW kemudian saya dengar melanjutkan aktivitas organisasinya hingga tingkat provinsi. Saya berdoa GAW kelak dapat menjadi pemimpin nasional, menggantikan Muhaimin Iskandar, Suryadharma Ali, atau paling kurang Mathori Abdul Jalil.</p>
<p>Bila ada tugas kuliah, teman yang paling sering satu kelompok dengan saya adalah BD. Saya merasa dekat dengan BD karena ia berasal dari tanah di mana leluhur saya di Jawa bermula. BD memiliki komputer, sehingga soal-soal mengetik tugas dijamin beres. Saya umumnya diberi tugas untuk presentasi di depan kelas, satu tugas yang umumnya saya terima dengan senang hati. BD termasuk teman mahasiswa yang sering singgah di kost saya, begitupun saya. Ketika BD tinggal di kost yang lebih besar—rumah salah satu family-nya—saya lebih sering lagi menyambangi BD. Satu waktu saya diundang meramaikan ulang tahun sepupunya. Kami mengadakan pesta ikan bakar—yang dibakar ramai-ramai. BD membuat sambal terasi <em>himself</em>, yang rasanya <em>maknyus</em>. Saya baru menyadari memiliki teman yang mandiri seperti BD: pintar memasak, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sendiri—satu kali BD bercerita memperbaiki pompa air sendiri dan masuk ke dalam sumur sendiri pula. Saya iri dengan kreativitas dan kemandirian BD sedang saya tetaplah anak mama.</p>
<p>Kalau NFS saya kenal karena beberapa kali kami duduk bersebelahan saat kuliah sedang berlangsung. NFS adalah salah satu teman yang paling mengapresiasi saya—karena itu saya tak mungkin terlupa. NFS pula yang berusaha mempopulerkan sapaan Max Webry bagi saya. Sesungguhnya saya menyukai sapaan itu, karena lebih keren ketimbang sapaan Gondrong bagi AW saya kira, atau nDayak—sapaan mesra kita bagi A—aduh, maaf sekali A, saya lupa nama lengkapmu. Namun teman-teman lain tak ada yang menggunakan sapaan itu. Saya hanya berharap NFS sahabat saya <em>istiqomah</em> dengan usahanya ini. Lain waktu NFS membuat sketsa wajah saya, saya ingat saat perkuliahan Dasar-Dasar Logika. Sketsa itu—tak mirip betul sesungguhnya—dan sketsa yang dibuat sahabat saya yang lain ABN hingga kini masih saya simpan rapi di rak buku saya. NFS pula pernah memberi satu apresiasi pada saya. Ceritanya saya hampir lupa, saya dan NFS saling meminjamkan <em>file</em> tugas. Dalam<em> file</em> yang dikembalikan pada saya, sambil bercanda NFS membesarkan hati saya agar tak selalu berpikir teori yang sulit sekali dipahami layaknya dunia yang samsara. Sekali-kali jadilah Budha atau <em>hippies</em>, katanya. Saya tersenyum dan berterimakasih pada NFS. Coretan NFS itu tetap tersimpan rapi dalam <em>file</em> saya, hingga kini.</p>
<p>Sebagai mahasiswa saya pun tak ingin ketinggalan mode. Ketika teman-teman berjamaah memanjangkan rambut saya pun turut serta. Mestinya saya tahu diri rambut saya keriting macam <em>Indomie</em>. Namun saya nekat meskipun rambut saya tak ada artistik-artistiknya macam rambut Nicholas Saputra yang digilai semenjak memerankan Rangga dalam <em>Ada Apa Dengan Cinta</em>. Beberapa teman yang rambutnya tak artistik tetap memanjangkan rambutnya. Salah satunya WNSDM. WNSDM pada akhir-akhir kuliah memproklamasikan sebutan bagi dirinya sebagai Dek Sri. Namun tak ada teman-teman angkatan yang menyapanya seperti itu. Saya kira hanya teman-teman WNSDM di teater yang efektif menyapanya sebagai Dek Sri. Ketika kuliah sebagai pelengkap mode saya kerap memakai kaos oblong hitam, sepatu sandal gunung dan tas ransel yang efektif menutupi punggung saya. Dalam tas ransel yang besar ini saya membawa sedikit buku, namun tak terlupa membawa <em>sangu </em>air putih dalam botol bekas kemasan air mineral. WNSDM termasuk teman yang hapal kebiasaan saya ini, sehingga ia kerap meminta barang satu-dua-tiga teguk air minum saya. Saya memberinya dengan senang hati, sebagaimana ajaran uraian hikmah agar kita selalu member air, api dan garam.</p>
<p>Lain lagi SWW. Sahabat saya satu ini saya kenal intim saat satu waktu kami berdua terlambat mengikuti ujian semester. Pada akhir-akhir kuliah, teman-teman mengambil matakuliah yang berbeda-beda. Kondisi ini membuat teman-teman harus mandiri dan tak bergantung pada teman satu angkatan. Begitu juga ketika menghadapi ujian. Waktu dan tempat ujian harus dicek dengan teliti agar tak keliru. Saya dan SWW salah satu contohnya. Satu waktu saat masa ujian semester kami santai bercengkerama di Jembatan Asmara dengan sejumlah teman. Saya mengira teman-teman yang bersantai bersama di sana mengambil mata kuliah yang sama dengan saya. Saya kaget luas biasa, ketika teman-teman yang lain baru keluar ruang ujian dan ternyata mereka teman yang mengambil matakuliah yang sama dengan saya. Saya dan SWW berusaha menghadap dosen pengampu dan menceritakan permasalahan kami. Dosen pengampu tersebut memahami kondisi yang kami hadapi dan mempersilakan kami mengambil ujian susulan. Saya dan SWW kemudian ujian bersama dalam keheningan di ruang dosen.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/419/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/419/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=419&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/11/30/kisah-kasih-kesah-di-jembatan-asmara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Celana Dalam Stempel HMI, Fait Accompli dan Bebek Goreng</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/09/30/kisah-celana-dalam-stempel-hmi-fait-accompli-dan-bebek-goreng-pak-slamet/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/09/30/kisah-celana-dalam-stempel-hmi-fait-accompli-dan-bebek-goreng-pak-slamet/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Sep 2011 01:58:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[hmi]]></category>
		<category><![CDATA[susanto kartubij]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=409</guid>
		<description><![CDATA[Setiap hari terjadi kelahiran dan kematian di sekitar kita. Berita-berita mengenai kematian umumnya dimaknai sebagai berita duka, apalagi kepergian tersebut terasa tiba-tiba. Kepergian yang tiba-tiba memang mengejutkan kita, namun bagi yang pergi bisa jadi kepergian tersebut merupakan sesuatu yang lebih baik, misalnya tak berlama-lama menderita. Kepergian yang tak mendadak, seperti didahului dengan sakit yang lama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=409&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setiap hari terjadi kelahiran dan kematian di sekitar kita. Berita-berita mengenai kematian umumnya dimaknai sebagai berita duka, apalagi kepergian tersebut terasa tiba-tiba. Kepergian yang tiba-tiba memang mengejutkan kita, namun bagi yang pergi bisa jadi kepergian tersebut merupakan sesuatu yang lebih baik, misalnya tak berlama-lama menderita. Kepergian yang tak mendadak, seperti didahului dengan sakit yang lama, berbilang minggu, bulan atau tahun membuat yang ditinggalkan lebih siap menerima keadaan, walaupun bagi yang pergi mungkin terasa melelahkan. Kita semua tentu berdoa semoga kepergian kita kelak dalam keadaan sebaik-baiknya, <em>khusnul khotimah</em>. <span id="more-409"></span></p>
<p>Kepergian Pak Susanto Kartubij, senior saya terasa begitu mendadak. Seraya mengheningkan cipta dan memanjatkan doa, saya teringat dengan sejumlah kenangan bersama beliau. Pertemuan dan persinggungan saya dengan beliau tak banyak. Dan saya hampir yakin beliau tak betul-betul mengenal saya secara pribadi, bahwa ada seorang yuniornya bernama saya. Saya tak berhubungan dengan Pak Santo secara pribadi karena persinggungan saya dengan Pak Santo lebih banyak pada acara-acara organisasi. Meski hubungan saya dengan Pak Santo—panggilan akrabnya—terbatas, namun momentum itu penting bagi hidup dewasa saya kini.</p>
<p>Kali pertama saya berhubungan dengan Pak Santo tahun 2002. Kala itu saya mahasiswa baru, masih semester dua. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) saya mengadakan satu diskusi, mengundang Pak Santo sebagai pembicaranya. Saya saat itu mulai aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, menjadi Departemen Penerbitan di HMJ, juga menjadi Departemen Eksternal di HMI Komisariat. Oleh Mas Adi Himawan (Ketum HMJ dan Ketum Komisariat periode itu) saya dikader untuk menjadi moderator diskusi itu. Bagi saya diskusi itu bernilai penting, karena saya menjadi moderator dalam forum yang terhitung “kolosal”, untuk pertama kalinya. Saya pun sudah tak ingat tema diskusi itu, namun saya mengingat betul hampir 40 mahasiswa memenuhi ruang Pascasarjana Fakultas.</p>
<p>Beberapa saat sebelum diskusi dimulai Pak Santo datang, tergopoh-gopoh sambil mengatakan agendanya padat hari itu. Mas Adi Himawan menyambutnya, dan mengenalkannya kepada saya. Sebelumnya saya telah mendengar Pak Santo adalah alumni HMI, karena itu beberapa senior saya, termasuk Mas Adi Himawan menyapanya dengan ‘Mas’. Namun saya lebih suka menyapanya dengan ‘Pak’—hingga kini, karena saat kali pertama bertemu status beliau adalah Dosen Komunikasi di Fakultas saya, sedang saya berstatus mahasiswa baru. Beberapa senior mungkin sudah bersinggungan dengan Pak Santo kala ia masih mahasiswa sehingga mereka telah mengenalnya sebagai ‘Mas’-nya sebelum menjadi Pak Dosen.</p>
<p>Pak Santo seingatnya saya gemar memakai celana panjang berbahan kain—bukan <em>jeans</em> sebagaimana dosen muda lain—dan hem lengan penjang digulung hingga lengan. Bajunya dimasukkan ke dalam celana, tak seperti JK—dan saya—yang lebih suka mengenakan baju tak dimasukkan ke dalam celana. Pagi itu Pak Santo tampak berpakaian seperti kegemarannya, sedang saya memakai celana kargo dan kaos oblong, hitam. Soal kaos oblong, dan hitam, pada masa-masa itu menjadi identitas pembangkangan. Kaos oblong dan hitam telah menjadi simbol perlawanan. Jejak-jejak jalanan Gerakan Mahasiswa 1998 yang berkaos oblong masih terasa meski kalender sudah menunjukkan tahun 2002. Beberapa tahun saat menjadi mahasiswa saya kerap berkaos oblong dan berwarna hitam, sambil sok-sok-an menganggapnya sebagai laku ideologis—meskipun sesungguhnya tidak juga. Saya pernah diusir Dosen Administrasi Negara dari ruang perkuliahan ketika saya mengambil mata kuliah lintas jurusan—yang tak direkomendasikan Fakultas sehingga nilai saya pada matakuliah itu tak bisa dimasukkan dalam Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Jurusan Administrasi Negara memang terhitung jurusan yang paling ‘legalistik’ di Fakultas, berbeda dengan jurusan saya yang—entah mahasiswanya nekat, entah dosennya cuek, entah karena entah—seringkali sok-sok membangkang, termasuk dalam berbusana, maupun pemikiran. Semakin <em>nyeleneh</em>, semakin <em>nyentrik</em> dia.</p>
<p>Pak Santo sebagai pembicara <em>ngomong</em> banyak hal. Pilihan diksinya bertabur, sebagian (besar) tak saya mengerti. Untuk pertama kalinya dalam diskusi tersebut saya mendengar idiom <em>fait accompli</em> yang tak saya ketahui artinya. Baru setelah saya menyelesaikan pendidikan di kampus, samar-samar saya baru mengetahui arti kata <em>fait accompli</em> ini. Sebagai moderator saya melaksakan tugas secara &#8216;baku.&#8217; Membuka diskusi (sangat) singkat, mempersilakan pembicara <em>ngomong</em>, membuka dua termin tanya jawab, mempersilakan pembicara menjawab, menyimpulkan diskusi sebisanya dan menutupnya dengan agitasi.</p>
<p>Peserta diskusi pelan-pelan beranjak dari kursi masing-masing, meninggalkan ruang. Mas Adi Himawan menghampiri kami, saya dan Pak Santo. Pak Santo hari itu terburu-buru, akan mengisi perkuliahan katanya. Saya kemudian berbincang dengan Mas Adi Himawan. Saya tanyakan padanya: bagaimana aksi saya barusan? Mas Adi Himawan memberi beberapa evaluasi. Soal kaos oblong dikomentarinya, agar kali lain saya menggunakan hem yang lebih sopan menurut peradaban manapun ketika tampil di muka publik. Mas Adi juga mengevaluasi kerja saya sebagai moderator. Katanya: menjadi moderator harus luwes, mengetahui latar belakang pembicaranya sehingga dapat memancing pembicara untuk berbicara sesuai kompetensinya. Luwes dapat dimaknai sebagai usaha moderator agar jalannya diskusi tidak monoton dan moderator hanya menjadi polisi lalu lintas diskusi. Moderator bahkan boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas mengarahkan pembicara siapa yang harus menjawabnya, bahkan bukan tidak mungkin ada peserta yang lebih kompeten dapat dimintai bantaun turut melengkapi jawaban pembicaranya. Saya mencatat dalam hati kata-kata Mas Adi, meskipun kala itu saya tak tahu bagaimana mengimplementasikannya. Kini, saya bersyukur mendapat pelajaran berharga dari Mas Adi untuk menjadi moderator yang baik. Soal bagaimana mengimplementasikan teori saya kira tak ada jalan lain kecuali mencobanya. Keberhasilan diukur dari sebanyak-banyaknya jam terbang, itu saja keyakinan saya.</p>
<p>Setelah itu lama saya tak berhubungan dengan Pak Santo. Hingga satu waktu, tahun 2004 kalau saya tak keliru, Pak Santo diundang menjadi pembicara <em>upgrading</em> kepengurusan baru Komisariat, periode Bung Isfahani. Saya tak menjadi pengurus kala itu, namun menjadi<em> mide formatur</em> pembentukan kepengurusan. Sebagai dukungan, saya ikut hadir dalam upgrading yang diselenggarakan di Tawangmangu. Pada sesi <em>stadium general upgrading</em>, Pak Santo memberi materi manajemen organisasi—kalau saya tak keliru ingat.</p>
<p>Beberapa cerita Pak Santo saya ingat hingga kini. Pak Santo mengatakan kariernya di HMI hingga menjadi Wasekum Bidang Pembinaan dan Pengembangan Anggota (PPA) dan Sekretaris Lembaga Pengelola Latihan (LPL) HMI Cabang Surakarta. Sebagai anggota presidium HMI Cabang, Pak Santo termasuk pengurus yang diwajibkan tinggal di sekretariat Jl. Yosodipuro 81. Banyak kisah yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan di sekretariat. Kala itu belasan aktivis tinggal di sana, dengan aktivitas dan kebiasaan masing-masing. Beberapa aktivis hidup tidak tertib dengan meminjam pakaian aktivis lain tanpa ijin. Setelah meminjam, tak mau mencucinya pula. Seorang aktivis—yang tak disebutkan namanya oleh Pak Santo, geram karena pakaiannya kerap dipakai aktivis lain. Pakaian yang dipinjam, cerita Pak Santo tak hanya baju atau celana, bahkan termasuk celana dalam. Aktivis tersebut berinisiatif memberi tanda pada masing-masing pakaiannya, agar tak tertukar dengan pakaian aktivis lain. Setelah berpikir keras penanda apa yang efektif membedakan pakaiannya dengan pakaian aktivis lain, sang aktivis itu menemukan ide untuk membubuhkan stempel HMI pada setiap pakaiannya, termasuk celana dalamnya. Mengetahui hal itu, sejumlah aktivis lain, yang berpikir legalistik—meskipun mungkin mereka juga termasuk aktivis yang suka meminjam pakaian tanpa ijin—membawa masalah tersebut ke dalam Rapat Harian. Walhasil soal celana dalam menjadi diskusi yang hangat pada malam yang dingin di Yosodipuro 81. Sebagian aktivis mengusulkan pemberian sanksi organisasi kepada aktivis yang memberi stempel. Sang aktivis tak kalah sengit memberikan argumentasi. Saya dapat membayangkan <em>gayeng</em>-nya Rapat Harian itu. Pak Santo tak melanjutkan cerita bagaimana kelanjutan kisah ini.</p>
