Celana Dalam Stempel HMI, Fait Accompli dan Bebek Goreng

f 30, 2011

Setiap hari terjadi kelahiran dan kematian di sekitar kita. Berita-berita mengenai kematian umumnya dimaknai sebagai berita duka, apalagi kepergian tersebut terasa tiba-tiba. Kepergian yang tiba-tiba memang mengejutkan kita, namun bagi yang pergi bisa jadi kepergian tersebut merupakan sesuatu yang lebih baik, misalnya tak berlama-lama menderita. Kepergian yang tak mendadak, seperti didahului dengan sakit yang lama, berbilang minggu, bulan atau tahun membuat yang ditinggalkan lebih siap menerima keadaan, walaupun bagi yang pergi mungkin terasa melelahkan. Kita semua tentu berdoa semoga kepergian kita kelak dalam keadaan sebaik-baiknya, khusnul khotimah.

Kepergian Pak Susanto Kartubij, senior saya terasa begitu mendadak. Seraya mengheningkan cipta dan memanjatkan doa, saya teringat dengan sejumlah kenangan bersama beliau. Pertemuan dan persinggungan saya dengan beliau tak banyak. Dan saya hampir yakin beliau tak betul-betul mengenal saya secara pribadi, bahwa ada seorang yuniornya bernama saya. Saya tak berhubungan dengan Pak Santo secara pribadi karena persinggungan saya dengan Pak Santo lebih banyak pada acara-acara organisasi. Meski hubungan saya dengan Pak Santo—panggilan akrabnya—terbatas, namun momentum itu penting bagi hidup dewasa saya kini.

Kali pertama saya berhubungan dengan Pak Santo tahun 2002. Kala itu saya mahasiswa baru, masih semester dua. Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) saya mengadakan satu diskusi, mengundang Pak Santo sebagai pembicaranya. Saya saat itu mulai aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, menjadi Departemen Penerbitan di HMJ, juga menjadi Departemen Eksternal di HMI Komisariat. Oleh Mas Adi Himawan (Ketum HMJ dan Ketum Komisariat periode itu) saya dikader untuk menjadi moderator diskusi itu. Bagi saya diskusi itu bernilai penting, karena saya menjadi moderator dalam forum yang terhitung “kolosal”, untuk pertama kalinya. Saya pun sudah tak ingat tema diskusi itu, namun saya mengingat betul hampir 40 mahasiswa memenuhi ruang Pascasarjana Fakultas.

Beberapa saat sebelum diskusi dimulai Pak Santo datang, tergopoh-gopoh sambil mengatakan agendanya padat hari itu. Mas Adi Himawan menyambutnya, dan mengenalkannya kepada saya. Sebelumnya saya telah mendengar Pak Santo adalah alumni HMI, karena itu beberapa senior saya, termasuk Mas Adi Himawan menyapanya dengan ‘Mas’. Namun saya lebih suka menyapanya dengan ‘Pak’—hingga kini, karena saat kali pertama bertemu status beliau adalah Dosen Komunikasi di Fakultas saya, sedang saya berstatus mahasiswa baru. Beberapa senior mungkin sudah bersinggungan dengan Pak Santo kala ia masih mahasiswa sehingga mereka telah mengenalnya sebagai ‘Mas’-nya sebelum menjadi Pak Dosen.

