“Saya paling tak suka dibohongi. Saya menghargai kejujuran, meskipun kejujuran itu pahit.” Saya provokasi anda untuk tak serta merta percaya kepada untaian kata mutiara yang sering dijadikan motto dalam curriculum vitae ini. Saya lebih sering mendapatinya sebagai teori belaka, karena masih banyak orang yang tak siap mendengar berita buruk, kepahitan, termasuk memaafkan. Baca entri selengkapnya »
di bawah bendera warteg
f 11, 2009
Hampir setiap kita pernah mendengar idiom Warteg, melihat ujud Warteg, sampai menjadi pelanggannya. Namun ketika ditanya bagaimana karakteristik Warteg, kiranya tak banyak dari kita yang mampu menjawabnya secara memuaskan. Realitas ini mengindikasikan bahwa Warteg merupakan ‘sesuatu yang ilmiah’, yang dapat diidentifikasi menurut metodologi riset seperti pengamatan, studi literatur hingga in depth interview hingga observasi partisipan. Warteg, dan kuliner pada umumnya ternyata tak sekedar soal makanan, namun telah menjadi satu ilmu. Baca entri selengkapnya »
semarang
f 9, 2009
Seharusnya Semarang dapat menjadi kota wisata yang mbetahi lan ngangeni. Namun hiruk pikuk kota ini telah membuatnya menjadi kota yang bergegas. Tak ada ruang untuk berleha-leha, apalagi ramah pada model backpacker infantri seperti saya. Sayang memang, namun saya tetap berusaha menikmati yang baik-baik dari Semarang. Baca entri selengkapnya »
merdeka serius*
f 20, 2009
Apa makna kemerdekaan bagi anda? Seperti Kompas yang ‘kurang kerjaan’ menghitung pilihan kata pidato SBY sejak tahun 2005 pada idiom tertentu dan menyebutnya sebagai telaah semiotika? Atau masih menggerutu sebab kemerdekaan hingga hari ini belum sampai pada anda, diselingkuhi pemimpin yang gemar berfoya-foya? Atau bersuka cita sebab tanggal 17 secara manis menempel—tentu saja karena campur tangan Tuhan—di hari pertama pekan yang itu menandakan libur sambung-menyambung yang secara artistik-penuh-harap disebut long weekend? Atau abstain. Baca entri selengkapnya »
arogansi intelektual
f 13, 2009
Hampir sebagian besar dari kita menakar seorang dari pandangan pertama. Pada kesan permulaan itu kita menimbang apakah akan tersenyum ramah, tersenyum pura-pura ramah, antusias mengobrol, berpikir kemungkinan bekerjasama atau mengabaikannya sama sekali. Celakanya, saya terhitung salah satu orang yang tak pandai merebut kesan pertama ini.
alifa ardhanareswari
f 21, 2009
Saya masih ingat betul, satu pagi di bulan November yang becek. Drs. Supriyadi SN, SU, dosen Pengantar Sosiologi kami mengajar di muka kelas. Hari itu sesi Teori Perubahan Sosial. Dosen saya ini bercerita banyak, termasuk perubahan yang terjadi pada individu yang disebabkan perubahan lingkungan sosialnya. Beliau mencontohkan keluarga baru yang memperoleh anak, akan mengalami penyesuaian perilaku baru. Tak jarang hingga over acting. Baca entri selengkapnya »
pemilu, aktivis mahasiswa, gejolak masa muda
f 3, 2009
Pemilu memang layak ditunggu. Seperti saya lima tahun lalu. Tahun 2004 adalah kali pertama saya memiliki hak pilih, dan tak saya gunakan. Pemilu menimbulkan impresi bagi kami: anak-anak muda berstatus mahasiswa, yang ingin berbuat sesuatu yang besar dan heroik. Namun setelah lima tahun berlalu, saya sadar bahwa saya telah melewatkan momentum itu. Dengan tetap menjadi seorang biasa-biasa saja hingga kini. Baca entri selengkapnya »
perencana pertama
f 12, 2009
Genap dua bulan saya menghabiskan waktu menguliti teori-teori Ekonomi Pembangunan, Geographical Information System, Administrasi Publik, Tata Ruang, Metodologi Riset, Studi Kebijakan, Sosiologi, Antropologi dan Kependudukan. Banyak hal yang saya peroleh, di samping opportunity cost yang harus saya bayar juga tak sedikit: jauh dari rumah dan keluarga. Baca entri selengkapnya »
lembah code, imogiri, perbukitan menoreh
f 10, 2009
Satu pagi yang jingga. Matari malu-malu bersinar menembus keremangan fajar. Saya berjalan kaki melintasi Jl. dr. Sardjito. Melongok Jembatan Gondokusuman yang membentang di atas Kali Code. Pada lembahnya bertumpuk rumah-rumah mungil. Saya menuruni tangga pelan-pelan, mencoba memahami Code dari sisinya. Hari masih pagi. Masih ada waktu siang nanti ke Imogiri, batin saya. Menziarahi peradaban Mataram, Surakarta dan Yogyakarta di bukitnya. Baca entri selengkapnya »
Sampai hari ini saya masih menganggap lebaran sebagai satu ritus kultural paling penting sepanjang periode hidup saya dalam satu tahun. Boleh saja anda beranggapan saya termasuk mereka yang belum tebal imannya, karena belum sampai pada pemahaman transendental idul fitri sebagaimana menurut kitab suci. Mungkin saja anda benar. Namun bagi saya, seorang Jawa yang Islam—sebagaimana kata Gus Mus, ritus kultural lebaran membuat saya menggenapi kejawaan dan keindonesiaan saya saban tahun pada momentum paling fitri itu.