<p>Saya sering menceritakan kisah ini kepada teman-teman yang masih bergiat di organisasi dalam berbagai kesempatan, untuk menggambarkan betapa dinamisnya kehidupan di sekretariat organisasi kala itu. Saya hendak memotivasi teman-teman untuk tak segan tinggal di sekretariat, meskipun saya sendiri adalah contoh yang buruk: tak pernah tinggal di sekretariat, termasuk tak lebih dari lima kali bermalam di sekretariat dalam karier keorganisasian saya. Semasa menjadi aktivis saya memang dikenal sebagai ‘aktivis anak mama’.</p>
<p>Cerita Pak Santo lain dalam<em> stadium general</em> yang masih saya ingat adalah kesaksiannya bahwa IPK-nya ‘tak sampai 3,00’. Saya tak tahu Pak Santo bergurau atau sungguhan. Mendengar kesaksian Pak Santo, sejumlah teman pengurus yang IPK-nya masih ‘terancam 3,00’ terlihat<em> sumringah</em>. Mungkin pikir mereka: tak perlu IPK 3,00 untuk menjadi sukses seperti Pak Santo. Meskipun mengaku IPK-nya ‘tak sampai 3,00’ saya tahu Pak Santo seorang yang cerdas. Setahu saya Pak Santo alumnus Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam, dan terakhir sedang melanjutkan studi untuk meraih gelar Ph.D dari Universitas Indonesia.</p>
<p>Sikap Pak Santo yang sungguh menarik bagi saya adalah ketika menjadi pembicara di Tawangmangu ia mengajak serta istri dan anaknya. Saya menjadikan sikap Pak Santo sebagai teladan: beraktivitas dalam gerakan sambil tak lupa mengajak anak dan istri. Saya berusaha menjadikan sikap intelektual Pak Santo sebagai gaya hidup saya. Satu waktu saya pernah mengisi materi Strategi dan Taktik serta Ideologi Politik Kontemporer dalam Latihan Kader di kota saya dengan mengajak serta putri kami yang belia, 2 tahun, dan ibunya. Saat saya memulai diskusi, puteri kami mengintip dari balik pintu dan memberi senyum kepada ayahnya. Bagi saya ini adalah tonikum yang menguatkan sehingga saya lancar merapal materi-materi diskusi. Ketika istri saya sedang mengandung, saya masih sempat mengajaknya menonton teater termasuk menghadiri satu diskusi di kantor salah satu koran terkemuka di kota saya. Kami juga pernah menghadiri diskusi yang diadakan teman-teman di alun-alun di kota saya.</p>
<p>Beraktivitas, berlibur, dan mengingat organisasi juga saya lakukan ketika mengunjungi beberapa kota, terutama kalau singgah di Solo. Saat berada di Denpasar, Bandar Lampung, Semarang atau Salatiga saya berusaha mengontak pengurus HMI setempat, dan bertandang ke sekretariatnya. Di Bandar Lampung saya tak memiliki akses nomor telepon seluler pengurus HMI di sana. Apa akal? Saya singgah di Universitas Lampung, mampir ke sekretariat BEM, menanyakan satu saja nomor kontak anak HMI yang ia kenal. Universitas adalah institusi yang pasti diketahui setiap orang di kota itu, sehingga dengan bertanya sana-sini saya tahu lokasi kampus. Dan sekretariat BEM adalah tempat yang hampir pasti diketahui setiap warga kampus. Setiap pengurus BEM pastilah kenal anak HMI, kalau bukan dia sendiri anggota HMI. Dari satu nomor kontak saya gunakan metode <em>snowball</em>, sehingga saya bisa mendapatkan nomor kontak pengurus Cabang atau Komisariat. Untuk mendapatkan nomor kontak anak HMI saya telah mempraktikkan metode<em> snowball</em> yang dulu diajarkan dosen-dosen matakuliah penelitian di kampus.</p>
<p>Saat heboh aktivitas nge-blog, Pak Santo sebagai dosen komunikasi juga tak ketinggalan. Laman blognya sudah dapat diakses sejak banyak orang belum menjadi blogger. Sebagai blogger, saya beberapa kali mengunjungi lamannya dan menyapa. Saya mengetahui informasi soal kecenderungan popular turisme dari Solo yang tak lagi membawa Serabi Notosuman dari blog Pak Santo. Pak Santo mengatakan Serabi Notosuman kalah pamor dengan Bebek Goreng Asli Pak Slamet Kartosuro. Pak Santo mengklaim semua sopir taksi di Solo pasti tahu alamat Bebek Goreng yang otentik di Kartosuro, bukan waralabanya yang tersebar di banyak kota. Saya mencoba menanyakan pada Pak Santo, selain opsi menanyakan pada sopir taksi, bagaimana rute menuju alamat bebek goreng otentik Kartosuro yang lokasinya tidak di pinggir jalan utama ini. Pak Santo antusias menjawab: kalau begitu ajak saya saja, nanti saya tunjukkan. Tentu saya tak berani mengajak Pak Santo, karena yang mengajak biasanya bertanggungjawab mentraktir sedang saya sedang menjalani laku prihatin selain saya tahu Pak Santo tentu mengguraui saya. Karena penasaran saya berusaha mencicipi Bebek Goreng Asli Pak Slamet Kartosuro ini. Beberapa kali ke Solo tak kesampaian mampir ke Kartosuro, saya justru mencicipi menu ini di jaringan waralabanya di kota saya. Rasanya, memang paling enak se-Asia Tenggara.</p>
<p>Pak Santo mungkin tak mengenal saya secara pribadi, namun saya banyak belajar dan meneladani sikap intelektualnya. Saya berdoa semoga teladan yang ditunjukkannya dinilai sebagai amal jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi saya. Seringkali kita tak sadar kalau sikap yang baik dari kita diteladani orang lain. Karena itu sudah sepatutnya kita berbuat sebaik-baiknya agar kalau kelak ada yang meneladani sikap kita tanpa kita sadari, sikap-sikap yang baiklah yang diteladani.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/409/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/409/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=409&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/09/30/kisah-celana-dalam-stempel-hmi-fait-accompli-dan-bebek-goreng-pak-slamet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Bandar Lampung</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/06/17/napak-tilas-bandar-lampung/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/06/17/napak-tilas-bandar-lampung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 03:09:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[kota-kota]]></category>
		<category><![CDATA[Alexander GB]]></category>
		<category><![CDATA[Arman AZ]]></category>
		<category><![CDATA[Budi P. Hatees]]></category>
		<category><![CDATA[Hartono Rakiman]]></category>
		<category><![CDATA[Hesma Eryani]]></category>
		<category><![CDATA[Juperta Panji Utama]]></category>
		<category><![CDATA[M. Harya Ramdhoni]]></category>
		<category><![CDATA[Sungging Raga]]></category>
		<category><![CDATA[Udo Z. Karzi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=404</guid>
		<description><![CDATA[Memenuhi permintaan sahabat maya saya, Mas Hartono Rakiman, penulis best seller buku Mabuk Dolar di Kapal Pesiar: Kisah-Kisah Para Pemburu Dolar, tertulislah posting ini. Kesempatan singgah di Bandar Lampung sungguh langka bagi saya. Tempat tinggal orang tua saya masih jauh dari Bandar Lampung, sekira 5 jam perjalanan bus. Saya pun tak familier dengan ibukota Lampung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=404&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong>Memenuhi permintaan sahabat maya saya, Mas Hartono Rakiman, penulis <em>best seller</em> buku <em>Mabuk Dolar di Kapal Pesiar: Kisah-Kisah Para Pemburu Dolar</em>, tertulislah <em>posting</em> ini. Kesempatan singgah di Bandar Lampung sungguh langka bagi saya. Tempat tinggal orang tua saya masih jauh dari Bandar Lampung, sekira 5 jam perjalanan bus. Saya pun tak familier dengan ibukota Lampung yang dahulu nomenklaturnya Tanjung Karang-Teluk Betung ini. Saya hanya sempat bermukim di kota ini satu bulan, saat persiapan UMPTN hampir sepuluh tahun lewat. Meskipun saban tahun mudik ke Lampung, saya hanya boleh puas melintasi Jalan Soekarno-Hatta a.k.a <em>by pass</em> saja. Cuti mudik hanya seminggu atau paling lama sepuluh hari, cukup sayang untuk dihabiskan di Bandar Lampung tanpa agenda yang benar-benar penting. Mudik bagi saya adalah waktunya di rumah, saja, sedapatnya banyak-banyak bercerita dengan bapak dan ibu. Lain tidak.<span id="more-404"></span></p>
<p>Oleh sebab pernikahan sepupu di Pringsewu—tepatnya Pagelaran—saya harus, mau tidak mau, dan dengan senang hati, kembali menjejak Bandar Lampung. Karena kesempatan ini terbilang jarang tiba, saya mempersiapkan seefektif mungkin. Sengaja saya tak membawa istri dan puteri mungil kami, agar <em>portable</em>—sebagaimana kata saya kepada Bung Juperta Panji Utama. Saya pun memilih tidak bermalam di Pringsewu, di rumah bibi yang menikahkan puterinya, tetapi memilih bermalam di Bandar Lampung. Karena tak familier dengan kota ini, saya meminta rekomendasi bapak saya dan beliau memilihkan tempat di bilangan Lapangan Enggal. Lapangan Enggal seumpama alun-alun di <em>tlatah</em> Jawa. Lokasinya strategis, dilalui hampir semua trayek, dan masih bergeliat hingga malam. Ini yang penting, karena saya telah meniatkan untuk menghabiskan malam di Bandar Lampung secara <em>backpacker</em>.</p>
<p>Menyusuri Jalan Z.A. Pagar Alam dari Bus <em>Damri </em>trayek Terminal Rajabasa-Tanjung Karang membuat imajinasi saya membual. Saat bus yang sejuk melintasi Universitas Lampung, kemudian Museum Lampung yang dua kali saya kunjungi—petugasnya sempat heran karena saya datang seorang diri, tidak bersama rombongan <em>study tour</em> sebagaimana jamaknya. Masih berjajar kampus-kampus Universitas Mitra Lampung, Kampus Darmajaya, Perguruan Teknokra juga Universitas Bandar Lampung. Memasuki bilangan Pasar Koga di Kedaton membuat mata saya lebih awas lagi. Dahulu, sepuluh tahun lalu saya mukim hampir satu bulan di Jalan Landak. Bergiat menimba ilmu di salah satu lembaga bimbingan belajar. Berolah trik-trik menjawab soal UMPTN, dengan rumus-rumus praktis, jawaban tebakan—dengan sejumlah <em>keyword </em>tertentu. <em>Pokokmen</em> raih jawaban benar sebanyak-banyaknya, atur strategi <em>passing grade</em> jurusan yang diinginkan, tambahkan banyak doa, dan jangan lupa restu kedua orang tua. Saya kira model-model pembelajaran seperti ini perlu dimassifkan di semua level pendidikan. Belajar menjadi penuh tantangan, harap-harap cemas, mau-tak-mau-tak-ada-pilihan menjadi lebih religius, dan anehnya… lulus. Dengan model pembelajaran seperti ini pula akhirnya saya menggeluti Sosiologi. Salah ketik sedikit, antara Sosiologi menjadi Psikologi misalnya, sudah berbeda <em>grade</em>-nya. Begitu juga kalau mata lamur, salah tulis UNS menjadi UNY, sudah berbeda juga stratanya. Apalagi kalau menulis UGM, dihitung nekat namanya. Begitulah jurusan dan ilmu pengetahuan diklasifikasi, ditaksonomi oleh lembaga bimbingan belajar kita.</p>
<p>Di kawasan Koga saya masih mengingat tempat-tempat yang pernah saya singgahi. Martabak Bangka yang buka secara demonstratif di tepi jalan, juga Mie Ayam Koga—yang kabarnya terkenal itu. Sayang, keduanya dulu belum sempat benar-benar saya singgahi. Saya memegang teguh pesan bapak: sebagai anak kos harus prihatin. Falsafah prihatin menuju kesuksesan saya pegang betul, kala itu, karena tak ada pilihan lain selain uang saku yang cukup untuk makan layak, tetapi tidak Martabak Bangka apalagi segala Mie Ayam Koga.</p>
<p>Senja mulai turun. Bandar Lampung cerah sore itu. Setelah istirahat sebentar di tempat menginap, saya telah duduk kembali dalam bus <em>Damri</em>, yang akan mengantarkan saya menyusuri kembali trek Tanjung Karang-(Terminal) Rajabasa. Saya melintasi tempat-tempat yang menggetarkan bagi saya. Terminal Tanjung Karang di lantai dasar <em>Ramayana</em>, menengok Pasar Tengah yang berjejal pertokoan, Jalan Radin Intan tempat <em>Gramedia</em> yang saya idamkan untuk mengoleksi buku-buku bermutu, dulu. Masih ada Tugu Gajah, lalu <em>Central Point</em>, tidak ketinggalan <em>Mal Kartini</em>, dan tentu saja melirik Pasar Bambu Kuning dengan bangunan yang lebih segar kini dan Pasar Smep yang semakin doyong dari dalam bus. Kemudian Rumah Makan Padang—yang saya lupa namanya—di gang masuk dekat Hotel Ria (?).</p>
<p>Dahulu, karena referensi saya terbatas, saya beranggapan Bandar Lampung kota yang (sangat) besar. Maklumlah, saya tinggal lebih dari 5 jam perjalanan bus dari Bandar Lampung. Mengunjungi Bandar Lampung merupakan satu tindakan mewah—karena itu jarang terjadi—bagi saya kala belia. Kebeliaan saya membuat Bandar Lampung penuh imajinasi kota besar: kota besar macam Jakarta yang dibayangkan orang udik: rawan, hati-hatilah selalu, waspada sebab banyak orang tidak baik. Saat kemarin napak tilas kembali di Bandar Lampung, saya sedikit kecewa. Mungkin ekspektasi saya yang berlebih atas kota ini. Mungkin pula saya telah bersinggungan dengan kota-kota besar lain. Meski demikian saya masih menyimpan kenangan bahwa Bandar Lampung kota besar mula-mula yang membenam dalam memori saya. Soal imajinasi kanak-kanak atas ibukota terhapus saat saya menjejak kembali di Bandar Lampung. Kali ini saya bersyukur atas kesan ini, karena tak ada faedahnya mengira ibukota yang bukan-bukan, semacam lebih kejam dari ibu tiri.</p>
<p>Sore itu saya mengontak sahabat maya saya: Bung Arman AZ. Saya membaca ia aktif dalam Komunitas Berkat Yakin (Kober), yang identitasnya hampir selalu melekat pada penyair-penyair <em>Kompas</em> Minggu. Saya hendak singgah di Kober, menonton aktivitas teman-teman di sana kalau mungkin. Bung Arman AZ mengatakan (sebagian) teman-teman Kober sedang melatih teater di Universitas Bandar Lampung (UBL). Karena saya sedang dalam bus yang menuju ke kampus itu, saya putuskan untuk singgah di UBL, sembari menonton latihan teater. Saya tak paham teater, sesungguhnya saya juga tak paham kesenian. Namun menonton acara-acara kesenian tidak ada salahnya, dan saya percaya menonton acara kesenian dapat menaikkan kelas sosial kita, menjadi kelas menengah yang independen, terpelajar, dan syukur (dikira) banyak duitnya.</p>