Pak Santo seingatnya saya gemar memakai celana panjang berbahan kain—bukan jeans sebagaimana dosen muda lain—dan hem lengan penjang digulung hingga lengan. Bajunya dimasukkan ke dalam celana, tak seperti JK—dan saya—yang lebih suka mengenakan baju tak dimasukkan ke dalam celana. Pagi itu Pak Santo tampak berpakaian seperti kegemarannya, sedang saya memakai celana kargo dan kaos oblong, hitam. Soal kaos oblong, dan hitam, pada masa-masa itu menjadi identitas pembangkangan. Kaos oblong dan hitam telah menjadi simbol perlawanan. Jejak-jejak jalanan Gerakan Mahasiswa 1998 yang berkaos oblong masih terasa meski kalender sudah menunjukkan tahun 2002. Beberapa tahun saat menjadi mahasiswa saya kerap berkaos oblong dan berwarna hitam, sambil sok-sok-an menganggapnya sebagai laku ideologis—meskipun sesungguhnya tidak juga. Saya pernah diusir Dosen Administrasi Negara dari ruang perkuliahan ketika saya mengambil mata kuliah lintas jurusan—yang tak direkomendasikan Fakultas sehingga nilai saya pada matakuliah itu tak bisa dimasukkan dalam Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). Jurusan Administrasi Negara memang terhitung jurusan yang paling ‘legalistik’ di Fakultas, berbeda dengan jurusan saya yang—entah mahasiswanya nekat, entah dosennya cuek, entah karena entah—seringkali sok-sok membangkang, termasuk dalam berbusana, maupun pemikiran. Semakin nyeleneh, semakin nyentrik dia.

Pak Santo sebagai pembicara ngomong banyak hal. Pilihan diksinya bertabur, sebagian (besar) tak saya mengerti. Untuk pertama kalinya dalam diskusi tersebut saya mendengar idiom fait accompli yang tak saya ketahui artinya. Baru setelah saya menyelesaikan pendidikan di kampus, samar-samar saya baru mengetahui arti kata fait accompli ini. Sebagai moderator saya melaksakan tugas secara ‘baku.’ Membuka diskusi (sangat) singkat, mempersilakan pembicara ngomong, membuka dua termin tanya jawab, mempersilakan pembicara menjawab, menyimpulkan diskusi sebisanya dan menutupnya dengan agitasi.

Peserta diskusi pelan-pelan beranjak dari kursi masing-masing, meninggalkan ruang. Mas Adi Himawan menghampiri kami, saya dan Pak Santo. Pak Santo hari itu terburu-buru, akan mengisi perkuliahan katanya. Saya kemudian berbincang dengan Mas Adi Himawan. Saya tanyakan padanya: bagaimana aksi saya barusan? Mas Adi Himawan memberi beberapa evaluasi. Soal kaos oblong dikomentarinya, agar kali lain saya menggunakan hem yang lebih sopan menurut peradaban manapun ketika tampil di muka publik. Mas Adi juga mengevaluasi kerja saya sebagai moderator. Katanya: menjadi moderator harus luwes, mengetahui latar belakang pembicaranya sehingga dapat memancing pembicara untuk berbicara sesuai kompetensinya. Luwes dapat dimaknai sebagai usaha moderator agar jalannya diskusi tidak monoton dan moderator hanya menjadi polisi lalu lintas diskusi. Moderator bahkan boleh mengajukan pertanyaan-pertanyaan cerdas mengarahkan pembicara siapa yang harus menjawabnya, bahkan bukan tidak mungkin ada peserta yang lebih kompeten dapat dimintai bantaun turut melengkapi jawaban pembicaranya. Saya mencatat dalam hati kata-kata Mas Adi, meskipun kala itu saya tak tahu bagaimana mengimplementasikannya. Kini, saya bersyukur mendapat pelajaran berharga dari Mas Adi untuk menjadi moderator yang baik. Soal bagaimana mengimplementasikan teori saya kira tak ada jalan lain kecuali mencobanya. Keberhasilan diukur dari sebanyak-banyaknya jam terbang, itu saja keyakinan saya.

Setelah itu lama saya tak berhubungan dengan Pak Santo. Hingga satu waktu, tahun 2004 kalau saya tak keliru, Pak Santo diundang menjadi pembicara upgrading kepengurusan baru Komisariat, periode Bung Isfahani. Saya tak menjadi pengurus kala itu, namun menjadi mide formatur pembentukan kepengurusan. Sebagai dukungan, saya ikut hadir dalam upgrading yang diselenggarakan di Tawangmangu. Pada sesi stadium general upgrading, Pak Santo memberi materi manajemen organisasi—kalau saya tak keliru ingat.