<p>Di UBL, kampus yang tertata rapi dan mengesankan saya bertemu Alexander GB, salah satu awak Kober. Bung arman AZ sedang dalam perjalanan, sehingga kami tak sempat bertemu. Bung Alex saya tahu penulis cerpen, dan entah apa lagi. Saya pura-pura sok kenal dengan teman-teman Kober dan memberanikan diri menonton teman-teman UBL berlatih monolog. Bersama Bung Alex saya mengobrol banyak hal. Soal-soal konstelasi kesenian di Lampung. Soal Teater UBL ini menarik juga. UBL dikenal sebagai basis Gerakan Mahasiswa radikal di Lampung sejak tahun 1990-an yang berkontribusi menumbangkan rezim Orde Baru. Saya sedikit banyak mengikutinya secara akademik, karena saya meminati isu-isu Gerakan Mahasiswa. Menariknya, Gerakan Mahasiswa Lampung yang berbasis di UBL saat ini sedang mengembangkan teater sebagai alat gerakan. Mereka kerap melakukan <em>happening art</em>, dan meminta bimbingan teman-teman Kober untuk memperkaya aspek-aspek estetik pertunjukan mereka. Saya kira model menjadikan kesenian sebagai alat gerakan merupakan model yang mulai jarang dilakukan kini. Saya tahu panggung kebudayaan kita dahulu hiruk pikuk dengan perdebatan soal realisme sosial dan humanisme universal. Hari-hari belakangan saya kira Gerakan Mahasiswa sudah mulai melupakan kesenian, termasuk juga alam. Dahulu kita tahu, banyak aktivis mahasiswa sekaligus juga menjadi aktivis pencinta alam—tentu anda ingat Gie, Aristides Katoppo, Herman Lantang, bahkan Salahudin Wahid. Atau aktivis sekaligus sastrawan dan penulis yang tak terhitung jumlahnya. Kini aktivis mahasiswa kita umumnya demonstran, yang gagap menulis, tak suka lagi <em>hiking</em> apalagi berkesenian macam teater. Bahkan saya mendapati anak-anak Teater dan Mapala di satu kampus justru sering berseteru dengan anak-anak BEM dan Dema. Saya kira perlu diteliti bagaimana mungkin kedua entitas ini bisa bermusuhan kini sedang dahulu berada dalam irisan pada kuadran yang sama.</p>
<p>Petang menjelang. Saya berpamitan kepada teman-teman Kober—mereka akan melanjutkan latihan, kali ini atas nama Teater <em>Kober</em> di markas UKMBS Unila—sedang saya telah membuat janji bertemu Udo Z. Karzi salah satu redaktur media di Lampung. Hingga kini saya telah menulis hampir 35 artikel di medianya. Dengan modal 35 artikel itu saya memberanikan diri, sok kenal, mampir ke kantor medianya. Udo Z. Karzi terhitung penulis kawakan di Lampung. Menulis hampir semua jenis: syair, dan esai, entah kalau cerpen soalnya saya belum pernah membaca cerpen atas namanya. Sudah tentu Udo Z. Karzi dikenang karena anugerah Rancage Tahun 2008 untuk puisi berbahasa Lampung. Saya sempat membuat milis terbatas bertajuk <em>etnografi_lampung@yahoogroups.com</em>. Milis ini sempat aktif merumpikan serba-serbi terkait kebudayaan Lampung pada umumnya. Anggotanya terbatas, soalnya taktis saja, saya sebagai moderatornya gagap teknologi. Udo telah merekomendasikan banyak nama, yang dapat saya daftarkan dalam keanggotaan milis. Selebihnya, entah bagaimana ceritanya, saya tidak dapat menambah akun anggota baru. Kini milis itu tinggal artefak, karena saya sebagai moderator juga tak dapat bertanggungjawab meramaikannya dengan isu-isu kebudayaan Lampung yang sedang aktual. Beberapa waktu lalu juga, saya juga telah mengirimkan naskah novel saya. Saya mintakan komentar Udo agar naskah tersebut dapat menjadi lebih memikat lagi. Dengan referensi ini saya memberanikan diri mengontak Udo, membuat janji bertemu, dan Udo setuju.</p>
<p>Malam itu Udo menemui saya. Ia tampak lelah, katanya seharian berputar-putar kota untuk mewujudkan rencana penerbitan beberapa buku di penerbit yang dikelolanya. Kami bercerita banyak hal. Mula-mula, tentulah naskah novel saya. Saya mendapat tanggapan—hampir semua mengatakan—bahwa naskah saya tersebut masih mentah layaknya reportase atau esai yang difiksikan. Saya memang harus berlatih lebih giat menulis naskah tersebut secara lebih fiksi, dengan bumbu-bumbu yang lebih sedap lagi.</p>
<p>Obrolan kami kemudian melebar ke mana-mana. Belum sempat saya konfirmasi, Udo bercerita soal polemik sastra akhir-akhir ini. Soal dugaan plagiasi oleh seorang cerpenis asal Surabaya dan pernah pula dimuat salah satu media di Lampung. Saya katakan kepada Udo, mewakili pembaca sastra saya kira: bahwa kolom kecil yang berisi ‘pernyataan redaksi <em>Kompas</em> dan <em>Horison </em>mencabut cerpen yang pernah dimuat di medianya dan menyatakan cerpen tersebut tidak pernah ada—media di Lampung itu tidak melakukannya’ belum memuaskan kami, setidaknya saya. Bagaimana mungkin, cerpen yang jelas-jelas telah tercetak pada edisi sebelumnya, dinyatakan tidak ada. Sikap redaksi ini bagi saya tidak menyelesaikan masalah secara intelektual. Saya juga menilai reaksi dari banyak sastrawan (muda) juga cenderung tidak intelektual. Celoteh-celoteh di dunia maya sungguh jauh dari cita intelektual. Hanya beberapa sastrawan yang menulis secara serius—berbentuk esai—atas polemik ini, diantaranya sahabat maya saya Sungging Raga—yang terhitung pertama-tama mengangkatnya ke ruang publik, dan terutama Beni Setia, yang menulis secara santun dan memikat dalam esai di satu media di Lampung. Selebihnya celoteh yang tak konteks, menyerang pribadi, dan jauh dari peradaban sastra itu sendiri. Saya, karena baru bersinggungan dengan sastra satu-dua tahun terakhir ini, sebenarnya ingin menulis esai juga namun pengetahuan sastra saya masih terbatas, sehingga esai itu belum tertulis juga.</p>
<p>Saya—dan saya tahu juga beberapa teman menunggu—semacam esai, atau penjelasan yang lebih panjang lebar dari redaksi sehingga pada akhirnya redaksi mengambil putusan demikian. Saya katakan pula bila penulis kerap diminta bertanggungjawab atas <em>penulisan</em> naskahnya, saya kira redaksi juga memiliki pertanggungjawaban yang sama atas <em>pemuatan</em> naskah dari penulis. Udo tersenyum, seketika menghapus kekhawatiran saya bahwa Udo juga terbuka terhadap kritik dan tidak akan mem-<em>black list</em> tulisan saya di medianya karena pandangan-pandangan saya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Ia kemudian menceritakan beberapa kebijakan redaksional di media tempatnya bekerja. Sikapnya soal polemik itu, esai tanggapan cerpenis yang dimuat medianya, juga menanggapi beberapa keluhan penulis terhadap media. Sebagai penulis Udo memahami bila penulis—macam saya—membutuhkan hubungan yang lebih personal dengan media. Selama ini hubungan penulis dan media bersifat impersonal. Hingga hari ini hanya satu media yang mau repot-repot mengembalikan naskah dan memberi konfirmasi penolakan pemuatan naskah, sehingga kemungkinan duplikasi pemuatan naskah—dan umumnya kesalahan ditimpakan pada penulis—dapat ditekan, dihindari, dan dijauhi bersama. Udo mengatakan sepakat dengan saya, namun apa daya, banyak media kita terhambat oleh sumber daya yang terbatas. Redaktur tidak mungkin melakukan relasi ini seorang diri. Sekretariat Redaksi telah memiliki kesibukan sendiri. Begitu juga soal honorarium—meskipun yang ini tak saya sampaikan pada Udo. Meskipun banyak penulis yang memilih laku penulis secara asketik, saya tahu banyak pula penulis yang membutuhkan honorarium—sebagai modal untuk berkarya selanjutnya: membeli buku, membayar koneksi internet, membeli laptop atau membayar rental mengetik dan semacam itu. Sepanjang karier kepenulisan saya yang pencapaiannya belum memuaskan betul, hanya satu media nasional di Jakarta, media di Bandung dan media di Jogja serta media online yang tanpa diminta otomatis mengirimkan honorarium ke rekening saya. Beberapa mengirimkan honorarium setelah dikonfirmasi. Beberapa lagi meskipun telah dikonfirmasi tak juga mengirimkan respons apalagi honorarium. Selebihnya lebih banyak penulis yang memilih sikap asketik, karena malu bila harus berkelahi—meminjam istilah seorang kawan yang tak perlu saya sebutkan namanya—saat konfirmasi honorarium ke sekretariat redaksi.</p>
<p>Bersama Udo saya juga mendiskusikan soal bahasa ibu, satu <em>concern</em> Udo yang membesarkan namanya. Udo juga bercerita banyak soal kerisauannya pada RSBI, strata sekolah yang kini lebih banyak ditinjau dari biaya yang mahal dan bahasa pengantar yang internasional. Di sela-sela obrolan kami Udo harus menyelesaikan sedikit tugas keredaksiannya malam itu. Ia mengajak saya turut ke ruang kerjanya. Saat Udo mengetik di komputer pandangan saya edarkan di ruang redaksi. Angan saya membual, teringat saat saya tidak lebih 3 bulan pernah jadi wartawan di Solo. Saya juga teringat sahabat maya saya, Bung Sungging Raga, cerpenis yang menggilai Kereta Api hingga ke sumsumnya. Bung Raga pernah mengatakan dalam akun <em>facebook</em>-nya, ingin sekali membaca edisi cetak media di Lampung yang memuat cerpen-cerpennya. Saya kira Bung Raga pantas iri dengan saya, karena saat itu saya tak hanya membaca edisi cetak media di lampung itu, tetapi ikut duduk di ruang kerja redakturnya. Di kantor itu pula saya sempat berjumpa S.W. Teofani, cerpenis yang kerap saya baca ceritanya. Saat bersalaman dengan S.W. Teofani saya baru saja menghapus kegugupan saya. Mulanya saya mengira S.W. Teofani seorang laki-laki, ternyata beliau seorang penulis perempuan yang produktif. Saya juga sempat berbincang sebentar dengan Bung Adian Saputra, Asisten Redaktur Bahasa yang bersama saya beberapa kali menulis di rubrik <em>Laras Bahasa</em>.</p>
<p>Saat malam benar-benar turun saya berpamitan dengan Udo. Saya berkesempatan sua dengan penulis Lampung yang lain lagi, Mas Budi P. Hatees. Satu waktu Mas Budi hampir singgah di kota saya sebab pekerjaannya di Pekalongan, namun karena sesuatu ia tidak jadi mencicipi Tahu Pletok di kota saya. Beruntung karena saya berada di Bandar Lampung saat akhir pekan, Mas Budi ada di Bandar Lampung juga sehingga kami dapat bertemu. Kami kemudian meluncur ke tempat makan-minum yang dari sana kami dapat membuang pandang ke Teluk Lampung yang eksotik saat malam tiba. Meski berkali-kali Mas Budi mengulang nama tempat dan kawasan tempat kami mengobrol itu, sayang ingatan saya tak baik, sehingga saya tak ingat lagi untuk menuliskan namanya.</p>
<p>Itu pertemuan pertama saya dengan Mas Budi, setelah sebelumnya kami intens berdebat di <em>facebook</em> atas banyak hal. Karena selama ini komunikasi kami secara visual—melalui tulisan, saya kesulitan mengeja <em>pseudoname</em> Budi P. Hatees. Awalnya saya mengeja Hatees seumpama kita mengeja Kates alias pepaya. Ternyata Hatees dieja ha-te-es, atau HTS, singkatan dari Hutasuhut. Saya kira pembacaan saya wajar, soalnya Hatees ditulis sebagai kata, bukan akronim. Begitu juga dengan Udo Z. Karzi. Awalnya saya mengeja namanya Udo Z. Karzi, dengan aksen &#8216;z&#8217; di tengah kata &#8216;Karzi&#8217; yang mengganggu lidah saya. Ternyata Udo Z. Karzi biasa di sapa Udo Zul, yang lebih enak bagi lidah saya. Sayang, karena banyak yang hendak saya ceritakan, saya lupa menanyakan asal usul Karzi dilekatkan dalam <em>pseudoname</em>-nya.</p>
<p>Membuka perbincangan saya menanyakan pada Mas Budi, apa makna idealisme bagi dia. Saya tahu Mas Budi pernah menjadi wartawan di salah satu media di Lampung, pernah menjadi Kepala Biro, Redaktur hingga Kepala Bagian Litbang (atau Pusdok?—maaf ingatan saya lagi-lagi tak kuat). Karena perbedaaan visi, Mas Budi memilih keluar dan menjadi konsultan media saat ini. Saya kira, saya banyak memiliki kesamaan pandang dengan Mas Budi, meskipun sesungguhnya perspektif kami berbeda tajam. Soal situs Sekala Brak di Lampung misalnya, kami, saya dan Mas Budi sama-sama skeptis bila Sekala Brak diklaim sebagai kerajaan sebelum kami menemukan bukti-bukti yang reliabel. Mas Budi dan saya beberapa kali menulis esai soal ini di media di Lampung, yang berlanjut dengan perdebatan di <em>facebook</em>. Meski sama-sama skeptis, ternyata perspektif kami berbeda, dan bangun-teori tempat kami menyandarkan argumentasi juga berbeda jauh. Sesungguhnya saya sedang menunggu catatan sahabat saya yang lain lagi, M. Harya Ramdhoni, penulis novel <em>Perempuan Penunggang Harimau</em> dengan <em>setting</em> Sekala Brak untuk menengahi diskusi kami dengan sumber-sumber terpercaya yang dimilikinya. Saya hanya sempat berdiskusi via telepon dengan Bung Doni, namun belum sempat berdiskusi lebih intens melalui tulisan.</p>
<p>Saya mengapresiasi Mas Budi yang keluar dari tempatnya bekerja—atas nama idealismenya—meskipun saya tak paham betul argumentasi atas sikapnya itu. Ketika saya tanyakan soal visi idealismenya, saya hendak menggarisbawahi beberapa aktivitasnya kini: konsultan media, editor penulisan biografi, dan politisi. Sebagai konsultan media dan penulis biografi, saya sampaikan pandangan saya bahwa idealisme seringkali tidak identik dengan profesionalisme. Saya masih belum dapat menerima profesionalisme advokat—maaf, ini hanya kesan pribadi. Setiap pesakitan, yang terbukti bersalah sekalipun, bahkan yang ancaman hukumannya di atas lima tahun, wajib dibela advokat. Advokat membela sebagai kewajiban profesi: bahwa pesakitan juga memiliki hak asasi untuk membela diri sampai batas-batas yang membuat hukumannya paling ringan. Saya tentu bukan orang yang luput dari kesalahan. Setiap orang bersalah butuh permaafan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Dalam konteks ini saya kira profesi advokat dapat saya apresiasi. Namun membela sesuatu yang tak masuk nurani, dengan berpanjang-panjang soal profesionalisme saya kira sama busuknya dengan pelaku kejahatan itu sendiri —apalagi kalau ia tidak menunjukkan tanda-tanda bersalah dan hendak berubah menjadi lebih baik.</p>
<p>Sebagai editor penulis biografi dan konsultan media apalagi politisi saya khawatir sahabat saya Mas Budi terjebak dan menjebakkan dirinya pada visi profesional namun mengeyampingkan idealisme, satu visi ideal yang diakui sebagai kebajikan universal. Mas Budi tersenyum atas tanggapan saya yang keras—sebagaimana perdebatan kami di <em>facebook</em> yang panas. Ia menjelaskan kepada saya visi idealismenya, menjawab keraguan saya atas irisan antara profesionalisme dan idealisme serta visi politiknya. Sebelumnya saya sungguh tidak menduga bila Mas Budi berpolitik: menjadi pendiri partai yang bersih, peduli dan profesional di salam satu kota di Lampung, dan kini menjadi Wakil Ketua DPW partai yang setia membela yang benar. Awalnya saya kira visi politiknya hendak menjadi oposisi dalam sistem belaka atau berpolitik dalam kerangka <em>fardhu kifayah</em> seperti yang saya duga untuk membersihkan partai politik dari daya rusaknya. Ternyata Mas Budi telah berhitung banyak, dan visi politiknya jelas pada tahun-tahun mendatang. Sebagai sahabat—sebagaimana perdebatan kami di f<em>acebook</em>—saya hanya menggaransi, bahwa saya adalah orang yang pertama menulis esai mengawal kiprah politik Mas Budi, seandainya takdir mengantarkannya menjadi politisi sesungguhnya. Saya ingat Korrie Layun Rampan, sastrawan kita juga menjadi anggota DPRD di Kalimantan. Mudah-mudahan Mas Budi dapat berbuat sesuatu yang lebih baik, kelak, meskipun saya—dengan visi ilmuwan—akan bersikap skeptis sebelum ada bukti.</p>
<p>Sambil mengudap roti bakar kami masih bercerita banyak. Soal-soal teknis kepenulisan dan komentar Mas Budi atas naskah novel saya. Mas Budi menawari saya rokok, yang segera saya tolak. Ia juga menawarkan kopi, dan lagi-lagi saya tolak. Saya tak merokok, tak juga minum kopi. Mas Budi sedikit kaget, katanya: baru kali ini ia berjumpa penulis yang tak merokok dan minum kopi. Saya ikut tersenyum sambil mengatakan: mau saya beri tahu rahasia terbesar lain? Mas Budi mengangguk. Saya katakan padanya: saya menulis sejak kelas 1 SMAhingga kini, hampir 15 tahun lamanya, dan tak pernah saya miliki mesin ketik, komputer apalagi laptop. Saya tak terbiasa menulis di rumah, atau di tempat-tempat yang sepi. Saya lebih suka, dulu, menulis di rental komputer, dan kini di kantor. Praktis, hemat, dan adrenalin terpacu karena harus menulis bergegas.</p>
<p>Mas Budi masih sempat mengajak saya ke Lapangan Enggal. Di sana kami mendiskusikan banyak hal lagi, soal-soal kebudayaan Lampung, juga menyinggung soal transmigrasi—isu yang akan saya angkat dalam naskah novel selanjutnya. Bandar Lampung semakin larut. Cerita saya sesungguhnya masih banyak. <em>Posting</em> ini telah tertulis 7 halaman kuarto 1 halaman. Sedang esoknya saya masih harus ke Pringsewu menghadiri pernikahan sepupu saya. Saat itu sudah hampir pukul 02.00 dinihari. Saya pun tak enak dengan Mbak Hesma Eryani karena obrolan kami menyita waktu bagi keluarganya <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Kami kemudian beranjak dari Lapangan Enggal. Saya lelah, namun puas. Perjalanan saya di Bandar Lampung tak sia-sia. Kelak saya berjanji akan mengulanginya lagi. Dengan orang-orang yang saya temui lebih banyak lagi. Salah satunya anda. Asal tak marah bila saya tuliskan menjadi testimoni di blog ini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> . Ya, ya?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/404/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/404/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=404&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/06/17/napak-tilas-bandar-lampung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Film ke Film</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/04/26/dari-film-ke-film/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/04/26/dari-film-ke-film/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Apr 2011 06:50:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku-film]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[imaji]]></category>
		<category><![CDATA[sinematografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=397</guid>
		<description><![CDATA[Saya menggemari film, meskipun tak maniak betul. Bagi saya film merupakan salah satu produk seni dan intelektual yang paling gampang menggerakkan hati saya, membuat saya terinspirasi selain membaca buku. Saya menyukai film terutama oleh sihir imajinatif film. Saya tak tahu apakah kesan saya atas imaji film dapat diteoretisasikan. Saya hanya merasa mengalaminya dan akan saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=397&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya menggemari film, meskipun tak maniak betul. Bagi saya film merupakan salah satu produk seni dan intelektual yang paling gampang menggerakkan hati saya, membuat saya terinspirasi selain membaca buku. Saya menyukai film terutama oleh sihir imajinatif film. Saya tak tahu apakah kesan saya atas imaji film dapat diteoretisasikan. Saya hanya merasa mengalaminya dan akan saya bagi kepada anda melalui<em> posting</em> ini.<span id="more-397"></span></p>
<p>Sihir imajinatif film ini membuat saya menjadi individu yang lain. Dalam satu saat, beberapa jenak, saya hanyut dalam realitas filmis. Saya tak paham betul tetek bengek artistik film namun saya menyukai imaji filmis pada adegan orang berdialog, dengan suara yang jernih, hingga detail gemerisik gerik tubuh  terdengar jelas. Saya menulis <em>posting</em> ini karena menyukai iklan terbaru mie instan merk<em> Indomie</em>, versi <em>Larut Malam Enaknya Indomie</em>, juga iklan <em>Pas Hujan Pasnya Indomie</em>. Iklan ini menceritakan gambaran yang filmis: tokoh berdialog kepada dirinya sendiri sambil memasak mie instan saat malam hari. Dialognya jernih, musik latar akustik minimalis juga terdengar jernih, bahkan suara serak aktornya terdengar jelas.</p>
<p>Bila menonton film di bioskop imaji filmis ini membuat saya larut dalam hyperealitas yang menyenangkan. Dengan akustik ruangan yang baik, imaji filmis orang yang berdialog dengan suara yang jernih, detail suara di sekelilingnya, misalnya suara yang hadir sebab ia beringsut dari kursi, gemericik air di wastafel saat tokoh mencuci piring, terdengar syahdu. Momentum yang paling saya nikmati dari imaji filmis sebuah film adalah saat-saat film selesai diputar. Setelah dua jam sebelumnya saya hanyut dalam imaji filmis satu film, larut dalam hyperealitas, bahkan merasa menjadi orang lain dalam realitas filmis dalam angan, tiba-tiba saya tersadar film telah selesai. Beberapa film membuat saya tergetar, oleh beberapa detail sinematografinya. Misalnya: <em>Gie</em>, <em>Laskar Pelangi</em>, atau <em>Minggu Pagi di Victoria Park.</em></p>
<p>Saat menonton <em>Gie</em> imaji saya turut larut dalam cerita film yang mengalir. Dengan segera saya mengidentifikasi sebagai bagian dari film. Saya membayangkan diri saya menjadi Herman Lantang yang diperankan Lukman Sardi. Menjadi aktivis mahasiswa yang hebat, marah melihat penindasan, bla-bla, bla. Sebagai satu produk kebudayaan yang dibingkai dalam imaji, sebuah film memiliki durasi. Ketika ia secara sadar diputar, maka tak terlawan pula ia harus berakhir. Film habis. Layar bioskop masih menampilkan <em>credit title</em> pekerja film yang setengah mati memproduksi film yang dalam dua jam selesai ditonton orang. Orang-orang acuh, bergegas keluar bioskop. Lampu-lampu bioskop menyala.</p>
<p>Saya paling menikmati momentum ini: mengakhiri realitas filmis dalam imaji saya, pelan-pelan, sebelum akhirnya bioskop terang sama sekali dan calon penonton baru akan menggantikan duduk di kursi saya sebelumnya. Belum puas saya menjadi Herman Lantang dalam <em>Gie</em> atau menjadi Gandi dalam <em>Minggu Pagi di Victoria Park</em>, film sudah berakhir. Dari realitas filmis yang belum tuntas, saya biasanya menunggu lebih lama di kursi bioskop, membaca <em>running text</em> yang menuliskan sederet nama pekerja film yang ditulis kecil-kecil di layar, sembari menunggu penonton lain keluar. Pelan-pelan saya beranjak dari kursi, menghela napas, satu-satu, kemudian keluar bioskop. Bioskop-bioskop di tanah air hari ini umumnya ada di mal dan pusat perbelanjaan. Sehabis menonton film, dalam ruang yang akustiknya baik, sejuk <em>air conditioning</em>, saya kemudian harus keluar bioskop. Terpaksa mendengar riuh pengunjung mal membuat imaji filmis saya berantakan. Tak lama kemudian saya telah lupa pada imaji filmis dan kembali menjejak realitas. Ah, film.</p>
<p>Detail-detail filmis seperti ini yang membuat saya ingin menonton film lagi, dan lagi. Saya gemar membaca buku atau menonton film yang sama berulang-ulang. Saya cenderung tak gampang bosan. Menonton film yang sama berulang-ulang membuat saya dapat lebih menghapal detail film. Selain adegan dialog yang filmis, lagu yang diputar dalam film juga terdengar lebih imajinatif. Faktor akustik bioskop tentu saja besar, namun lagu yang menjadi <em>soundtrack</em> film rasanya lebih magis, ketimbang didengar melalui radio atau ditonton dari layar kaca televisi. Menonton dan mendengar lagu <em>Donna Donna Donna</em> ciptaan Joan Baez yang dinyanyikan Sita Nursanti membuat saya larut dalam imaji yang filmis. Atau mendengar lagu <em>Berhenti Berharap original soundtrack</em> film <em>30 Hari Mencari Cinta</em> membuat saya tersayat. <em>Aku pulaaaaaa…nggg</em> (harap dinyanyikan dengan penghayatan, mata terpejam, dalam angan hati disayat-sayat tipis)/ <em>Tanpa dendam</em>/<em>Kuterima kekalaaa…hannnku</em>. Saat itu saya merasa Erros menciptakan lagu itu untuk saya yang tak juga memiliki kekasih hati. Bersama Akhdiyat Duta Modjo saya menghayati momentum tidak mempunyai mahasiswi teman dekat, hanyut dalam imaji filmisnya. Berkali-kali saya mendengar lagu ini dari radio atau menonton video klipnya di televisi, namun hanya dengan menonton di bioskop imaji filmisnya dapat saya rasakan. Nikmat betul rasanya menghayati kesendirian. Meski begitu saya tentu saja pemuda yang pantang menyerah, karena saya sepakat pada Jhoni Iskandar: <em>Patah hati bukan sifatnya lelakiiii</em>/<em>Apalagi sampai nekat bunuh diri</em>/<em>Putus cinta itu soal yang biasa</em>/<em>Aku tak putus asaaaaaa….</em> (harap dinyanyikan dengan intonasi penuh, dalam hati hembuskan napas kuat-kuat, hempaskan beban, nikmati pesona kelaki-lakian anda).</p>
<p>Saya berjanji akan menonton film lagi. Dan tak pernah bosan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/397/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/397/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=397&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/04/26/dari-film-ke-film/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Merayakan Kemayaan</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/03/14/merayakan-kemayaan/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/03/14/merayakan-kemayaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 01:26:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[blog]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[interaksi maya]]></category>
		<category><![CDATA[sosiologi internet]]></category>
		<category><![CDATA[status]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[Sejak sekira dua tahun ini saya memiliki aktivitas baru saban pagi, setiap hari kerja. Kira-kira 30 menit sebelum mulai bekerja saya membuka laman facebook. Membaca satu persatu status teman-teman. Beberapa diantaranya saya komentari. Saya paling menyukai sesi ini. Saya belajar banyak hal dari teman-teman. Hal-hal baik yang memotivasi saya untuk menerapkannya, sesuatu yang membuat saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=389&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/03/facebook-020509-31.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-394" title="facebook-020509-3" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/03/facebook-020509-31.jpg?w=204&#038;h=154" alt="" width="204" height="154" /></a>Sejak sekira dua tahun ini saya memiliki aktivitas baru saban pagi, setiap hari kerja. Kira-kira 30 menit sebelum mulai bekerja saya membuka laman <em>facebook</em>. Membaca satu persatu status teman-teman. Beberapa diantaranya saya komentari. Saya paling menyukai sesi ini. Saya belajar banyak hal dari teman-teman. Hal-hal baik yang memotivasi saya untuk menerapkannya, sesuatu yang membuat saya memiliki inspirasi, atau status-status yang buruk bagi saya namun tetap saya baca.<span id="more-389"></span></p>
<p>Membaca status yang buruk bagi saya merupakan laku sosiolog-kapiran. Saat membaca status yang buruk, maksudnya status yang menurut sistem nilai saya tidak baik ditulis, saya justru menemukan banyak ruang. Mengkhayalkan apa yang ada di benaknya ketika menulis status itu. Membayangkan kepribadiannya. Mencoba menerka mengapa ia menulis status itu. Kesimpulan-kesimpulan yang terbangun saya simpan saja dalam hati. Saya sedang belajar ilmu lama, yang dahulu sampai bosan kita dengar dalam pelajaran-pelajaran kewarganegaraan: <em>tepo seliro</em>. Ilmu sederhana: kalau kita tak ingin diganggu, jangan mengganggu orang. Kalau anda tak suka dengan orang pongah, maka anda juga jangan berperilaku yang sama karena orang lain lagi tak suka dengan kepongahan anda. Kalau saya terganggu dengan status-status buruk, maka sedapat mungkin saya tak mengetik kalimat-kalimat itu di status saya.</p>
<p>Apa definisi status yang buruk bagi saya? Sudah barang tentu saya bukan contoh yang baik dari pengguna <em>facebook </em>yang mampu menulis status yang baik dan perlu dibaca orang. Anda mulai dapat menggarisbawahi frase ‘perlu dibaca orang’ ini. <em>Facebook</em>, sebagaimana juga <em>blog</em> adalah ruang privat yang dipublikkan. Interseksi antar yang privat dan yang publik ini sesungguhnya pangkal dari lahirnya status-status buruk. Kita menganggap <em>facebook</em> sebagai ruang privat, tempat kita bebas bereksprasi. Padahal pagi-pagi kita telah diinsyafkan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan kita bahwa kebebasan kita dibatas kebebasan orang lain.</p>
<p>Banyak dari kita tak siap memanfaatkan ruang privat yang terpublikasikan. Karena itu, sejak pertama kali memiliki akun <em>blog</em> dan kemudian <em>facebook</em>, saya berusaha meyakinkan diri sendiri untuk menulis hanya hal-hal ‘yang perlu diketahui orang’. Saya berusaha menempatkan aspek publik dari laman <em>blog </em>maupun <em>facebook</em> saya dengan pertanggungjawaban bahwa orang lain memang perlu membaca tulisan saya. Bahwa tulisan-tulisan yang saya unggah bersifat personal, jawabnya ya, tentu saja. Namun dalam kesadaran menulis saya, saya berpikir tulisan itu menarik untuk dibagi, orang mungkin tak rugi membacanya, syukur-syukur dapat belajar dari tulisan saya. Saya sepakat dengan anda, tak semua tulisan yang saya unggah sesuatu yang bernilai baik dan perlu dipelajari orang. Setidaknya seperti saya yang belajar dari status-status yang buruk, anda juga dapat belajar dari keburukan pengalaman maupun tulisan saya itu sendiri.</p>
<p>Saya percaya, menulis hal-hal baik tidak saja berguna bagi orang lain—karena kita menulis di <em>blog</em> dan<em> facebook</em> untuk dibaca orang—tetapi juga bermanfaat bagi diri sendiri. Saya mengimani seorang teman untuk menulis hal-hal yang baik, berbicara hal-hal yang baik, di manapun, dan apapun medianya. Seringkali kita terbiasa menulis hal-hal baik pada ruang yang mempersyaratkan kebaikan. Penulis misalnya, menulis fiksi atau esai dengan memikat dan dimuat banyak media massa. Namun ia menulis status di <em>facebook-</em>nya dengan isyarat kebencian, kata-kata yang tak santun yang lebih tepat disebut sengak, dan bebas memaki. Kesantunan penulis model ini hanya ketika ia menulis untuk media massa.</p>