Beberapa cerita Pak Santo saya ingat hingga kini. Pak Santo mengatakan kariernya di HMI hingga menjadi Wasekum Bidang Pembinaan dan Pengembangan Anggota (PPA) dan Sekretaris Lembaga Pengelola Latihan (LPL) HMI Cabang Surakarta. Sebagai anggota presidium HMI Cabang, Pak Santo termasuk pengurus yang diwajibkan tinggal di sekretariat Jl. Yosodipuro 81. Banyak kisah yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan di sekretariat. Kala itu belasan aktivis tinggal di sana, dengan aktivitas dan kebiasaan masing-masing. Beberapa aktivis hidup tidak tertib dengan meminjam pakaian aktivis lain tanpa ijin. Setelah meminjam, tak mau mencucinya pula. Seorang aktivis—yang tak disebutkan namanya oleh Pak Santo, geram karena pakaiannya kerap dipakai aktivis lain. Pakaian yang dipinjam, cerita Pak Santo tak hanya baju atau celana, bahkan termasuk celana dalam. Aktivis tersebut berinisiatif memberi tanda pada masing-masing pakaiannya, agar tak tertukar dengan pakaian aktivis lain. Setelah berpikir keras penanda apa yang efektif membedakan pakaiannya dengan pakaian aktivis lain, sang aktivis itu menemukan ide untuk membubuhkan stempel HMI pada setiap pakaiannya, termasuk celana dalamnya. Mengetahui hal itu, sejumlah aktivis lain, yang berpikir legalistik—meskipun mungkin mereka juga termasuk aktivis yang suka meminjam pakaian tanpa ijin—membawa masalah tersebut ke dalam Rapat Harian. Walhasil soal celana dalam menjadi diskusi yang hangat pada malam yang dingin di Yosodipuro 81. Sebagian aktivis mengusulkan pemberian sanksi organisasi kepada aktivis yang memberi stempel. Sang aktivis tak kalah sengit memberikan argumentasi. Saya dapat membayangkan gayeng-nya Rapat Harian itu. Pak Santo tak melanjutkan cerita bagaimana kelanjutan kisah ini.

Saya sering menceritakan kisah ini kepada teman-teman yang masih bergiat di organisasi dalam berbagai kesempatan, untuk menggambarkan betapa dinamisnya kehidupan di sekretariat organisasi kala itu. Saya hendak memotivasi teman-teman untuk tak segan tinggal di sekretariat, meskipun saya sendiri adalah contoh yang buruk: tak pernah tinggal di sekretariat, termasuk tak lebih dari lima kali bermalam di sekretariat dalam karier keorganisasian saya. Semasa menjadi aktivis saya memang dikenal sebagai ‘aktivis anak mama’.

Cerita Pak Santo lain dalam stadium general yang masih saya ingat adalah kesaksiannya bahwa IPK-nya ‘tak sampai 3,00’. Saya tak tahu Pak Santo bergurau atau sungguhan. Mendengar kesaksian Pak Santo, sejumlah teman pengurus yang IPK-nya masih ‘terancam 3,00’ terlihat sumringah. Mungkin pikir mereka: tak perlu IPK 3,00 untuk menjadi sukses seperti Pak Santo. Meskipun mengaku IPK-nya ‘tak sampai 3,00’ saya tahu Pak Santo seorang yang cerdas. Setahu saya Pak Santo alumnus Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalam, dan terakhir sedang melanjutkan studi untuk meraih gelar Ph.D dari Universitas Indonesia.

Sikap Pak Santo yang sungguh menarik bagi saya adalah ketika menjadi pembicara di Tawangmangu ia mengajak serta istri dan anaknya. Saya menjadikan sikap Pak Santo sebagai teladan: beraktivitas dalam gerakan sambil tak lupa mengajak anak dan istri. Saya berusaha menjadikan sikap intelektual Pak Santo sebagai gaya hidup saya. Satu waktu saya pernah mengisi materi Strategi dan Taktik serta Ideologi Politik Kontemporer dalam Latihan Kader di kota saya dengan mengajak serta putri kami yang belia, 2 tahun, dan ibunya. Saat saya memulai diskusi, puteri kami mengintip dari balik pintu dan memberi senyum kepada ayahnya. Bagi saya ini adalah tonikum yang menguatkan sehingga saya lancar merapal materi-materi diskusi. Ketika istri saya sedang mengandung, saya masih sempat mengajaknya menonton teater termasuk menghadiri satu diskusi di kantor salah satu koran terkemuka di kota saya. Kami juga pernah menghadiri diskusi yang diadakan teman-teman di alun-alun di kota saya.