<p>Saya tak hendak memanjangkan diskusi kita soal ragam tulis alay. Sungguhpun saya tak menyukainya, saya tetap membaca status teman-teman dengan ragam bahasa tulis alay. Juga teman-teman yang tak dapat membedakan huruf kapital dan huruf kecil sehingga kerap menulis status dengan huruf kapital semua. Termasuk teman-teman yang tak dapat memanfaatkan secara efektif <em>inbox message</em>, sehingga berkelahi melalui statusnya. Tak sedikit yang berkelahi secara menantang, dengan menyertakan tautan akun <em>facebook </em>yang ditantang berpolemik. Atau mereka telah berpolemik sebelumnya di<em> inbox message</em> atau melalui telepon sebelumnya, namun rasanya belum puas kalau belum di-<em>share </em>di statusnya.</p>
<p>Saudara-saudara, yakinkan diri anda untuk tidak mengatakan: <em>facebook</em> adalah ruang privat saya, saya menulis hal-hal privat tentang saya, dan kesalahan ada pada anda yang repot-repot mau membaca <em>facebook</em> saya yang privat. Baiklah. Saya tak hendak mengajak anda mendiskusikan <em>culture lag</em>, sebagaimana sosiolog-kapiran mendefinisikannya. Saya hanya ingin memberi tahu anda bahwa ada fasilitas <em>microsoft word</em> di komputer anda, yang dapat anda tulisi apa saja, pernyataan-pernyataan subversif sekalipun. Dan jangan lupa, setelah selesai mengetik klik simbol <em>save</em> di pojok kiri atas komputer anda, dan simpanlah dengan rapi <em>file</em> tersebut tetap di dalam komputer anda. Secara filosofis anda tak memaksa siapapun untuk membaca pernyataan tersebut kecuali ia membuka <em>file</em> tersebut tanpa seizin anda. Dan saya mendukung anda untuk mengkriminalkan pembajak tersebut. Jadi, selama anda tak hanya menyimpan tulisan anda dalam Data (D) komputer anda, maka anda patut diduga memaksa orang membaca status dan catatan anda di <em>facebook</em> maupun <em>blog</em>. Dan saya kira pantas orang yang anda paksa membaca status dan catatan anda menuntut sesuatu yang baik yang perlu dibacanya.</p>
<p>Tidak. Saya tidak pernah memanfaatkan fasilitas <em>remove friend </em>dalam laman<em> facebook</em> saya. Saya percaya saya tak berhak menghakimi siapapun. Justru dengan berteman kepada banyak orang saya belajar banyak hal. Seperti anda, saya berteman dengan hampir 1.000 teman di <em>facebook</em>, meski hanya tak lebih dari seperempat dari mereka yang benar-benar pernah saya kenal sebelumnya. Meski demikian, saya banyak berteman intim dengan banyak sahabat dari berbagai kota melalui <em>facebook</em> meski saya belum pernah mendengar bagaimana lagu suaranya. Sampai kini saya merasa memanfaatkan laman <em>facebook </em>secara postif. Saya mendapat banyak informasi berguna, teman-teman yang menyenangkan, dan belajar banyak hal, termasuk dari status-status yang buruk.</p>
<p>Bukan karena khawatir status saya buruk sehingga selama dua tahun &#8216;karier&#8217; ke-<em>facebook</em>-an saya tak lebih dari 30 status yang pernah saya tulis, melainkan karena saya memang ingin memanfaatkan fasilitas status <em>facebook</em> saya menurut sistem nilai yang saya anut, terutama aspek ‘perlu dibaca orang lain’. Saya mengimani status seorang kawan yang menyebut indikator kedewasaan seseorang ditakar dari berapa lama ia berpikir sebelum menulis status <em>facebook</em>, atau seberapa sering ia menghapus status terdahulunya. Seturut logika teman saya itu, seseorang yang spontan menulis status <em>facebook</em> cenderung mengabaikan konsekuensi yang mungkin timbul dari statusnya. Selama seseorang tak berpanjang-panjang soal konsekuensi dari statusnya, menurut kawan saya itu, disitulah kedewasaannya dapat ditimbang.</p>
<p>Adagium ‘perlu dibaca orang lain’ juga saya ingat-ingat betul ketika menulis untuk <em>blog</em>. Meskipun mulai menulis sejak kelas 1 SMA tahun 1998 silam, sejak kini saya tak pernah memiliki komputer di rumah. Dulu saya biasa meminjam komputer teman kos, kini saya biasa mengetik di kantor. Tak memiliki komputer rasanya membuat saya dapat menulis secara efektif. Saya menulis esai untuk media massa beberapa kali. Begitu juga menulis untuk laman <em>blog</em> saya. Sebelum menulis, saya terbiasa merangkai <em>outline</em> tulisan saya di kepala. Sebelum menulis <em>posting </em>ini pun, saya juga melakukan hal yang sama. Waktu favorit saya merangkai<em> outline</em> adalah saat saya berjalan kaki sekira 1,5 sampai 2 jam, seorang diri, mengelilingi lingkungan rumah saya di mana persawahan luas terbentang, saat sore hari. Saya memilih olah raga jalan kaki karena praktis tak harus bergantung pada banyak orang sebagaimana halnya ketika kita hendak melakukan futsal atau tenis, atau badminton. Jalan kaki juga fleksibel soal waktu, lagi-lagi tidak bergantung orang. Dan yang paling utama: murah.</p>
<p>Berjalan kaki seorang diri, baik sore dan kadang-kadang pagi hari adalah firdaus bagi saya. Saya mulai merangkai-rangkai <em>outline</em> rencana esai, tulisan di <em>blog</em>, status di <em>facebook</em>, sesekali puisi—yang hingga kini masih saja gagal.<em> Outline</em> yang saya rangkai sepanjang hari saya simpan dalam hati. Ketika perspektif tulisan saya telah kuat, gairah untuk menulis meletup-letup. Celakanya, saya baru bertemu komputer keesokan harinya. Ekstase untuk menulis sembari menunggu mengetik di komputer saya nikmati betul. Seringkali saat tidur malam saya gelisah. Sulit tidur. Tak sabar menunggu pagi, dan cepat-cepat menulis di komputer. Model ini sangat saya sukai. Saat berjumpa dengan komputer, bila tak banyak pekerjaan dan mampu fokus menulis, satu esai pendek 5.000 karakter dapat saya selesaikan dengan cepat. Saya justru tak yakin dapat menulis efektif bila komputer ada di rumah saya. Saat beberapa kali saya membawa laptop kantor ke rumah, seringkali saya malah gagal menghasilkan tulisan. Menulis setelah <em>outline</em> berkecamuk semalaman di kepala, apalagi di kantor banyak pekerjaan sehingga saya harus mencuri-curi waktu menulis membuat gairah menulis semakin membara</p>
<p>Menulis <em>blog</em> yang katanya bersifat personal justru lebih lama bagi saya ketimbang menulis essai. Menulis <em>blog</em> pada banyak tulisan justru membuat saya harus sering-sering membuka<em> google</em> untuk mengecek akurasi data. Tulisan-tulisan dalam <em>blog</em> saya umumnya pengalaman personal, lebih banyak catatan perjalanan dan kuliner. Karena saya percaya adagium ‘perlu dibaca orang lain’ dalam menulis <em>blog</em>, saya merasa perlu untuk menguatkan pandangan mata saya, percakapan dengan orang maupun informasi yang saya dapat dengan membandingkan tulisan-tulisan sebelumnya dalam<em> wikipedia</em> maupun <em>google</em>. Akurasi ini lebih banyak saya lakukan pada informasi detail nama tempat, istilah atau sejarah. <em>Google</em> menyediakan banyak informasi sehingga saya menggunakan teknik trianggulasi untuk menguji informasi mana yang saya kutip. Sengaja saya tak menyertakan sumber kutipan karena saya mengutip hal-hal yang sebenarnya telah umum, namun saya hendak memastikannya saja. Misalnya ketika saya mencari persisnya nama satu gedung di Kota Lama Semarang.</p>
<p>Menulis <em>blog</em> dan membaca status teman-teman di <em>facebook</em> telah menjadi ruang bagi saya untuk mengisi jiwa. Selesai menulis rasanya seperti telah membersihkan jiwa. Saya merasakan kepuasan yang tak terukur. Mungkin ini yang dikatakan Maslow sebagai kebutuhan aktualisasi. Saya beruntung dahulu gemar membaca dan kemudian nekat menulis. Saya bahkan berpikir bila yoga, semadi, zikir, atau musik sebagai terapi membersihkan jiwa, saya kira menulis juga akan menimbulkan efek yang kurang lebih sama.</p>
<p>Gambar diunduh di <em>bunghackers.blogspot.com</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/389/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/389/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=389&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/03/14/merayakan-kemayaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/03/facebook-020509-31.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">facebook-020509-3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bachdim di Dadaku</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2011/01/14/bachdim-di-dadaku-4/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2011/01/14/bachdim-di-dadaku-4/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Jan 2011 01:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[kota-kota]]></category>
		<category><![CDATA[bachdim]]></category>
		<category><![CDATA[liga premier indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[pasoepati]]></category>
		<category><![CDATA[persema]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[solo fc]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=383</guid>
		<description><![CDATA[Meski bukan penggemar sepakbola dan tak pernah sekalipun menonton langsung pertandingan di stadion, saya memberanikan diri menulis artikel Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola (Pikiran Rakyat, 20 Desember 2010). Dalam artikel tersebut saya memotret cerita di luar lapangan termasuk perilaku suporter yang selalu menarik untuk dikaji. Demam ‘kebangkitan sepakbola nasional’ pasca laga AFF lalu membuat saya mau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=383&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/01/irfan-bachdim-saat-laga-lawan-laos.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-387" title="irfan-bachdim-saat-laga-lawan-laos" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/01/irfan-bachdim-saat-laga-lawan-laos.jpg?w=203&#038;h=154" alt="" width="203" height="154" /></a>Meski bukan penggemar sepakbola dan tak pernah sekalipun menonton  langsung pertandingan di stadion, saya memberanikan diri menulis artikel  <em>Berbagai Cara Mengekspresikan Sepakbola</em> (<em>Pikiran Rakyat</em>, 20 Desember  2010). Dalam artikel tersebut saya memotret cerita di luar lapangan  termasuk perilaku suporter yang selalu menarik untuk dikaji. Demam  ‘kebangkitan sepakbola nasional’ pasca laga AFF lalu membuat saya mau  tidak mau menjadi intens mengikuti perkembangan sepakbola di tanah air.  Apalagi media seolah tak henti mengangkat isu sepakbola hingga publik  nyaris bosan.<span id="more-383"></span></p>
<p>Kebetulan, saat laga pertama Liga Premier Indonesia  (LPI) antara Persema dan Solo FC yang masih menuai kontroversi, saya  sedang berada di Solo. Kesempatan ini tentu tidak saya sia-siakan,  meskipun kekhawatiran lazim penikmat sepakbola yang baru kali pertama  menonton di stadion sempat membuat hati <em>ketar-ketir</em>. Namun dengan  ‘jaminan keamanan’ dari empat adik tingkat semasa kuliah untuk menemani  menonton, termasuk mencarikan tiket, saya memberanikan diri menikmati  lebih dekat perilaku suporter kita. Sejak mula saya memang ingin  mencatat lagak lagu suporter yang menarik untuk saya bagikan kepada  anda.</p>
<p>Stadion Manahan tempat laga perdana LPI berlangsung mulai  dipadati calon penonton semenjak siang. Tiket yang dijual langsung mulai  pukul 13.00 membuat calon penonton harus tiba lebih awal, dari rencana  pertandingan pukul 15.30, setelah sebelumnya diawali dengan pembukaan  yang meriah.</p>
<p>Dalam mempersiapkan laga perdana LPI, panitia  pelaksana, termasuk Pemerintah Kota Solo sadar bahwa sepakbola hari ini  adalah momentum bersemainya nilai-nilai keindonesiaan yang mulai langka  dalam kehidupan sehari-hari. Solidaritas primordial atas nama  nasionalisme telah menjadikan pertandingan-pertandingan AFF tempo hari  menarik perhatian publik. Dalam pembukaan kompetisi LPI masyarakat Kota  Solo menyajikan pertunjukan kolosal yang dikemas apik, yang mereka sebut  <em>Solo Batik Carnival</em>. Tak melulu batik, barisan demi barisan beratraksi  menghibur penonton hampir 30 menit sebelum laga dimulai. Rancak,  serempak, bersemangat diselingi tetabuhan yang menggoda Pemanasan yang  dikemas menarik, membuat penonton seperti menonton festival budaya.</p>
<p>Peluit panjang ditiup wasit menandai dimulainya pertandingan. Pandangan  saya tak henti menikmati atraksi suporter Pasoepati Solo di tribun  selatan stadion. Pasoepati sendiri didirikan tahun 2000, oleh sejumlah  suporter sepakbola di Solo, diantaranya Suwarmin, Kris Pujiatni, Mayor  Haristanto dan kawan-kawan. Perjalanan Pasoepati sendiri cukup menarik.  Pasoepati secara resmi merupakan akronim dari Pasukan Soeporter Pelita  Sejati. Kala itu prestasi Persis Solo, sebagai klub lokal sedang tidak <em> moncer</em>. Justru klub Pelita Jaya, klub yang diboyong dari Jakarta dan  kemudian bermarkas di Solo yang mendorong lahirnya Pasoepati.<br />
Dukungan Pasoepati terhadap Pelita Jaya tidak berlangsung lama. Karena  klub ini kemudian hengkang lagi dari Solo ke Banten dan berganti nama  menjadi Pelita Krakatau Steel sebelum kemudian menjadi Pelita Jaya  Karawang ketika<em> home base </em>mereka berada di Karawang. Tak lama kemudian  masuk klub baru Persijatim, yang kemudian namanya berganti menjadi  Persijatim Solo FC. Setelah menjadi pendukung klub Persijatim Solo FC,  seiring dengan meningkatnya prestasi Persis Solo, Pasoepati kemudian  mengikrarkan diri sebagai pendukung kesebelasan ‘asli Solo’ ini. Dan  kini, ketika Persis Solo berlaga dalam <em>Indonesia Super League</em> (ISL),  serta Solo FC masuk dalam kompetisi LPI, Pasoepati mendukung keduanya.</p>
<p>Sebagai tuan rumah, dukungan sekira 25.000 suporter sebagian  besar diantaranya Pasoepati membuat personel Solo FC lebih percaya diri. Pada  menit-menit awal tampak permainan Solo FC cenderung menekan pertahanan  Persema. Hujan rintik yang membasahi Solo semenjak siang tak menyurutkan  pemain dan suporter untuk larut dalam atmosfer pertandingan. Hampir  seluruh stadion dipenuhi atribut berwarna merah menyala, simbol  Pasoepati. Penonton seolah tak ingin beranjak dari tribun stadion yang  basah, mungkin ingin menegaskan diri sebagai saksi liga yang  disebut-sebut sebagai ‘kebangkitan sepakbola nasional’ ini.</p>
<p>Penonton  sepakbola kini tak lagi didominasi anak muda yang urakan, dan tak  jarang tercium aroma alkohol dari mulutnya. Pertandingan sepakbola kini  tak ubahnya acara-acara kebudayaan pada umumnya, dan kini mulai menjadi  industri hiburan yang semakin berkelas dan representatif. Tak sedikit  perempuan kini menonton pertandingan. Saya juga melihat banyak keluarga  yang terdiri dari orang tua dan anak-anak yang dengan riang menonton  pertandingan. Sambil menyimak pertandingan, saya menyempatkan diri  bertanya pada sejumlah anak muda yang duduk di dekat saya.</p>
<p>Salah  satunya Dewi (18) mahasiswi Universitas Atmajaya Yogyakarta, yang sore  itu datang bersama temannya Virgita (17), teman satu angkatannya. Gadis  berjilbab ini mengaku datang dari Yogyakarta untuk menonton pertandingan  langsung di Stadion Manahan Solo, sekira 2 jam perjalanan bus dari  Yogya. Saya menduga pastilah karena pesona Irfan Bachdim. “Memang iya,”  jawab Dewi. “Bachdim dan Kim Jefrey Kurniawan,” imbuh Virgita.</p>
<p>Tak  heran bila sepanjang pertandingan teriakan-teriakan dukungan untuk Irfan   menyela gemuruh lagu-lagu yang dinyanyikan Pasoepati. Namun saya  mendapati suasana cukup fair dan sportif. Meski berada diantara ribuan  suporter pendukung Solo FC, perempuan-perempuan muda pembela Irfan tetap  bebas berekspresi. Seperti Farizani (18), mahasiswi Universitas  Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang datang bersama sang kekasih Hafidz  (22), mahasiswa semester akhir Universitas Sebelas Maret (UNS). Farizani  beberapa kali saya dengar meneriakkan dukungan untuk Bachdim. Sedang  pacarnya bersorak membela Solo FC. “Tak cemburu mas,” tanya saya pada  Hafidz. “Ya, tidak perlu cemburu mas. Ini kan permainan. Kami ke sini  untuk senang-senang,” jawab Hafidz sambil melirik Farizani.</p>
<p>Pesona  Bachdim semakin menjadi, apalagi ketika gol kedua Persema tercipta  melalui tendangan Bachdim. Bacdim yang sadar digilai perempuan muda  langsung memberi tabik kepada penonton di tribun, yang langsung  bersambut tepuk tangan riuh. Tertinggal dua gol membuat permainan Solo  FC sempat <em>keteteran</em>. Untuk menyemangati pemain, penonton di tribun  utara, di belakang gawang yang sebelumnya terlihat tenang mulai bereaksi  menyanyikan lagu-lagu penyemangat. Tak hanya menyemangati pemain Solo  FC, tak ketinggalan Pasoepati menyentil Nurdin Halid, lewat lagu  plesetan <em>Helly</em> yang dipopulerkan penyanyi anak Chica Koeswoyo. Irfan pun  disindir supporter Pasoepati lewat plesetan lagu <em>Buat Apa Susah</em> yang  diganti liriknya secara jenaka. Sejumlah penonton hanya tertawa  mendengar kreativitas Pasoepati, apalagi atraksi Pasoepati yang kompak  di bawah kendali dirigen Sigit Omponx memang sedap dipandang.</p>
<p>Hingga  Solo FC kebobolan satu gol lagi, sportivitas masih terjaga. Ketika  seorang penonton melempar botol air mineral ke arah lapangan, sontak  stadion bergemuruh menyorakinya. “<em>Ndeso, ndeso</em>….” teriak penonton yang  mencela tindakan tersebut sebagai tindakan ‘orang desa dalam  pertandingan antarkampung (tarkam)’. Suasana kembali tenang, meskipun  Solo FC tertinggal satu gol lagi. Peran Pasoepati dalam mengelola  fanatisme suporter Solo patut dipuji. Dalam lirik salah satu lagu yang  mereka dendangkan misalnya terdengar jelas lirik: d<em>i sini Solo, di sana  Malang tetapi kita tetap saudara</em>…. Bahkan dalam menyaksikan  pertandingan, <em>unggah-ungguh</em> khas Solo masih jelas melekat. Ketika  sebagian penonton duduk, sedangkan penonton di baris depan berdiri,  sontak penonton berteriak berirama: ‘(<em>sing neng</em>) <em>ngarep lungguh, ngarep  lungguh</em>,” yang artinya ‘yang di depan harap duduk.’ Mendengar diteriaki,  penonton di baris depan segera menyesuaikan diri.</p>
<p>Meski akhirnya  kalah dikandang sendiri secara telak 5-1, pertandingan diakhiri dengan  manis oleh Yunet Hardianto yang mempertipis kekalahan Solo FC. Seusai  pertandingan, nyaris tak ada insiden berarti. Hampir semua penonton  bertepuk riuh ketika pemain Persema dan Solo FC berpelukan setelah wasit  meniup peluit panjang tanda berakhir permainan. Kemudian tak  terduga-duga, banyak penonton laki-laki yang berteriak-teriak histeris:  Bacdiiimmm…. Memuji Bachdim secara lebay menirukan penonton-penonton  perempuan yang menyambutnya dengan tawa. Pertandingan sore kemarin tak  salah kalau menjadi panggung bagi Bachdim, dan momentum bagi kebangkitan  sepakbola di tanah air.</p>
<p>Gambar diunduh di <a href="http://ciungtips.blogspot.com/2010/12/profil-irfan-bachdim.html">ciungtips.blogspot.com</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/383/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/383/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=383&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2011/01/14/bachdim-di-dadaku-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2011/01/irfan-bachdim-saat-laga-lawan-laos.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">irfan-bachdim-saat-laga-lawan-laos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>emansipasi dan generasi unggul</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2010/11/12/emansipasi-dan-generasi-unggul-3/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2010/11/12/emansipasi-dan-generasi-unggul-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 02:50:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[bapak yang baik]]></category>
		<category><![CDATA[emansipasi]]></category>
		<category><![CDATA[memuliakan perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[mengasuh anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[Tak ada isu yang diketahui hampir setiap orang namun diimplementasikan dalam sistem nilai yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Semua orang tahu emansipasi. Hampir semua sepakat untuk memuliakan perempuan. Dan sejak itu pula orang berkelahi merumuskan bagaimana formulasi perempuan dimuliakan. Ada yang menyebut emansipasi sebagai kesetaraan. Ada yang menggaransi: setara hanya di ruang publik. Ada yang mengatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=350&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/11/images2.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-353" title="images2" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/11/images2.jpg?w=204&#038;h=155" alt="" width="204" height="155" /></a>Tak ada isu yang diketahui hampir setiap orang namun diimplementasikan dalam sistem nilai yang berbeda-beda dalam kehidupannya. Semua orang tahu emansipasi. Hampir semua sepakat untuk memuliakan perempuan. Dan sejak itu pula orang berkelahi merumuskan bagaimana formulasi perempuan dimuliakan. Ada yang menyebut emansipasi sebagai kesetaraan. Ada yang menggaransi: setara hanya di ruang publik. Ada yang mengatakan emansipasi adalah produk barat, dan agamanya sudah rinci mengatur bagaimana perempuan diagungkan. Tak pernah final. Tetapi semua mengaku memuliakan perempuan.<span id="more-350"></span></p>
<p>Saya termasuk orang yang beriman pada keharusan untuk memuliakan perempuan. Salah satu bentuknya adalah memberi ruang, sedapat mungkin memfasilitasinya, bagi perempuan-perempuan saya untuk eksis. Setidaknya di ruang publik. Perempuan-perempuan saya hanya dua: istri, dan anak yang berkelamin perempuan. Memuliakan perempuan di ruang publik. Itu saja dulu. Namun saya mendapati problem-problem filosofis. Yang menarik untuk saya bagikan kepada teman-teman. Sekaligus berharap mendapat pencerahan.</p>
<p>Hambatan filosofis pertama bagi perempuan yang eksis di ruang publik, kita sederhanakan saja frase <em>mbulet-mbulet</em>-sok-filosofis ini sebagai: perempuan bekerja. Tepatnya, istri yang telah menjadi ibu, yang bekerja. Problem filosofis seorang perempuan yang juga bekerja, setidaknya ada dua, saya kira. Pertama, problem emansipasi yang tidak emansipatif. Kedua, problem pengasuhan anak.</p>
<p>Emansipasi yang tidak emansipatif. Bagi banyak perempuan yang bekerja, umumnya bila memiliki anak hampir dipastikan membutuhkan pengasuh-pengganti. Pengasuh-pengganti ini kategorinya macam-macam. Ada yang ‘membebankan’ kepada orang tua dan mertua, bila kebetulan masih satu tempat tinggal atau tempat tinggalnya berdekatan. Saya menyebutnya ‘membebankan’ karena kenyataan mengasuh anak bukan pekerjaan ringan. Selain faktor-faktor asketik seperti kasih sayang, masih ada faktor lain yang lebih dominan: kekuatan fisik yang prima.</p>
<p>Model pengasuhan lain yang sering dipilih: <em>helper</em> alias <em>baby sitter</em>. Konteks ini terutama yang saya sebut emansipasi yang mengorbankan kelompok lain agar tak emansipatif. Emansipasi laki-laki mengorbankan perempuan-perempuan terdekatnya. Emansipasi perempuan mengorbankan perempuan-perempuan lain yang menjadi pengasuh-pengganti atau Pembantu Rumah Tangga. Pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga bagi saya adalah pahlawan emansipasi yang sesungguhnya. Merekalah korban terakhir, muara korban, korban kali korban kuadrat dari emansipasi yang kita ketahui, sepakati, dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Saya menerima sanggahan, tentu saja. Namun harap sanggahannya bukan karena mereka telah digaji, sehingga emansipasi yang kita cerabut telah berbayar. Ini bukan macam jual beli, saya percaya itu. Dalam skema implementasi emansipasi kita, yang memuliakan perempuan untuk berkarier, saya kira pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga sama sekali bukan karier. Mendapat gaji, ya. Tapi karier jelas bukan.</p>
<p>Lalu, bagaimana kita harus bersikap? Inilah problem filosofis yang saya hadapi. Saya ingin menjadi orang yang memuliakan perempuan,<em> kaffah</em> per definisi. Namun ketika saya hanya memuliakan hanya perempuan-perempuan istri dan anak semata, maka ke-<em>kaffah</em>-an saya batal pula per definisi. Tentu, tentu. Saya sepakat bila anda mengatakan: bergantung bagaimana cara kita memuliakannya. Saudara-saudara, pengasuh-pengganti dan Pembantu Rumah Tangga sebaik-baiknya cara kita memuliakannya, tetaplah melanggar prinsip-prinsip emansipasi kita. Kaffah per definisi juga paralel artinya dengan tidak bersikap standard ganda. Bagi keluarga ya, bagi orang lain tidak. Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: batal keadilannya sejak dari pikiran.</p>
<p>Saya beruntung, karena istri saya hingga hari ini belum bekerja. Saya tak dibatalkan per definisi untuk menjadi orang yang setia pada nilai-nilai untuk memuliakan perempuan. Perempuan saya yang oleh keadaan memilih tinggal di rumah tak kurang mulianya dibandingkan perempuan yang bekerja di sektor publik, begitu kata Mario Teguh dalam pengajian-pengajiannya di <em>Metro TV</em>. Namun, kenyataannya istri saya tak berkarier. Perempuan karier mulia, ibu yang baik juga mulia. Oke. Oke. Tetapi, konsekuensi-bukan-filosofisnya: kami harus menunda memiliki banyak sesuatu. Karena sumber-sumber finansial kami praktis hanya dari saya. Saya menyesal, tentu tidak. Hanya membayangkan, bagaimana formulanya agar urusan finansial juga bisa menjadi filosofis. Maksudnya, soal-soal filosofis kan jauh dari lapar, haus, atau hal-hal yang dekat dengan nyawa. Cukup dipikirkan. Direnungkan dalam-dalam. Ditulis dengan sok-lebih-filosofis lagi. Lebih bagus bila filosofis yang puitis. Namun soal-soal finansial celakanya bukan urusan filosofis. Sekuat-kuatnya saya merenunginya di sepertiga akhir waktu malam di mana gelombang alpha dan tetha sedang kuat-kuatnya memancar, ketika saatnya sarapan saya lapar juga.</p>
<p>Ya. Memuliakan perempuan, siapapun dia. Kata kuncinya. Perempua-perempuan saya mudah-mudahan telah saya muliakan. Dan perempuan saya mudah-mudahan memilih menjadi ibu, yang tak kalah mulianya dibandingkan perempuan karier meskipun saya percaya kemuliaaan perempuan bukan untuk diperbanding-bandingkan. Saya lebih memilih sikap: ini adalah pilihan. Pilihan dengan segala konsekuensinya. Sedikit lapar, ah. Itu kan hanya ekses filosofis finansial. Banyak teman mengatakan sedikit lapar dapat ditahan dengan berpikir positif. Saya beriman dan memilih sikap itu.</p>
<p>Perempuan saya oleh sebab keadaan hingga hari ini memilih menjadi ibu yang mulia bagi perempuan saya yang satu lagi: puteri kami yang hampir 1,5 tahun usianya kini. Ekses filosofis finansial terjawab sudah pada momentum ini: istri saya berkesempatan menjadi pengasuh puteri kami, tanpa digantikan siapapun. Kami beruntung pula, tinggal di kota yang jauh dari orang tua dan mertua. Kami berkesempatan menjadi orang tua yang utuh, tanpa direcoki sistem nilai orang lain yang kadang-kadang berbeda dengan sistem nilai yang hendak kami bangun. Meskipun tentu saja sistem nilai kami dibangun dari interseksi dan saling-silang sistem nilai orang tua, lingkungan, pergaulan dan pengetahun yang kami miliki.</p>
<p>Kami banyak terbantu oleh teknologi, melalui kebaikan hati mbah <em>Google</em>, dan terutama buku-buku, juga televisi minus sinetron, dan pergaulan dengan orang tua lain. Buku pegangan kami sederhana, saya beli ketika kursus singkat dua bulan di Jogja: <em>Kamus Perkembangan Bayi dan Balita</em>: <em>Practical Parenting</em>. Terbitan <em>Esensi</em>. Buku ini saduran dari buku <em>Baby and Child</em>: <em>All Your Questions Answered</em> yang pertama kali diterbitkan <em>Hamlyn Octopus</em>. Buku-buku terbitan luar negeri kadang menjengkelkan dibaca bila tak disadur dengan menyesuaikan kultur kita. Meski buku ini terbitan luar negeri awalnya, namun <em>Esensi </em>mampu menyadurnya dengan baik. Nomenklatur <em>gumoh</em> misalnya, muntah yang sedikit berbeda dengan muntah karena sakit, ada dalam buku ini. Saya sengaja berpromosi, karena dibanding buku-buku lain yang kami miliki, buku ini yang paling memuaskan keingintahuan kami. Saya juga mengusahakan membelikan kado bagi pernikahan teman-teman dengan buku. Dan buku <em>Kamus Perkembangan Bayi dan Balita </em>yang paling sering kami pilihkan. Jadi, kalau anda hendak mendapat hadiah buku ini dari kami, menikahlah. Kalau sempat akan kami hadiahkan buku ini. Selama stoknya di toko buku masih ada, tentu saja.</p>
<p>Kembali soal mulia-memuliakan. Saya bangga ketika istri saya bangga memuliakan puteri kami dengan mengasuhnya sendiri. Seorang anak yang diasuh ibunya tentu lebih baik ketimbang diasuh siapapun. Lebih-lebih, ibunya sempat mengenyam pendidikan yang cukup. Pengetahuan yang dimiliki ibunya sangat berpotensi terserap oleh sang anak. Secara sederhana kami juga ingin seperti orang-orang tua lain yang memberikan pengasuhan terbaik, dan ASI ekslusif bagi puteri kami. Dalam kalimat sederhana pula, pola pengasuhan bagi puteri kami sedapat mungkin menggunakan kalimat-kalimat positif ketimbang kalimat negatif. Misalnya menghindari kalimat: <em>jangan</em> buang sampah dan menggantinya dengan kalimat buang sampah <em>di sini</em>. Saya tak hendak memanjangkan uraian-uraian ini karena saya percaya setiap bapak di republik ini pasti siap berkelahi untuk mengatakan anak dan keluarganya yang terbaik se-Indonesia. Saya percaya, setiap anak dan keluarga kita pastilah yang terbaik, dan mudah-mudahan demikianlah adanya seperti doa-doa yang kita lantunkan setiap waktu.</p>