Beraktivitas, berlibur, dan mengingat organisasi juga saya lakukan ketika mengunjungi beberapa kota, terutama kalau singgah di Solo. Saat berada di Denpasar, Bandar Lampung, Semarang atau Salatiga saya berusaha mengontak pengurus HMI setempat, dan bertandang ke sekretariatnya. Di Bandar Lampung saya tak memiliki akses nomor telepon seluler pengurus HMI di sana. Apa akal? Saya singgah di Universitas Lampung, mampir ke sekretariat BEM, menanyakan satu saja nomor kontak anak HMI yang ia kenal. Universitas adalah institusi yang pasti diketahui setiap orang di kota itu, sehingga dengan bertanya sana-sini saya tahu lokasi kampus. Dan sekretariat BEM adalah tempat yang hampir pasti diketahui setiap warga kampus. Setiap pengurus BEM pastilah kenal anak HMI, kalau bukan dia sendiri anggota HMI. Dari satu nomor kontak saya gunakan metode snowball, sehingga saya bisa mendapatkan nomor kontak pengurus Cabang atau Komisariat. Untuk mendapatkan nomor kontak anak HMI saya telah mempraktikkan metode snowball yang dulu diajarkan dosen-dosen matakuliah penelitian di kampus.

Saat heboh aktivitas nge-blog, Pak Santo sebagai dosen komunikasi juga tak ketinggalan. Laman blognya sudah dapat diakses sejak banyak orang belum menjadi blogger. Sebagai blogger, saya beberapa kali mengunjungi lamannya dan menyapa. Saya mengetahui informasi soal kecenderungan popular turisme dari Solo yang tak lagi membawa Serabi Notosuman dari blog Pak Santo. Pak Santo mengatakan Serabi Notosuman kalah pamor dengan Bebek Goreng Asli Pak Slamet Kartosuro. Pak Santo mengklaim semua sopir taksi di Solo pasti tahu alamat Bebek Goreng yang otentik di Kartosuro, bukan waralabanya yang tersebar di banyak kota. Saya mencoba menanyakan pada Pak Santo, selain opsi menanyakan pada sopir taksi, bagaimana rute menuju alamat bebek goreng otentik Kartosuro yang lokasinya tidak di pinggir jalan utama ini. Pak Santo antusias menjawab: kalau begitu ajak saya saja, nanti saya tunjukkan. Tentu saya tak berani mengajak Pak Santo, karena yang mengajak biasanya bertanggungjawab mentraktir sedang saya sedang menjalani laku prihatin selain saya tahu Pak Santo tentu mengguraui saya. Karena penasaran saya berusaha mencicipi Bebek Goreng Asli Pak Slamet Kartosuro ini. Beberapa kali ke Solo tak kesampaian mampir ke Kartosuro, saya justru mencicipi menu ini di jaringan waralabanya di kota saya. Rasanya, memang paling enak se-Asia Tenggara.

Pak Santo mungkin tak mengenal saya secara pribadi, namun saya banyak belajar dan meneladani sikap intelektualnya. Saya berdoa semoga teladan yang ditunjukkannya dinilai sebagai amal jariyah, ilmu yang bermanfaat bagi saya. Seringkali kita tak sadar kalau sikap yang baik dari kita diteladani orang lain. Karena itu sudah sepatutnya kita berbuat sebaik-baiknya agar kalau kelak ada yang meneladani sikap kita tanpa kita sadari, sikap-sikap yang baiklah yang diteladani.

Satu Tanggapan to “Celana Dalam Stempel HMI, Fait Accompli dan Bebek Goreng”

  1. beni Berkata

    wkwkwk ada2 aja tuh…:D


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.