<p>Istri saya memilih menjadi ibu, yang mudah-mudahan mulia. Istri saya mendedikasikan kemuliaannya untuk mengasuh puteri kami. Teorinya, puteri yang diasuh oleh ibu yang mulia berpotensi menjadi generasi unggul. Siapa tak kurang bangganya mendapati puterinya menjadi generasi unggul,  bukan. Nah, saya mendapati problem filosofis lagi. Begini kira-kira sistematikanya: istri saya ketika menjadi kanak-kanak dididik oleh keluarganya untuk menjadi generasi unggul. Setelah, mudah-mudahan tentu saja, menjadi unggul, istri saya tak mengaktualisasikan keunggulannya di sektor publik. Istri saya mungkin tak banyak memberi kontribusi-langsung bagi negara-bangsa ini ketimbang perempuan-perempuan karier lain, macam Sri Mulyani yang sempat memandu perekonomian nasional kita sekian waktu.</p>
<p>Oke, kita lanjutkan sistematikanya. Istri saya memilih mendukung pembangunan nasional melalui usaha-usaha nyata di garis belakang: mengasuh anak. Dengan keunggulan yang dimilikinya, istri saya mengikhtiarkan diri mendidik puteri kami, dengan harapan menjadi generasi unggul. Mudah-mudahan demikian adanya sebagaimana doa kami. Lalu, puteri kami, sebagaimana doa kami, menjadi generasi unggul. Puteri kami berkelamin perempuan, karena itu saya menyebutnya puteri bukan putera. Tetapi bukan itu maksudnya. Puteri kami kelak akan menjadi ibu. Puteri kami, sebagaimana ibunya dapat memilih sikap untuk menjadi perempuan karier yang mulia atau menjadi ibu yang mulia. Bila puteri kami memilih menjadi ibu yang mulia, ia akan mendidik anaknya untuk menjadi generasi unggul. Kami, keluarga kami mendidik generasi kami menjadi unggul. Ketika unggul, keunggulannya didedikasikan untuk mendidik dan mengasuh putera-puterinya menjadi generasi unggul.</p>
<p>Lalu, pertanyaan filosofisnya: generasi unggul yang tercetak-cetak secara siklikal ini kapan berbhakti secara langsung kepada negara-bangsa? He-he-he. Saya hendak melepaskan renungan filosofis ini segera. Karena perut telah diingatkan lapar, dan bubur ayam menunggu di santap di atas meja. Tabik.</p>
<p>Gambar diunduh di: <em>benih.net</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=350&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2010/11/12/emansipasi-dan-generasi-unggul-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/11/images2.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">images2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tentang cium tangan</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2010/10/27/tentang-cium-tangan/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2010/10/27/tentang-cium-tangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Oct 2010 02:01:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[boulevard]]></category>
		<category><![CDATA[cium tangan]]></category>
		<category><![CDATA[solo]]></category>
		<category><![CDATA[takzim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di boulevard (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=337&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/10/cium-tangan.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-341" title="cium-tangan" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/10/cium-tangan.jpg?w=204&#038;h=156" alt="" width="204" height="156" /></a>Minggu pagi. Karena kebetulan sedang ada acara di Wonogiri satu hari sebelumnya, saya mengontak beberapa teman organisasi yang masih ada di Solo dan adik-adik yunior di organisasi untuk menghabiskan pagi di <em>boulevard</em> (bekas) kampus kami. Sembari sarapan rupa-rupa jajan, satu persatu teman datang, tentu sebagian besar yang lain izin seorang-seorang via sms: ada yang sedang keluar kota, ada acara keluarga, atau alasan lain yang dibuat-buat, yang intinya tak bisa hadir. Adik-adik yunior organisasi saya juga datang, berboncengan sepeda motor. Sebagian tak saya kenal, karena memulai kuliah setelah saya tak di kampus itu lagi. Tak apa.<span id="more-337"></span></p>
<p>Adik-adik yunior menghampiri saya, dan serta merta mencium tangan saya. Pada awalnya saya kaget, namun sambil mencari-cari jawaban yang filosofis, saya memberikan punggung tangan saya untuk dicium. Kaget, karena sepanjang pengalaman saya menjadi mahasiswa, tapi pernah kami mencium tangan senior, seberapapun tuanya, atau seberapapun berkuasanya ia (agak hiperbola, maksudnya seberapa berpengaruhnya dia karena pekerjaannya kini, bagi bangsa ini). Awalnya saya menduga-duga, mungkin karena saya sudah lama meninggalkan kampus, sehingga dikira oleh adik-adik mahasiswa ini saya sudah tua.</p>
<p>Namun pandangan saya segera keliru. Adik-adik mahasiswa angkatan 2010, alias angkatan paling akhir, juga mencium tangan kakak-kakak kelasnya, angkatan 2009 ke belakang. Sambil mencomot <em>cenil</em> saya mangangguk-anggukan kepala sendiri, tanda sedang berpikir. Saya kira mencium tangan telah menjadi tradisi baru, setidaknya dua-tiga tahun belakangan ini. Saya mengingat seorang teman, sekira sepuluh tahun lalu ketika banyak mahasiswa mentradisikan kultur baru: berjabat tangan sambil mengucap salam sebagai sesama muslim, dan aktif mengintroduksi nomenklatur-nomenklatur arabia semacam: <em>afwan</em>, <em>akhi</em>, <em>antum</em>, <em>ifthor</em>. Kawan saya itu mengapreasiasinya sebagai sebuah pembentukan tradisi. Saat itu saya pun diam-diam mengamati, tentu saja sebagai sosiolog-kapiran. Setiap perubahan sosial, yang ditandai oleh introduksi perilaku baru yang diinisiasi secara mengglobal, tentu menarik untuk diamati, tepatnya ditonton dari sayup-sayup kejauhan.</p>
<p>Lalu, bagaimana seorang sosiolog-kapiran mendudukkan gerakan-perilaku-baru, yang dalam bahasa lebih keren: purifikasi, atau penajaman identitas, dan semacam itu, dengan perilaku yang dibiasakan adik-adik yunior saya ini: mencium tangan, siapa pun yang dianggapnya tua. Tanpa tahu maknanya?</p>
<p>Makna mencium tangan? Tanpa sempat membaca buku referensi, saya kira mencium tangan merupakan tradisi bangsa ini sejak lama, sejak kita semua ini pernah kecil dulu. Lalu, apa istimewanya? Jelas istimewa saya kira. Karena, cium tangan pada masa-masa lampau diperuntukan bagi orang yang dituakan. Orang yang dituakan tentu berbeda makna dengan orang tua. Apalagi orang sekedar tua karena lebih dulu lahir. Cium tangan, menurut pengalaman kelampauan saya bermakna ketakziman.</p>
<p>Seorang muda, memberi hormat, takzim, dengan mencium tangan orang yang dituakannya, dihormatinya. Cium tangan saya kira paralel dengan tradisi <em>munjungan</em>, alias mengirim hantaran kepada orang yang dituakan, dan dihormati ketika orang Jawa menggelar hajat. Dalam versi kekinian yang diwaspadai oleh KPK secara cermat, apalagi kalau bukan parcel.</p>
<p>Hormat, takzim, dituakan. Karena itu tak semua orang yang dituakan dengan senang hati menganggap dirinya tua dan hormat. Makna takzim berkebalikan dengan perlindungan dan pengayoman. Seseorang yang diberi penghormatan, <em>wajib ain</em> hukumnya memberi perlindungan dan pengayoman kepada mereka yang menghormatinya. Arswendo Atmowiloto dalam novel<em> Canting</em> menulis adik-adik Raden Ngabei yang kesulitan hidup menyatakan <em>pasrah bongkokan</em> kepada sang kakak, Ngabei yang karena usaha istrinya berjualan batik di Pasar Klewer hidup berkecukupan. Tak seperti umumnya bangsawan yang tak dapat mengikuti gerusan laju zaman yang kapitalistik. <em>Pasrah bongkokan</em> dapat berarti menyerahkan jiwa raganya dalam perlindungan dan pengayoman sang kakak. Meskipun pada akhirnya Ngabei berujar: tak usah menyalahkan kapitalisme, tak usah menyalahkan nasionalisme (maksudnya merosotnya kewibawaan keraton). Semua (harus) bekerja. Semua (harus) berusaha.</p>
<p>Potret perubahan sosial di Solo pada masa-masa setelah perang kemerdekaan hingga tahun 1970-an dalam <em>Canting</em> memang tidak secara khusus menyebut soal cium tangan. Namun <em>pasrah bongkokan</em> saya kira adalah bentuk ideal dari penghormatan yang berkebalikan dengan pengayoman yang diharapkan.</p>
<p>Dalam konteks masyarakat santri, misalnya mencium tangan ulama dan keluarganya juga dimaknai sebagai penghormatan berkebalikan dengan keutamaan ulama yang diharapkan terpancar kepada dirinya. Keutamaan ini dalam konteks rasul disebut syafaat. Saya bersyukur, pernah mencecap penghormatan santri meskipun saya tak memiliki keutamaan yang diharapkannya. Ceritanya, seorang kawan saya semasa SMP tercatat sebagai putera seorang kiai di kecamatan kami yang memimpin pondok pesantren. Hampir setiap siang selepas pulang sekolah, saya ‘belajar kelompok’ bersama anak sang kiai. ‘Belajar kelompok’ di sini maknanya adalah: sedikit belajar mengerjakan tugas, dilanjutkan mengobrol, menonton televisi, atau melempari mangga di sawah belakang pondok. Karena putera pak kiai dihormati oleh santrinya layaknya seorang Gus, maka saya juga sedikit banyak dihormati sebagai ‘temannya Gus’.</p>
<p>Saya mendapati banyak orang yang segera menarik punggung tangannya ketika disambut cium oleh orang lain. Saya kira orang-orang model ini memahami betul soal penghormatan, ketakziman, pengayoman dan keutamaan. Sebagian yang lain justru menikmati ketika punggung tangannya disruput hidung banyak orang.</p>
<p>Soal makna cium tangan sudah. Soal cara mencium tangan, ternyata perlu kajian hermeneutika tersendiri. Pada masa-masa lampau, saya hanya tahu mencium tangan dengan satu cara: meraih dengan lembut punggung tangan orang yang kita hormati. Dan secara takzim pula meletakkannya di depan hidung, atau sekurang-kurangnya di kening. Cara ini pula yang diperlihatkan Habibie ketika mencium tangan Soeharto dalam gambar foto yang sampai pada kita sekarang. Juga ciuman tangan Sudi Silalahi kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Atau cium takzim Anggodo Widjojo kepada (mantan) Jaksa Wisnu Subroto.</p>
<p>Karena cium takzim ini pula, saya sering benar-benar mencium aroma tangan orang yang saya hormati. Seorang sahabat saya, dari keluarga santri yang taat pernah bercerita pengalamannya mencium tangan sejumlah kiai. Banyak kiai merupakan orang yang zuhud atau asketik. Tapi tak sedikit juga yang banyak bergaul, memberi kontribusi sosial bagi masyarakatnya. Tak heran, bila mencium tangan (sebagian, tentu saja) pak kiai, tercium aroma&#8230;. sate kambing. Saya mohon maaf kepada teman saya karena telah membongkar rahasia ini. Saya kira teman saya itu hanya sedang <em>ngidam </em>sate kambing saja, di sela-sela padatnya jadwal santri sebagaimana diceritakan dalam <em>Negeri 5 Menara</em> oleh A. Fuady.</p>
<p>Jadi jelas, mencium tangan diletakkan dihidung atau kening. Karena itu saya <em>shock</em> ketika adik-adik kita generasi zaman akhir mencium tangan orang yang dituakan di&#8230; sebelah pipinya. Pipi? Ya, ketika seorang siswi berprestasi (kalau tak salah UN, atau olimpiade) diundang SBY ke istana dan mencium tangan sang presiden di pipinya. Dari literatur cara bercium tangan yang saya lihat sekilas di <em>google</em>, tak ada model cium tangan dengan punggung tangan diletakkan di pipi. Tengok saja cium tangan Anas Urbaningrum atau Margiono kepada Susilo Bambang Yudhoyono. Atau cium tangan Dian Sastro kepada suaminya Indraguna Sutowo sesaat setelah ijab kabul pernikahannya.</p>
<p>Jadi, saya belum tahu apakah nanti saat akan pamit dari <em>boulevard</em> ini untuk pulang ke kota saya sekira sembilan jam perjalanan bus dari Solo, akan memberi punggung tangan saya untuk dicium adik-adik yunior, atau segera menariknya. <em>Cenil</em> sudah habis, tapi  tahu kupat baru datang. Es teh sudah tambah satu gelas lagi sedang matahari mulai tinggi.</p>
<p>Gambar diunduh dari: dewarahayu.wordpress.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/337/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/337/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=337&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2010/10/27/tentang-cium-tangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/10/cium-tangan.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">cium-tangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tentang bola</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2010/07/06/tentang-bola/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2010/07/06/tentang-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 05:06:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[lembaga-lembaga]]></category>
		<category><![CDATA[fifa]]></category>
		<category><![CDATA[piala dunia 2010]]></category>
		<category><![CDATA[sepak bola]]></category>
		<category><![CDATA[takeshi okada]]></category>
		<category><![CDATA[tragedi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Saya terhitung orang yang tak menyukai (sepak) bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=328&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/07/takeshi-okada1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-330" title="takeshi okada" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/07/takeshi-okada1.jpg?w=154&#038;h=204" alt="" width="154" height="204" /></a>Saya terhitung orang yang tak menyukai (sepak) bola. Bahkan hingga kini. Tak pernah saya secara khusus menunggu siaran pertandingan sepak bola. Oleh sebab pernikahan saya mulai menonton Piala Dunia, menemani istri. Maklum saja, ini Piala Dunia pertama dalam pernikahan kami. Meski demikian saya tetap tak menyukai sepak bola. Namun tidak dengan tragedinya, sejarahnya, politik yang melingkupinya, air mata yang tertetes, dan euforia hiperbolik-lebai yang dapat kita baca dari unggahan status di <em>facebook</em>. Seperti status <em>facebook</em> anda hari ini, mungkin saja.<span id="more-328"></span></p>
<p>Sepak bola merupakan gelanggang kemanusiaan yang dipentaskan secara populer. Sepak bola hari ini bukan lagi sekedar olah raga ‘mencari keringat’, namun lebih dari itu: nasionalisme, kejayaan, dan bisnis,  diaduk-aduk penuh haru. Johan Huizinga sejak jauh hari (1938) menengarai perilaku manusia yang suka akan permainan sebagai kajian sosiologi. Bila perang dianggap sebagai bagian dari ‘sistem bermain’ manusia, apatah sepak bola. Azyumardi Azra, salah satu intelektual muslim kita pernah menulis di<em> Kompas</em> pada Piala Dunia 2006 tentang indikasi sepak bola telah menjadi ‘agama’ baru. Sayang, ingatan saya lamat-lamat soal artikelnya. Yang saya ingat sepak bola memiliki umat, yakni fans yang ‘rela berjihad’ untuk kejayaan sepak bola; memiliki ulama, yakni wasit sebagai penjaga otoritas religiositas sepak bola; memiliki pesantren, yang sudah jelas dapat ditebak: Sekolah Sepak Bola; memiliki ormas, baik yang ‘garis keras’, maupun yang ‘moderat’ dalam representasi klub yang memainkan teknik menghalalkan segala cara hingga permainan cantik a la <em>total football</em>, maupun permainan samba. Pendeknya, dalam sepak bola semua ada.</p>
<p>Meski tak maniak, istri saya mengagumi sepak bola. Dukungan secara total diberikannya kepada tim-tim dari Asia yang diharapkannya menjadi <em>rising star</em>, seperti Korea Selatan dan Jepang. Dukungan purba manusia yang diberikan di atas bangun primordialisme, dan sedikit rasis saya kira. Saya tak berkomentar banyak, sepanjang dukungan yang diberikannya tak melanggar hukum positif negara manapun. Saya pun memperhatikan saja bila ia menempel jadwal pertandingan, dan rajin menulis skor serta tim-tim apa yang akan bertanding. Karena Piala Dunia 2010 digelar di Afrika Selatan, yang secara geografis berada pada garis lintang dan bujur yang tak jauh dari tanah air, jadilah kita dapat menikmati pertandingan tak terlalu larut. Pukul 19.00 dan 21.00, jadwal pertandingan yang nyaris tak mungkin kita nikmati bila Piala Dunia digelar di jazirah Eropa.</p>
<p>Petang menjelang, gelap mulai turun. Kami menyimak pertandingan demi pertandingan. Umumnya saya menyimak dengan tekun, tak peduli tim apa yang bermain. Saya mengidolakan Takeshi Okada, pelatih Jepang yang tenang, dan dingin. Bukan karena kemampuannya mengocok komposisi pemain bintang untuk bertanding, tapi gayanya yang kalem itu. Saya tak pernah berteriak ketika gol tercipta, meskipun saya bukan tak senang atau apriori dengan mereka yang merayakan gol dengan euforia. Saya seratus persen menghargai bagaimana orang merayakan kemenangannya, ekstase yang didapat, dan selebrasi sebagaimana Roger Milla mendemonstrasikannya di lapangan.</p>
<p>Sebagai sosiolog-kapiran saya justru suka memperhatikan tingkah para suporter kita, baik yang menonton <em>live</em> di stadion, menonton bareng di kafe atau kos-kosan, menonton di rumah, atau mengomentari <em>via</em> status <em>facebook</em>. Saya suka membayangkan bagaimana kira-kira perasaan suporter-suporter itu. bagaimana sistem nilai yang ia anut soal sportivitas, aturan permainan, juga penghargaan atas lawan. Saya membayangkan bagaiamana hidupnya di jalani seharian ini, apakah diimpit utang, dimarahi atasan, takut-takut dosa karena menilap uang yang bukan haknya, atau sedang marahan dengan pacar yang membuatnya menemukan kanal untuk melampiaskannya atas nama sepak bola. Individualitas karakter-domestik suporter menjadi anonim justru ketika dibawa ke ruang publik. Anonimitas suporter menjelma menjadi energi untuk membuat orang dapat berbuat apa saja, bahkan mengeyampingkan sejenak sistem nilai individualnya untuk kemudian berlindung pada riuh rendah selebrasi suporter lain yang <em>crowded</em>.</p>
<p>Saya senang memperhatikan suporter yang siap mati demi tim kesayangannya. Suporter yang membangsat-bangsatkan wasit, termasuk suporter yang mempekok-pekokkan pemain. Juga suporter yang atraktif dalam gaya dan busana. Saya juga suka mengamati bagaimana suporter menilai jalannya pertandingan. Membedah peluang gol, dan bagaimana gol tercipta. Pendeknya sepak bola menjadi panggung bagi sosiolog, untuk kembali membuka teori-teori dramaturgi Erving Goffman soal <em>frontstage</em> dan <em>backstage</em>. Serta konsep diri ‘I’ dan ‘me’ yang dilansir George Herbert Mead. Juga bila dikaji sebagai <em>id</em> dalam konsep diri Sigmund Freud di samping <em>ego</em> dan <em>superego</em>.</p>
<p>Saya mengapresiasi gol-gol indah yang terjadi, berbeda dengan istri saya yang bergembira bila tim kesayangannya berhasil menyarangkan gol ke jaring lawan, tak peduli bagaimana gol itu dibuat. Sepanjang saya membaca buku-buku mengenai sepak bola, gol disebut indah bila dikocek sejak jauh dan mampu menjebol pertahanan lawan. Permainan Diego Maradona pada babak perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko antara Argentina dan Inggris sering disebut gol terindah sepanjang masa. Maradona berhasil menggocek bola, dan mempermainkan 5-6 pemain Inggris sebelum melesakkan bola ke gawang yang dijaga Peter Shilton. Gol juga disebut indah dari tendangan pojok bersambut sundulan cantik. Atau tendangan jarak jauh di luar garis pinalti yang melesak sukses, syukur-syukur seperti tendangan pisang David Beckham yang diributkan banyak fisikawan kita dan diprotes kiper-kiper karena sulit ditebak maunya. Sepanjang Piala Dunia 2010, seperti kata komentator-komentator setidaknya ada dua gol paling manis. Pertama gol yang dicetak Douglas Sisenando Maicon dari celah sempit sejajar kiper saat pertandingan Brasil versus Korea Utara pada penyisihan Grup D. Gol lain, tentu saja yang disarangkan secara mesra oleh pemain entah siapa dalam pertandingan entah siapa melawan siapa di grup apa (karena saya cari-cari dari ingatan yang terserak dan bantuan mbah <em>google</em> tanpa kata kunci yang meyakinkan dan tak ketemu pula) sebagai tendangan bebas hampir 30 meter dari kotak penalti yang menghasilkan gol. Sesuatu yang kabarnya jarang terjadi.</p>
<p>Selama saya mengikuti ulasan sepak bola, tragika yang menyertai selalu lebih menarik ketimbang permainan bola bundar itu sendiri. Kisah-kisah gol tangan Tuhan Maradona, hilangnya piala Jules Rimet di Piala Dunia Inggris 1966, ambisi Hitler dan Mussolini dalam Piala Dunia 1934, tewasnya pemain Kolombia Andres Escobar setelah melakukan gol bunuh diri dalam Piala Dunia 1994 sejatinya merupakan sejarah yang melengkapi tragi sepak bola. Karena itu pula, saya tak ribut ketika Frank Lampard pada pertandingan 16 besar Jerman versus Inggris mencetak gol yang tak diakui wasit. Pemanfaatan teknologi, seperti kata bos FIFA Sepp Blatter bahwa teknologi akan mereduksi kemanusiaan sepak bola saya sepakati diam-diam dalam hati. Bagi saya, lebih baik kita meributkan sepanjang masa kontroversi sepak bola ketimbang menonton pertandingan rigid, yang berserah pada teknologi. Marah, sesal, air mata, cacian, tandukan Zidane, adalah ekses sepak bola yang perlu dirayakan. Tanpa itu semua, saya berjanji tak akan menonton Piala Dunia lagi. Meski berbeda cara menikmati Piala Dunia, saya selalu mencintai istri saya. Sungguh.</p>
<p>Gambar diunduh di: www.zimbio.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/328/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/328/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=328&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2010/07/06/tentang-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/07/takeshi-okada1.jpg?w=101" medium="image">
			<media:title type="html">takeshi okada</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>titik nol kilometer jogja</title>
		<link>http://masmpep.wordpress.com/2010/01/29/titik-nol-kilometer-jogja/</link>
		<comments>http://masmpep.wordpress.com/2010/01/29/titik-nol-kilometer-jogja/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 01:14:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masmpep</dc:creator>
				<category><![CDATA[kota-kota]]></category>
		<category><![CDATA[gedung agung]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[malioboro]]></category>
		<category><![CDATA[titik nol kilometer]]></category>
		<category><![CDATA[toko roti djoen]]></category>
		<category><![CDATA[vredeburg]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masmpep.wordpress.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Anda boleh saja bersepakat bahwa Jogja telah meluntur sebab tengiknya kapitalisme, bedebahnya modernitas, atau tipisnya kesetiaan menjaga tradisi. Rasa kebudayaan Jogja semakin sulit dicari. Namun bagi saya tak ada tempat paling magis ketimbang titik nol kilometer jogja. Dengan senang hati saya mencandunya. Ruang itu 3 meter kali 50 centi. Persis di bawah beringin. Ada banyak, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=316&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/01/malioboro.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-317" title="malioboro" src="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/01/malioboro.jpg?w=204&#038;h=154" alt="" width="204" height="154" /></a>Anda boleh saja bersepakat bahwa Jogja telah meluntur sebab tengiknya kapitalisme, bedebahnya modernitas, atau tipisnya kesetiaan menjaga tradisi. <em>Rasa</em> kebudayaan Jogja semakin sulit dicari. Namun bagi saya tak ada tempat paling magis ketimbang titik nol kilometer jogja. Dengan senang hati saya mencandunya.<span id="more-316"></span></p>
<p>Ruang itu 3 meter kali 50 centi. Persis di bawah beringin. Ada banyak, namun bila ramai perlu sedikit antre. Lega, cukup nyaman untuk berempat. Namun paling ideal berdua saja. Seperti saya, biasanya bersama pacar, kemudian istri, dan paling cepat tahun ini bersama anak kami juga. Setelah putar-putar kota dengan <em>Transjogja</em>, kami sengaja turun di Hotel <em>Inna Garuda</em> di mulut Jalan Malioboro. Menyusuri kaki lima semenjak dari utara. Melintasi Jalan Ahmad Yani. Saat mulai lapar membelok di Pasar <em>Beringharjo</em>, mencari gudeg. Sebelumnya tak pernah terlupa membeli barang lima tusuk sate gajih sandung lamur-coklat-berminyak-kemerahan di sudut selatan pasar.</p>
<p>Sambil membawa jajan pasar atau buah salak, melanjutkan langkah ke utara. Mendapati bangku-bangku kukuh. Boleh pilih, di muka Gedung Agung dengan <em>view</em> Beteng <em>Vredeburg</em>. Atau sebaliknya. Melirik Kantor Pos Besar boleh. Kalau anda beruntung sekelompok anak muda—yang semakin segelintir jumlahnya—pastilah sedang mengibarkan bendera organisasi dan almamater. Memekik membangunkan siang lewat <em>megaphone</em>. Saya sarankan anda untuk menikmatinya sebagai bagian dari turisme. Tak salah bukan? Kota ini sudah lama ditabalkan sebagai kota pelajar, kota budaya, kota (tempat berseminya) gerakan sosial.</p>
<p>Saya tak tahu mengapa tempat ini begitu magis. Karena berada pada aksis imajiner poros Merapi-(Monumen Jogja Kembali)-Tugu Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak-Parangtritis, atau karena ia menjadi kosmos bagi Kampung Arab di Sayidan, Pecinan di Kranggan, kawasan hunian<em> londo</em> di Kotabaru, atau karena di ruas ini bertebaran banyak bangunan yang merentang imaji kita pada masa silam: <em>Inna Garuda Hote</em>l (sebelumnya <em>Grand Hotel de Djokdja</em>, kemudian Hotek <em>Asahi</em>, berganti menjadi Hotel <em>Merdeka</em>, lalu Hotel <em>Garuda</em> dan berubah lagi menjadi Hotel <em>Natour Garuda</em>), Perpustakaan Daerah, Gedung <em>Yuliana Apotheek</em> (yang kini dijadikan apotek <em>Kimia Farma</em>), Toko Roti <em>Djoen</em>, <em>Beringharjo</em>, Gereja Margomulyo (sebelumnya <em>Kerk van Protestantse Gemeente</em>), <em>Fort Vredeburg</em> (sebelumnya <em>Rusternburg</em>), Gedung Agung, Bank BNI 1946 (dahulu Gedung <em>Nilmij</em>), Gedung Bank Indonesia (bekas <em>De Javasche Bank</em>), dan Kantor Pos Besar (<em>Postkantoor van Djogja</em>, pada zaman Belanda).</p>
<p>Tak usah terlalu serius, sambil menjadi saksi membenamnya matari kita bisa sejenak bercengkerama di keteduhan. Bila hari beranjak memasuki petang, di muka <em>Vredeburg</em> bertebaran penjual sate Madura, untuk cemilan. Bersama lontong dan saus kacang manis dilelehi kecap. Mengenang, mungkin di sekitar situ dulu berkumpul anak-anak muda. Sebut saja Emha Ainun Nadjib, Ebiet G. Ade, atau Linus Suryadi. Berdiskusi bersama mentornya Umbu Landu Paranggi dalam bendera Persada Studi Klub. Jejaknya tentu tak terlacak kini. Kalau mau jalan sedikit ke timur kita bisa mampir ke Gedung Kesenian, di belakang Taman Pintar, persis di samping <em>Shopping Centre</em>. Tak ada Umbu tak apa, meski jarang masih ada anak muda membaca puisi mengamen liris menemani kita membongkar dada ayam bakar. Di lesehannya.</p>
<p>Malioboro, identitas ini sama magis dengan legendanya. Tak ada penjelasan yang paling memuaskan mengapa ia diberi nama itu. Sebab ada sejumlah versi soalnya, yang membuat kita semakin tak bisa serta memercayai salah satunya. Ada yang bilang diambil dari nama Duke Inggris yaitu Marlborough saat menduduki Jogja (1811-1816) yang belakangan diberontak Sultan HB II dalam <em>Geger Sepoy</em>. Tak sedikit yang berpendapat bahwa Malioboro berasal dari Bahasa Sanskerta, yang berarti ‘karangan bunga’. Pendapat yang boleh anda <em>cuekin</em> adalah tesis bahwa di kawasan ini dulu terdapat iklan rokok <em>Marlboro</em>. Saya pun pernah membaca, bahwa Malioboro diambil dari satu peristiwa ketika Sultan bersama pasukannya masuk kota setelah berperang di luar daerah. Pasukan tiba malam hari, sehingga sambil <em>longmarch</em> infantri kesultanan ini berbaris membawa obor. Malam yang diterangi obor, dilafalkan Malioboro. Sah-sah saja.</p>
<p>Menurut penelitian yang lebih ilmiah, Malioboro pada awalnya tidak direncanakan sebagai satu kawasan penting, meskipun ia berada pada poros imajiner raja-raja Jogja dengan Ratu Laut Kidul. Mulanya kawasan ini banyak dihuni pedagang Cina, setelah moyangnya Kapten Cina Tan Jin Sing dianugerahi gelar Setjodiningrat dan dilokalisasi di kawasan yang kini disebut Secodiningratan. Paling tidak setelah 1916, Malioboro dapat dikatakan memiliki retorika dalam tata kota Jogja setelah mulai berdiri deretan rumah toko, setelah sebelumnya berdiri Hotel <em>Garuda</em> (1911) dan Stasiun Tugu (1887). Maliboro semakin memantapkan posisinya setelah <em>Beringharjo</em> mulai beroperasi sejak 1926.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masmpep.wordpress.com/316/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masmpep.wordpress.com/316/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masmpep.wordpress.com&amp;blog=5681946&amp;post=316&amp;subd=masmpep&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masmpep.wordpress.com/2010/01/29/titik-nol-kilometer-jogja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/caeca5f06b7720c1d8b513e2be19dda1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masmpep</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://masmpep.files.wordpress.com/2010/01/malioboro.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">malioboro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
